MEMBANGUN KEMITRAAN & KESETARAAN DEMI KESETIAKAWANAN SOSIAL-Tema PST 2013


images (6)MEMBANGUN KEMITRAAN & KESETARAAN DEMI KESETIAKAWANAN SOSIAL

Menurut W.J.S. Poerwodarminta dalam kamus Bahasa Indonesia, ‘kesetiaan’ berasal dari kata dasar ‘setia’ yang berarti “tetap dan teguh hati (dalam keluarga, persahabatan).”

Kesetiaan adalah sikap teguh pada pendirian dan taat pada janji, aturan atau nilai-nilai yang sudah disepakati bersama. Kesetiaan berbicara tentang kebersamaan dan solidaritas

Kesetiakawanan

Kesetiakawanan adalah suatu perasaan dalam diri manusia yang bersumber dari rasa kasih /belas kasihan kepada sesama yang mengalami “derita” dan itu  diwujudkan dalam  pengorbanan dan kesediaan berbelarasa,sepenanggungan, maupun melindungi terhadap kehidupan bersama.

Adapun nilai moral yang terkandung dalam kesetiakawanan sosial diantaranya sebagai berikut:

  1. Tolong menolong
  2. Gotong-royong
  3. Kerjasama…tanpapa melihat status
  4. Nilai kebersamaan.

Kesetiakawanan Sosial

Kesetiakawanan Sosial atau rasa solidaritas sosial adalah merupakan daya,energy, dan kapasitas spiritual. Dalam kesetiakawanan sosial ada  ikrar atau kewajiban bersama . Sebab itu Kesetiakawanan Sosial merupakan “jantung hati” bangsa Indonesia yang tereplikasi dari sikap  yang didasari oleh pengertian, adanya  kesadaran, dan rasa tanggung  jawab dari masing-masing warga masyarakat dengan semangat kebersamaan, kerelaan untuk berkorban demi sesama berdasarkan  asas kekeluargaan tanpa melihat perbedaan .
Oleh karena itu rasa  Kesetiakawanan Sosial dalam masyarakat terus digali, dikembangkan , didayagunakan  disinergikan dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia menuju masyarakat yang diadilkan dan disejahterakan.

Kesetiakawanan sosial harus terus  direvitalisasi (digiatkan)  sesuai dengan situasi dan kondisi dan diimplementasikan dalam wujud nyata. Kesetiakawanan social harus  memiliki elektabilitas tinggi, yang meluas dalam masyarakat.

Jiwa dan semangat kesetiakawanan sosial tersebut dalam perjalanan kehidupan bangsa kita telah teruji dalam berbagai peristiwa sejarah, dengan puncak manifestasinya terwujud dalam tindak dan sikap berdasarkan rasa kebersamaan dari seluruh bangsa Indonesia pada saat menghadapi Praktek atau pengamalan tentang “kesetiakawanan sosial” sudah biasa Anda lakukan dalam kehidupan sehari-hari (gotong royong)

 MEMBANGUN KEMITRAAN & KESETARAAN DEMI KESETIAKAWANAN SOSIAL

Jika GPIB memiliki Visi  membangun kemitraan dan kesetaraan demi kesetiakawanan sosial tentunya memiliki pernyataan tujuan ke mana organisasi GPIB akan dibawa ?… Sebuah masa depan yang lebih baik, lebih berhasil, atau lebih diinginkan.? 

GPIB harus memiliki kualitas seorang pemimpin dalam proses perubahan ini. Pemimpin yang lahir pada era sekarang ini tidak boleh hanya terjebak pada fungsi memberi nasehat, memberi perintah, dan memberi mandat kepada bawahannya, tetapi lebih pada bagaimana menentukan visi,misi, dan tujuan organisasi secara jelas dan komprehensif kepada seluruh anggota organisasi. Dengan demikian pemimpin yang memiliki visi dan misi jauh kedepan , diyakini akan mampu mengadaptasi antara organisasi yang dipimpinnya terhadap lingkungan eksternal yang terus berubah.

Jika GPIB dan warganya  saling terlibat dalam mewujudkant ujuan organisasi demi kesetiakawanan sosial, maka dibutuhkan interaksi sosial satu sama lain yang saling membantu dan saling  membutuhkan sehingga tercipta lingkungan “kerja” yang kondusif dan menentramkan.

