Rabu 19 Juni-Zakharia 4:1-14 “Malu bertanya sesat di jalan”

Penglihatan kelima: kandil emas yang berhiaskan dua pohon zaitun

4:1 Datanglah kembali malaikat yang berbicara dengan aku itu, lalu dibangunkannyalah r  aku seperti seorang yang dibangunkan dari tidurnya. s  4:2 Maka berkatalah ia kepadaku: “Apa yang engkau lihat? t ” Jawabku: “Aku melihat: tampak sebuah kandil, u  dari emas 1  seluruhnya, dan tempat minyaknya di bagian atasnya; kandil itu ada tujuh pelitanya v  dan ada tujuh corot pada masing-masing pelita yang ada di bagian atasnya itu. 4:3 Dan pohon zaitun 2  w  ada terukir padanya, satu di sebelah kanan tempat minyak itu dan satu di sebelah kirinya.” 4:4 Lalu berbicaralah aku, kataku kepada malaikat yang berbicara dengan aku itu: “Apakah arti semuanya ini, tuanku?” 4:5 Maka berbicaralah malaikat yang berbicara dengan aku itu, katanya kepadaku: “Tidakkah engkau tahu, apa arti semuanya ini?” Jawabku: x  “Tidak, tuanku!” 4:6 Maka berbicaralah ia, katanya: “Inilah firman TUHAN kepada Zerubabel y  bunyinya: Bukan z  dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, a  melainkan dengan roh-Ku 3 , b  firman TUHAN semesta alam. 4:7 Siapakah engkau, gunung yang besar 4 ? Di depan Zerubabel engkau menjadi tanah rata. c  Ia akan mengangkat batu utama, d  sedang orang bersorak: e  Bagus! Bagus sekali batu itu!” 4:8 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku, demikian: 4:9 “Tangan Zerubabel telah meletakkan dasar f  Rumah ini, dan tangannya juga akan menyelesaikannya. g  Maka kamu akan mengetahui, bahwa TUHAN semesta alam yang mengutus aku h  kepadamu. 4:10 Sebab siapa yang memandang hina hari i  peristiwa-peristiwa j  yang kecil 5 , mereka akan bersukaria melihat batu pilihan di tangan Zerubabel. k  Yang tujuh ini adalah mata l  TUHAN, yang menjelajah seluruh bumi.” 4:11 Lalu berbicaralah aku kepadanya: “Apakah arti kedua pohon zaitun m  yang di sebelah kanan dan di sebelah kiri kandil ini?” 4:12 Untuk kedua kalinya berbicaralah aku kepadanya: “Apakah arti kedua dahan pohon zaitun yang di samping kedua pipa emas yang menyalurkan cairan emas dari atasnya itu?” 4:13 Ia menjawab aku: “Tidakkah engkau tahu, apa arti semuanya ini?” Jawabku: “Tidak, tuanku!” 4:14 Lalu ia berkata: “Inilah kedua orang yang diurapi n  yang berdiri di dekat Tuhan seluruh bumi!”

“….Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman Tuhan semesta alam.

Belajar dari kepemimpinan Zerubabel bagi bangsa Yehuda, kita dapat menemukan bahwa di bawah kepemimpinannya, ia telah berhasil memimpin bangsanya keluar dari tempat pembuangan untuk kembali ke tanah air dan juga memimpin pembangunan Bait Allah yang hancur. Akibatnya, bangsa Yehuda mulai menggaguminya, namun apa kata nabi Zakharia? Ia katakan bahwa keberhasilan Zerubabel bukan karena kekuatan dan kegagahannya namun oleh karena Roh Tuhan.

Kita pun mendapat godaan untuk menggagumi keberhasilan orang lain atau pun  menganggap keberhasilan kita adalah usaha kita atau kekuatan kita. Padahal tanpa pertolongan Tuhan, tidak akan ada keberhasilan.  Intropeksi kehidupan kita di hadapan Tuhan.

Nats: Maka berbicaralah malaikat yang berbicara dengan aku itu, katanya kepadaku: “Tidakkah engkau tahu, apa arti semuanya ini?” Jawabku: “Tidak, tuanku!” (Zakharia 4:5)

Kita harus meneladani apa yang dilakukan Zakharia. Ia mendapat penglihatan ilahi, tetapi tidak mengerti maknanya. Maka, dengan polos ia menanyakan maknanya kepada malaikat. Menarik bahwa malaikat tidak langsung menjawabnya. Malah memberikan pertanyaan seolah-olah malaikat itu berharap Zakharia seharusnya sudah tahu.

Zakharia  tidak berusaha menebak-nebak seperti orang mengisi tekateki silang. Melainkan  ia mengakui, bahwa dia tidak mengerti arti penglihatan tersebut .

“Setiap orang akan bertumbuh jika  selalu bertanya yang dia tak mengerti , karena itu akan menambah wawasan dalam diri mereka. Jika Anda bersikap sok tau dan tidak ingin bertanya, maka Anda akan tersesat.”

