(ikal)1/03/17 Memaknai penderitaan


Ayub 2:8-13

2:8 Lalu Ayub mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk di tengah-tengah abu. l  2:9Maka berkatalah isterinya kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? m  Kutukilah Allahmu dan matilah1 ! n 2:10 Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk 2 ? o ” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. p 2:11 Ketika ketiga sahabat Ayub 3  mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya masing-masing, yakni: Elifas, orang Teman, q  dan Bildad, orang Suah, r  serta Zofar, orang Naama. s Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia. t  2:12 Ketika mereka memandang dari jauh, mereka tidak mengenalnya u  lagi. Lalu menangislah mereka dengan suara nyaring. v  Mereka mengoyak jubahnya, w  dan menaburkan debu di kepala x  terhadap langit. 2:13 Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah y selama tujuh hari tujuh malam. z  Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, a  karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya.

Penderitaan terkadang menjadi pemutus hubungan antara Allah dengan manusia, sebab manusia tidak mengerti bahwasannya penderitaan itu sendiri adalah kepunyaan Allah. Allah sudah lebih dahulu menderita ketika manusia pertama yang Ia ciptakan jatuh ke dalam dosa. Didalam perikop ini, kita akan melihat apa sebenarnya penderitaan itu?.

Masih banyak orang melihat penderitaan akibat upah atas dosa . Tetapi sosok Ayub yang saleh  dan takut akan Allah bahkan melakukan segala perintah-Nya, namun  kehilangan segala yang ia punya? Ini berarti tidak menjamin bahwa setiap orang yang menderita akibat dosa yang dilakukan.

Istri Ayub tidak kuat menghadapi penderitaan,kesusahan dan kemiskinan kkarena ia sudah terlena dengan kekayaan atau harta yg dimiliki. Istri Ayub lupa diri kalau kekayaan yg mereka terima berasal dari Allah. Istri  Ayub bahkan mengatakan untuk Ayub;  “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu?   Kutukilah Allahmu dan matilah

Ayub menunjukkan keteguhan Imannya dengat mengatakan pada  istrinya; “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk 2 ?   Ayub sangat memahami dan menyadari bahkan ia yakin  bahwa kebaikan dan hal yg buruk   Allah yang empunya segalanya

Banyak diantara kita seperti istri Ayub yg  tidak kuat menahan jika penderitaan menimpa kita. Apalagi jika kita merasa hidup bersekutu dengan Tuhan dan aktif dalam pelayanan di gereja. Tetapi saat penderitaan menimpa, kita tidak siap. Karena sering kali kita merasa bahwa hanya kebahagiaan dan kesenangan yang berasal dari Allah.Di dalam doa kita selalu meminta kesehatan, meminta berkat,  semua itu memberi gambaran bahwa kita takut sekali dalam menghadapi kehidupan. Yang pada akhirnya sering kali kita tidak siap jika penderitaan menimpa kita.

Deskripsi atau pengisahan  tentang Ayub ini memberikan kita sebuah pengertian bahwasan penderitaan adalah bagian dari kebahagiaan itu sendiri.  Iman Ayub mengajarkan kita  bahwa setiap manusia diberikan kekuatan dan kemampuan oleh Allah untuk melalui segala kesulitan-kesulitan dalam kehidupan. Ketika kesulitan itu datang, disitulah harapan baru akan dibangun sebab Allah yang mengatur segalanya.

Renungkanlah

Kita harus menyadari, seperti inilah Tuhan membentuk kita terkadang tidak menyenangkan, sakit, penuh derita dan banyak air mata. Tetapi inilah cara Dia membentuk dan merubah kita menjadi manusia yang memancarkan sinar kemulian-Nya.

Penderitaan yang kita alami  menghasilkan ketekunan. Jangan halangi ketekunan merubah diri kita  untuk memperoleh “buah ” supaya kita menjadi dewasa dalam memaknai penderitaan .

