Minggu, 14 feb 16 Lukas 12:35-48 Waspadalah


CSC_0066-Edit

Konteks

Kewaspadaan

12:35 “Hendaklah pinggangmu tetap berikat 1  dan pelitamu tetap menyala. 12:36 Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya 2  yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya. 12:37 Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. c Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. d  12:38 Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka 3 . 12:39 Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri e  akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. 12:40 Hendaklah kamu juga siap sedia, f  karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan 4 .” 12:41 Kata Petrus: “Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?” 12:42 5 Jawab Tuhan: g  “Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? 12:43 Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. 12:44 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. 12:45 Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang 6 , lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk,12:46 maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, h dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia. 12:47 Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. i  12:48 Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. j  Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.”

 

Perumpamaan kewaspadaan atau perumpamaan hamba yang menantikan tuannya adalah sebuah perumpamaan yang diajarkan oleh Yesus kepada murid-muridnya. Pengertian  Perumpamaan kewapadaan  dan perumpamaan Berjaga-jaga (baca markus 13:33-37)…”hendaklah pinggangmu tetap berikat…” bandingan dengan Efesus 6 :14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan a  kebenaran dan berbajuzirahkan b  keadilan,
Dan kemudian Dia mengatakan “Pelitamu tetap menyala”  bandingkan  Mazmur 119: 105, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Tapi itu juga dapat merujuk kepada perumpamaan Yesus   tentang sepuluh gadis yang sedang menunggu pengantin laki-laki. Dan lima dari mereka yang bodoh dan lima bijaksana.
Artinya kita harus menunggu dan berjaga-jaga. Pekerjaan menunggu terkadang sangat membosankan yang pada akhirnya kita kehilangan kewaspadaan bahkan kita tidak berjaga-jaga yg pada akhirnya kita sama dengan 5 gadis yg tidak bijaksana.Bahkan banyak orang menjadi tidak sabar dan akhirnya merugikan diri sendiri..  Tuhan menghendaki agar kita selalu dalam kondisi siap sedia dan berjaga-jaga.  Dikatakan,  “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.”  (Lukas 12:35).
 Oleh karena itu  “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan.”  (Lukas 12:40)
Dan yang harus digaris bawahi , kita jangan berspekulasi waktu kedatangan Tuhan bahkan  lokasinya. Kita harus memahami dengan benar tentang dimensi  Kerajaan Allah yang  “supra natural”/ bersifat “spiritual”, bukan sesuatu yang bisa dilihat dan diraba  bahkan bukan sesuatu yang bisa didistribusikan atau diporsikan  secara waktu.
Jika kita salah merekfleksikan  kedatangan Tuhan (Eskatologis) atau tanpa “filter” yang penting aktif, berapi-api, bergairah, bergelora, berkobar-kobar, bersemangat, energik, membara,menggebu, menggelegak, menyala (semangat), tetapi kemudian mereka melupakan tanggung jawab kehidupan sehari-hari, akhirnya menjadi orang-orang yang kurang normal.
Apa yang dimaksud dengan pinggang yang tetap berikat dan pelita yang tetap menyala ? perumpamaan ini menggambarkan dan mengharapkan kebulatan hati yang dapat mempengaruhi tingkah laku kita dan mengikat bahkan penyangkalan diri agar  siap untuk melayani.Lalu pelita yang tetap menyala.  Dalam metafora kehidupan kristen kita dipanggil untuk menjadi terang, itu satu gambaran untuk menjadi pelita, tetapi di antara kita banyak yang tidak siap ( seperti 5 gadis bodoh) di dalam perjalanannya waktu dia mengikut Tuhan. Intinya kita  di encourage untuk mempunyai satu kehidupan yang senantiasa berwaspada, berjaga-jaga dihadapan Tuhan. Why ? Karena memang kita tidak tahu kapan Tuhan itu datang.

Banyak kan di antara kita di  nampak  beriman , melayani ingin dilihat tetapi jika tidak ada yang lihat kita jadi orang lain seperti srigala berbulu domba atau seperti orang farisi, tidak ada integritas.

Iman yang sejati itu adalah:

Waspada;

Menunggu dalam  terang,

Sabar menanti  seperti seorang pelayan menantikan kedatangan tuannya untuk membuka pintu…

Siap sedia…

akhirnya kita  berbahagia dalam pesta rohani yang Tuhan sediakan.

Saya yakin  salah satu persoalan di dalam kehidupan manusia adalah kita menyia-nyiakan waktu.. Karena kita selalu berpikir masih ada hari esok, masih banyak waktu…Syukur-syukur kalau Tuhan masih memberikan kepada kita kasih kesempatan. Janganlah kita menjadi orang orang kristen yang paling banyak missed, kehilangan kesempatan yang dihadirkan oleh Tuhan di dalam kehidupannya. Karena datangnya pada waktu yang tidak dapat kita perkirakan. 

Disamping itu ada prinsip spiritual leadership…Yesus menjawab dengan indirect, siapa pengurus rumah yang setia dan bijaksana, dia diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya, untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya.  Jadi bukan kesiapsediaan  tetapi siapa yang dianggap layak oleh Tuhan untuk menjadi spiritual leader adalah orang yang senantiasa siap sedia. Siap sedia, bukan yang talented, gifted atau punya skill yang tinggi, dsb.

Dalam ayat 47-48 dikatakan, hamba yang tahu kehendak Tuhan tapi tidak mengadakan persiapan, tanggungannya, hukumannya lebih berat dari pada mereka yang tidak tahu, tapi melakukan….. Menunjukkan bahwa kita orang kristen tahu.  Karena tahu perlu mengadakan persiapan, maka kita tidak perlu menerima hukuman.

Umat Tuhan harus mau ikut di dalam derap dan langkah yang Allah tempu dan lakukan. Mengubah cara hidup, cara berpikir, cara bertingkah laku yang selama ini tidak sejalan dengan rencana dan kehendak-Nya. Kita tidak boleh lagi hanya memikirkan kepentingan dan keuntungan diri sendiri.