Ada satu pertanyaan yang mengelitik saya; Mengapa kehidupan  pelayanan para hamba Tuhan tidak seperti jaman nabi-nabi maupun para rasul, bahkan Mujuzat-mujizat besar dilakukan Tuhan , begitu mudahnya Tuhan memberikan penglihatan lewat mimpi baik langsung maupun secara simbolis, bahkan Tuhan mau berbicara dengan mereka?… Apa ada yang salah dengan para hamba Tuhan jaman sekarang …atau bagaimana?

Mungkinkah Pada zaman ilmu pengetahuan ini,  Tuhan sebenarnya ingin manusia berfikir keras untuk menemukanNya melalui jalan ilmu pengetahuan,sebab itu Ia tidak ingin manusia dimanjakan terus dengan mukjizat lagi seperti dizaman para nabi dahulu.sebab bila terus dimanjakan dengan mukjizat maka kapan manusia berfikir keras untuk menemukan rahasia kebenaran Ilahi,kapan manusia mau menggunakan ilmu pengetahuan untuk menemukan rahasia teka teki ilmuNya.

Nah coba saat ini,menemukan kebenaran Tuhan seperti berliku-banyak jalan terjalnya,  banyak penghalangnya,bila seorang agamawan berbicara tentang ‘kebenaran Ilahi’ yang bersifat mutlak maka bersiaplah untuk dikurung – dikeroyok oleh berbagai fihak : kalangan filosof -saintis-materialis-ateis-pluralis-skeptis-dan banyak lagi-dan banyak lagi dan banyak lagi dan banyak lagi….(maksud nya saking banyaknya…..).

Coba saat nabi Musa berbicara tentang Tuhan dihadapan umatnya,tak begitu banyak yang menentangnya kecuali beberapa orang yang mungkin degil fikirannya,apa sebab ? sebab semua telah tahu kehadiran Tuhan ditengah tengah mereka melalui mukjizat.

Sekarang,di zaman ini orang orang yang menentang agama seperti tidak tahu kehadiran Tuhan ditengah tengah mereka karena Tuhan seperti ‘bersembunyi’ ?

Apakah anda memimpikan saat saat seperti zaman para nabi Israel dahulu dimana manusia sulit membantah keberadaanNya karena eksistensi Nya sedemikian nyata dapat ditangkap oleh dunia indra ?…ah, ini hanya sekedar jawaban yang menggelitik hati. (Kita  kembali ke laptop)

Pernahkah  Anda memperhatikan seorang pastur dan pendeta, apa yang terlintas dalam benak Anda? Bagi saya, nampak sebuah perbedaan yang amat kontras (harus kita akui). Dari segi pelayanan, maupun yang paling kontras dari segi penampilan. Pastur perlente? Mungkin bagai mencari jarum diantara tumpukan jerami. Namun jika melihat pendeta perlente? Mungkin bagai mencari mutiara diatas pasir berwarna hitam, begitu berkilau, dan berbeda, dan mudah sekali didapatkan tentunya. Namun pada jaman para nabi dan para rasul tak ada yang perlente, baik Simon Petrus sampai Paulus. Mungkin bisa saja terjadi karena jaman sudah berubah…

Jaman para rasul mungkin tidak sempat memikirkan penampilan  ataupun membawa banyak perlengkapan ketika mewartakan firman Tuhan.  Namun pada jaman ini, banyak sekali hamba Tuhan yang sering kali berbicara lantang tentang kehidupan surgawi namun penampilannya sendiri amat duniawi. Tak jarang mereka membicarakan kehidupan selebriti yang sangat borjuis ataupun kehidupan jemaat yang serba gemerlap, namun kehidupan mereka tak ubahnya selebriti yang dipaksakan.

Saya tidak mengeneralisir bahwa semua pendeta seperti itu, karena masih banyak pendeta yang hidup dalam kesederhanaan dan jauh dari kesan “wah”, pendeta yang tak mematok tarif kotbahnya dengan rupiah, pendeta yang tak mematok standar harus “diistirahatkan” di hotel berbintang tujuh, ataupun harus dipesankan kelas VIP bahkan VVIP .

Banyak juga misionaris yang berkelana dengan bawaan seadanya. Masuk keluar hutan, turun naik bukit,Ditolak, dihina, dipukul bahkan dianiaya. Mereka tidak cengeng, mereka tetap maju tak gentar. Tak tanggung-tanggung, pelayanan mereka tidak seinstan pendeta jaman sekarang, banyak hal yang  menunjukkan bahwa mereka ( misionaris ) benar-benar mencari umat yang benar-benar belum mengenal Yesus, bukan rebutan sesama jemaat satu gereja.

Namun ironi dan pada faktanya, banyak sekali pendeta di jaman sekarang yang amat modis , tampil perlente dan dendy, serta sangat konsumtif. Pernah lihat potongan rambut Pdt Gilbert? Seperti abg alay jaman sekarang. Bajunya pun selalu trendy, dan penuh warna warni,dan tentunya juga tak ketinggalan parfumnya yang tidak mungkin dibeli dengan harga kaki lima. “Maaf pak Gilbert, jangan tersinggung”

Banyak sekali pendeta “centil” jaman sekarang yang ingin tampil berbeda dan menjadi pusat perhatian, membawa ipad atau Android. Suatu saat di era globalisasi ini  pendeta yang membawa alkitab akan dikatakan pendeta yang ketinggalan jaman.  Yang amat menyedihkan ketika seorang pendeta tampil, bukan kotbahnya yang menjadi pusat perhatian, namun penampilannya.