Dalam menghadapi penderitaan jangan keputusasaan menhantui kita terus menerus, tapi berusahalah dan bangkitlah karena Dia sedang membentuk kita walaupun itu sangat menyakitkan. Tetapi sesudah penderitaan itu selesai kita akan melihat betapa indahnya Tuhan membentuk kita.

Penderitaan akan membawa ketakutan yang luar biasa kalau kita tidak tenang menghadapinya. Dalam penderitaan, di dalamnya ada suatu pesan bahwa rasa takut membuat kita menjadi berhati-hati, rasa takut memberi kekuatan, rasa  takut dapat membuat kita mampu mengatasi penderitaan.

Rasa takut ada untuk memberi motivasi pada kita  agar bebas dari penderitaan. Biarkan rasa takut mengajarkan kita. Biarlah rasa takut mempersiapkan kita, jangan rasa takut justru mematahkan harapan kita, justru kita harus mencari penyebab ketakutan itu, maka disitulah kita akan menemukan cara-cara untuk membebaskan diri  kita dari penderitaan.

Dalam penderitaan kita belajar bersikap tenang dan berpikir positif dalam menghadapinya, karena jika kita semakin gelisah dalam penderitaan maka semakin sulit kita menemukan ketenangan.Sebab di dalam ketenangan kita mampu berpikir jernih dalam mengatasi penderitaan ini.

Hampir seluruh persoalan hidup bermula dari ketidak mauan kita menerima hidup apa adanya. Kita tidak mampu berkompromi dengan kenyataan yg menimpa kita.Sering dalam penderitaan kita lebih suka bermain dengan kesedihan yg tak berujung, yang bukan jalan keluar. Kita lebih berlindung dan cenderung membenarkan pikiran sendiri, padahal itu bentuk lain dari belenggu penderitaan.

Jangan biarkan keluh kesah kita menghujam semangat kita. Tegarkan hati,  jangan biarkan semangat hilang hanya karena penderitaan yang kita alami.Temukan secercah sinar yang berpengharapan.

Penderitaan tidak akan menjadi kata terakhir dalam hidup kita. Kecuali jika kita yang merelakannya. Rasul Paulus mengatakan, bahwa kita harus berjuang terus “sebagai seorang prajurit yang baik dari Yesus Kristus.”  Kita harus menjadi pemenang.

Maka disinilah pentingnya hati yang selalu dalam damai. Kedamaian  hati hanya bisa Anda dapatkan dengan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Manusia siapun tidak ingin dirinya menderita. Siapapun  yang sakit di antara kita  pasti ingin lekas sembuh. Sakit itu membuat kita lesu,mengeluh, menderita menahan rasa sakit, kita tidak dapat melakukan aktivitas  dan ritme kita secara maksimal. Sakit  mengeluarkan biaya untuk beli obat, bayar dokter atau perawatan di rumah sakit. Bisul aja sakit kalau belum meletus.

Tuhan juga sering menyapa kita yang berbeban berat dan ketika kita menderita .Ia menyapa kita melalui FirmanNya. FirmanNya demikian dahsyat dan ajaib.Ia membangkitkan kembali pengharapan dan semangat yang patah. Ia membimbing dan menuntun, menguatkan dan mengokohkan hidup kita. Hanya kita tidak peka.

Pemulihan penderitaan  adalah anugerah Tuhan. Ia  tidak bicara keselamatan tetapi bicara proses menyelesaikan sebuah masalah.

Saat ini , Jika Tuhan  bertanya kepada kita “Apakah kamu mau anugerah-KU ? “  jangan buang-buang waktu,  terimalah… Bangunlah lagi iman dan pengharapanmu dan jangan ada putus asa lagi…buang jauh-jauh.

Bersahabatlah  dengan  penderitaan, jangan jadikan musuh, jangan membencinya. Karena lewat penderitaan itu lahirlah kemenangan dan kehidupan yang sebenarnya.Bukan saja untuk diri sendiri tapi untuk semua manusia tanpa melihat rupa.

So, itulah penderitaan kita tidak perlu melarikan diri dari padanya. Justru kita harus mendekapnya, bukan sebagai sikap menyerah, tetapi justru untuk mengalahkannya , dan mengubahnya menjadi kemenangan .