Jika GPIB ingin secara optimal membangun kemitraan dan kesetaraan demi kesetiakawanan sosial , GPIB diperhadapkan bermacam  “peperangan”,  menghadapi berbagai permasalahan sosial yang menimpa bangsa Indonesia seperti kemiskinan, keterlantaran, kesenjangan sosial, konflik SARA di beberapa daerah, bencana alam (gempa bumi, gunung meletus, tsunami, kekeringan, dll), serta ketidakadilan dan masalah-masalah lainnya.

Sesuai tuntutan saat ini, GPIB harus mampu melihat  potensi dan kemampuan bangsa kita. GPIB  merupakan pengejewantahan dari realisasi konkrit semangat kesetiakawanan sosial masyarakat (menjadi garam dan terang). Dengan prinsip dari, oleh dan untuk masyarakat dalam pelaksanaannya GPIB  memerlukan berbagai dukungan dan peran aktif atau membangun kemitraan dan menyetarakan diri dengan elemen bangsa, memiliki rasa tanggung jawab bersama secara kolektif.  Oleh karena itu makna nilai kesetiakawanan sosial sebagai sikap dan perilaku masyarakat ditujukan pada upaya membantu dan memecahkan berbagai permasalahan sosial bangsa perlu diuji “elektabilitasnya” dalam jemaat GPIB dengan cara mendayagunakan peran aktif seluruh jemaat di manapun berada, terorganisir dan berkelanjutan. Dengan demikian kesetiakawanan sosial  akan berkembang dan melekat dalam  jemaat GPIB yang dilandasi oleh  KASIH ,  mewujudkan kebersamaan : hidup sejahtera.

KESETIAKAWANAN SOSIAL SEBAGAI GERAKAN NASIONAL
Jika GPIB ingin bermitra dan  membangun kesetaraan,  GPIB harus mampu  mengimplementasikan kesetiakawanan sosial sebagai suatu gerakan sesuai dengan kondisi dan tantangan jaman, kesetiakawanan sosial yang menembus baik lintas golongan dan paradaban maupun lintas SARA harus terus menggelora , terimplementasi sepanjang masa, dengan demikian akan berwujud ”There is No Day Whithout Solidarity” (tiada hari tanpa kesetiakawanan sosial),

Kesetiakawanan sosial sebagai pengejewantahan dari “HUKUM KASIH” dalam mengatasi berbagai permasalahan sosial yang dihadapi bangsa ini, GPIB harus secara bertahap untuk melakukan perbaikan dan meningkatkan kesetiakawanan di dalamnya. Agar  nilai kesetiakawanan itu melekat dalam kehidupan ber GPIB .

Germasa (Gereja Masyarakat dan Agama) adalah suatu program yg diadakan oleh sinode kepada greja/pendeta..agar kita tidak hanya ada di dalam “kandang Intelektual” yang tertutup rapat……dengan adanya program membangun kemitraan dan kesetaraan demi kesetiawanan sosial ini, GPIB harus belajar memahami realitas yg terjadi di Indonesia bersama masyarakat dan agama-agama  lain….dan bagaimana memecahkannya tanpa melihat status dan identitas masing-masing…Indonesia adalah “rumah bersama” dan sudah sewajarnya kita bina,bangun bangsa ini menuju manusia yg beradab, salah satunya.

dengan adanya germasa minimal GPIB harus berusaha dan membuktikan bahwa GPIB hadir sebagai jemaat alternatif yang niscaya semangatnya jauh dr dunia birokrasi,nafsu kekuasaan, dll.

Tugas GPIB di tengah masyrakat bangsa indonesia yg sedang membangun salah satunya berjuang bersama sama dengan dgn masyarakat dan agama-agama  lain, mewujudkan masyarakat yg lebih manusiawi berdasarkan apa yg dianggap sama, yaitu asketisme yg bersifat profetis. bersama-sama berjuang menggarami masyarakat dalam arti membangun kemitraan dan kesetaraan demi kesetiakawanan social.

Pemahaman iman GPIB harus menjadi alat komunikasi antara umat beargama dan dalam masyarakat Indonesia yg sedang membangun. tetapi GPIB/kita harus mawas diri,  jangan sampai ada pemikiran/mereka merasa terganggu dengan sikap kita, seakan kita memiliki jawaban atas segala persoalan. sebab ada kesan bhw org kristen/gereja merasa dapat membuktikan kebenaran agama kita secara ilmiah.

