“MENELADANI PENDERITAAN KRISTUS DENGAN SUKARELA”-Minggu


I Petrus 2:18-25

Intermezo
Tema penderitaan dan kejahatan yang merajalela di dunia ini telah menjadi tema penting yang ditanyakan oleh orang-orang dunia yang melawan Allah. Ada dua reaksi yang muncul dari dunia tentang penderitaan. Ada agama yang percaya bahwa hidup adalah penderitaan. Agama ini percaya bahwa penderitaan muncul karena adanya keinginan/nafsu, sehingga agar lepas dari penderitaan, manusia harus meniadakan keinginannya (yang jahat). Sedangkan di sisi lain, mereka yang tidak beragama langsung bertanya sinis, “Jika Allah ada, mengapa ada kejahatan?”
Tentu mereka TIDAK akan pernah bertanya, “Jika Allah ada, mengapa ada kebaikan?”, karena mereka berpikir bahwa kebaikan itu harus ada tanpa Allah harus eksis/ada. Dengan kata lain, mereka hendak mengatakan bahwa kebaikan itu TIDAK tergantung apakah Allah itu ada atau tidak, namun fakta kejahatan dan penderitaan langsung diasosiasikan dengan keberadaan Allah. Di sinilah, kegagalan cara berpikir manusia berdosa yang sok pandai. Kegagalan kedua, mereka bisa mengatakan “kejahatan”, berarti di dalam benak mereka, ada kebaikan dan kejahatan, tolong tanya, apa standar mereka mengatakan kebaikan dan kejahatan? Apakah kebaikan dan kejahatan itu mutlak atau relatif? Jika mutlak, apa standarnya? Jika relatifnya, apakah berarti tidak ada standarnya? Jika tidak ada standarnya, pernyataannya yang mengatakan bahwa kebaikan dan kejahatan itu relatif pun JUGA tidak boleh dijadikan standar!

“Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.”
(Yoh. 1:10-11)

Kristus itu sendiri adalah wujud langsung Allah yang bukan hanya mengerti realitas penderitaan manusia, namun mengalaminya sendiri dan menanggungnya. Mulai dari kehidupan-Nya, Alkitab sudah mencatat, “Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.” (Yes. 53:2) Bahkan di dalam Yohanes 1:10-11, Yohanes mengatakan bahwa Kristus yang telah menciptakan dunia ini dan datang kepada manusia, namun tidak ada manusia yang mengenal dan menerima-Nya. Coba renungkan betapa menderitanya Pemilik dan Pencipta alam semesta yang mengunjungi dunia ini, namun TIDAK ada yang meresponi kedatangan-Nya itu.

Penderitaan dan kejahatan terbesar umat manusia yaitu DOSA telah lunas dibayar dan diselesaikan oleh karya penebusan Kristus di kayu salib dan itulah satu-satunya bukti Allah yang sejati BUKAN Allah yang “cuek-bebek” dengan penderitaan dan kejahatan manusia, namun Dia adalah Allah yang benar-benar memperhatikan penderitaan manusia bahkan yang terbesar sekalipun.

Jika Allah memperhatikan dan menyelesaikan penderitaan terbesar umat manusia yaitu dosa, maka Ia juga memperhatikan dan menyelesaikan penderitaan lain umat manusia, namun cara penyelesaian-Nya TIDAK bergantung pada cara manusia yang terbatas, tetapi dengan cara Allah yang di luar pikiran manusia. Dunia selalu menginginkan cara instan untuk lepas dari penderitaan, namun Allah menggunakan cara proses (panjang) untuk menyelesaikan penderitaan.

Kontemplatif

Pada Minggu ke II masa Prapaskah kita akan merenungkan: Apakah kita sanggup meneladani penderitaan Kristus, apalagi itu dilakukan dengan sukarela….rasanya sulit dan berat banget beban yang harus kita tanggung ?….Tapi apakah benar meneladani penderitaan Kristus dan melakukannya dengan sukarela itu sulit?

Meneladani penderitaan Kristus  dapat dipandang dari kacamata kaum beriman yang pandangannya berbeda dengan pandangan duniawi.

Sebagai orang beriman Meneladani penderitaan Kristus dengan sukarela  adalah suatu berkat, rahmat dan anugerah yang patut disyukuri karna Tuhan memberikan kepercayaan kepada umat-Nya untuk menyampaikan kebaikan-Nya kepada sesama terutama kepada yang miskin, lemah, kecil, tersingkir dan di sable/cacat. Kita bersyukur karena kita dipilih oleh Tuhan sebagai saluran berkat dan rahmat-Nya.

Kita Meneladani penderitaan-Nya dan berbagi , Kita tidak lagi memperhitungkan untung rugi di dalam meneladani dan berbagi karena kita sungguh-sungguh meneladani Tuhan Yesus Kristus. DIA rela berkorban dan berbagi demi keselamatan umat manusia yang di kasihi-Nya.