Banyak pendeta yang hanya ingin tidur di hotel berbintang atau di ruangan yang harus ber-AC. Banyak pendeta yang tidak mau naik kelas ekonomi, karena katanya melayani Tuhan. Banyak pendeta yang memakai mobil dengan harga ratusan juta, dan anak-anaknya sekolah di luar negeri. (Ada Nggak pendeta GPIB yang beginian…pasti nggaklah…kalau ada ya “Walahualam”, Perlu menjalani  vikaris ulang…hahahaha)

Jika memikirkan semua itu, apakah jabatan dan pekerjaan sebagai pendeta hanyalah kerja sambilan alias kerja sampingan semata? …

Mungkin setelah baca tulisan ini Anda ngedumel…monggo atau Anda akan berkata ; “Jaman telah berubah kawan… tidak bisa disamakan lagi antara jaman Rasul Petrus ataupun Paulus dengan jaman sekarang”

Ada loh,  pendeta mengatakan “TUHAN BERKATA KEPADA SAYA….” Atau Ketika pendeta berkata, MENDAPAT PENGLIHATAN, bahkan  yang lebih parah lagi  mengatakan telah piknik ke neraka, atau ,mengunjungi surga…Kacau banget …seolah mengatakan pada dunia bahwa mereka mendapat wahyu baru.

Ingatlah !,  sebuah WARNING penting; di masa Perjanjian Lama tentang PENGLIHATAN, Jawab TUHAN kepadaku: “Para nabi itu bernubuat palsu demi nama-Ku! Aku tidak mengutus mereka, tidak memerintahkan mereka dan tidak berfirman kepada mereka. Mereka menubuatkan kepadamu penglihatan bohong, ramalan kosong dan tipu rekaan hatinya sendiri.

Siapa yang tidak butuh uang, namun jika karena menjadi pendeta status kehidupan ekonomi  meningkat naik dan naik dalam tiap saatnya, maka layaklah dipertanyakan pelayanannya ?

Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Lukas 12:34

Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Matius 19:24

Namun dibalik semua itu, para pendeta yang hidup dalam kesederhanaan, dan dalam dedikasi yang luarbiasa, tidak terekspos sama sekali karena mereka enggan menjadi selebritis seperti halnya rekan – rekan mereka sendiri yang hidup dalam surganya dunia. Mereka bersaksi dan berkotbah dengan bimbingan Tuhan tanpa mencaci, tanpa berimajinasi, dan tanpa berkata bohong.

Mereka menyerahkan sepenuhnya pelayanan mereka seperti halnya Tuhan Yesus berkata : Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, Matius 6:28

Kita semua mempunyai tugas menceritakan tentang semua kabar gembira akan FirmanNya, tanpa kebohongan.Tanpa pencitraan, dan tanpa semua cerita karangan yang pada kenyataannya tidak pernah terjadi sama sekali. Itulah pelayan Sejati.

images

 

Minggu 16 Juni 2013 (Yeh 3:1-11)- “Makan, pergi, dan bicaralah”

1 Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, makanlah apa yang engkau lihat di sini; makanlah gulungan kitab ini dan pergilah, berbicaralah kepada kaum Israel.” 2 Maka kubukalah mulutku dan diberikan-Nya gulungan kitab itu kumakan. 3 Lalu firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab yang Kuberikan ini kepadamu dan isilah perutmu dengan itu.” Lalu aku memakannya dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku. 4 Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, mari, pergilah dan temuilah kaum Israel dan sampaikanlah perkataan-perkataan-Ku kepada mereka. 5 Sebab engkau tidak diutus kepada suatu bangsa yang berbahasa asing dan yang berat lidah, tetapi kepada kaum Israel; 6 bukan kepada banyak bangsa-bangsa yang berbahasa asing dan yang berat lidah, yang engkau tidak mengerti bahasanya. Sekiranya aku mengutus engkau kepada bangsa yang demikian, mereka akan mendengarkan engkau. 7 Akan tetapi kaum Israel tidak mau mendengarkan engkau, sebab mereka tidak mau mendengarkan Aku, karena seluruh kaum Israel berkepala batu dan bertegar hati. 8 Lihat, Aku meneguhkan hatimu melawan mereka yang berkepala batu dan membajakan semangatmu melawan ketegaran hati mereka. 9 Seperti batu intan, yang lebih keras dari pada batu Kuteguhkan hatimu; janganlah takut kepada mereka dan janganlah gentar melihat mukanya, sebab mereka adalah kaum pemberontak.” 10 Selanjutnya firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, perhatikanlah segala perkataan-Ku yang akan Kufirmankan kepadamu dan berikanlah telingamu kepadanya. 11 Mari, pergilah dan temuilah orang-orang buangan, teman sebangsamu, berbicaralah kepada mereka dan katakanlah: Beginilah firman Tuhan ALLAH; baik mereka mau mendengarkan atau tidak.”