Kita harus memahami dalam bergereja di mana pelayanan mesti dipahami bukan sekadar sebagai seni atau persona, atau celoteh tentang moral , melainkan sebagai corak tatanan berpikir, tatanan berperilaku dan tatanan bertindak yang terungkap dalam tindakan, praktik dan kebiasaan kita sehari-hari sebagai pelaku Firman.

“Waspadalah, berjaga jagalah dan selalu siap sedia sebab  kejatuhan  terjadi karena adanya kesempatan” MBT

Rabu,10 feb 16 Lukas 11:37-44—Biarlah kita Saling mendoakan


DSC_0003

Yesus mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat

Mendengar berita di MEDSOS Facebook tentang penolakan rencana kegiatan Lokakarya Lintas Warga Jemaat (LWJ) GPIB yang sedianya di adakan di Sekesalam dengan alasan, mupel Jabar 1 tidak mau konsentrasinya terpecah dengan konven dan pst 2016. Saya melihat alasan tersebut terlalu dangkal dan dibuat-buat.

Mengutip tulisan pak Reinier W T, Berbagai pertanyaan dapat dimunculkan dalam kaitan ini. Siapakah pemilik aset tersebut? Siapakah Forkom LWJ GPIB itu? Bukankah kedua-duanya adalah GPIB juga? Apa dan siapakah GPIB itu? Bukankah GPIB itu kita, Forkom juga BP Mupel Jabar-1? Apakah tujuan Lokakarya itu untuk menggusur GPIB? Bukankah Lokakarya yang dilaksanakan oleh Forkom LWJ bertujuan untuk memperlengkapi kapasitas para pegiat pelayanan dalam penatalayanan GPIB? So, kenapa dilarang? Ingin menunjukkan bahwa ada pendekatan kekuasaan dalam pelayanan Gereja khususnya GPIB? —Kenapa penolakan terjadi saat uang muka (DP) telah diterima?

Judul renungan untuk ibadah keluarga ini, “Biarlah kita Saling mendoakan ”  mau menekankan adanya persekutuan yang dibangun berdasarkan spritualitas keugaharian bukan kemunafikkan, ketamakan, dan keegoisan bahkan sakit hati.

Tentunya kita pasti marah dan sakit hati jika kita disamakan dengan Firman Tuhanyang mengatakan :

“Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. f 11:40 Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? 11:41 Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah  dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu  11:42 Tetapi celakalah kamu , hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan j  dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah.   Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.   11:43 Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar.  11:44 Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur  yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”

Saya yakin pasti marah dan sakit hati…

Kesalehan orang Farisi  hanya di depan orang. Ibadah mereka lebih mengutamakan hal lahiriah, agar dilihat baik dan terpuji. . Yesus mengur mereka karena bagi orang Farisi, manusia disucikan oleh perbuatannya, sementara bagi Yesus, kesucian lahir dari hati yang diubahkan, dan mengejawantahkan di dalam tindakan nyata . Hati yang tulus  akan melahirkan perbuatan yang berkenan. Sebaliknya sedangkan perbuatan yang bersih  belum tentu menjamin hati yang bersih.

Bahaya menggenakan topeng   daripada perubahan dalam diri bisa juga terjadi pada kita. Keinginan untuk dipandang baik , dan ingin di like dapat membuat kita bersikap baik di depan orang.

Peringatan Yesus menandakan, Dia mengenal isi hati tiap orang. Perilaku manis kita tak dapat mengelabuinya. Hanya dari hati yang murni dapat lahir perbuatan-perbuatan yang memperkenankan Tuhan.

Terkadang ,  ketika kita mengecam perbuatan orang  di luar, kitapun melakukan hal yang sama di saat ataupun kasus yang berbeda. Kita marah dengan ke tidakadilan, kita marah dengan orang2 yg sombong, ego, tetapi kita tanpa menyadari melakukan hal yg sama.

Karena itu  kita perlu juga mendoakan diri kita sendiri dan saling mendoakan supaya kita tidak jatuh ke dalam pencobaan. Mengapa? Karena kita mudah diprovokasi untk saling curiga dan itu muncul dalam diri kita.

“Sebagai anak2 Tuhan kita hendaknya  saling memerhatikan, ada rasa peduli dan saling bertolong-tolongan, bahkan yang jauh lebih penting daripada ketiga hal itu adalah saling mendoakan.”

Saya yakin kita pernah melihat sekolompok orang mengendarai Scooter tua dengan penampilan a’la hippie. Jika kita lihat sangat menyiutkan nyali kita. Rambut gondrong, seperti jarang mandi, pakaian seperti tidak pernah dicuci , Hidupnya sebagian besar di jalanan. Dengan penampilan seperti itu  , banyak orang cenderung takut dan khawatir bergaul dgn mereka dan bahkan berpikir negatif ,menaruh curiga.

Tetapi jangan tanyakan solidaritas mereka terhadap sesama anggota. Mereka rela tidsk mandi, dan sampai larut malam menolong rekannya yg scooternya mogok agar hidup lagi. Bahkan di antara komunitas mereka ada permasalahan/kedukaan  mereka tak segan2  datang & memberi bantuan all out.

Itulah komunitas! Itulah persekutuaan! Itulah “Sinode” (berjalan bersama) secara harfiah. Ada spirit kebersamaan, ada kesetaraan dan ada yang memersatukan mereka, yaitu Vespa tua.   (Inspiratif nananggki.blogspot.com)

Sebenarnya persekutuan kita pada awal munculnya komunitas kristiani ini tampak jelas spirit kebersamaan atau solideritas itu lebih dari komunitas vespa tua. Kisah rasul 2:42-47 menggambarkan dengan baik kehidupan jemaat mula-mula (silahkan dibaca). Spirit keugaharian  dalam memberikan  yang terbaik bagi Tuhan melalui sesamanya. Yesuslah sang peneladan.

Masih adakah spirit kebersamaan, solidaritas, kesehatiaan dalampersekutuan bahkan di GPIB? Apakah spirit itu telah mengalami “abrasi” …ataukah kita hanya perduli dan mengasihi karena “melihat muka”  ?