Dalam pandangan duniawi dan orang-orang sekitar, Meneladani penderitaan Kristus dengan sukarela sama dengan berkurban dan  dianggap tindakan bodoh, mereka mengatakan untuk apa berkorban (waktu, tenaga, pikiran, materi dan lain sebagianya).  Disini kita melihat melihat betapa bahayanya egosentrisme dengan individualisme yang berkembang, meskipun mereka sering ambil bagian dalam ibadah, tetapi belum menjadi umat yang Mau rela meneladani penderitaan-Nya.

Yesus adalah manusia yang altrius, yang selalu memperhatikan kepentingan umat manusia, DIA bukan sosok yang egois, jadi sesungguhnya umat-Nya juga harus bersikap altrius (bdk Flp 2: 3-4).

Bagi kita para pengikut Kristus, untuk menjadi benar-benar Kristen yang diperlukan ialah cara-cara Yesus Kristus. Artinya kita memang perlu bentuk moral yang heroik dan kasih yang berkorban/meneladani penderitaan-Nya. Di sini sama sekali tidak ada ruang dan kesempatan bagi ingat diri, kesombongan atau pencitraan diri dan mengejar popularitas. Kehidupan dan tindakan orang Kristen yang heroik dan berkorban memang harus bagi Allah, lalu membawa keuntungan bagi banyak orang.

Suatu pengorbanan hidup dapat dipandang sebagai kerelaan untuk memberikan dari diri sendiri seperti waktu, tenaga, pengetahuan, perasaan, materi bahkan penderitaan. Orang tua yang menyediakan diri mereka baik kuantitas maupun kualitas bagi anak-anaknya merupakan suatu persembahan diri mereka. Hal yang sama juga terjadi dengan guru, pendidik, imam, dan hamba Tuhan. Model hidup demikian terdapat di mana-mana, tidak perlu diajarkan atau didiskusikan di bangku kuliah. Tidak perlu ada seminar atau bahas buku berulang kali. Yang paling konkret dan utama ialah bila ada model-model nyata di sekitar kita, seperti Yesus sendiri, dunia ini pasti akan dipengaruhi dengan lebih kuat.

Sekarang tanya pada diri anda

Apakah saya sungguh-sungguh sejujurnya mau meneladani penderitaan kristus dengan sukarela dengan terlibat proaktif didalam lingkungan, wilayah, keluarga, gereja dan masyarakat untuk rela dan mau berkorban penuh dengan kasih, tulus, sabar, rendah hati untuk menjadi pela-yan sesama, terutama kepada mereka yang miskin, kecil, menderita, tersingkir, disable?

Apakah di dalam pelayanan saya, saya masih membeda-bedakan siapa yang saya layani? Kalau sama saya mau melayani, kalau tidak saya menolak untuk melayani ?

Marilah kita meneladani Sang Guru yang rela penuh dengan kasih, rendah hati dan tulus mau melayani sesama,terutama yang miskin, lemah, kecil, tersingkir dan di sable/cacat.

Tujuan Kristus masuk dan menyerahkan diri dalam kesengsaraan hingga mati di kayu salib adalah untuk pengampunan dosa banyak orang. Dengan demikian penderitaan kristiani adalah penderitaan yang bukan untuk mencapai kesempurnaan hidup dan keselamatan dirinya sendiri seperti yang dicita-citakan oleh beberapa orang lain yang bukan pengikut Kristus. Kita bisa juga ikut merasakan bagaimana sikap dan kerelaan Kristus Yesus, Tuhan dan Juruselamat dunia, masuk dalam penderitaan sampai menumpahkan darah untuk pengampunan dosa banyak orang. Lalu bagaimana manfaat penderitaan Kristus bagi kita para pengikut Kristus, dalam kehidupan sehari-hari kini dan di masa mendatang?

Apakah para pengikut Kristus siap meneladani dan  rela menderita seperti Kristus menderita? Sebelum melihat manfaat atau tujuan penderitaan kristiani, para pengikut Kristus cenderung menolak segala bentuk penderitaan termasuk menderita seperti Kristus menderita. Apalagi bila para pengikut beranggapan bahwa Tuhan Yesus Kristus telah menderita untuk dunia maka para pengikutNya tidak perlu lagi menderita seperti Kristus hidup. Seperti anak taat kepada bapanya, demikian pula para pengikut Kristus harus siap dan rela menderita kapanpun dan di mana pun, bahkan sampai mati.

Apakah derita dan sengsara para pengikut Kristus seperti Kristus menderita akan memberi dampak juga bagi suatu perjanjian pengampunan dosa atas sesama manusia berdosa?  Jelas tidak. Dengan demikian para pengikut Kristus cuma bisa meneladani Kristus dalam hal bersikap siap (pikiran) dan rela (perasaan) menderita seperti Kristus menderita. Kalau derita yang menyengsarakan Kristus sampai mati di kayu salib memberi pengampunan bagi banyak orang sehingga membuka jalan ke sorga bagi mereka yang berdosa, maka derita para pengikut Kristus sekedar menunjuk pada Kristus yang siap dan rela menyerahkan diri untuk pengampunan dosa manusia pendosa. Jangan sampai dunia cuma melihat derita para pengikut Kristus tanpa dapat melihat Kristus yang menderita.


About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s