Menjalankan keadilan (Tema ibadah keluarga, Rabu 12/9-2012


Bacaan: keluaran 18: 17-26

Mertua Musa melihat kinerja Anak mantunya “senewen” cara  mengadili bangsa Israel dari pagi hingga petang, sehingga berkatalah ia : “Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?”… Capek deh mungkin kata ini diucapkan kalau Yitro hidup di jaman sekarang. Bayangkan saja betapa capeknya mulut Musa bicara terus , ntah dia sempat minum dan makan apa tidak, bahkan mungkin mulutnya tebal/bengkak… :). Buat mertua Musa  si Yitro, cara musa menjalankan/mengadili itu tidak efisien. Dan Musa mau menerima saran mertuanya dan memilih orang-orang “Cakap” untuk menjadi kepala…pemimpin 1.000, 100, 50, dan 10 dan perkara-perkara yang susah dihadapkan mereka Kepada Musa.

Intermezo

Apasih keadilan itu ?

Keadilan menurut Aristoteles (filsuf yang termasyur) dalam tulisannya Retoricamembedakan keadilan dalam dua macam :

  • Keadilan distributif atau justitia distributiva; Keadilan distributif adalah suatu keadilan yang memberikan kepada setiap orang didasarkan atas jasa-jasanya atau pembagian menurut haknya masing-masing. Keadilan distributif berperan dalam hubungan antara masyarakat dengan perorangan.
  • Keadilan kumulatif atau justitia cummulativa; Keadilan kumulatif adalah suatu keadilan yang diterima oleh masing-masing anggota tanpa mempedulikan jasa masing-masing. Keadilan ini didasarkan pada transaksi (sunallagamata) baik yang sukarela atau tidak. Keadilan ini terjadi pada lapangan hukum perdata, misalnya dalam perjanjian tukar-menukar.

Keadilan menurut Socrates yang mcmproyeksikan keadilan pada pemerintahan. Menurut Socrates, keadilan tercipta bilamana warga negara sudah merasakan bahwa pihak pemerintah sudah melaksanakan tugasnya dengan balk. Mengapa diproyeksikan pada pemerintah, sebab pemerintah adalah pimpinan pokok yang menentukan dinamika inasyarakat.

Keadilan menurut Notohamidjojo (1973: 12), yaitu :

  • Keadilan keratif (iustitia creativa); Keadilan keratif adalah keadilan yang memberikan kepada setiap orang untuk bebas menciptakan sesuatu sesuai dengan daya kreativitasnya.
  • Keadilan protektif (iustitia protectiva); Keadilan protektif adalah keadilan yang memberikan pengayoman kepada setiap orang, yaitu perlindungan yang diperlukan dalam masyarakat.

Atau dengan kata lain, keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang menjadi haknya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dan kekayaan bersama. Berdasarkan kesadaran etis, kita diminta untuk tidak hanya menuntut hak dan lupa menjalankan kewajiban.

Demikianlah beberapa rangkuman pengertian “keadilan” dari berbagai ahli. Semoga bermanfaat bagi siapa saja yang sedang mencari dan memahami arti “keadilan”.

Jadi secara umum arti keadilan  adalah dimana membela yang benar dan menghukum yang salah, bukan sebaliknya membela yang salah dan memberi hukuman kepada yang melakukan kebenaran.

Di Indonesia keadilan belum bisa ditegakkan sesuai tuntutan negara hukum, sudah tercermin di dalam praktek kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Saat ini di Indonesia terdapat lebih dari cukup norma-norma hukum, tapi ironisnya sulit sekali mencari keadilan. Sebab di mana saja masih bertengger orang-orang yang jiwanya hitam kelam yang tidak bisa ditembus sinar terang.

Dan Kenyataan dewasa ini di Indonesia belum ada persatuan ke arah perjuangan menegakkan keadilan. Kesadaran untuk perjuangan bersama sangat tipis, semua mengarah kepada kepentingan golongan dalam menegakkan keadilan/HAM.

Contoh: Sungguh gesit penegak hukum menjerat kaum yang lemah. Hanya gara-gara mencuri sepasang sandal seharga Rp 30 ribu, Adi (bukan nama sebenarnya) harus diseret ke Pengadilan Palu, Sulawesi Tengah. Kemarin sidang memutuskan remaja 15 tahun ini bersalah. Walaupun hakim akhirnya mengembalikan remaja ini kepada orang tuanya, tetap saja tindakan itu melukai rasa keadilan kita. Sedangkan mereka pejabat-pejabat yang korupsi hanya berapa tahun mereka dihukum, karena mereka punya uang untuk memperingan hukum mereka. Masih banyak contoh lain yang tak terhitung.

