Membudayakan etos kerja di dalam organisasi GPIB


Intermezo

Etos berasal dari bahasa yunani ethos yakni karakter, cara hidup, kebiasaan seseorang, motivasi atau tujuan moral seseorang serta pandangan dunia mereka, yakni gambaran, cara bertindak ataupun gagasan yang paling komprehensif mengenai tatanan. Dengan kata lain etos adalah aspek evaluatif sebagai sikap mendasar terhadap diri dan dunia mereka yang direfleksikan dalam kehidupannya (Khasanah, 2004:8).

Menurut Usman Pelly (1992:12), etos kerja adalah sikap yang muncul atas kehendak dan kesadaran sendiri yang didasari oleh sistem orientasi nilai budaya terhadap kerja. Dapat dilihat dari pernyataan di muka bahwa etos kerja mempunyai dasar dari nilai budaya, yang mana dari nilai budaya itulah yang membentuk etos kerja masing-masing pribadi.

Menurut Toto Tasmara, (2002) Etos kerja adalah totalitas kepribadian diri serta cara mengekspresikan, memandang, meyakini dan memberikan makna ada sesuatu, yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal sehingga pola hubungan antara manusia dengan dirinya dan antara manusia dengan makhluk lainnya dapat terjalin dengan baik. Etos kerja berhubungan dengan beberapa hal penting seperti:

a. Orientasi ke masa depan
b. Menghargai waktu
c. Tanggung jawab
d. Hemat dan sederhana
e. Kretifitas

Dalam sebuah organisasi etos kerja sangat penting diperhatikan. Jika ini tidak dapat berjalan dengan baik maka organisasi akan “sakit” , maka iklim yang ada adalah cerminan dari gaya  fantasi pimpinan . Lebih khusus lagi: ternyata sifat dan pembawaan “neurotik” top eksekutif suatu organisasi akan mewarnai kultur organisasi itu. Bahkan seringkali pembawaan “neurotik” tersebut bisa diturunkan pada anggotanya. Suasana atau iklim tidak sehat yang diciptakan oleh top eksekutif dalam suatu organisasi ternyata dapat mengakibatkan jalannya organisasi tersendat-sendat. Iklim tak sehat itu biasanya diakibatkan oleh status “emosi kepemimpinan” yang tidak stabil, sehingga mendatangkan masalah pada strategi, struktur, maupun iklim manajerial organisasi tersebut. Dalam keadaan seperti itu, dapat dikatakan sebuah organisasi sedang mengalami gangguan neurotic, “gangguan kejiwaan.”

Budaya etos kerja  adalah suatu kesadaran dan sikap yang mendasari, memotivasi, memberi arah, serta memberi arti pada seluruh perilaku organisasi yang bersinergi dengan visi dan misi organisasi. “Etos Kerja Sangat Ditentukan Oleh Kebijakan,kearifan, Sistem, Dan Nilai Kepercayaan Yang Dianut Organisasi.”

Membudayakan etos kerja dalam organisasi GPIB

Etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok. Setiap orang percaya harus memiliki ciri bersemangat dalam pekerjaan, rindu untuk terus belajar, disiplin, dan kreatif dalam bidang-bidang yang dipercayakan Tuhan, baik dalam pelayanan, usaha, pekerjaan, maupun studi. Orang percaya harus terus belajar untuk bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab.

Salah satu alat ukur penting untuk menilai pekerjaan seseorang,kelompok, adalah etos kerjanya. Sebagai orang Kristen kita melakukan yang terbaik karena Kristus telah memberikan yang terbaik, yaitu anugerah keselamatan. Itulah etos kerja Kristen dan itulah makna “mengerjakan keselamatan”

GPIB memerlukan fleksibilitas yang tinggi dengan budaya organisasi yang terpercaya (high trust). Tujuannya adalah untuk membangun kapabilitas yang memberikan perasaan percaya kepada setiap stakeholders, bahwa budaya organisasi berjalan dengan etos kerja yang terukur dalam sebuah sistem, prosedur, kebijakan, dan integritas yang mampu secara kontinyu memenuhi harapan dari para stakeholder. Oleh karena itu, Budaya organisasi harus diterjemahkan menjadi sebuah etos kerja yang berkapabilitas dan berintegritas. Di mana, etos kerja yang berkualitas ini harus berasal dari hasil kesadaran bersama dari dalam organisasi, dengan dukungan menyeluruh dari setiap pimpinan gereja dan para presbiter untuk secara bersama-sama menggali semua potensi terbaik  buat menghasilkan kualitas kinerja terbaik.

Etos kerja yang berkapabilitas harus diperoleh   dan  dipengaruhi oleh karakter kerja organisasi GPIB melalui visi, misi, etika, serta cara berpikir dan bertindak yang berkualitas dari pimpinan, dan para anggotanya. Karakter organisasi harus selalu diperkaya dengan nilai-nilai baru, agar etos kerja selalu bisa menjadi lebih dinamis dan kreatif dalam menjawab tantangan baru disegala tempat dan waktu.