Beberapa tindakan profetis Yehezkiel dianggap aneh dan nyeleneh, oleh orang-orang sezamannya salah satunya  ia memakan gulungan kitab dan katanya ; rasanya manis seperti madu  (Simbolis);   ( di depan gambar kasar dari Yerusalem yang buruk dalam pengepungan, ia berbaring ke sisi kiri selama 390 hari untuk menyatakan hukuman atas Israel, dan 40 hari ke sisi kanan , untuk menyatakan hukuman atas Yehuda. Ia mencukur kepala dan wajahnya, serta menimbang rambutnya, kemudian membaginya menjadi tiga untuk melambangkan bagaimana penduduk akan mengalami penderitaan dengan tiga cara. Ia menderita kebisuan dalam waktu lama . Ketika istrinva tiba-tiba mati, ia menolak untuk meratap sebagaimana yang ditentukan adat.)

Jika ada yang melakukan tindakan profetis seperti  yang dilakukan nabi Yehezkiel… bagi orang kristen jaman sekarang mungkin orang tersebut  dianggap nabi palsu,nabi nggak waras, nabi yang lebay, cari sensasi, atau pencitraan. Bukankah itu yang selalu dinilai oleh manusia jaman sekarang jika ada perilaku seseorang  yang tidak sesuai dengan lingkungan sekitar mereka ?…

Bukankah banyak di antara kita yang seperti bangsa Israel ini, keras kepala, kepala batu, dan tegar tengkuk. Meski mengalami banyak pertolongan dari Tuhan tapi nggak tau diri…banyak menuntut , muncul sugutnya karena banyak bersungut-sungut.  Kita harus sadar, adakalanya Tuhan ijinkan kita melewati masa-masa ‘padang gurun’ karena Ia hendak mengajar kita untuk hidup taat dan punya penyerahan diri penuh kepada Tuhan.

Seringkali kita menganggap bahwa nasihat atau teguran dari orang tua (kaum muda) itu seolah membatasi kesenangan kita. Seringkali kita merasa paling tahu  atau orang lain itu tidak penting. Tapi disaat kita ditimpa bencana baru kita menyadarinya, dan jika sudah seperti itu akan sulit bagi kita untuk merevisinya.

Kita bisa terus mengabaikan peringatan teguran Tuhan, keras kepala,kepala batu, dan tegar tengkuk,  tidak peka atau tidak mendengar karena kekerasan hati . Akibatnya kita terus melakukan kesalahan-kesalahan yang akan semakin memperparah segalanya dan iblis sangat menyukai orang-orang yang seperti itu.

Ingat ! Tuhan menyatakan bahwa jika kita  terus bersahabat dengan hal-hal yang menyimpang dari keinginan Tuhan, dan disana hati kita akan terus mengeras dan membatu. Dalam Amsal tertulis: “Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi.” (Amsal 29:1)…alias destroyed without remedy.

Sudah dilarang tapi bebal, sudah ditegur tapi pura-pura tuli dan lebih memilih untuk membuat bukit  dosa.  Dengan melakukannya berulang-ulang menunjukkan sebuah kebodohan. Firman Tuhan berkata: “Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.” (Amsal 26:11). “As a dog returns to his vomit, so a fool returns to his folly.” Seperti itulah kerasnya Alkitab menggambarkan orang-orang yang memiliki perilaku buruk seperti ini.

Sebagai Gereja,Pendeta, Majelis,Para pengasuh PA/PT , Bahkan keluar pasti pernah dihadapkan dengan mereka-mereka yang keras kepala, kepala batu dan tegar tengkuk apa yang harus kita perbuat?… ini Jawabnya:

“Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab yang Kuberikan ini kepadamu dan isilah perutmu dengan itu.” Nggak perlu takut, rasanya manis seperti madu dalam mulut kalian.”

” Aku meneguhkan hatimu melawan mereka yang berkepala batu dan membajakan semangatmu melawan ketegaran hati mereka. Seperti batu intan, yang lebih keras dari pada batu Kuteguhkan hatimu; janganlah takut kepada mereka dan janganlah gentar melihat mukanya, sebab mereka adalah kaum pemberontak.”  Selanjutnya , perhatikanlah segala perkataan-Ku yang akan Kufirmankan kepadamu dan berikanlah telingamu kepadanya. pergilah ,temuilah dan berbicaralah kepada mereka dan katakanlah: Beginilah firman Tuhan ALLAH; baik mereka mau mendengarkan atau tidak.”

“Seperti batu intan, yang lebih keras dari pada batu Kuteguhkan hatimu”

cover

 
 

Minggu 9 Juni 2013-1 Pet 1:3-12 Pengharapan di tengah masa sulit

 

Diantara kita semua pasti pernah ikut lomba tujuh belasan. Lomba panjat pinang, makan kerupuk, jika dianalogikan secara bebas lomba ini tak lain sindiran rakyat terhadap Hari Kemerdekaan. Para pemimpin yang dipercaya sebagai bangsa “konsisten menyelenggarakan kemiskinan.” Demi sepotong kerupuk, rakyat harus berjuang keras dan berebut mengunyah. Makna kemerdekaan masih seperti panjat pinang. Mereka yang di bawah diminta menjadi tumbal kemakmuran bagi segelintir manusia yg bertengger nun di atas singgasana kekuasaan.

