Minggu 7 Desember 2014 Tetap teguh berpengharapan- Maz 80:2-4


don

80:2 (80-3) di depan Efraim dan Benyamin dan Manasye! Bangkitkanlah keperkasaan-Mu dan datanglah untuk menyelamatkan kami.
80:3 (80-4) Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.
80:4 (80-5) TUHAN, Allah semesta alam, berapa lama lagi murka-Mu menyala sekalipun umat-Mu berdoa?

Efraim, Benyamin, dan Manasye, adalah keturunan Rahel, dan mereka mewakili Kerajaan Utara.

Mazmur ini merupakan keluhan dan erangan sekaligus   pujian bangsa Israel pada saat tertekan.
Bangsa Israel tertekan karena Jatuhnya kerajaan utara Israel  ke Asyur pada 722 SM.
Jatuhnya Israel utara ke tangan Asyur membawa tragedi/bahala  yang luar biasa. Ayt :4 “Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat”.Bukankah itu kelakuan kita juga ,saat tertekan baru mencari Tuhan ?
Bangsa Israel berada pada “kegalauan tingakta dewa” yang dapat mengakibatkan bencana atau kehancuan yang luar biasa. Karena  , Ayt: 5-6 “TUHAN, Allah semesta alam, berapa lama lagi murka-Mu menyala sekalipun umat-Mu berdoa? Engkau memberi mereka makan roti cucuran air mata, Engkau memberi mereka minum air mata berlimpah-limpah,

“Kegalauan tingkat dewa”  orang Israel  terjadi karena mereka sudah berdoa berulang-ulang kepada Allah tetapi doa mereka tidak dijawab oleh Tuhan…penyebabnya II Raja-raja 16:8 Ahas mengambil perak dan emas yang terdapat dalam rumah TUHAN dan dalam perbendaharaan istana raja, dan  hal ini turut menggoyahkan iman bangsa Israel sehingga mereka melakukan penyembahan berhala dengan mempersembahkan perak dan emas yang terdapat dalam rumah TUHAN kepada raja Asyur.

Ilustrasi

Pada suatu hari, iblis sedang bokek (=kurang uang), lalu mengiklankan bahwa ia akan mengobral perkakas-perkakas kerjanya. Pada hari H, seluruh perkakasnya dipajang untuk dilihat calon pembelinya, lengkap dengan harga jualnya. Seperti kalau kita masuk ke toko hardware, barang yang dijual sungguh menarik, dan semua barang kelihatan sangat berguna sesuai fungsinya. Harganyapun tidak mahal. {buat list}

Barang yang dijual antara lain; Dengki, Iri, Tidak Jujur, Tidak Menghargai Orang Lain, Tak Tahu Terima Kasih, Malas, Dendam, dan lain-lainnya.

Di suatu pojok display, ada satu perkakas yang bentuknya sederhana, sudah agak aus, tampaknya sering sekali dipakai, tetapi harganya sangat tinggi, bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan yang lain.

Salah satu calon pembeli bertanya, “Ini alat apa namanya?” Iblis menjawab: “Itu namanya Putus Asa” “Kenapa harganya mahal sekali, padahal sudah aus?” “Ya, karena perkakas ini sangat mudah dipakai dan berdaya guna tinggi. Saya bisa dengan mudah masuk ke dalam hati manusia dengan alat ini dibandingkan dengan alat lain. Begitu saya berhasil masuk ke dalam hati manusia, saya dengan sangat mudah melakukan apa saja yang saya inginkan terhadap manusia tersebut. Barang ini menjadi aus karena saya sering menggunakannya kepada hampir semua orang, karena kebanyakan manusia tidak tahu kalau Putus Asa itu milik saya”.

COPAS

Penderitaan akan bisa diterima jika kita dapat memaknainya

Penderitaan tidak akan menjadi kata terakhir dalam hidup kita. Kecuali jika kita yang merelakannya..

Rasul Paulus mengatakan, bahwa kita harus berjuang terus “sebagai seorang prajurit yang baik dari Yesus Kristus”. Kita harus mengalahkannya.

Dekaplah penderitaan itu bukan untuk menjadi mangsa dan korban darinya, tetapi untuk mengubahkannya. Lewat penderitaan itu lahirlah kemenangan dan kehidupan yang sebenarnya. Bukan saja untuk diri sendiri tapi untuk semua manusia.

So, itulah penderitaan kita tidak perlu melarikan diri dari padanya. Justru kita harus mendekapnya, bukan sebagai sikap menyerah, tetapi justru untuk mengalahkannya ! mengubahnya menjadi kemenangan !

Jangan biarkan keluh kesah kita menghujam semangat kita. Ayo, tegarkan hati jangan biarkan semangat hilang hanya karena keluhkesah kita. Temukan secercah sinar yang berpengharapan.