Renungkanlah

Dalam rumah yang besar, ada perkakas yang mulia yaitu dari emas dan perak, dan ada perkakas yang kurang mulia yaitu dari kayu dan tanah. Zaman dulu, jika para raja mengadakan pesta, mereka akan memerintahkan para pelayannya  untuk mengeluarkan perabot-perabot emas yang terbuat seperti cangkir dari emas, cawan dari emas, nampan dari emas, dlsb. Di rumah kita juga tentu demikian. Kalau acara-acara istimewa dipakai perabot-perabot yang mahal dan berharga, tetapi kalau untuk sehari-hari cukup perabotan yang biasa-biasa saja.

Setiap kita  selalu mencari yang berkualitas. Tuhan juga menghendaki supaya gereja Tuhan menjadi perabot yang mulia seperti emas dan perak. Tetapi seringkali emas dan perak itu tidak murni, masih bercampur dengan berbagai macam kotoran. Untuk itu, jemaat harus selalu menyucikan diri supaya jadi MULIA. Perak dan emas itu musti selalu dimurnikan supaya kelihatan kemurniaannya.

Hari ini, biarlah kata-kata ‘Jesus is the Most Important Person in my life’  tak hanya sekedar menjadi moto kita, tetapi benar-benar menjadi tujuan dan gaya hidup kita, karena itu baru ada artinya bagi Dia. Dan, jika Kristus senantiasa menjadi Most Important Person di dalam setiap aspek hidup kita, maka seluruh hidup dan hari depan kita pun akan menjadi Most Important Things bagi Dia dan sesama.

Kata Bijak

Karena itu biarkan  hidup kita dalam  persekutuan  dan dibentuk oleh Tuhan, sampai Anda menjadi perabot yang berharga dan mulia. Sebab  yang berharga dan mulia pasti dipelihara dan diberkati luar biasa oleh Tuhan. -Martha Belawati

 

 

 

 

 

 

 

 

Minggu 7 Februari 2016 Luk 11: 1-13


Hal berdoa

DOA

Kepada Pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerlip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tak bisa berpaling

Karya (Chairil Anwar)

HAL BERDOA

 

Kita harus selalu menyadari tetap  akan makna doa. Karena banyak di antara kita lupa sehingga Doa dianggap sesuatu yg sederhana dan praktis  disaat kita mengalami kebuntuan .  Doa itu harus dipahami  dengan tegas, bahwa Allah selalu menjadi yang berkuasa bukan kita, karena pengakuan akan kuasa-Nya yang penuh hikmat dan kasih itu, kita  dimampukan-Nya melangkah maju dengan segala kebaruan hidup karena pengasihan-Nya. DOA itu tidak egois,tidak memaksa, DOA itu penuh kasih , mengampuni, membawa kedamaian, berserah dan yang terpenting adalah bersyukur mengucap syukur selalu dalam segala hal.

Doa itu bukan sekedar di ucapkan , tetapi terutama untuk kita renungkan. Sebab itu merenunglah dengan berdoa, dan berdoalah sambil merenung. Karena keduanya akan membawa ketenangan  nenuju pada inti kebutuhan dasar kita yaitu ketenangan. Doa bukan merayu atau bermanis mulut pada Tuhan, tetapi ungkapan nyata kegetiran hidup.

Berdoa adalah berteduh dari panasnya matahari, hujan dan badai kehidupan yg tak sanggup kita lawan. Dia adalah gunung batu dan kota benteng kita untuk kita berteduh.Salah satu dimensi doa: “menjawab dan memberi pertanggungan jawab kepada Allah”

Doa adalah sesuatu yang terkesan sangat biasa dan Setiap orang tahu apa itu doa. Tetapi realitasnya tidak sedikit orang yang salah memahami tentang doa, lantas tersandung karena doa. Maka, mari kita bicara tentang makna doa.

Yang harus kita ingat!

  • Doa bukan sarana memaksakan keinginan/harapan kita pada Tuhan
  • Doa itu memberi kekuatan
  • Doa tidak selalu pembebasan masalah
  • Doa adalah petelasan/fondasi hidup kita
  • Doa bukan sekedar merajut kata tetapi gerak laku (sikap)/ ora et labora
  • Doa adalah komunikasi kita dengan Tuhan
  • Doa ala pengemis; mencerminkan mentalitas pengemis yang selalu meminta, tetapi tidak pernah sungguh berdoa.
  • Anda harus berdoa dengan iman. (Ibrani 11:6.)
  • Anda harus memiliki hati yang bersih. (Mazmur 66:19).
  • Anda harus kudus dalam kehidupan sehari-hari Anda. (2 Tawarikh 7:14.)
  • Anda harus berdoa menurut kehendak Allah. (1 Yohanes 5:14-15).
  • Anda harus tinggal tetap di dalam Kristus. (Yohanes 15:7).
  • Anda harus orang benar di hadapan Allah ( Yak 5:16b)

Setiap manusia yang hidup di dunia ini membutuhkan keseimbangan atau kemapanan. Setiap kita menyadari adanya suatu proses waktu yang berjalan tanpa henti. Ada waktu yang sudah kedaluwarsa, kuno dan antik, ada waktu sekarang yang dikatakan modern oleh kita yang hidup saat ini dan waktu yang akan datang karena adanya proses yang tak pernah berhenti. Saat ini  sesungguhnya bukanlah merupakan titik henti tetapi selalu saja menjadi “proses kekinian”.

Doa secara singkat yang ditujukan kepada Tuhan oleh manusia  adalah sebuah keinginan/harapan akan ketidakmampuan kita dalam mencapai keinginan sehingga  menharapkan keinginan tersebut dipenuhi oleh Tuhan.

Rasul Paulus berkata, “Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih”. “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan”. “Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah”.

Secara pribadi penulis mengartikan  ; Doa sebagai keinginan mendapatkan atau memperoleh  akan sesuatu yang ditujukan kepada sesuatu (baca ulang ayat-ayat tersebut di atas).  Harapan adalah garizah, intuisi, dan naluri  manusia natural. Dapat disimpulkan bahwa setiap manusia memiliki harapan. Sedangkan doa itu distingtif, eksklusif, singularis,spesial.