“Dunia ini  memang aneh,” sementara banyak orang bernafsu menjadi raja semu, eh, malah ada raja beneran mendiskon derajat dengan mencalonkan diri sebagai pemimpin  menjadi pemangku budaya adiluhung. Mereka silau dengan jabatan politik yg usianya cuma lima tahun. Kursinyapun penuh ketonggeng, kalajengking,bangsat,lipan,kelabang, dan tikus.

Itulah,  saati ini yang terjadi di tengah-tengah kehidupan bangsa Indonesia, mereka berlomba untuk menjadi caleg,bupati,wali kota, dll,   kerena bagi mereka hal ini dijadikan sebagai mata pencaharian sekaligus menimbun kekayaan, urat malu mereka putus-pun mereka rela.

Banyak tempat ibadah ditutup, tindakan anarkis terhadap kaum minoritas , kaum minoritas malah dituduh sebagai biang terjadinya tindakan anrkis , dan  para pemimpin bangsa ini hanya menutup mata dan telingga, aturan dibuat untuk dilanggar.

Multimedia pada jaman digital cenderung meringkas,memoles, dan memanipulasi informasi dalam bentuk iklan politik. Busuk dibikin segar. Kasar dicitrakan lembut. Jahat dikemas alim. Korupsi dipoles suci. Pembunuh disugestikan dermawan. Kriminal dibentuk jadi agamis. Iklan politik bagaian dari mata rantai industri dan  perdagangan.

Fenomena yang terjadi saat ini membuat banyak  orang  kehilangan suatu pengharapan. Saat-sat ini kita harus waspada dan jangan terlena. Kita harus memberi ruang bagi Tuhan dalam hidup kita yang penuh dengan kesibukan menggunakan berbagai gadget berteknologi tinggi.

”Semakin cepat kita bisa bergerak, semakin efisien sarana penyingkat waktu kita, semakin sedikit waktu yang kita punyai. Dan, Tuhan? Pertanyaan soal Tuhan sepertinya tak penting lagi,” . Bukankah begitu?

Banyak orang yang  tidak lagi mempunyai ruang bagi Tuhan dalam hidup mereka, mereka juga tak akan punya ruang bagi orang lain. ”Itu artinya, tak ada ruang juga untuk orang lain, untuk anak-anak, untuk orang miskin, untuk orang asing,”.

Dimana kita bisa menemukan kekuatan untuk mengatasi ketakutan, tragediimages, bencana dan kesedihan? Untuk apa sesungguhnya kita bergantung kepada Tuhan?

Sampai manakah kita dapat bergantung kepada Tuhan? Apakah DIA seseorang yang sungguh dapat kita andalkan baik pada saat kesukaran maupun bahagia?

Tuhan adalah pencipta alam semesta yang rindu agar kita mengenal DIA. Benarkah ini adalah kerinduanNya bahwa kita bergantung kepadaNya dan mengalami kekuatanNya, cintaNya, keadilanNya, kekudusanNya, dan kelemahlembutanNya ?

Tuhan tahu apa yang akan terjadi ,  Dia berkata ” Akulah Allah, dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan pada mulanya hal yang kemudian”. Dia tahu apa yang akan terjadi di dunia. Yang lebih penting, Dia tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita dan Dia ada untuk kita. Jika kita  memilih Dia untuk masuk dalam kehidupan kita. Dia  menjadi “tempat perlindungan dan kekuatan”, pertolongan-Nya  selalu ada dalam masa-masa sulit.

Tetapi bukan berarti siapa yang mengenal Tuhan akan terhindar dari masa-masa sulit. Hal itu tidak akan terjadi. Salah satu pengikut Yesus Kristus berkata seperti ini: “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa, kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” Kenyataan memberitahu kita bahwa kita akan mengalami masalah-masalah dalam kehidupan. Bagaimanapun, jika kita menjalaninya sambil mengenal Tuhan, kita dapat bereaksi terhadap masalah itu dengan cara pandang yang berbeda dan dengan kekuatan yang bukan dari diri kita.

Tidak ada masalah yang tidak dapat diatasi oleh Tuhan. Dia lebih besar daripada semua masalah yang menimpa kita, dan kita tidak dibiarkan menghadapi masalah tersebut sendirian.

Firman Tuhan berkata “TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya.”Dan, “TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan. Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka.”

Tuhan Yesus memberitahu pengikutNya kata-kata yang melegakan ini: “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan saudara, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah  takut, karena kita  lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Jika kita  bersungguh-sungguh datang kepada Tuhan, Dia akan mengasihimu seperti yang orang lain tidak pernah lakukan, dan sesungguhnya tidak ada orang yang mampu memberikan kasih seperti itu.