Sebenarnya banyak diantara kita yg lebih berhak mengeluh, sayangnya suara mereka parau dan tak terdengar, karena mereka tak sempat lagi mengeluh. Beban kehidupan yang berat lebih suka mereka jalani daripada disesali. Jika demikian, apakah kita lebih suka mengeluh daripada menjalani tantangan hidup? Terkadang ketidakadilan dan kejahatan memprovokasi kita untuk bertindak gegabah, dan tidak menggunakan akal sehat pemberian Allah.

Hidup adalah perjuangan yang tak kan pernah usai, ungkapan itu sangat familiar dan sering kita dengar serta terucap dengan mudahnya oleh seseorang, dari mulai pengamen, penyanyi, pengembara, penulis dan kalangan lainnya. Jika kita urai perjalanan hidup kita maising-masing, jalan kehidupan kita laksana serangkaian dari potongan-potongan episode kehidupan yang disambung menjadi serangkaian alur cerita yang mana diri kita menjadi pemain utama untuk diri kita sendiri. Tuhan yang menjadi sutradara dan sekaligus sebagai penulis skenario.

Sudah sepantasnya kita menghargai diri kita dengan mengambil peran yang baik-baik, peran yang mampu membuat penonton dan lawan main kita terkesima dengan sifat dan karakter yang kita perankan, peran yang mampu memikat sang sutradara agar sang sutradara merasa puas dengan apa yang dikehendaki Nya, sehingga kita akan mendapat kan reward dari Nya, baik itu reward berupa peran yang lebih menantang atau reward

Jangan biarkan penderitaan berjalan seorang diri…tetapi temanilah sepanjang waktu, maka anda akan mengenal lebih dalam akan dia dan menjadi sahabat sejati anda untuk bersatu menaikkan doa-doa Anda pada-Allah….Martha belawati

“ Derajat anda tidak dapat diukur disaat ia berada di alam yang nyaman dan ramah.  Mentalitas yang tangguh   mampu menghadapi tantangan seberat apapun, disitulah derajat anda dapat   diukur “ -Donny

Percayalah pada kebenaran. Benar itu sifat Tuhan. Benar itu sederhana, tidak menyakiti dan tidak menimbulkan penyesalan.

Untuk setiap orang yang sedang dalam masalah, percayalah bahwa kalian mampu menyelelesaikan itu jika tetap teguh dalam pengharapan akan kasih-Nya. Bukankah Tuhan mempercayakan masalah itu kepadamu, Kawan?
Lihat, Tuhan saja percaya padamu, mengapa kau masih ragu?

Terkadang hidup sulit tuk di jalani..
Namun tetaplah melangkah tuk gapai cita – cita dan harapan..
Syair terkadang bisa di jadikan ungkapan perasaan apa yang ada dalam benak, dan bait – baitnya bisa di jadikan sebuah nyanyian jiwa..

Dalam masa Adven kita menantikan kelahiran Yesus.

Tidak disangkal bahwa kesulitan, kekecewaan, kehilangan, dan derita yang lain adalah bagian dari kehidupan. Namun hidup juga ditandai dengan harapan akan kedatangan Anak Manusia yang akan memampukan kita melihat dengan jelas, mendengar dengan jernih dan merasakan pengalaman penyertaan Allah, sehingga membuat kita dapat bersinar seperti cahaya dalam gelap.

Berpengharapan  adalah sikap tenang, tidak terburu nafsu, dan tekun dalam menghadapi segala macam situasi.

Minggu 23 Nov 14 =>Pengharapan Anak-anak Allah-(Roma 8:18-25)


Pengharapan anak-anak Allah

Pengharapan dapat kita artikan sebagai permohonan, minta ,keinginan supaya sesuatu terjadi dan sesuatu itu biasanya hal yang sesuai dengan kebutuhan atau keinginan. (Baca Ibrani 6:19-20)

Jadi Pengharapan tidak berdiri sendiri tapi bersanding  dengan iman, karena iman membuat orang memiliki pengharapan kepada Allah.

Yang harus kita pahami, pengharapan berbeda dengan keinginan . Menginginkan adalah sesuatu yang kita mau untuk memuaskan diri kita pribadi. Sedangkan pengharapan adalah sikap dan cara hidup yang mengandalkan pada apa yang Allah kehendaki. Hidup dalam pengharapan adalah hidup yang mendasarkan diri pada anugerah keselamatan Allah di dalam diri Tuhan Yesus Kristus, karena di dalam diri-Nya ada pengharapan kehidupan.