Jangan biarkan penderitaan berjalan seorang diri…tetapi temanilah sepanjang waktu, maka anda akan mengenal lebih dalam akan dia dan menjadi sahabat sejati anda untuk bersatu menaikkan doa-doa Anda padaTuhan.” –Martha belawati418287_253601894722801_100002189780891_545653_35038453_n

                       

SYAIR 3 BABAK


Catatan dari Zion kota damai

SYAIR TIGA BABAK

PERTAMA : TAMAN GETSEMANI
Lalu pergilah Yesus bersama-sama murid-muridNya keluar kota menuju Bukit Zaitun, di mana terdapat Taman Getsemani, tempat yang sering dikunjungi Yesus.
Sesampainya di Taman Getsemani, Ia berkata pada murid-muridNYa :“Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa.
Suasana sepi mencekam mengiringi kegentaran Sang Anak Manusia. Bulir-bulir keringat menetes layaknya tetesan darah menyertai doaNya,“Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu daripadaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Tiga kali Ia berdoa yang sama, doa yang menggambarkan ketakutan meraja.
KemanusiaanNya semakin nyata, namun dengan kepasrahan mendalam Sang Anak Manusia tetap menghadapi kenyataan yang akan terjadi di depan mata demi karya penyelamatan umat manusia.
Tibalah saatNya ………..
Babak awal menuju kematian dimulai,
Melalui tanda ciuman Yudas Iskariot, sang murid, Yesus
ditangkap
diikat
digiring
Demi 30 keping…

Lihat pos aslinya 1.684 kata lagi

Minggu, 26/02/17 Dimuliakan dalam kemuliaan-Nya


DSC_0203Markus 9:2-8
Yesus dimuliakan di atas gunung

2  Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka,

3  dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.

4  Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus.

5  Kata Petrus kepada Yesus: “Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.”

6  Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan.

7  Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.”

8  Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorangpun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.

Mengapa Tuhan Yesus hanya mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes ? Apakah ke -3 muridnya  sengaja di bawa untuk menjadi saksi bahwa Yesus adalah benar-benar Anak Allah? Apa arti kehadiran Musa dan Elia ?

Sekitar seminggu atau enam hari  setelah Yesus jelas mengatakan kepada murid-muridNya bahwa Dia akan menderita, dibunuh, dan dibangkitkan untuk hidup kembali  (Lukas 9:22), Dia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes naik ke sebuah gunung untuk berdoa.

Saat itu terjadilah peristiwa pemuliaan  Tuhan Yesus yang disebut “transfigurasi” saat Ia berdoa.  Transfigurasi merupakan suatu perubahan bentuk atau rupa  yang dialami Tuhan Yesus , di mana Ia memancarkan cahaya kemuliaan . Transfigurasi merupakan manifesto atau pemakluman  dari  Allah bahwa Yesus benar-benar adalah mesias yang menderita. Musa dan Elia muncul dalam peristiwa transfigurasi itu sebagai konfirmasi kedatangan Mesias.

“Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.” (Ulangan 18:18).

Dalam perkembangan selanjutnya, janji ini dipahami sebagai salah satu nubuat tentang datangnya mesias. Kedatangan mesias sendiri di tempat lain dinubuatkan akan didahului dengan Elia akhir jaman . “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu.” (Maleakhi 4:5)

Yang dimaksud Elia yang akan datang ini adalah Yohanes Pembaptis (Mrk. 9:11-13; Mat. 17:10-13; Luk. 1:17).

Secara simbolis, penampilan Musa dan Elia mewakili Hukum Taurat dan kitab para nabi. Namun suara Tuhan dari surga – “Dengarkanlah Dia!” – Jelas menunjukkan bahwa Hukum Taurat dan para nabi harus memberi jalan kepada Yesus.

Peristiwa transfigurasi sebenarnya menunjukkan Yesus bukan sekedar seorang nabi. Dia jauh melebihi Musa maupun Elia. Hal ini sangat substansial bagi murid-muridnya  khususnya bangsa Israel  yang  menganggap Musa sebagai nabi yang terbesar dalam sejarah bangsa Israel.