Tuhan telah menciptakan manusia dengan kemampuan untuk memilih. Ini artinya bahwa kita tidak dipaksa untuk memiliki hubungan dengan Tuhan. Dia membiarkan kita menolak Dia dan kita juga dibiarkan untuk melakukan dosa juga. Dia bisa memaksa kita untuk mencintaiNya. Kita bisa dibuatNya agar menjadi baik. Tetapi, hubungan seperti apa yang akan kita miliki bersama Tuhan? Itu bukanlah hubungan sama sekali, tetapi sebuah paksaan, kepatuhan yang betul-betul dikontrol. Sebaliknya, Dia malah memberikan kita, harga diri kehendak bebas manusia.

Dunia ini  ini bukanlah tempat yang aman. Seseorang mungkin menembak kita. Atau, kita mungkin ditabrak oleh sebuah mobil, atau, kita mungkin harus meloncat dari sebuah gedung karena diserang oleh teroris-teroris. Atau berbagai hal mungkin terjadi kepada kita di lingkungan yang kejam yang disebut sebagai bumi. Tempat dimana kehendak Tuhan tidak selalu dijalankan.

Tetapi, Tuhan tidak berada didalam pengampunan setiap orang, tetapi  Kita berada dalam pengampunan-Nya. Inilah Tuhan, walaupun masalah-masalah sepertinya mustahil untuk kita lewati, kita mempunyai Tuhan yang luar biasa yang mengingatkan kita, “Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk-Ku?” bagaimanapun, Dia mampu menjaga kebebasan manusia yang berdosa, tetapi tetap membawa kehendakNya. Tuhan dengan tegas berkata, “Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya.”  Dan kita bisa membayangkan kenyamanan dari hal itu jika hidup kita diserahkan kepadaNya. “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”

Banyak dari kita–bukan, kita semua–memilih untuk bersikeras pada Tuhan dan jalanNya.  Ketika kita mulai untuk menyapa Tuhan dalam doa kita, apakah pernah terlintas, terhenyak oleh pemikiran bahwa Tuhan mengetahui pikiran kita, tindakan, dan keegoisan kita? Kita sering menjalani hidup kita seolah-olah kita bisa menjalaninya dengan baik tanpa Tuhan. Alkitab berkata bahwa “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri,”

Akibatnya? Dosa kita telah memisahkan kita dari Tuhan, dan dosa itu mempengaruhi lebih banyak didalam kehidupan kita. Hukuman bagi dosa kita adalah kematian, atau terpisah selamanya dari Tuhan. Bagaimanapun, Tuhan telah menyediakan sebuah jalan bagi kita untuk diampuni dan mengenal Tuhan.

Tuhan mengerti penderitaan dan kesusahan yang kita alami di dunia ini. Yesus meninggalkan kenyamanan dan keamanan di surga, dan memasuki lingkungan keras yang kita tinggali. Yesus merasakan lelah, lapar dan haus, mendapat tuduhan dari orang-orang, dijauhi oleh keluarga dan teman-temanNya. Tetapi Yesus mengalami lebih berat dari penderitaan sehari-hari. Yesus, anak Allah dalam bentuk manusia, dengan kerelaan menanggung segala dosa kita dan menebus hukuman mati yang seharusnya menjadi milik kita.

Dia menawarkan kepada kita kehidupan kekal. Kita tidak memiliki ini. Kehidupan kekal adalah pemberian Tuhan yang ditawarkan kepada kita., yang kita dapatkan ketika kita meminta Dia untuk memasuki kehidupan kita. “Tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus.”Hal ini cukup sederhana. “Tuhan telah memberikan hidup yang kekal kepada kita, dan hidup ini ada didalam anakNya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.” Dia ingin masuk dalam hidup kita.

Ada yang mengatakan bahwa Tuhan hanyalah penyangga/penopang. Tetapi sepertinya, Hanya Tuhan yang memang dapat dijadikan tempat untuk bersandar.

Yesus berkata, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, damai sejahtera Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”Untuk siapapun yang percaya kepada Kristus sepanjang hidupnya, Dia berkata bahwa hal tersebut seperti membangun hidupmu di atas batu. Apapun masalah yang menimpamu didalam kehidupan ini, Dia akan membuatmu tetap kuat.

Sekarang juga saudara bisa meminta Tuhan untuk memasuki hidupmu. Saudara bisa memintanya melalui doa. Doa berarti berbicara dengan jujur kepada Tuhan.

Tidak perduli apa yang terjadi disekitarmu, Tuhan selalu ada untukmu. Walaupun orang-orang tidak mengikuti jalan Tuhan, Tuhan mampu mengatasi keadaan yang menakutkan dan membuat rencanaNya terwujud. Jika saudara adalah milik Tuhan, saudara bisa berpegang pada janji yang berkata, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”

Rabu 15 Mei 2013- I Tes 5:6-11 “B E S A R”

Konteks

5:6 Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. 5:7 Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam. 5:8 Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan. 5:9 Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, 5:10 yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia. 5:11 Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.

 Berjagal-jaga dan Sadar!

Dua buah kata populer yang berisi pesan-pesan mendalam dan dianggap  ‘sakral’. Namun tidak setiap orang mengerti secara persis apa yang dimaksud kedua istilah tersebut dan apa makna yang  tersirat di dalamnya.  Keselamatan umat manusia tergantung sejauh mana ia bisa benar-benar menyelami kedua fatwa/memorandum tersebut dalam kehidupan sehari hari.