Banyak orang  kecewa, marah dengan keadaan atau penderitaan yang dialami dalam kehidupannya. Mereka mulai menyalahkan Tuhan atas apa yang dialami. Dengan kekecewaan yang kita  alami. Akhirnya kita melakukan tindakan  yangtidak logis  untuk keluar dari permasalahan yang ada, apa pun caranya, tidak peduli apakah jalan yang ditempuhnya nanti berujung pada kesia-siaan, seperti tertulis:  “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” Itu terjadi karena kita di dalam berpengharapan hanya “suam-suam kukuoh Kudus.

Hidup oleh Roh di samping hidup dipimpin oleh Roh Kudus, tetapi hidup itu memiliki orientasi atau juntrungan akan pengharapan dari  Allah selama kita hidup bahkan pada saat kemuliaan dinyatakan pada kita. Pemuliaan inilah tujuan pengharapan sejati di dalam Kristus.  Hal inilah yang Paulus ajarkan.

Tetapiapan  pengharapan sejati  tidak membuat kita terbebas dari penderitaan… Paulus menyatakan hal ini ;    8:22 Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh  dan sama-sama merasa sakit bersalin. 8:23Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh,  kita juga mengeluh  dalam hati kita sambil menantikan  pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan

Meskipun kita memiliki pengharapan akan kemuliaan kita di dalam kekekalan, kita tetap harus rela menderita di dalam dunia yang semu ini. Hidup dan keselamatan Kristen bersifat paradoks, yaitu sudah (already) dan belum (not yet).

Pengharapan itulah yang akan dinikmati oleh setiap kita yang hidup menurut Roh. Sudahkah kita hidup menurut Roh dan beriman akan pengharapan yang pasti  ?

Setiap kita pasti selalu berharap bahwa perjalanan hidup kita baik-baik saja tanpa hambatan yang merintangi.  Demikian pun Tuhan selalu ingin kita menjadi kuat seperti rajawali, yang meskipun harus melewati badai tetapi  mampu terbang tinggi.

Tuhan tidak pernah membiarkan kita bergumul seorang diri, Dia sangat peduli dan sanggup memberikan pengharapan yang pasti dan tidak pernah mengecewakan!

Kita harus yakin dan berpengharapan bahwa di dalam Tuhan bahwa “pasti ada jalan keluar.” Sesulit apapun persoalannya, jalan keluar selalu tersedia. Yang perlu diingat, kesulitan adalah bukan akhir dari segala-galanya.

Tekun dan penuh motivasi   dalam berpengharapan  merupakan syarat untuk bisamemiliki pengharapan yang berkemenangan.
Tantangan kehidupan adalah sebuah harapan bahwa di balik sebuah tantangan, selalu ada makna, hasil sesuatu yang didapatkan. Berserah kepada kehendak Tuhan Filipi 4:13 menyaksikan bahwa “segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Hidup sebagai orang percaya bukanlah hidup yang hanya untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan.
Hidup berpengharapan dapat mengandung sikap dan tindakan yang percaya akan pengharapan janji Tuhan dalam kemuliaan.

Sikap dan tindakan hidup yang terus menerus berjuang menuju kesempurnaan walaupun susah kita tetap berusaha . Hidup yang terus memandang ke depan kepada rencana Allah.

Kehidupan adalah anugerah Allah bagi manusia dan juga bagi gerejaNya. Hidup adalah kesempatan untuk berkarya. Hidup bukan hanya sekedar menjalani hari-hari sampai kematian menjemput. Makna hidup ditandai dengan seberapa banyak hasil karya yang dapat dilakukan. Kehadiran gereja dan kehadiran orang percaya dirasakan dengan seberapa banyak hasil karya yang sudah dilakukannya.

Ada suatu quote yang mengatakan manusia dapat menulis apapun dalam suatu kertas yang kosong, namun berikanlah penghapusnya kepada Tuhan. Analogi ini mengesankan bahwa manusia dapat merencanakan segala sesuatu yang ia inginkan untuk hidupnya, namun tetap saja Tuhanlah yang memiliki kuasa atas hidup kita, yang artinya Tuhan berhak mengabulkan atau bahkan menghapus rencana kita sesuai dengan kehendakNya  jika tidak sesuai dengan harapan-Nya.

Sebagai manusia yang lemah haruslah kita dalam berencana ataupun bertindak tidak mencongkakkan diri sendiri namun menyerahkan segala sesuatunya sesuai dengan kehendak Allah. Sebab sesungguhnya Tuhan mengetahui setiap rancangan manusia (Mazmur 94 : 11) dan janganlah sampai kita jatuh atas rancangan yang kita lakukan sendiri karena apa yang kita rencanakan adalah hal yang salah (Mazmur 5 :11).

“Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”  Lukas 8:15

Apa yang kita capai di hari ini adalah hasil dari apa yang kita lakukan di masa lalu kita. Segala sesuatu di dunia ini selalu terkait dengan hukum tabur – tuai. Sama seperti kita menanam sebuah pohon, tentunya buahnya baru bisa kita nikmati, tidak instan saat kita menanamnya, akan tetapi memerlukan proses waktu. Karena itu “Ketekunan membawa hasil yang mengarah pada kemuliaan”

Sampai hari ini, kita tetap diingatkan agar bertekun dalam menghadapi segala perkara. Perkara kecil maupun besar kita hadapi dengan penuh sukacita. Firman Tuhan dalam Roma 12 : 12 “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”

Seuntai Kata Mutiara tentang

‘Ketekunan yang Berengharapan’

Tak Ada Apapun di Dunia yang Sanggup Menggantikan Ketekunan berpengharapan…

Bakat?

Bukan – tidak ada yang lebih lumrah daripada orang-orang berbakat yang tidak berhasil …

Kekayaan?

Bukan – orang-orang kaya sejak lahir yang mati melarat banyak sekali …

Sang Jenius?

Bukan – orang jenius yang tidak mendapat penghargaan hampir merupakan sebuah peribahasa …

Pendidikan?

Bukan – dunia ini penuh dengan gelandangan terpelajar …

Keberuntungan?

Bukan – ketidaksetiaan telah meruntuhkan banyak raja …

 DSC_0196Ketekunan yang berpengharapan  itu sendiri adalah ”mahakuasa”

INGAT ! FIRMAN TUHAN SUMBER PENGHARAPAN

Rabu, 19 Nov 14=> Tuhan sumber sukacita & kekuatan (Hab 3:17-19)


3:17 Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, a  kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, b  3:18 namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN 4 , c  beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan d  aku. 3:19 ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: e  Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku. f  (Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi).

Pada jaman nabi Habakuk seluruh kehidupan bergantung pada agriculture seperti pohon ara, anggur, pohon zaitun, hasil ladang, kambing domba dan lembu sapi. Mereka hidup hanya dari tanaman dan dari hasil peternakan.

Ada apa dan  mengapa dengan Habakuk  ?  Nggak masuk akal dan di luar jangkauan pikiran kita, mana mungkin ; ay 17 sudah masuk dalam kondisi yang hopeless total tetapi dalam kondisi seperti ini Habakuk bisa berkata, ” aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN ,   beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan   aku. sekalipun pohon ara tidak berbunga,  dan tidak ada lembu sapi dalam kandang namun Habakuk berkata, “Aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkanku.”  Hampir mirip dengan pepatah “Mangan nggak mangan ngumpul” (Makan tidak makan tetap kumpul)

Distingtif/istimewa ,  dimana  kitab ini  berkaitan dengan kegalauan Habakuk sendiri. Kitab ini merupakan perenungan dari dua pertanyaan yang diajukan Habakuk kepada Allah (1:2-3, 12-13). Kitab Habakuk justru terfokus pada diri sang nabi.

Kemungkinan besar  Habakuk sudah berpikir realistis sehingga mengalami pembaharuan dalam pola pikirnya dalam memandang realita hidup.  Tetapi realitanya penindasan masih tetap berlangsung bahkan lebih parah.

Kemungkinan juga  ungkapan tersebut adalah bentuk tanggung jawab Habakuk  tanpa limitasi, mandiri , dimana satu kondisi yang sangat presensi  (keberadaan)   untuk berhubungan dengan  realita dan dengan Allah.  Jika diantra kita memiliki komitmen seperti Habakuk maka hidup kita akan melihat segala sesuatu dengan cara yang berbeda.

Kalau sebelumnya Habakuk marah-marah sekarang justru Habakuk penuh belas kasih. Sekalipun Tuhan akan menghukum  dengan murka-Nya, dia sempat menyisipkan satu kalimat, “Tuhan dalam murkaMu ingatlah akan kasih sayang!”

Habakuk sebelumnya sama dengan kita sering ngedumel daripada bersyukur. Suka menonjolkan kekurangan-kekurangan pada diri kita (mengeluh) daripada melihat “talenta” yang ada pada kita.

Dengan bersyukur kita bisa menerima keadaan apapun yang kita alami . Rasa syukur dapat membawa kita dalam damai. Sama dengan orang pandai membuat rumahnya di atas batu karang yang teguh dan menciptakan visi untuk masa depan.

“Kedamaian akan kita rasakan  jika  hati yang bersyukur untuk hal-hal kecil yang sudah ada dalam diri kita kita.”

Berbuahlah  di dalam komitmen ketaatan . Proses pertumbuhan iman adalah melalui pergumulan maka Tuhan mengajar kita bergumul, berkomitmen.Mari kita belajar bertumbuh dan berbuah  dari Habakuk. Dalam Tuhan ada sukacita dan kekuatan.