Rasa keadilan masyarakat tercabik lantaran, di sisi lain, penegak hukum seolah tak berdaya menghadapi penjabat atau orang kaya. Aparat juga cenderung melindungi rekannya. Bukankah seharusnya Brigtu Rusdi diseret ke pengadilan lantaran menganiaya Adi? Tak cukup diberi sanksi oleh kepolisian, ia pun harus diadili. Kita juga semakin prihatin lantaran penegak hukum seakan cuma berani menangani pencuri sandal jepit, dan bukan maling kakap seperti pencuri anggaran negara.

Melalui media massa: televisi, radio, surat kabar, majalah, Internet, dan sebagainya, kita melihat, membaca, dan mendengar praktek-praktek ketidakadilan yang terjadi. Nampaknya praktek-praktek ketidakadilan sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan masa kini. Kita juga menyaksikan adanya upaya memperjuangkan hak yang menuntut keadilan dari pihak-pihak yang merasa diperlakukan tidak adil.

Jadi ada unsur pamrih di sini atau dengan istilah lain ada “take and give”-nya. Inilah yang dinamakan keadilan transaksional. Manusia menerapkan keadilan jual beli atau “business justice”. Falsafah keadilan seperti inilah yang melanda seluruh dunia. Sebab itu tidaklah mengherankan kalau “kekuatan uang” sangat berperan dalam menentukan keadilan di dunia ini. Sebab itu pembahasan tentang  Keadilan   yang diadopsi oleh dunia ini adalah keadilan yang bersifat normatif, di mana keadilan didasarkan atas prestasi dan kerja keras seseorang.

Tatkala praktek ketidakadilan sudah menjadi wabah, maka akan berdampak buruk dalam banyak hal, bukan hanya penderitaan atau kemiskinan yang nampak, namun juga menyebabkan kejahatan yang makin merajarela, dan kehidupan sosial yang semakin bobrok. Yang kaya semakin kaya dengan cara menindas yang miskin, yang kuat atau berkuasa menindas yang lemah, yang benar dikalahkan oleh yang jahat dan lain sebagainya.

Kontemplatif

Alkitab secara eksplisit mengajarkan bahwa Allah adalah adil. Ulangan 32:4 “Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia”. Dalam Mazmur 7:12 Allah disebut sebagai Hakim yang adil. Bahkan TUHAN sendiri mengklaim sebagai Allah yang adil (Yes.. 45:21b). Dalam situasi sulit yang dihadapi bangsa Yehuda di pembuangan, Daniel tetap mengakui bahwa Allah adalah adil (Dan. 9:14). Keadilan ini bahkan seharusnya menjadi dasar kebahagiaan bagi mereka yang memantikan Allah (Yes.. 30:18b).

Alkitab mendukung gagasan keadilan di mana perhatian dan perawatan yang ditampilkan dalam penderitaan orang miskin dan menderita (Ulangan 10:18; 24:17; 27:19). Alkitab sering merujuk pada keadilan yang ditunjukkan kepada janda, yatim dan orang asing – yaitu, orang-orang yang dalam masyarakat Yahudi Perjanjian Lama tidak mampu mengurus diri sendiri atau tidak punya sistem dukungan.

Jadi, jika dengan keadilan berarti masyarakat yang memiliki kewajiban moral untuk merawat mereka yang kurang beruntung, maka itu adalah benar.

pandangan Kristen tentang keadilan sosial tidak menganggap orang kaya menerima keuntungan haram. Kekayaan tidak jahat dalam pandangan Kristen, tetapi ada tanggung jawab dan harapan untuk menjadi pelayan yang baik dari kekayaan seseorang (karena semua kekayaan datang dari Allah).

Gereja atau orang kristen, tentu perlu melakukan introspeksi diri . Apakah sebagai pemimpin, pelayan, pengurus, dan jemaat telah bertindak adil sesuai dengan firman Tuhan ? Atau sebaliknya, tanpa disadari oleh kita bahwa kita sebagai pemimpin, pelayan,pengurus dan  sudah melakukan hal-hal yang mengarah pada keberpihakan, membeda-bedakan dan tidak bertindak secara adil seperti yang Tuhan harapkan.

Tetapi Anda yang  mengalami ketidak adilan, Tuhan pasti mendengarkan segala keluh kesah yang disampaikan orang percaya dalam doa dan Dia pasti akan bertindak sesuai dengan kehendak-Nya  Tindakan-Nya selalu adil. Semua orang percaya yang berlindung dan bersandar kepada-Nya pasti akan dibela oleh-Nya.

Mazmur 10:17-18a
“Keinginan orang-orang yang tertindas telah Kau dengarkan ya Tuhan; Engkau menguatkan hati mereka, Engkau memasang telinga-Mu, Untuk memberi keadilan kepada anak yatim dan orang yang terinjak.”

By: Donnyphan Corneles Tuhumena

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s