Peristiwa pemuliaan  Yesus di atas gunung menunjukkan bahwa Dia adalah mesias. Cahaya kemuliaan pada wajah  Yesus itu untuk memberikan pengajaran kepada para murid, bahwa di balik peristiwa penyaliban Yesus  itu akan membawa pada kemenangan, kemuliaan  yang akan  menguatkan para murid yang mau setia mengikuti-Nya.

Tujuan transfigurasi ini ditengarai  untuk memberikan spiritualitas kepada umat Kristen dalam sikap batin, dan berdampak pada sikap lahirnya juga.Sukacita batin dan kedamaian yang besar bahkan adanya  kesiapan dalam mengikut Yesus.

Peristiwa ini kemudian menjadi  institusi , pranata atau budaya orang kristen dalam menghayati peristiwa  penyaliban. Waktu untuk melaksanakan transfigurasi ini berlangsung pada minggu sebelum merayakan Hari Raya jumat agung sebagai peringatan kematian Yesus. Transfigurasi ini dijadikan titik sentral dalam karya Yesus sebagai Mesias

Kehadiran Allah dan suara-Nya menggambarkan bahwa  iman dan pengharapan mereka harus senantiasa ditujukan kepada Yesus  karena Dia adalah penggenapan hukum Taurat dan nubuat para nabi.

Peristiwa transfigurasi merupakan penyingkapan jati diri Kristus selaku Anak Allah, sehingga kita mengenal Dia selaku Tuhan dan Juruselamat umat manusia.

Yang dapat kita petik dalam peristiwa ini, Jika kita  mengalami  kekalutan, kita harus naik ke gunung untuk berdoa, sehingga kita akan mendapatkan kekuatan dalam menghadapi setiap permasalahan. Kita harus menemukan tempat yang sunyi untuk berdoa , sehingga kita dapat bertemu dengan Allah.

Sebenarnya kitapun mengalami pengalaman seperti ketiga  murid itu yang menyaksikan Transfigurasi atau pemuliaan Yesus.  Pengalaman ini kita peroleh setiap kali kita ambil bagian dalam perayaan perjamuan kudus . Anggur dan roti yang kita terima  sebagai lambang  tubuh dan darah Yesus Kristus yang menderita, wafat, bangkit dan naik ke Sorga dihadirkan kembali dan bersatu dengan kita. Dalam perayaan perjamuaan kudus   kita menyaksikan kemuliaan Allah yang dinyatakan dalam kesederhanaan dan kebersahajaan. Allah yang begitu besar, memilih untuk menyatakan Diri-Nya dengan cara yang sangat sederhana, agar dapat menghampiri kita dan menyatu dengan kita.

MBT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ikal (Rbu, 22/02/17) Spiritualitas yang berbuah


Matius 13:18-23

13:18Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. 13:19 Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga,   tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat h  dan merampas   yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. 13:20 Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. 13:21 Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.   13:22 Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. 13:23 Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.  

Gereja dengan orang-orang di dalamnya   harus benar-benar memahami  SISTEM KEMANUSIAAN secara mendasar jika ingin menaburkan  “benih-benih” kerajaan surga. Supaya benih-benih yg ditaburkan tidak dirampas dan ditaburkan di pinggir jalan.

Manusia adalah sebuah sistem : yang artinya bentuk fisik yang dikelilingi oleh lingkungan (surrounding). Yang membatasi sistem dengan lingkungan adalah pembatas (boundary).

Sistem manusia yang memiliki  spiritualitas ini akan memiliki daya imun untuk mencegah keinginan yang membawa keberdosaan disaat seorang manusia-rohani berinteraksi dengan lingkungan. Ketika seorang menembus batas (boundary) sistemnya dan memasuki lingkungan sifat-sifat roh itu muncul sebagai sifat manusiannya. Karena itu orang yang bersekutu dengan Tuhan memiliki “sistem online” sehingga Tuhan selalu membantu mereka dalam berbagai hal dalam kehidupannya.

