Menjadi “Diaken” —-(1Tim 3:8-13), Rabu, 25 April’12


Betapa beratnya menjadi seorang diaken…Apa karena yang tertulis dalam 1 Tim 3:8-11 membuat banyak jemaat merasa takut, merasa tidak layak memegang jabatan Diaken. Tapi Firman ini bukan hanya ditujukan pada Diaken saja, tetapi Penatua bahkan Pendeta dan anak-anak  Tuhan  sekalipun harus memenuhi syarat-syarat itu, yaitu:

Ayat 8

-Haruslah orang terhormat

-Jangan bercabang lidah

-Jangan penggemar anggur

-Jangan serakah

Ayat 9–Melainkan orang yg memelihara rahasia iman dalam hati nurani yg suci

Ayat 10–Mereka harus diuji dahulu, kalau tidak bercacat baru mereka dapat ditetapkan dalam pelayanan

Ayat 11– Istri -istri mereka haruslah orang terhormat, jangan pemfitnah, dapat menahan diri, dan dapat dipercayai     dalam segala hal

Ayat 12–istri nggak boleh lebih dari satu

sepertinya ribet banget menjadi seorang “pejabat gereja”….tapi memang harus demikian konsekwensinya jika ingin menjadi “pejabat gereja”. Lalu bagaimana jika dalam suatu gereja tidak ada yang layak menjadi Diaken?, Bagaimana jika hanya satu atau dua orang yang layak?

Tatkala Allah membuat satu perjanjian (covenant) dengan manusia,  Pada waktu Allah memanggil bangsa Israel menjadi umat pilihan-Nya,  tanpa memberi syarat apapun pada mereka.  Allah memilih bangsa Israel dari sekian banyak bangsa untuk menjadi umat kesayangan-Nya, tanpa syarat apapun!…Bukan karena di mata Tuhan bangsa Israel itu is the best.

Tetapi, ketika Allah telah memilih mereka menjadi umat-Nya, barulah Allah memberikan satu syarat bagaimana bangsa Israel harus hidup di hadapan Allah sebagai umat kesayangan-Nya. Inilah yang sering dilupakan oleh kita pada waktu kita membaca kitab Perjanjian Lama. Allah memilih tanpa syarat, tetapi setelah dipilih barulah syarat itu diberikan. Karena itu dalam Perjanjian Lama kita sering membaca kalimat, “Kuduslah kamu sebab Aku ini Allahmu Kudus.”

Pada waktu Tuhan Yesus dalam Matius 16 berkata pada Petrus, “Di atas batu karang ini Aku mendirikan jemaat-Ku,” Ia tidak sedang bicara mengenai organisasi atau sistem pemerintahan sebuah gereja.

Paulus  memberikan satu bangunan kerangka berpikir di atasnya,  ketika Paulus bicara soal siapakah yang boleh melayani Tuhan (yaitu kitab 1 Timotius dan Titus). Paulus mengerti konsep yang sudah ada dalam Perjanjian Lama yaitu ketika orang dipanggil untuk melayani Allah ia harus memenuhi persyaratan tertentu. Paulus bukan sedang mengajarkan sesuatu yang baru.

Konteks Perjanjian Lama berbeda dengan Perjanjian Baru tetapi esensinya sama. Paulus bicara soal integritas hidup seorang pelayan Tuhan. Ini fokus kita. Paulus mau bicara tentang Allah dan pelayan-pelayan-Nya.

Dalam kita melayani Tuhan, paradigma berpikir kita harus diubah. Melayani Tuhan bukan beban, bukan sekedar iseng atau mengisi waktu tetapi melayani Tuhan adalah satu anugerah yang Tuhan berikan pada kita yang tidak Tuhan berikan pada semua orang di bumi ini.

Minat dan kesediaan untuk melayani bukanlah satu-satunya kriteria bagi seorang pelayan. Justru kerinduan yang kuat untuk melayani harus dibuktikan dengan keinginan untuk memberikan yang terbaik dalam pelayanan.

Menjadi diaken (majelis/pengurus) merupakan hal mulia dengan tanggung-jawab. Itulah sebabnya Alkitab memberikan kualifikasi khusus bagi seorang diaken. “Kuduslah kamu sebab Aku ini Allahmu Kudus.”  Mari kita doakan dan dukung persiapan gereja untuk memilih penatua, diaken, dan pengurus-pengurus yang lainnya.

Ayat Mas: Karena mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa (1 Timotius 3:13)

About these ads

4 thoughts on “Menjadi “Diaken” —-(1Tim 3:8-13), Rabu, 25 April’12

  1. Kalau Jemaat dalam sebuah sektor memilih salah seorang calon Mejelisnya dengan suara yg cukup signifikan (50%) dari jumlah jemaat sektor tersebut tetapi yg bersangkutan mempunyai latar belakang yg dianggap tdk layak dlm melayani jemaat (Pernah selingkuh) bagaimana cara menilai bahwa yg bersangkutan adalah dipilih Tuhan utk melayani jemaat dan bagaimana klo ada jemaat yg keberatan utk hal tsb apakah keputusan ada ditangan Pdt atau ditangan jemaat yg memilih yg bersangkutan…Terimakasih utk jawabannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s