Doa itu sesuai definisi diatas harus di tujukan kepada sesuatu… tetapi untuk anak-anak Tuhan doa itu ditujukan pada BAPA di Surga..” Doa itu pastilah  Harapan tetapi Harapan bukanlah  Doa.”

Banyak yg terjadi di antara kita yang berdoa secara emosional di saat ada permasalahan yg mendesak dan  butuh jawaban secepatnya  bahkan keyakinan  mereka tersebut sangat kuat,  tidak menutup kemungkinan ‘lebay’. Kadang kala mereka yakin bahwa terkabulnya doa tergantung  dari faktor  mereka  yg berdoa, yaitu kokohnya iman dan ‘persiten’/uletnya doa.  Kalau ternyata  doanya belum tekabul, maka doanya menjadi semakin emosional lagi, atau dapat juga timbul rasa frustasi dan ngambek. 

Ada penyalahgunaan doa. Terkadang kita terlalu cepat menjadikan doa sebagai alternatif final  dalam menghadapi persoalan, seolah tidak ada jala keluar.  Kita sering  mengambil kesimpulan bahwa kita sudah tidak berdaya lagi. Dengan berdoa kita merasa diri sudah BERSERAH , padahal sebenarnya kita MENYERAH.  Kita sering kali kalah sebelum berperang, Sehingga, DOA DIJADIKAN ALIBI  atau alasan untuk membela diri bahwa kita tidak mampu berbuat banyak  kecuali berdoa.

Bukan kita saja , gerejapun sering menjadikan DOA SEBAGAI ALIBI. ketika terjadi pembakaran gereja, pembongkaran gereja, penganiayaan, kerusuhan terhadap orang kristen hanya sebagaian kecil kita dan gereja yg berani ambil resiko untuk menolong mereka. Harusnya kita malu dengan orang orang atau lembaga di luar gereja yang berani bersuara lantang bahkan tidak sedikit mereka yang mau melindungi. Tetapi kebanyakan gereja tidak mau turun tangan. Mereka hanya berkata, ” KAMI SUDAH MENDOAKANNYA.”

Apa itu kerendahan hati?


Apa itu kerendahan hati?

Kerendahan hati atau ‘humility‘ berasal dari kata ‘humus‘ (Latin), artinya tanah/ bumi. Jadi, kerendahan hati bisa kita artikan , adalah penempatan diri yang ‘membumi’ ke tanah.

Kerendahan hati kita sebagai orang yang dipanggil merupakan pemuliaan, penghargaan, pujian, rekognisi dan sanjungan kepada Tuhan bahkan dalam hubungan dengan-Nya sebagai Pencipta dan sesama, Kerendahan hati juga mengantar kita untuk mengakui bahwa kita sekalian bukan siapa-siapa di hadapan Tuhan,

Sehingga pada prinsipnya , kerendahan hati membimbing kita untuk melihat segalanya dengan kaca mata Tuhan. kita melihat diri kita yang mendasar tanpa berlebihan. Dalam hal ini kerendahan hati memberikan kepada kita pengetahuan akan diri sendiri, dengan kesadaran bahwa segala yang ada di dalam dan pada kita adalah Anugerah Tuhan.

Dasar dari kerendahan hati adalah pengenalan akan diri sendiri dan Tuhan. Di mata Tuhan kita ini pendosa. Keseimbangan antara kesadaran akan dosa kita dan kesadaran akan kasih Allah ini membawa kita pada pemahaman akan diri kita yang sesungguhnya. Kesadaran ini menghasilkan kerendahan hati.

Kerendahan hati membuat kita selalu menyadari kelemahan kita dan bergantung kepada rahmat Tuhan. Jadi, kerendahan hati adalah sikap hati untuk tunduk kepada Tuhan dan menyenangkan hati Tuhan dalam segala perbuatan kita.

Waspadalah terhadap kerendahan hati yang ‘palsu’ (‘false humility’).
Misalnya, dengan mengatakan bahwa kita lemah dan tidak bisa apa-apa, tetapi begitu orang lain memperlakukan kita sesuai dengan apa yang kita katakan itu, lalu kita menjadi kecewa. Atau, kita merendah supaya kemudian dipuji orang. Ini adalah kerendahan hati yang palsu. Kerendahan hati yang sesungguhnya tidak menonjolkan diri untuk dipuji.

Jangan kita menggunakan ‘alibi’ dengan mengatakan tidak layak atau aku masih berdosa, sehingga kita tidak mau melayani, atau tidak mau membagikan talenta untuk melayani di gereja, atau tidak mau melayani sesama. Ini tindakan tidak baik (‘evil‘) karena menyembunyikan ‘cinta diri’ di balik kedok kerendahan hati.

 

Minggu,13 Des’15- Fil 2:1-11 Merendahkan Diri


Nasihat supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus
Berbicara kerendahan hati dan menjadi sosok yg rendah hati tidak semudah membalik telapak tangn . Karena di dalam era globalisasi  yg begitu pesat membuat kita menjadi manusia yg egois.  Bahkan, lingkungan sekitar kita , baik dalam  keluarga, hubungan dengan tetangga, pekerjaan, bahkah dalam hidup bergereja  kurang menghormati sifat rendah hati. Tetapi Firman Tuhan ya dan amin dan tidak akan pudar ditelan jaman.  Tuhan ingin kita memiliki sifat rendah hati agar kita percaya pada-Nya.

 

Rendah hati adalah suatu sikap pribadi yang menaruh keyakinan pada Allah, bukan pada diri sendiri. Rendah hati bertolak belakang dengan nilai-nilai duniawi yang mengedepankan harga diri dan kesombongan. Bersifat rendah hati berarti bahwa kita menyadari kelemahan-kelemahan kita , seba itu  Kita harus mengandalkan Tuhan untuk menjadi orang yang berguna dan dapat menghasilkan buah. Kita tak dapat melakukan apa-apa yang baik tanpa pertolongan Allah dan bantuan orang lain. Orang yang hidup dengan rendah hati tidak akan pernah dikuasai oleh sikap cemburu tetapi akan menilai orang lain secara jujur dan objektif. Rendah hati berarti bersikap  apa adanya tanpa  memakai topeng /persona.