Gereja adalah kumpulan dari sistem-sistem tersebut yang memiliki sifat roh yang sama. Jadi kita bisa melihat gereja sebagai suatu sistem yang lebih kompleks yaitu sistim di dalam sistem. Gereja adalah tempat latihan. Melatih sistem pribadi (manusia) untuk saling mengasihi, belajar saling mengisi, belajar saling menolong dan pada akhirnya bersiap menjadi orang-orang penabur benih-benih firman-Nya agar berbuah berkali lipat.. Sehingga ketika masuk ke lingkungan mereka telah cukup kuat menghadapi tantangan di lingkungan sekitar.

Sebagai Penabur Yesus tidak pilih kasih;  demikian seharusnya  kita .  Dan benih yang Ia taburkan juga sama kualitasnya.  Semua sekarang tergantung pada tanahnya.

Tapi pada dasarnya roh manusia tidak  konsisten, keinginan daging (dosa) mengalahkan jiwa dan roh, sehingga jangan heran jika rasul Paulus mengatakan bagaimana dapat lepas dari tubuh yang lemah ini (atau roh adalah baik tetapi keinginan daging lemah). Jangan heran jika ada pendeta atau hamba Tuhan yang jatuh kedalam dosa, itu semua karena keinginan daging (roh-roh lingkungan/energi lingkungan) mengalahkan keinginan jiwa dan roh. Memahami sistem manusia kita sebagai penabur dapat mendefinisikan lingkungan  gereja sebagai pola asumsi dasar (basic assumptions) dalam menuntaskan pemasalahan yang dihadapi baik di dalam gereja maupun lingkunan sekitar. jika tidak benih yg kita taburkan akan sia-sia semuanya

Gereja jangan hanya berpikir dengan kaca mata teologis saja semua persoalan bisa diselesaikan. Karena melihatnya hanya dari sudut teologis, kita kecenderungannya hanya mengaitkan yang teologis itu dengan internal gereja. 

Gereja sebagai penabur juga harus mengerti dan memerankan dirinya sebagai seorang petani . Bagaimana dia menaburkan  benih-benih agar benih tersebut  tumbuh kuat dan kokoh maka  benih tersebut harus di beri pupuk, disiram secukupnya agar benih tersebut siap  dan kuat bahkan ditengah-tengah proses menuju dewasa   benih bisa tersebut juga di serang penyakit atau hama. Jika itu semua dapat dilalui maka  petani tinggal menantikan buahnya .smile073.

Jangan berpikir bahwa TuhanYesus menaburkan firmannya hanya pada para pelayan-pelayan di gereja, tetapi kitapun sebagai pendengarnya dipersiapkan menaburkan benih benih itu dan kita harus benar-benar mengerti dan memahaminya jika tidak ingin dirampas sama si jahat.

Meski firmanTuhan yang disemaikan sama, tetapi penerimanya berbeda-beda. Ada yang seperti tanah berbatu, ada yang seperti tanah kering, ada yang tanah subur, dan ada yang berduri. Akibatnya, firman  Tuhan itu tumbuh tidak sama, bahkan ada yang mati.

Jika kita memiliki  sebuah rumah (tubuh)  yang seharusnya selalu bersih jika tidak ingin didiami debu-debu atau kotoran dari luar   yang selalu dan setiap hari ada dalam rumah. Debu debu diibaratkan dosa  yang selalu siap  masuk kedalam tubuh kita   jika rumah atau tubuh ini tidak bersih dan steril maka “dosa” akan masuk  bahkan mungkin tinggal tetap di dalamnya jika kita tidak cepat menyadarinya.

Kuasa & nama-Mu menggentarkan


Minggu, 19 februari 2017

Matius 8:14-17

Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus dan orang-orang lain

8:14 Setibanya di rumah Petrus, Yesuspun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. 8:15 Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Iapun bangunlah dan melayani Dia. 8:16 Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit   8:17 Hal itu terjadi supaya genaplah   firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita. “

 Alas Kata:
Dalam terjemahan bahasa asli (Yunani) kata “kuasa” dalam Kisah 1:8 kata “dunamis”, yang mengandung arti: kuasa, pekerjaan besar, kekuatan, mujizat, tenaga, keberanian, dan berkuasa.