GPIB seharusnya merenungkan ulang dan “memperbaruhi pemahaman teologisnya dengan mengacu pada kemanusiaan Yesus mendorong munculnya kristologi yg dialogis, sebab dari situ kita dapat memahami/merekontruksikan panggilan kontekstualnya di tengah masyarakat yang kini dan yang akan datang.kita harus memiliki suatu pemahaman baru agar kita dapat memberi tempat bagi saudara kita yg beragama lain…jangan intelektual  kita tersimpan dalam “istana orang berhikmat” walaupun itu adalah sikap yg wajar dan ada pada setiap agama yg yakin akan kebenaran agama mereka. kita harus keluar dalam“istana org berhikmat” itu karena masalah manusia dan bangsa adalah masalah bersama kaum mukmin

Terus bagaimana dengan peran GPIB dalam membangun kemitraan dan kesetaraan demi kesetiakawanan sosial  ?.
kita harus merenung ulang atau sudah saatnya kita memikirkan dan merumuskan suatu pehaman teologi yg menempatkan kesetiakawanan sosial sebagai yang terdepan dalam teologi kita.
GPIB harus mengedepankan pemahaman iman GPIB yg dialogis jika ingin ingin membangun kemitraan dan  dan kesetaraan demi kesetiakawanan sosial.

PEMAHAMAN IMAN GPIB itu seharusnyabersifat terbuka dan dapat dirumuskan kembali untuk menjawab pergumulan manusia dalam zamannya, karena GPIB mempunyai hubungan dengan “orang lain”…tidak benar demi identitas kita harus memisahkan diri dari yg lain karena bangsa/indonesia adalah “rumah bersama”…tidak benar kita dapat berkembang tanpa dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dan bangsa kita. Juga tidak benar bahwa pemahaman iman GPIB adalah sesuatu yg dapat dirumuskan dalan suatu buku dan kemudian dipegang untuk seterusnya.Justru identitas itu harus selalu berkembang dalam hubungan dengan perkembangan  masyarakat dan bangsa kita. yg jelas identitas kita jangan diperalat demi tujuan lain. Kita bukan onderdil negara.

Pembakaran,perusakan,penutupan, dll yg bersifat anarkis pada gereja di negri kita adalah suatu sinyal/alaram yg serius memperingatkan,bahwa cara-cara “memperluas dan memperkokoh greja” dengan gaya ” kolonial imperial” sudah ketinggalan jaman. GPIB harus berusaha dan membuktikan bahwa GPIB hadir sebagai jemaat alternatif  yang bermitra dengan kesetiakawanan sosial.

suatu “alasan yg amat tolol” jika kita mengambil sikap tidak bersahabat dengan masyarakat di luar gereja lainya jika kita ingin bermitra membangun bangsa ini dalam kesetiakawanan sosial. Memang kerjaan Allah harus diberitakan tetapi kekuatan iman tidak bersumber pada sukse dalam hal mempertobatkan orang lain.. jika tidak ada yg mau bertobat, kita tetap penuh Roh Kudus kok dan penuh damai. karena sumber Roh Kudus dan kedamaian bukan suatu sukses mempertobatkan manusia, tetapi Tuhan sendiri yg kita ketemukan dalam diri kita masing-masing dan di dalam greja kita. Jadi tujuan gereja adalah kebahagian kita sendiri dalam menciptakan persahabatan dan perdamaian. itulah komunikasi iman dengan pemahaman yg dialogis

Tapi apakah GPIB sudah siap menanggalkan identitasnya…sebab jika tidak , kita tidak memiliki konsep sosial yg sama untuk mengakomodir konflik yg anarkis….?

kita harus menjadi garam dan terang……identitas kita adalah kasih dan kita harus belajar dari realitas soisal yg ada. Kenapa terjadi tindakan anarkis terhadap gereja? , kenapa terjadi kesenjangan sosial, kenapa terjadi korupsi di setiap lini?…harusnya kita cepat menyadari….mungkin cara-cara “memperluas dan memperkokoh greja” dengan gaya ” kolonial imperial” sudah ketinggalan jaman….ke dua, Banyak gereja yang ingin menjadi  garam dan terang tetapi “salah konsep”

Sistem teologi masyarakat Indonesia yang formal-tradisional sebagai wujud dari sistem kepercayaan dan nilai sosial budaya secara historis membentuk dan mengendap di alam bawah sadar, sehingga menjelma menjadi kesadaran  kolektif masyarakat Indonesia yang terwariskan, pada gilirannya berimplikasi pada tatanan sosial praksis. Kesalahan yang sering kali diperlihatkan oleh orang-orang yang dianggap suci atau yang mempunyai kekuasaan selalu ditolerir oleh masyarakat sekitarnya.