Kita adalah orang2 yg dipanggil dari kegelapan menuju terang, kita adalah “komunitas warga kerjaan Allah” (  keluarga gereja) dan  masyarakat. Seharusnya kita memiliki power  yang terletak pada kesatuan hati, baik pikiran, jiwa, memiliki kasih  dan tujuan bersama yaitu menjadi saksi dan duta Allah. Jika kita sebagai anak2 Tuhan/orang percaya  tidak ada rasa kesatuan maka kita  berada dalam bahaya.

Nasehat  Paulus yang ditujukan  kepada jemaat di Filipi bertujuan mengingatkan karena ia  melihat adanya potensi di dalam sesama jemaat Filipi yang akan  mengoyak kesatuan jemaat Filipi, yaitu sikap EGOIS , merasa lebih hebat dari orang lain .Sikap EGO ini dapat menghancurkan hubungan antar pribadi dan berpotensi menghambat perkembangan  dalam kehidupan jemaat di Filipi. Orang seperti ini biasanya sulit untuk bekerja sama dengan orang lain. Bagi orang tersebut keutuhan komunitas bukanlah prioritasnya.

kita sering merasa diri kita hebat tanpa kita sadari karena hal-hal rohani yg kita miliki. Kita merasa telah memberi segalanya, kita memberikan pertunjukan besar tentang kasih dan iman di gereja. namun tanpa persekutuan pribadi yg teratur dan mendalam antara kita dan Tuhan, kekristenan kita akan sia-sia/zero.

“Berserah kepada-Nya berarti menolak kedagingan kita”

Karena itu, Paulus mengajak segenap jemaat Filipi untuk menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat di dalam Kristus Yesus .  Yesus sendiri rela melepaskan kesetaraan-Nya  dengan segala hak-Nya walaupun Ia adalah Allah, dengan mengambil rupa seorang hamba dan membiarkan diri dihina, direndahkan, disiksa, bahkan dibunuh.

Bukan nama yang membuat kita luar biasa di mata dunia, melainkan Tuhan dan kemauan kita untuk menjadi alat-Nya. Ingat !, Tuhan tidak hanya memakai Paulus, seorang yg terdidik, tetapi juga petrus yg hanya seorang nelayan. Mereka berbeda dalam kapasitas dan potensinya, tetapi karena Tuhan Yesus mereka menjadi luar biasa. Sama seperti Anda /kita, Tuhan tidak hanya memakai  Pdt. Gilbert Lumeindong, Pdt. Eka Daramaputera, Frans magnis,  Prof. gerrit Singgih, tetapi Tuhan juga bisa memakai kita semua dan siapa saja tanpa melihat status. Asalkan kita mau dengan kerendahan hati berkarya dalam kemulian-Nya dan sesama manusia.

“Tuhan tidak mencari dan butuh orang2 hebat, genius, dan luar biasa. Orang yang bersedia lebih berarti bagi Tuhan”

Akhirnya sikap rendah hati akan nampak dalam kesadaran bahwa dunia ini berputar dan kita tidak akan tahu apa yang terjadi esok hari. Nasib kita berada di tangan Allah.

Merendahkan diri sesuatu yg sulit tetapi bukan berarti tidak bisa, sebab itu kita perlu melatih diri untuk bersikap demikian dalam relasi kita dengan sesama, khususnya di antara orang percaya dan dalam gerak layan kita.

“Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan.” (2 Korintus 10:18). 

“Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.” Amsal 18:12

“Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.”  Yakobus 4:10

 

 

 

Kumpulan kotbah natal


Kumpulan Khotbah natal

ANTARA IBADAH NATAL DAN PESTA NATAL 
Pdt. Israel H S Milala. STh.

Tulisan ini bisa jadi tidak enak untuk dibaca karena memang sifatnya menyoal terhadap perayan besar yang sering kita agungkan di bulan Desember. Mungkin sahabat akan berikir saya terlalu banyak berbicara yang bukan – bukan dan mungkin akan menyoal kembali maksud tulisan ini dengan berbagai argumen atau barangkali menyebabkan tidak suka kepada saya atau barangkai tidak mengucapkan lagi selamat natal. Tapi inilah pandangan saya tentang perayaan natal kita. Dan jika Tulisan ini tidak berkenan bagi Tuhan sang pemilik natal, semoga Ia mengampuni saya sebagai hamba-Nya.

 

PERLUKAH PERAYAAN PESTA SEPERTI INI ?
Natal … Memang sudah tak terasa dan semakin dekat perayannya. Kesibukan akan dimulai panitia natal mulai bekerja, gereja, rumah, mall, pasar – pasar mulai dihiasi pernak – pernik natal dan seperti biasanya pesta natal itu diharapkan dapat terlaksana dengan meriah hingga bahkan bisa saja sangat duniawi.

Terkadang saya berpikir ; Perlukan perayaan dan Pesta natal dimana nuansa duniawinya sangat terasa ?. Kenapa saya berkata Perlukah perayaan seperti ini ? lihatlah sekarang bagaimana gereja – gereja yang hanya mengandalkan ibadah spektakuler yang didalamnya orang – orang kristiani bersorak – sorai memuja hadirat Tuhan, tetapi lihat juga adakah perubahan yang mendalam yang membaharui setelah perayaan natal tersebut ?

MELIHAT NATAL BERSAMA NABI YESAYA.
Mari melihatlah bersama nabi Yesaya, ketika ia berkata dalam pasal 2 tentang : “apa yang terjadi di surga dan yang terjadi di bumi”. Yerusalem beria – ria dengan persembahan domba dan lembu mahal, perayaan – perayaan rutin yang sangat fantastis ? tapi ironis ! melihat semuanya itu. Yesaya mengatakan, Yang Mahakudus mencela karena jijik ; “Aku benci melihatnya! Tanganmu penuh dengan darah!” bahkan Allah bahkan menyetarakan Yehuda dengan manusia Sodom dan Gomora ! “Inilah kesalahan Sodom … kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup ada padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin” (Yehezkiel 16:49). Yesaya mengatakan Allah tak terkesan dengan ibadah, perayaan atau persembahan memang sangat hebat namun penuh kemunafikan, meski ada kemegahan di dalam tembok rumah ibadah, kesengsaraan dan kemiskinan masih bercokol di luar tembok Yerusalaem.