Alkitab mencatat:Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” (Markus 16:17-18)

Bahkan mereka yang dipenuhi Roh Kudus dengan kuasa dunamis-Nya  ibarat dinamit yang siap meledak, meledakkan dan membakar orang-orang di sekeliling mereka. Orang yang dipenuhi Roh Kudus tidak akan pernah sama lagi. Mereka akan berkata-kata dengan hikmat Allah, mereka akan bertindak dengan otoritas, dan setiap perkataan yang keluar dari mulut mereka akan menggetarkan kuasa kegelapan dan membuat setiap sakit-penyakit melarikan diri.                                                                                                        

Artinya setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, dimampukan untuk menerima kuasa itu.  Itu berarti setiap orang percaya memiliki kekuasaan. Kekuasaan di ibaratkan seperti supplement yang ditambahkan di dalam tubuh manusia tetapi bukan dalam bentuk keegoisan. Tuhan  telah memberi kewenangan, tetapi seringkali kewenangan tersebut dijalankan melebihi kewenangan yg diperoleh.

Interpretasi:

JIka kita membaca Alkitab,  kita pasti tahu cara-cara Tuhan Yesus melakukan penyembuhan.  Cara Yesus menyembuhkan sangat  divergen atau berlainan dengan penyembuh di era kita. Dia menyembuhkan orang tanpa pandang bulu dan tidak pilih kasih terhadap mereka mereka yang minta tolong. Penyembuhan Yesus pun bersifat rampung, sempurna, saat itu juga.

Divergen,berbeda dan bahkan sangat paradoksal atau kontradiksi dengan  penyembuh-penyembuh zaman sekarang. Yesus bahkan menyembuhkan beberapa orang yang belum menaruh iman kepadanya.  Jaman sekarang banyak  orang sering menghakmi orang yang sakit. Sehingga ada banyak orang-orang percaya yg tersesat dan kuasa  itu hilang– Mat. 7:22 Pada hari terakhir   banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan , bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat   demi nama-Mu juga? 7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu  ! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan! “

Renungan

Kekuasaan adalah “produk” atau “perabot” yang paling langka dan paling diperebutkan. Demi sebuah kekuasaan, orang akan tulus hati mengalami kemusnahan dan kelenyapan segalanya. Tidak hanya tenaga, pikiran, harta tapi juga harga diri dan bahkan keyakinan agamanya sekalipun, tak jadi soal. Kuasa atau kekuasaan, merupakan dambaan seluruh manusia. Begitu besarnya keinginan manusia memperoleh kekuasaan, ada kalanya cara-cara yang tidak menunjukkan kasih juga sering dilakukan manusia. Mengorbankan harga diri, mengorbankan orang lain juga sering dilakukan untuk tujuan tersebut.  Demi kekeuasaan orang  mendatangi dukun, paranormal,   agar  agar dapat berkuasa dan menjaga kekuasaannya. Kita bisa lihat dalam kehidupan kita sehari-hari bagaimana kekuasaan disalah gunakan.

misalnya, salah satu kasus suap yang menimpa Ketua DPD Irman Gusman  membuktikan adagium bahwa kekuasaan memiliki kecenderungan untuk disalahgunakan.

Penyalahgunaan kekuasaan bisa dilakukan dengan berbagai modus, salah satunya menggunakan pengaruh jabatan yang diemban oleh seseorang.

Tetapi kompetensi atau  karisma dari kuasa Tuhan Yesus sangat jauh berbeda dengan kuasa di dunia ini. Kuasa  pada Tuhan Yesus  adalah berdasarkan kasih-Nya pada manusia.

Ke-12 murid Tuhan Yesus, dapat menyembuhkan orang sakit di segala tempat karena Tuhan Yesus  yang memberikan kuasa kepada mereka  dalam perjalanan pelayanan .