Diamkanlah  sukacita dari Tuhan dengan erat di dalam hati Anda. Paulus berkata, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Flp. 4:4). Jangan Galau. Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan, dan Ia akan menjadi sumber kekuatan Anda. Bagikanlah sukacita itu dengan orang-orang lain.

Jika kita  ada dalam kegalauan ? Jangan fokus pada kegalauan karena itu dapat membawa bencana, seperti yang di tulis di Media Sosial baru-baru ini terjadi pemukulan terhadap presbiter yang berakibat fatal, harus dioperasi dan dibuka tengkoraknya hanya masalah mutasi seoerang pendeta, sungguh miris. FDSC_0183okus pada Yesus dan percayalah  Ia akan beri jalan keluar bagi setiap kegalauan  kita. Ijinkan Ia membebat hati yang terluka. Izinkan Ia mengkoreksi dirimu dan membentuk dirimu sesuai rencanaNya.

Doa: Tuhan, Kau adalah sumber sukacita dan sumber  kekuatan kami. Tolong kami pada hari ini untuk senantiasa fokus padaMU dalam menghadapi permasalahan dalam kehidupan ini. Amien.

Minggu 16 Nov 14 -2 Raja-raja 2: 1-14 Transfigurasi Elia kepada Elisa


DSC_01962:12 Ketika Elisa melihat itu, maka berteriaklah ia: “Bapaku, bapaku! Kereta q  Israel dan orang-orangnya yang berkuda!” Kemudian tidak dilihatnya lagi, lalu direnggutkannya pakaiannya dan dikoyakkannya r  menjadi dua koyakan. 2:13 Sesudah itu dipungutnya jubah Elia yang telah terjatuh, lalu ia berjalan hendak pulang dan berdiri di tepi sungai Yordan. 2:14 Ia mengambil jubah s  Elia yang telah terjatuh itu, dipukulkannya t  ke atas air itu sambil berseru: “Di manakah TUHAN, Allah Elia?” Ia memukul air itu, lalu terbagi ke sebelah sini dan ke sebelah sana, maka menyeberanglah Elisa.

Alkitab mencatat ada dua orang yang naik ke surga hidup-hidup, tanpa mengalami kematian, yaitu Henokh dan Elia. Keduanya hidup bergaul dengan Allah.

Rupanya kenaikan Elia ke surga ini sudah diberitahukan lebih dulu, baik kepada Elia, Elisa maupun rombongan nabi di Betel dan Yerikho.

Sepertinya  Elia berusaha untuk meninggalkan mungkin  ia ingin menghadapi peristiwa pemuliannya  itu. 3 x Elia berusaha melakukan hal ini, dan 3 x Elisa menolak untuk ditinggalkan Elisa dan Elisa   tahu bahwa itu adalah saat-saat terakhir ia bisa bersama tuannya .

Elisa tidak bicara satu katapun tentang peristiwa pemuliaan Elia ke surga, mungkin sebagai pelayannya ia  merasa sedih  karena sudah sekian lamanya ia selalu bersama tuannya dan melihat/menjadi saksi pelayanan dan mijizat-mujizat yg dilakukan Elia bahkan tidak menutup kemungkinan Elisa berharap ia akan seperti Tuannya.

Tawaran Elia dan permintaan Elisa.

Elisa meminta 2 bagian dari roh Elia… ”  2:10 Berkatalah Elia: “Yang kauminta itu adalah sukar. Tetapi jika engkau dapat melihat aku terangkat dari padamu, akan terjadilah kepadamu seperti yang demikian, dan jika tidak, tidak akan terjadi.”

Mungkin bagi kita membingungkan, mengapa Elisa meminta 2 bagian roh dari Elia ? Elia  merasa tidak mampu dan  tidak mempunyai  hak untuk mengabulkan permintaan tersebut, karena itu adalah anugerah Tuhan dan hak prerogatif Tuhan…jadi kemungkinan permintaan Elisa  akan “2 bagian roh Elia” merujuk pada karunia-karunia yang ada pada diri Elia.

Permintaan nabi Elisa tersebut sebenarnya merupakan pemenuhan dari perintah Allah kepada nabi Elia (I Raj. 19:16).  Allah telah menunjukkan kepada nabi Elia seorang calon penggantinya yang baik dan setia, sehingga ketika nabi Elia diangkat ke sorga, Allah berkenan membuka mata Elisa. Karena Elisa memperoleh  kekuatan dan wibawa kenabian dari nabi Elia (transfigurasi) . Nabi Elisa pun memiliki kuasa mukjizat untuk menyelamatkan  banyak orang yang menderita.

Tetapi ada catatan yg menarik, bahwa Elia lebih besar dari Elisa, terlihat dari fakta bahwa yang muncul bersama Yesus pada waktu pemuliaan di gunung adalah Musa dan Elia, bukan Elisa (Mat 17:3-4).