GPIB masih kurang  menyatu dengan realitas sosial di masyarakat sehingga gereja menjadi ‘asing’. Jika GPIB ingin bermitra dan membangun kesetaraan demi kesetiakawanan sosial,  GPIB harus merumuskan kembali suatu konsep  agar dapat  mengidentifikasi apa kebutuhan  masyarakat  sekitar dan mengawalinya dengan melayani,  bersaksi itu pasti dengan sendirinya terlaksana sebagai imbas dari melayani. Pada sisi lain, setiap agama yang berbeda perlu mencari titik temu kesamaan  pandangan pada nilai-nila universal dalam membangun kesetiakawanan sosial.

Pemahaman iman GPIB lebih ditekan kearah dialogis yg komunikatif, karena itu harus dan sangat diperlukan jika ingin bermitra dengan kesetiakawanan sosial. Harus kita akui bahwa ada kelemahan di GPIB kita sekarang ini. Contohnya: Ketika mau ada hajatan besar, baru kita buat dialog, ketika mau bangun gereja baru mendatangi masyarakat non kristen untuk mendapatkan persetuju-an dan sebagainya, sebaliknya juga demikian . banyak dari kita yang mengeksklusifkan diri. Ketika mau bangun gereja baru cari tanda tangan dari masyarakat sekitar. Sebenarnya membangun kebersamaan atau membangun persaudaraan itu bukan karena membangun gereja, bukan karena ada kebutuhan mendesak. Coba kalau kita sudah biasa membaur, biasa kumpul-kumpul bersama entah aktivitas sosial yang  sering dilakukan bersama, maka semuanya akan lebih mudah. Jangan tunggu ada hajat besar baru melakukan kerjasama. ini salah satu contoh saja

GPIB dalam startegi misinya…tidak melulu dijejali “doktrin greja”….GPIB belum maksimal dalam berteologi/suatu ajaran yg mewarnai kehidupan masyarakat sehari-hari. Alkitab hanya sebagai “hafalan”, hanya literal. Bolak-balik dibaca, berulangkali dibaca tapi belum mampu diamalkan secara aplikaktif.

GPIB harus memilik strategi misi berasas kekeluargaan/persaudaraan, dan memiliki “kesetiakawanan nasional”

GPIB dalam strategi misinya…pemahaman iman GPIB harus memiliki posisi strategis dalam proses dialog yang komunikatif dalam kesetiakawanan nasional dan solidaritas sosial dalam masyarakat majemuk.

Dengan adanya germasa gereja/pendeta di bawa ke Teologi kritis yang membebaskan akan terwujud, jika teologi dan hermeneutika sosial dipahami secara dialektis. Teologi harus ditransformasikan secara kreatif dalam dimensi etika sosial. Secara etika sosial, teologi diharapkan dapat memberi “makna terdalam dari hakekat dan eksitensi” bagi manusia sebagai hamba Tuhan di bumi ini. Teologi harus memberikan rasa keadilan dan tidak diskriminatif, sehingga orang yang bersalah harus diganjar sesuai dengan perbuatannya.

Dengan adanya germasa,  gereja/pendeta di bawa ke Teologi kritis yang membebaskan akan terwujud, jika teologi dan hermeneutika sosial dipahami secara dialektis. Karena itu jika GPIB ingin bermitra dan membangunu kesetaraan demi kesetiakawanan- GPIB mampu mentransformssikan sosialTeologi secara kreatif dalam dimensi etika sosial. Secara etika sosial, teologi diharapkan dapat memberi “makna terdalam dari hakekat dan eksitensi” bagi manusia sebagai hamba Tuhan di bumi ini. Teologi harus memberikan rasa keadilan dan tidak diskriminatif. Jika itu dapat dilakukan oleh GPIB, maka bermitra dan membangun kesetaraan demi kesetiakawanan sosial dapat terwujud.

Creted by: Martha Belawati Tuhumena-Tarihoran

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s