Hidup yang tidak taat-Minggu 5 Agustus 2012


Hakim-hakim 17:1-6

Patung sembahan Mikha

17:1 Ada seorang dari pegunungan Efraim, Mikha namanya. 17:2 Berkatalah ia kepada ibunya: “Uang perak yang seribu seratus itu, yang diambil orang dari padamu dan yang karena itu kau ucapkan kutuk — aku sendiri mendengar ucapanmu itu — memang uang itu ada padaku, akulah yang mengambilnya.” Lalu kata ibunya: “Diberkatilah kiranya anakku oleh TUHAN.”17:3 Sesudah itu dikembalikannyalah uang perak yang seribu seratus itu kepada ibunya. Tetapi ibunya berkata: “Aku mau menguduskan uang itu bagi TUHAN, aku menyerahkannya untuk anakku, supaya dibuat patung pahatan dan patung tuangan dari pada uang itu. Maka sekarang, uang itu kukembalikan kepadamu.” 17:4 Tetapi orang itu mengembalikan uang itu kepada ibunya, lalu perempuan itu mengambil dua ratus uang perak dan memberikannya kepada tukang perak, yang membuat patung pahatan dan patung tuangan dari pada uang itu; lalu patung itu ditaruh di rumah Mikha. 17:5 Mikha ini mempunyai kuil. Dibuatnyalah efod dan terafim, ditahbiskannya salah seorang anaknya laki-laki, yang menjadi imamnya. 17:6 Pada zaman itutidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.

Intermezo

Dalam Hakim-hakim 17:1-6

Dalam ayat ini, diuraikan standar-standar moral yang rendah, upacara-upacara keagamaan yang menyesatkan, dan kehdupan tatanan sosial yang kacau di Israel selama periode hakim-hakim. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa jikalau firman Allah dan prinsip-prinsip moral yang benar diabaikan, maka baik individu maupun masyarakat secara keseluruhan akan dibinasakan.

Mereka berbuat menurut kebenaran yang mereka pandang, tanpa campur tangan Allah, sehingga menimbulkan keputusasaan, kekacauan, yang akhrnya berujung kematiaan yang sia-sia.

 Hati-nurani dan sikap iman akan lumpuh manakala seseorang mengembangkan sikap pembenaran diri. Banyak diantara manusia selalu menganggap bahwa apa yang dilakukan selalu benar, walaupun secara kasat mata orang-orang di sekitarnya melihat berbagai penyelewengan dan penyimpangan.

Dalam konteks ini, sikap pembenaran diri bukanlah karakter yang sulit dihapus dalam diri manusia. Sikap pembenaran diri merupakan kegagalan manusia untuk memberlakukan sistem nilai spiritualitasnya. Karena dengan kita membenarkan diri itu berarti kita menolak mengaku bersalah,  kita kehilangan sistem nilai rohani yang luhur. Oleh karena itu saat kita membenarkan diri, kita sedang menghancurkan integritas diri dan kredibilitas diri. Di lingkungan sekitar kita. Tujuan pembenaran diri bertujuan supaya sesama menaruh rasa hormat, tetapi ternyata tujuan tersebut tidak tercapai.

Pembaruan karakter hanya terjadi ketika kita bersedia membuang sifat-sifat arogan yang merugikan diri kita. Rasul Paulus di Ef. 4:25 berkata: “Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota”. 

Renungan

Manusia lahir ke dunia telanjang dan tidak membawa apa-apa,sangat lemah untuk bertahan hidup. Tuhan, orang tua dan saudara-saudara kita yang mengasihi dan merawat  sampai beranjak dewasa dan  memenuhi sendiri semua kebutuhan kita. saat mati, kita pun tidak bisa membawa apa-apa keluar dunia ini, semiskin atau sekaya apapun kita. kita mati, orang lain yang merawat jenazah kita, mengatur penguburan, upacara gereja dan mengantarkan ke peristirahatan terakhir.

Kehidupan adalah berkat Allah bagi manusia dan juga bagi gerejaNya. Hidup adalah kesempatan untuk berkarya.  Makna hidup ditandai dengan seberapa banyak  karya yang dapat kita capai.

Seberat apa pun kehidupan kita saat ini jangan pernah memberontak kepada Tuhan. Pemberontakan bukan karakter orang Kristen. Prinsip kehidupan orang Kristen adalah taat. Ketaatan bukan untuk dihindari! Tuhan akan memberikan imbalan apabila kita taat. “Jika kamu menurut dan mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu.”

Jaman ini cenderung mempengaruhi kita untuk memandang  materi merupakan simbol dari kekayaan sebagai hal yang paling utama dalam kehidupan, sehingga kita bisa memiliki kecenderungan untuk mengejar materi sebagai tujuan hidup. Tidak sedikit orang Kristen yang bersikap seperti umat Israel yang menghiasi diri dengan berbagai kemewahan pada zamannya.

Kita perlu mengerti bahwa sikap seperti tersebut di atas dapat menjebak kita. Pertama, kita bisa menempatkan materi lebih daripada Tuhan dan kehendak-Nya. Seluruh tenaga, waktu, dan pikiran dicurahkan untuk mengejar materi, bahkan integritas dan kredibilitas diri juga bisa dikurbankan.

Ketaatan kepada Allah dapat terjadi jika kita memiliki hubungan personal yang sangat spesial dengan Allah. Semakin dalam kualitas persekutuan  dengan Allah, maka kita akan semakin mampu melawan setiap godaan atau pencobaan yang datang dalam kehidupan kita. Dengan demikian kita akan menjadi seperti Kristus yang berhasil lolos dari jeratan Iblis.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s