Ada hal luar biasa dari Elisa sebagai seorang pelayan, ia tidak meminta hal-hal duniawi atas permohonannya, Elisa hanya minta “justifikasi.” Tuhan mengabulkannya dimana ia menyaksikan peristwa pengangkatan Elia…

Untuk meyakinkan dirinya, Elisa meniru apa yang Elia lakukan, apakah ia betul-betul mendapatkan warisan 2 bagian roh Elia. Ternyata ia berhasil melakukan mujizat itu .

Elisa  menjadi ahli waris “roh” Elia, dalam hal ini tidak diartikan sebagai reinkarnasi. Dengan bekal itu Elisa dapat menyaksikan kepada umat Israel tentang peristiwa itu. Namun, yang lebih penting bukanlah kesaksian tentang Elia yang naik ke sorga. Melainkan Elisa mendapat legalitas atau justifikasi (pengesahan) untuk meneruskan tugas panggilan Elia. Itulah kesaksian iman: meneruskan perjuangan yang dilakukan pendahulunya.

Hal yang serupa tersebut juga terjadi  dengan para murid yang melihat Yesus dipermuliakan? Petrus, Yakobus dan Yohanes , mereka menyaksikan Yesus yang berubah rupa (transfigur) diliputi pakaian putih berkilauan. Tampak di hadapan mereka Elia dan Musa. Figur-figur yang sangat dihormati oleh orang Israel. Suasana itu dipakai Allah untuk melegitimasi atau menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang harus di dengar.

Peristiwa kenaikan Elia dan Tuhan Yesus yang di saksikan oleh murid-murid mereka adalah keistimewaan. Peristiwa tersebut tidak ada dalam kesaksiaan atau perjalanan hidup kita sebagai umat Tuhan  ini. Tetapi itu bukan menjadi hal yang krusial bagi kita.   Petemuan  dalam  iman percaya pada Kristus dan membuka diri kita  untuk dibentuk oleh-Nya adalah jauh lebih penting daripada  “bermimpi” mengalami  perjumpaan secara fisik.

“Perjumpaan iman”  mampu menjadi saksi dan memampukan orang lain berjumpa dengan Kristus. Di situlah kesaksian kita  dalam  memuliakan Tuhan.

Legalitas/justifikasi Yesus sebagai Tuhan bukan menjadikan kita “sombong rohani” ,Tetapi bertujuan untuk memotivasi  siapa saja yang sedang berjuang menegakkan keadilan dan menyerukan kebenaran seperti Elia dan seperti Yesus sendiri. Kemuliaan Tuhan   yang adil dan benar haris kita”deliveri”  secara cuma-cuma jangan mengharapkan sesuatu, karena Tuhan sudah menyediakan bagian/berkat atas jerih payah kita.

Kita harus memiliki mental seorang pelayan, memiliki motivasi seorang abdi, dan bersikap seperti seorang hamba.               Jangan kita hanya bisa berkoar-koar dan mengumbar kata-kata di di dalam pelayanan bahkan sebagai seorang pelayan di atas mimbar. Kita dituntut  melakukan tindakan nyata. Itulah “pelayanan” , TINDAKAN NYATA…Bukan “rumusan” atau “OMDO” (omong doang) bahkan berwacana doang. Sebagai seorang pelayan kita dituntut memiliki KERENDAHAN HATI dan PENYANGKALAN DIRI.  Sebab tidak ada yang lebih mulia dan luhur dari keduanya . Dengan kita melakukan tindakan aksi yang sesuai kehendak Tuhan maka itu  membuktikan adanya kemampuan melayani yang sejati terhadap sesama.

Sebab itu, tunjukkan dan nyatakan diri Anda sebagai pelayan  umat yang sejati…a true leader, melalui KERENDAHAN HATI  DAN PENYANGKALAN DIRI dalam melayani.

Sebagai umat  Tuhan yang telah ditebus  oleh Tuhan Yesus  gereja mengalami transfigurasi, menjadi garam dan terang di tengah dunia .

 “Jika diri Anda menjadi  tolak ukur dalam pelayanan, maka pelayanan menjadi sia-sia.  Jika keteladanan Yesus yang menjadi tolak ukur pelayanan Anda, maka semua menjadi elok dan mulia dipandang     mata.”

 

Rabu 12 Nov.14 Habakuk 1:2-11 Kegalauan Habakuk


1:2 Berapa lama b  lagi, TUHAN, aku berteriak 2 , tetapi tidak Kaudengar, c  aku berseru kepada-Mu: “Penindasan!” tetapi tidak Kautolong? d  1:3 Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang e  kelaliman? f Ya, aniaya dan kekerasan g  ada di depan mataku; perbantahan h  dan pertikaian terjadi. 1:4 Itulah sebabnya hukum i kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan j  muncul terbalik. k 

Pekerjaan menunggu terkadang sangat menyebalkan apalagi jika kita tidak tau pasti  dan sampai kapan kita menunggu. Tetapi jika kita sabar dalam penantian apalagi menanti jawaban Tuhan, pasti iman kita berada di “level atas.”