Dalam hal ini aku hendak mengatakan, lihatlah ! Sekian tahun gereja bertumbuh, bukankah pertumbuhan iman jemaat hanya jalan ditempat, bukankah semakin lama kita bersama di dalam gereja semakin banyak perseteruan, kecongkakan, keangkuhan, yang miskin tetap miskin dan yang kaya semakin kaya dan kondisi orang-orang di jalanan (masyarakat) tak banyak berubah ? Bukankah ini yang dikatakan Yesus tentang “Garam” yang tak lagi asin dan “terang” yang sudah redup nyalanya ? Atau barangkalai dengan sengaja kita melupakan pesan nabi Yesaya dalam setiap perayaan gerejawi, tidakkah kita melihat Tuhan menghardik umat-Nya yang merasa diri tengah baik – baik saja ? Jikalau bisa dan tulisan ini memberi makna kepada kita, mungkin aku juga akan berkata, marilah “Singkirkan perayaan yang penuh kemunafikan itu, mari beribadah dan merayakan natal dengan kesederhanaan, hikmad dan lebih kepada memaknai akan kehadiran Yesus di dunia. Cukup sudah kita kita berbicara tema natal yang sentralnya hanya kepada :

  • Berapa biayanya ?
  • Dari mana sumber dananya ?
  • Dimana tempatnya di hotel atau di gereja?
  • Siapa pengkhotbahnya kelas atas atau kelas bawah ?
  • Siapa artisnya lokal atau ibu kota ?
  • Apa makanannya Prasmanan atau kotak ?
  • Bagaimana dan apa kado natalnya ?
  • Apa hiburannya, band atau keyboard ?
  • Siapa yang di undang Pejabat atau pimpinan gereja ?
  • Siapa yang menjadi sponsor calon Bupati, Gubernur atau caleg ?
  • Dsb … ?

 

SEDIKIT TENTANG AKU DAN MAKNA NATAL
Kenapa kita sangat menghilangkan makna natal yang sesungguhnya yang berbicara berbicara tentang penebusan, tentang kesederhanaan dan kerendahan hati ? Saya masih mengingat ketika saya dulu diundang beberapa tahun lalu awal pelayanan saya dengan jadwal yang padat sekali bisa sampai 40 X dalam sebulan, tapi itu dulu … hehehe … sekarang jadwalnya semakin sedikit tapi saya senang dan sangat jujur dengan sengaja memang menolak beberapa tawaran berkhotbah yang hanya memuaskan pendengar, karena bagiku menjadi pengkhotbah terkenal bukan lagi sebagai yang utama, tapi bagaimana menyamapaikan kebenaranNya yang sesungguhnya bukan sebagai hanya lelucon. Bagi pengkhotbah begini akan beresiko tidak akan di undang dalam banyak perhelatan …. hehehehe … dan mikirlah jika ada yang mau melakukan itu.

Kembali kepada perayaan natal tadi. Dalam banyak perayaan natal, saya memperhatikan bahwa memang acara natal yang saya hadiri, bahwa perayaan itu lbih banyak kepada nuansa duniawinya, mulai dari acara natal yang penuh dengan entertaiment, spanduk dan sponsor yang beragam, ucapan selamat dari petinggi – petinggi negeri, ada juga pajangan product makanan dan minuman dan lebih heran lagi tata acara ibadah bisa jadi ada 10 lembar tetapi 6 lembar terakhir penuh foto calon – calon pejabat serta iklan … hehehehe.

Terkadang saya juga mendengar, beberapa sanjungan yang dilontarkan oleh panitia natal, majelis jemaat atau jemaat sendiri yang berkata ; “Puji Tuhan, acara Natal kita sangat meriah. Megah, mewah, paduan suaranya mantap, penampilan operanya memukau, pengkhotbahnya luar biasa, dsb”. Sebenarnya, saat mendengar perkataan itu, saya terharu dan tertunduk, jangan – jangan Tuhan malah sedih dan menangis melihat kemewahan dan kemeriahan semuanya ini yang penuh dengan selebrasi. Jangan – jangan semua yang kami lakukan di Natal ini hanya menyenangkan hati kami, bukan untuk Tuhan.

Sahabat kita telah melupakan, bukankah dalam perayaan natal seharusnya kita lebih memikirkan tentang kedatangan-Nya nanti ? karena natal bukanlah lagi berbicara tentang bayi, tentang gembala, tentang palungan. Itu dulu ketika Ia datang menjadi bayi manusia. Dan Sang Bayi Manusia itu segera akan datang lagi. Tapi bukan bayi lagi, tapi dengan segala KemuliaanNya. Mengapakah makna Natal kehilangan maknanya mengingat akan KedatanganNya nanti ? bandingaknlah dengan apa yang dikatakan dalam Matius 24 : 29 – 30 ini : “Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu akan tampak tanda ANAK MANUSIA di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat ANAK MANUSIA itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Dengan firman yang tertulis dalam Matius 24 : 29 – 30 ini, masihkah kita tidak mau merenung untuk mempersiapkan diri menyongsong kedatanganNya nanti ? masihkah dalam masa penantian itu, tetap kita rayakan dengan pesta makan dan minum yang dipenuhi dengan roh konsumerisme ? Saya rasa bukan itu caranya. Roma 14 : 17 mengatakan : “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus”.

Saya mengingat beberapa hari yang lalu Nora (istriku) berkata, Pa dalam tahun – tahun natal kita tidak pernah lo memajang pohon natal dan menghias rumah kita dengan pernak – pernik natal ? saya hanya berkata kepadanya, mama, mungkin tahun ini, kita juga tidak akan memasang pohon natal dirumah dan pernak – perniknya dan kita pun tidak akan merayakan natal dengan baju baru tapi mari kita bernatal dan merayakannya dengan hati bersyukur.