Karena itu mintalah selalu kekuatan & kuasa dari Tuhan dalam kehidupan kita. Kita harus memiliki kesungguhan jika Tuhan memberi kuasa-Nya  untuk melayani yang membutuhkan, menyembuhkan yang sakit & terluka.  kita harus memiliki hati yang berwelas-asih terhadap sesama. Mulikan Tuhan dalam setiap pelayanan kita bukan diri kita. kemampuan & kuasa hanya ada dalam Tuhan. kita harus memiliki kerendahan hati

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah 1:8)

mbt

DSC_0143

 

 

Rabu 1502 17 (Irt) Nikmat membawa sengsara


Amsal 7:21-27win-win solution[2]
7:21 Ia merayu orang muda itu dengan berbagai-bagai bujukan, dengan kelicinan bibir n  ia menggodanya. 7:22 Maka tiba-tiba orang muda itu mengikuti dia seperti lembu yang dibawa ke pejagalan, dan seperti orang bodoh yang terbelenggu o  untuk dihukum, 7:23 sampai anak panah menembus p  hatinya; seperti burung dengan cepat menuju perangkap, dengan tidak sadar, bahwa hidupnya q terancam. 7:24 Oleh sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah r  aku, perhatikanlah perkataan mulutku. 7:25 Janganlah hatimu membelok ke jalan-jalan perempuan itu, dan janganlah menyesatkan dirimu di jalan-jalannya. s  7:26 Karena banyaklah orang yang gugur ditewaskannya, sangat besarlah jumlah orang yang dibunuhnya. 7:27 Rumahnya adalah jalan ke dunia orang mati, yang menurun ke ruangan-ruangan maut. t
Alas kata:

Banyak di antara kita mudah   tergoda dan terpengaruh dengan bujuk rayu  kenikmatan dunia yg sesaat,semu dan  penuh muslihat dapat menjerat bahkan terperangkap hanya karena pengejawantahan, perfoma, kinerja, penampakan yang “imajiner”,  dan membawa nikmat sesaat tetapi terperangkap dalam dosa yg susah dilepaskan atau tidak dapat sama sekali.  Sering manusia tertipu dan terpedaya dengan  yg dilihat berkaitan  dengan situasi dan kondisi yg membuat mereka tergiur dan  menikmatinya, tetapi mereka tidak tau bahwa itu adalah racun  yang bisa menjadi perangkap yang membawa maut

Interpretasi:

Dalam ayat 21-22  Penulis kitab  Amsal menjelaskan proses dosa itu menjerat, memerangkap, menjaring, dan menjebak kita, diibaratkan seperti seorang perempuan jalang yg melakukan aksinya untuk menjerat anak muda agar jatuh ke dalam pelukannya. dengan bibirnya yg licin. penulis Amsal  ingin menjelaskan  bahwa dosa itu nikmat tetapi membawa sengsara karena dia menjerat kita . Dosa itu  indah dan mempesona tetapi tanpa kita menyadari membawa kita masuk dalam perangkap dosa  Itu.

Ayat 23-25 Barulah manusia sadar saat mengalami persoalan, ‘komplikasi’, problem, tragedi,kekecewaan dan  kegagalan dalam hidup.   Kita seperti orang bodoh yg tidak berharga karena dosa telah menguasai dan memerintah hidup kita. Pada akhirnya kita merasa mubazir dengan hidup yang terlewati lantaran kqarena dosa  kita  menjadi bodoh,  meninggalkan dan   melupakan-Nya.

Ayat 26-27–  26 Karena banyaklah orang yang gugur ditewaskannya, sangat besarlah jumlah orang yang dibunuhnya. 27 Rumahnya adalah jalan ke dunia orang mati, yang menurun ke ruangan-ruangan maut.     Penulis Amsal  sangat jelas di 2 ayat ini .  Agar kita terhindar dari perangkap dosa yang membuat kita terlena. Kita harus menjaga hati dan pikiran kita , karena sumber segalanya terdapat dalam hati dan pikiran kita.  Firman Tuhan harus menjadi pegangan hidup kita.

MBT