Banyak diantara kita yang tidak sabar dalam penantian, seperti seorang “rentenir”  yang menanti janji orang yang berhutang terhadapnya. Sering kita sepeti seorang anak kecil pada umumnya yang selalu menrengek rengek agar permintaannya dikabulkan.

1:2 Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak KAUdengar, aku berseru kepada-MU: “Penindasan!” tetapi tidak KAUtolong?

Apakah Habakuk seperti anak-anak yang merengek dan marah karena menunggu jawaban dari tuhan ? Apakah dengan rengekannya menunjukkan Habakuk adalah seorang nabi yang tidak beriman?  Apakah kerohanian Habakuk perlu dipertanyakan, dengan sikapnya “mempersalahkan Tuhan?”

“Keberanian” Habakuk melontarkan pernyataan “Aku berteriak, tetapi tidak KAU dengar”  apakah merupakan bukti Habakuk menyalahkan TUHAN?  Apakah  Habakuk  tidak memahami   rancangan  TUHAN? Benarkah TUHAN tidak mendengar keluhan Habakuk seperti yang dituduhkannya?GalauDSC_0024

Habakuk sebenarnya mengalami “Galau tingkat Dewa” yang sinonimnya adalah: berat otakbimbangbingungcemasgelisah,  kacaukarutkeruhkhawatir,kusutnanarpakau, resahrisausemak hatisenewensesat pusatterombang-ambingwas-was, hilang akal, dan frustasi. “Galau tingkat Dewa” terjadi karena Habakuk berada di tengah-tengah kesulitan, ketertindasan dan keteraniayaan. Apa yang dialami Habakuk adalah hal yang wajar. Pemerintahan Yoyakim melakukan kejahatan, memutarbalikan kebenaran

Setiap manusia akan mengalami tekanan mental atau emosional yang tinggi jika mengalami kesulitan , pendertaan dan teraniaya. “Galau tingkat dewa” tidak memandang bulu, baik oang kaya,miskin, generasi muda, pejabat, bahkan para pendeta. Jika kita tidak mampu mengatasinya maka kita akan terhempas ditelan penderitaan.

Sebagai orang beriman kita harus waspada, selalu bersandar pada Tuhan , jangan bersandar pada pengertian kita sendiri. Percaya dan yakin TUHAN selalu mendengar dan akan memberikan pertolongan tepat pada waktunya.

Karena Habakuk mengalami “Galau tingkat dewa” ia tidak ingat atau tidak memahami rencana besar ALLAH di dalam kehidupan mereka.

Sebagai orang Kristen, kita harus memahami bahwa Tuhan mempunyai rencana yang lebih besar dengan peran kita sebagai alat-Nya.

Melihat degradasi moral, penyelewengan hukum, dan ketidakadilan di tengah-tengah bangsa ini, apa yang harus kita perbuat? Jangan pikirkan kepentingan diri sendiri saja, tapi jadilah teladan dan penyuara keadilan.

Seringkali keduniawian  menghalangi  sikap kita terhadap janji Tuhan.  Kita dikalahkan dengan apa yang terlihat oleh mata jasmani kita sehingga kita pun bertanya dalam hati,  “Apakah benar janji Tuhan itu?  Jangan biarkan akal dan pikiran kita membatasi cara Tuhan bekerja karena sampai kapan pun kita tidak akan mampu menyelami pikiran Tuhan,

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan.”  (Yesaya 55:8).  Justru dalam keadaan demikian, kita harus makin melekat kepada Tuhan.

Jika kita menantikan janjinya, sabarlah, Dia  tidak  lupa dan tak mungkin  mengingkari terhadap apa yang Dia janjikan, ada suatu proses yang harus kita lalui untuk menguatkan diri kita.

 

Minggu 9 Nov 14- 1Raja-raja 18:16-19 BUKAN AKU, TAPI KAMU (Maju tak gentar membela yang benar)


DSC_0212

18.  Jawab Elia kepadanya: “Bukan aku yang mencelakakan Israel, melainkan engkau  ini dan kaum keluargamu, sebab kamu telah meninggalkan   perintah-perintah TUHAN   dan engkau ini telah mengikuti para Baal.

Judul diatas BUKAN AKU, TAPI KAMU ; Jawaban Elia  di atas untuk mempertegas bahwa  dia berbeda dengan Ahab. Secara umum Tiap orang berbeda-beda,  ada yang memiliki kelebihan, ada yang  memliki kekurangan,  ada yang mempunyai karakteristik/partikularitas, dan penolakan atas tuduhan dari seseorang yang tidak benar seperti tudingan Ahab terhadap Elia. Elia membela diri karena merasa tuduhan itu salah sasaran . Tuduhan terhadap Elia karena Ahab bersembunyi dari dosa-dosa yang dilakukannya.