Entah kenapa memang, beberapa tahun ini, jiwaku gundah gulana dan bertanya – tanya, mengapa orang – orang berlomba sibuk menyukseskan acara natal, sementara Kristus yang dirayakan kelahiranNya itu dilupakan ? Jika boleh sekali lagi saya berkata, bukankah ketika ibadah natal itu dibangun dari kelebihan, pesta mewah, makanan mahal, harta, pakaian, jabatan, dengan acara glamour, dsb, yang ketika dibawa kedalam ibadah bahwa itu telah mencuri kemuliaan Tuhan ?

RENUNGAN MEMAHAMI NATAL YANG SESUNGGUHNYA
Bacalah ini renungan yang saya copy paste dari salah satu gereja tetangngga, yang sangat baik dalam memahami natal, semoga dapat memberikan kesadaran kepada kita yang merayakan natal tahun ini :

Yesus lahir dalam kesederhanaan. Dia adalah Raja, jadi sebenarnya Dia dapat memilih tempat dimana Dia akan dilahirkan. Dia bisa saja memilih istana yang megah dan penuh keindahan, tetapi sebaliknya Dia memilih kandang dengan bau yang mungkin saja menyengat. Dia bisa saja memilih untuk diletakkan di pembaringan yang empuk, tapi Dia justru memilih palungan. Dia bisa saja memilih sutra termahal untuk menyelimuti-Nya – ingat, Dia Raja dan Tuhan – tetapi Dia membiarkan kain lampin yang kasar dan sederhana membungkus-Nya. Saat Dia lahir, bisa saja Dia mengundang pembesar dan golongan bangsawan untuk datang melihat-Nya, tetapi Dia justru memilih para gembala sebagai tamu kehormatan!

Kelahiran Kristus itu sederhana, bahkan sangat sederhana. Namun anehnya Natal sekarang ini sudah identik dengan kemewahan. Kalau tidak mewah, bukan Natal namanya. Jika anggaran dana Natal tidak membengkak sampai berpuluh-puluh juta, Natal yang kita peringati serasa kurang afdol. Dengan dalih rohani, kita selalu berkata bahwa kita sedang menyambut kelahiran Raja di atas segala raja, sehingga segala pemborosan yang kita berikan tidak berarti sama sekali. Memang tidak pantas jika kita membuat perhitungan finansial terhadap Tuhan. Namun, apakah benar semua kemewahan itu untuk Tuhan, ataukah sebaliknya untuk memuaskan keinginan kita sendiri ? Bukankah sejujurnya kita sungkan dengan tamu undangan yang datang dalam acara Natal kita itu, sehingga mau tidak mau kita akan menyiapkan acara itu semewah mungkin ? Padahal bisa saja kita merayakan Natal dalam kesederhanaan tanpa mengurangi esensi Natal itu sendiri.

Seandainya waktu bisa diputar ulang, saya ingin kembali ke Natal yang pertama untuk menyaksikan dan merasakan sendiri bagaimana suasana di Betlehem. Sementara semua penduduk desa kecil itu sudah tertidur pulas, di suatu tempat, tepatnya di sebuah kandang sederhana, terlihat Yusuf dengan Maria yang sedang menggendong Sang Mesias. Serombongan gembala datang dengan ekspresi yang belum pernah terlihat sebelumnya. Suasana di sana begitu hangat, tenang, teduh dan dipenuhi kedamaian yang tak terkatakan. Natal pertama memang diwarnai dengan kedamaian.

Dua puluh abad kemudian, Natal masih diperingati. Kisahnya masih terus diceritakan. Bahkan cerita Natal itu tampaknya tidak pernah usang. Hanya sayang, kedamaian yang menyelimuti Natal pertama berangsur-angsur hilang. Kini kita memperingati Natal, tapi tak pernah merasa damai. Sebaliknya, Natal tidak lebih dari kegiatan tahunan yang membuat kita letih. Bahkan kadang kala kita memperingati dengan kegelisahan dan kegalauan dalam hati. Kehadiran Sang Mesias tidak cukup memberi rasa tenang dan rasa aman. Berita kelahiran Juruselamat tidak sanggup menghembuskan rasa damai di hati kita. Tak heran jika Natal tidak begitu berkesan dalam hidup kita. Sama sekali tidak membekas. Bahkan berlalu begitu saja.

Jika kita mau merenungkan lebih jauh, bukankah benar bahwa makna Natal dalam pengertian yang sebenarnya telah bergeser begitu jauh ? Makna Natal yang sebenarnya diganti dengan hal – hal lahiriah. Digantikan dengan pesta pora, hura-hura, dan kemewahan yang sia-sia. Dilewatkan begitu saja, bahkan sebelum kita bisa mengambil waktu sejenak untuk berefleksi. Alangkah indahnya jika kita bisa kembali ke Natal yang pertama. Merasakan Kristus dalam kesunyian, membuat jiwa kita lebih peka terhadap suara-Nya. Merasakan Kristus dalam kesederhanaan, menggugah empati kita terhadap sesama yang hidup dalam kekurangan, yang dilanda bencana atau yang sedang dirundung kesedihan. Merasakan Kristus dalam embusan damai, mengusir jiwa yang gelisah dan galau.

Amin.

 

Refleksi Natal: Ruangan Hati Untuk Yesus

Desember 21, 2010 1 Komentar 226 Views

Apa yang Anda rayakan pada Natal tahun ini? Melihat tanggal 25 Desember di kalender membuat sebagian orang senang karena bisa berkumpul dengan sanak keluarga dari luar kota atau luar negeri. Kaum muda yang bekerja, menantikan THR atau bonus Natal. Mahasiswa dan pelajar menikmati liburan yang panjang di hari Natal dan Tahun Baru.