GPIB harusnya memiliki Etos kerja yang  menjadi disiplin, terfokus dari  setiap sumber daya manusia untuk menumbuh kembangkan cara-cara kerja yang efektif, kreatif, sinergik, produktif, dan beretika, dalam semangat dan tanggung jawab untuk memberikan pelayanan berkualitas kepada para stakeholder. Oleh karena itu, sejak awal kepemimpinan  GPIB beraras sinodal didalam pemahaman imannya  harus MAMPU membangun perasaan tanggung jawab dalam wujud integritas yang tinggi .

Konsep organisasi GPIB yang beretos kerja

GPIB dalam beretos kerja sudah pasti memelihara serta memberdayakan dan mengatas dasarkan iman Kristen, sebagai organisasi gereja GPIB memiliki target agar mencapai:

Harus memiliki konsep tentang etos kerja berbasis pengetahuan (bukan hanya pengetahuan teologi saja) dan konsep tentang “profesional berbakat” yakni menuntut pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan PELATIHAN Yang berkualitas dan menjamin performativitasi , pengembangan kapasitas Belajar sebagai aktualisasi dari “imago Dei”. Peran GPIB adalah meningkatkan statusnya dari peningkatan kualitas kepada pencapaian kapasitas transformatif sebagai suatu institusi Yang mendemonstrasikan “Kerajaan Allah” .

Dengan demikian, GPIB didesain sebagai suatu proses  pembinaan dalam rangka mewujudkan kehadiran Kristus  dalam lingkungan eksternal secara berkelanjutan. GPIB bukan sekedar sebuah kumpulan doa, bernyanyi dan mendengar khotbah para pendeta, bahkan sekedar menjalankan program. GPIB adalah “nafas” kehidupan iman dalam eksistensi sebuah gereja dimana Kristus sebagai kepalanya; bagaimana memerankan nilai-nilai spiritual untuk menyinkronkan dan menyatukan persepsi dan perbuatan. Jadi, memberi warna yang khas kepada etos kerja para  perilaku organisasi suatu organisasi gereja yang bermutu dari kita untuk kita.

GPIB sebagai organisasi gereja beramah-tamah dengan dosa ternyata terjadi, baik dalam kalangan aras sinodal, maupun gereja. Dengan demikian maka wawasan etos kerja itu sendiri yang terutama harus direnovasi kembali. Persoalannya amat kompleks: bukan sekedar urusan survival  secara finansial dan profesionalitas kepejabatan, maupun sikap kompromistik secara rohani, bahkan eksistensinya sendiri, terdapat isu sentral, yaitu kapasitas dalam rangka pemenuhan akan panggilan profetik kita dalam bersaksi dan melayani dalam maupun di luar.

Agar terjadi komitmen yang baru, diperlukan telaah tentang bagaimana dan seberapa sempurna GPIB telah memberikan responsnya terhadap panggilan (profetik) tersebut.

Analisisnya hendaknya dimulai dengan digresi-digresi dari kebenaran, dan didasarkan atas keyakinan bahwa:

(1) GPIB juga sudah menjadi kontributor pada digresi yang ada;

(2) perlu ada kerendahan hati —bukan menonjolkan arogansi;

(3) semua pembaharuan harus bertolak dari perspektif kerajaan Tuhan (unutk diingat)—bukan kepentingan kelembagaan belaka. Mudah-mudahan dari titik berangkat demikian dapat dibangun kembali juga persepsi GPIB tentang keahlian dan profesi yang sadar betul bahwa:

(a) “takut akan Tuhan adalah permulaan segala pengetahuan”—bukan saja pengetahuan rasionalistik;

(b) “obedience to God” dimengerti sebagai “true freedom” dalam kontras dengan “individual self-determinism”;

(c) buah-buah roh diterima sebagai “abundant life” dalam kontras dengan “personal success”.

Jadi, GPIB perlu mengembangkan lebih lagi  common framework secara teologis untuk mewujudkan kehadiran Kristen di lingkungan sekitar —pada hakekatnya sebagai landasan dari kehidupan yang baru (langit yang baru dan bumi yang baru) yang substansial .

Namun, meskipun etos kerja merupakan komponen paling primer, ternyata ia tidak selalu membawa sukses signifikan apabila pengetahuan dan ketrampilan organisasional tidak berkembang secara proporsional dikarenakan kurang mampu memproduksi SDM yang berkualitas yang standartnya terus bergerak semakin tinggi.

GPIB  hendaklah  bersifat kekinian dan keakanan yang totalitas, artinya GPIB harus memerankan pemahaman iman  berwatak kontenporer dan futuristik yang membumi. GPIB hendaklah diberdayakan untuk melakukan tugasnya secara ikhlas,bersifat positif  dan konstruktif.

By:Martha Belawati

About these ads

2 thoughts on “Membudayakan etos kerja di dalam organisasi GPIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s