Tapi maksud  Elia mengatakan aku disini bukanlah aku yang individualistis tapi aku yang taat  terhadap perintah-perintah dan bukan pencelaka Israel. Aku (Elia) setia dan taat  bukan seperti kamu (Ahab). Aku (Elia) juga melaksanakan kewajiban terhadap sesama  makhluk sosial. Berkolerasi dan berkolaborasi  dengan Aku yang lain, membantu Aku yang lain dsb.

Penulis yakin , Elia memiliki suatu pengharapan atau dreams ,  dengan ketaatan dan kesetiaannya pada Tuhan ia ingin  membawa bangsa israel menjauhi hal-hal yang dimurkai Tuhan yaitu mengikuti para baal.

Bayangkan, Nabi Elia yang dinyatakan musuh negara dan dikejar – kejar untuk dibunuh berani menampakan diri dihadapan orang yang mengejar  yaitu Raja Ahab. Nabi Elia yang tetap setia menyuarakan kebenaran firman Allah walaupun harus dicap sebagai pemberontak, dengan segala keberaniannya mengingatkan Raja Ahab bahwa pemerintah yang dipimpinnya telah mendukakan hati Allah, seperti ayat 18 “ Bukan aku yang mencelakakan Israel, melainkan engkau ini dan kaum keluargamu, sebab kamu telah meninggalkan perintah – perintah Tuhan dan engkau ini telah mengikuti para Baal ”

Mengapa banyak di antara kita  tidak berani menyatakan kebenaran ? Bisa jadi karena mengatakan kebenaran itu berisiko karena itu lebih baik cari aman saja. Banyak di dalam gereja, baik jemaat maupun pendeta yang takut atau “banci”. Saya tidak mengambil contoh sosok Ahok yang berani terlalu tinggi, cukup anak SD saja.  Kita malu dan kalah sama  kisah anak SD yang berani  mengungkap kecurangan dalam ujian nasional walaupun pada akhirnya dia dimusuhi dan dikucilkan karena membuka “borok” sekolah dan teman-temannya.

Kebenaran yang dia paparkan di depan umum  berdampak tak menyenangkan dan secara langsung merugikan. Tetapi disitutulah di membuka mata dan memberi contoh pada kita; apa yang benar kita katakan benar dan apa yg salah kita katakan salah.  Harusnya kita sangat malu.

Seperti yang terjadi di depan mata kita, saat kolega kita dipecat tanpa alasan yang jelas oleh pimpinan , bukan masalah moral…kita sebagai pendeta banyak yang diam, pura-pura nggak tau, takut dan terlalu banyak alasan…kolegalitas hanya sekedar di bibibr saja. Hal yg wajar setiap kita butuh sandang pangan dan papan (ekonomi) tetapi jangan jadikan kebutuhan ekonomi (uang) sebagai baal.

Maka, bisa dipahami jika banyak terjadi  penyimpangan, ketidakadilan, bahkan dosa, terus terjadi. Sangat mungkin karena orang takut pada ketidaknyamanan yang bisa timbul saat kebenaran diungkap…(yang merasa jangan tersinggung karena ini kebenaran Firman Tuhan…intropeksi diri jauh lebih baik)

Bukankah kita sebagai gereja  sering mendengar bahkan mungkin diri kita yang mengatakan;  “ kami ini minoritas, apa yang dapat kita lakukan ?”…  nggak usah macam-macamlah . Ada suatu ketakutan dimusuhi bahkan “dilukai” . Sepertinya kita harus bercermin dari kisah nabi Elia yang tidak pernah gentar walaupun dianggap pemberontak bahkan diancam akan dilenyapkan.

Mari kita malakukan perenungan  daripada sibuk menghakimi orang lain . Mari jadilah Elia-Elia yang berani menyatakan kebenaran seturut kehendak-Nya  walaupun harus berhadapan 400 ratus orang nabi baal. Sebab dengan suara kenabian kita,  kuasa Allah akan dinyatakan atas dunia ini

Hidup kita sebagai ornag beriman   adalah bagian  dari rencana Tuhan . Ada kebenaran yang Tuhan ingin kita ungkapkan. Bukan untuk mencelakakan orang-orang yang kita kasihi, tetapi untuk mencegah mereka mencelakakan diri sendiri . Dengan pertolongan Tuhan, beranilah karena benar!

“KADANG KEBENARAN SEPERTI OBAT YANG PERIH BAGI LUKA YANG MAU DISEMBUHKAN”