Berjaga-jaga

@ Berjaga-jaga atau Waspada akan hal-hal yang dapat menjadi pemicu atau pengantara  diri kita menjadi cemar,aib,cemooh dan direndahkan, dan tentu itu  bukan tanpa sebab. Semua itu sebagai akibat dari sebab yang pernah manusia lakukan sendiri sebelumnya. Sikap waspada dimaksudkan untuk menghindari segala perbuatan negatif destruktif yang mengakibatkan kita mendapatkan balasannya  menjadi cemar,aib,cemooh dan direndahkan.  Misalnya perbuatan menghina, mencelakai,  merusak dan menganiaya terhadap sesama manusia, makhluk, maupun lingkungan alam.

@ Berjaga-jaga, atas ucapan/lidah, sikap dan perbuatan kita yang  yang bisa mencelakai sesama  manusia,  makhluk lain, dan lingkungan alam.

@ Berjaga-jaga terhadap apapun yang bisa menghambat perjalanan hidup kita  terutama mewaspadai diri sendiri . Meliputi sikap dan spiritualitas anak-anak Tuhan. Mewaspadai apakah yang kita rasakan dan inginkan merupakan hal yang benar dan berkenan di hadapan Tuhan  ataukah hanya merupakan gejolak nafsu kedagingan  yang kotor . Mewaspadai diri sendiri berati kita harus bertempur melawan kekuatan negatif dalam diri. Yang menebar aura buruk berupa ego dalam diri (egois), merasa bener sendiri, dan mau-maunya sendiri. Dalam kehidupan bermasyarakat, kita harus mewaspadai diri pribadi dari nafsu mentang-mentang yang memiliki  kecenderungan eksploitasi , penindasan,dan nafsu aji mumpung.

@ Berjaga-jaga dalam arti awas atau saksama membaca bahasa alam .  Bahasa alam merupakan perlambang apa yang menjadi kehendak Tuhan. Bencana alam  bagaikan perangkap ikan. Hanya ikan-ikan yang selalu eling dan waspada yang akan selamat.

- Sadar (Dimensi Ketuhanan)

@ Sadar atau ingat, maksudnya ingat asal usul kita  . Dari Tuhan kita diciptakan  melalui seorang ayah dan  ibu karena kehendak Tuhan .   Jadi orang harus tahu dan sadar diri untuk selalu menyembah kepada dan mengagungkan Tuhan

@ Sadar bahwa kita harus menjalani kehidupan di dunia ini dengan hidup benar di hadapan Tuhan dan melakukan semua perintah-Nya sebagai syarat utama  yang menentukan kehidupan  kita “di masa yang akan datang” .  Menyembah bukan hanya dalam batas fisik, namun lebih utama mempraktekan sikap menyembah tersebut dalam pergaulan sehari-hari kehidupan bermasyarakat.

- Sadar  (Dimensi kemanusiaan)

@ Di samping menyembah kepada Tuhan. Adalah hal yang paling utama untuk sadar bahwa kita sebagai makhluk sosial , yang hidup bersama dan berdampingan sesama  makhluk Tuhan. Instrospeksi diri atau mawas diri sebagai modal utama dalam pergaulan yang menjunjung  tinggi perilaku utama (lakutama) yakni budi pekerti luhur. Dengan melakukan perenungan diri, mengingat atau menyadari dari mana dan siapa kita , kita menjadi, kita berhasil, kita sukses. Kita tidak boleh  menghilangkan jejak dan tidak menghargai jasa baik Tuhan maupun mengerti dan memahami kebaikan orang lain kepada kita.

@ Sadar bermakna sebagai pedoman hidup, melakukan kebaikan tanpa  pamrih. Tidak hanya itu saja, kebaikan yang pernah kita lakukan seyogyanya dilupakan, dikubur dalam-dalam dari ingatan kita.  Dalam pepatah disebutkan,” kebaikan orang lain tulislah di atas batu, dan tulislah di atas tanah kebaikan yang pernah kamu lakukan”. Kebaikan orang lain kepada diri kita “ditulis di atas batu” agar tidak mudah terhapus dari ingatan. Sebaliknya kebaikan kita “ditulis di atas tanah” agar mudah terhapus dari ingatan kita.

@ Sadar  siapa diri kita untuk tujuan jangan sampai bersikap sombong atau takabur. Selalu mawas diri  adalah cara untuk mengenali kelemahan dan kekurangan diri pribadi dan menahan diri untuk tidak menyerang kelemahan orang lain. Sebaliknya selalu berbuat yang menentramkan suasana terhadap sesama manusia. Selagi menghadapi situasi yang tidak mengenakkan hati, dihadapi dengan permasalahan yang terkadang membuat kita tertekan , ingat ; tidak benci jika dicaci,  tidak gila jika dipuji, teguh hati, dan sabar walaupun kehilangan.

Esensi dari sikap Berjaga-jaga  dan sadar  adalah berfikir, berucap, bersikap, bertindak, berbuat dalam interaksi dengan sesama manusia, seluruh makhluk, dan lingkungan alam dengan sikap  bijak.

Hakikiat hidup kristiani adalah ibarat sebuah perjalanan. Sudah berangkat, sudah meninggalkan garis start, tetapi belum tiba di tujuan, belum tiba di garis finish. 1 Tesalonika 5:6 berbunyi, “…. Jangan kita tidur…tetapi berjaga-jaga dan sadar.”Berada dalam keadaan seperti itu memang tidak enak. Ada dua godaan besar pada orang Kristen dalam situasi yang tidak enak itu.

Tidak seorangpun manusia dapat memperkirakan dengan tepat kapan Tuhan Yesus akan datang kembali. Oleh karena itu, kita tidak boleh terlena oleh kenyamanan hidup, melainkan harus senantiasa berjaga-jaga.

Rasul Paulus menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui waktu kedatangan Tuhan Yesus. Rasul Paulus memberi dua gambaran tentang kedatangan Tuhan Yesus, yaitu seperti kedatangan pencuri pada malam hari (5:2) dan seperti perempuan hamil yang tiba-tiba ditimpa sakit bersalin (5:3).

Nasihat kepada jemaat Tesalonika: jemaat tidak boleh tertidur atau terlena oleh keadaan yang terasa nyaman, melainkan harus selalu berjaga-jaga dan sadar (5:6-7).  kita harus senantiasa berjaga-jaga dengan mengenakan baju zirah iman dan kasih, serta mengenakan ketopong pengharapan keselamatan (5:8), karena Allah tidak menetapkan orang percaya untuk ditimpa murka, melainkan untuk beroleh keselamatan dalam Kristus Yesus (5:9).Dalam rangka menanti kedatangan Tuhan Yesus, Rasul Paulus mendorong jemaat untuk meneruskan kebiasaan yang sudah berlangsung dalam jemaat Tesalonika, yaitu saling menasihati dan saling membangun seorang akan yang lain (5:11).

Bagaimana dengan Anda? 

Sudahkah kita siap sedia untuk menyongsong kedatangan Tuhan kali yang kedua ini?  Atau kita masih berada dalam kelesuan, kesuaman dan tertidur secara rohani  ? … Keindahan semu  dunia ini dengan segala kenikmatannya yang sesaat  lebih menyita perhatian dan kian memperdaya banyak orang untuk tidak lagi memikirkan perkara-perkara rohani.

Jika diantara Anda  mulai malas dan mungkin mencapai titik jenuh  di dalam menjaga hubungan dan komitmennya kepada Tuhan.  Banyak yang melalaikan jam-jam doanya, acuh tak acuh terhadap jiwa-jiwa yang terhilang.  Banyak pula yang puas hanya dengan duduk memenuhi bangku gereja setiap Minggu, mendengar firman dan menerima berkat-berkat dari Tuhan, tapi tidak mempraktekkan apa yang telah mereka dengar dan pelajari. Berjaga-jagalah dan  segera sadar !

Jika di antara Anda  yang hidupnya ‘sama’ dengan orang-orang dunia, hanya ‘label’ Kristen saja yang membedakan, tetapi semua tindakan dan perbuatannya sangat mendukakan  hati Tuhan;  hidup tidak lagi disiplin dan membiarkan hati dan pikirannya dipenuhi oleh berbagai keinginan jahat, ketakutan, kekuatiran, iri, dengki, kebencian, dan sebagainya. Berjaga-jagalah dan  segera sadar!

Jika diantara Anda masih suka bohong, suka melontarkan kata-kata yang tidak sopan, membual, penuh tipu muslihat. “…karena hari-hari ini adalah jahat.  Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”  (Efesus 5:16-17).  Sudah tidak ada waktu lagi untuk tidur!  Tidak ada waktu lagi untuk tetap tinggal dalam comfort zone!  Kita harus berjaga-jaga  dan segera sadar!

Hiduplah seperti orang yang sadar selayaknya kita di siang hari, dan bukan seperti orang yang tertidur di malam hari. “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.

(Roma 13:13). Kita tidak pernah tahu kapan hari Tuhan datang, dan alangkah ironis jika ketika saatnya tiba, kita ternyata sedang tidak berjaga-jaga. “karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman–maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan…” (1 Tesalonika 5:2-3).

Tidak ada waktu lagi bagi kita untuk menunda-nunda. Mari kita mengenakan baju zirah, iman dan kasih, juga keadilan, terus membangun iman kita dalam Kristus, melakukan kesetiaan dalam situasi dan kondisi apapun. Keselamatan sudah dianugerahkan bagi kita semua, dan kita sudah menerimanya. Sekarang saatnya kita menjaga dan terus mengerjakan keselamatan itu sampai ke garis akhir.

B E S AR = Berjagalah dan Sadar

images

Minggu 5 Mei 2013-Galatia 3:23-29– “Si Iman sang Pembebas”

dsc06190.jpg

Galeri ini berisi 1 foto.

3:23 Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan   hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan.   3:24 Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus  datang, supaya kita dibenarkan karena iman.  3:25 Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi … Continue reading