Tanggal 25 Desember sering menjadi patokan pergantian tahun yang melambangkan keberhasilan atau kegagalan yang telah dijalani selama setahun. Namun, bulan Desember bisa menjadi bulan tumpukan tugas yang tidak mendamaikan hati. Para pegiat sibuk menyiapkan acara Natal, mendekorasi ruangan, latihan drama Natal, paduan suara, dan musik. Para keluarga pun sibuk berbelanja hadiah, menyiapkan dan mengirimkan kartu ucapan, membersihkan dan menghiasi rumah, memasang pohon dan lampu Natal.

Mungkin sebagian besar umat Kristen menyadari bahwa tanggal 25 Desember adalah hari perayaan kelahiran Yesus. Tapi, berapa banyak yang meluangkan waktu untuk menghayati dan menikmati makna Natal? Masihkah ada Yesus di ruang hati kita tatkala merayakan hari Natal?

Natal adalah peristiwa yang memiliki kekayaan makna. Tersimpan harta karun yang indah di hari Natal. Sebab itu, kita perlu menggali kembali harta karun itu sebagaimana yang dicatat dalam Alkitab sehingga kita dapat mengerti, menghayati, dan menghidupi kembali makna Natal pada tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang.

Ribuan tahun yang lalu, ketika malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Maria dan Yusuf, ia memberitahukan mereka bahwa anak yang dikandung oleh Maria berasal dari Roh Kudus dan harus diberi nama Yesus, karena Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa (Mat.1:21). Jadi, kado kasih terindah di hari Natal ialah lahirnya sang Juru Selamat sejati di dunia ini. Bahkan, Dia akan dinamakan Imanuel, yang artinya ‘Allah menyertai kita’ (Mat.1:23). Luar biasa! Penghayatan inilah yang harus bergema di ruang hati kita. Bukan hanya menjelang dan ketika merayakan Natal; tetapi juga dalam kehidupan kita setiap hari.

Kita patut bersyukur bahwa hari Natal ditetapkan pada tanggal 25 Desember, karena dekat dengan akhir dan pergantian tahun yang baru. Hal itu dapat membuat kita merenungkan hidup yang telah kita jalani dari awal hingga akhir tahun. Bahkan juga menantang kita untuk berani memberikan kado terindah di hari Natal kepada Yesus. Sungguhkah Yesus menjadi Pribadi yang hidup di ruang hati kita setiap hari? Apakah Yesus benar-benar menjadi satu-satunya Juru Selamat yang hidup di hati dan kehidupan kita? Berapa banyak janji perubahan hidup yang kita ikrarkan namun belum kita tepati bahkan kita langgar?

Menerima Yesus sebagai satu-satunya Juru Selamat berarti menjadikan-Nya sebagai Pribadi yang bertahta di hati dan kehidupan kita. Dia menjadi Junjungan hidup yang berjalan di depan kita, dan kita mengikuti-Nya dari belakang. Mengikuti apa? Mengikuti teladan kasih-Nya dalam melayani dan mengasihi sesama; mendengarkan dan menaati apa yang diajarkan-Nya; berjuang untuk semakin serupa dengan-Nya dalam karakter, sifat, dan perilaku sehari-hari.

Sesungguhnya, Natal menjadi alarm yang mengingatkan sejauh mana kita mengasihi Allah dan mempersembahkan hidup kita kepada-Nya. Sejauh mana kita menghargai kasih pengorbanan Kristus. Yesus tidak menyerukan “Aku mengasihimu” melalui suara dari surga. Ia merendahkan diri. Ia datang dengan mengambil rupa sebagai manusia untuk menyatakan betapa Ia sangat mengasihi kita. Puncak pernyataan kasih Kristus terbukti melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Melalui salib yang hina, Ia menanggung murka Allah. Bahkan, Ia membuktikan kemurahan hati dan kasih Allah kepada manusia berdosa. Karena itu, Natal menjadi alarm yang terus mengingatkan kita tentang keajaiban kasih Allah; mulai dari palungan menuju palang yang hina.

Biarlah hati kita menjadi telinga yang mendengar alarm Natal. Alarm yang mengingatkan siapakah kita sebagai manusia. Alarm yang menyelidiki ruang hati kita. Masih adakah Yesus sebagai Raja di ruang hati kita? Masih adakah ungkapan syukur atas pengorbanan Kristus di kayu salib? Masih adakah kesadaran untuk menghargai kasih karunia Allah di ruang hati kita?

Natal akan berlalu. Tahun baru pun akan dilewati. Namun, alarm dari palungan hingga palang terus berbunyi di ruang hati kita. Mari, kita beri yang terbaik kepada Tuhan dengan menyediakan ruang hati kita diisi oleh kasih karunia Allah; mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang harum di hadapan Allah; melayani Tuhan dengan semangat kasih Kristus; membuka diri untuk mengalami pertobatan setiap hari sehingga semakin serupa dengan Kristus. Bahkan menghidupi kasih Kristus dengan menjadi pelaku kasih yang sejati bagi sesama; seperti syair lagu berikut ini:

Natal ‘tak berarti tanpa Yesus di hati

Natal tak’kan indah tanpa damai di hati

Persembahkan hidupmu serahkan pada Yesus

dan kau akan mengalami NATAL

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru!

 

 

Kelahiran Yesus,Tonggak Penegakan Kerajaan Allah Bagi Seluruh Ciptaan

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Pertama-tama,kita patut bersyukur jika tahun ini kita masih diberi kesempatan untuk merayakan Natal.Sebagai salah satu hari raya Kristen,Natal memiliki arti yang penting bagi perjalanan iman umat Kristiani.Kelahiran Yesus Kristus yang menjadi pusat dari Natal membuktikan kehadiran Allah dalam dunia (Imanuel).Dengan hadirnya Allah dalam dunia maka kita tahu bahwa Allah tidak sekadar mencipta lalu membiarkan ciptaan-Nya berjalan dengan sendirinya.Allah berkenan untuk terlibat dalam urusan ciptaan-Nya.Tetapi keterlibatan Allah itu bukanlah sebuah keterlibatan yang menyingkirkan peran ciptaan-Nya.Allah tidak ingin memperlakukan ciptaan-Nya seperti mesin-mesin yang mati.Allah menghargai ciptaan-Nya dengan memberikan kemandirian.Justru dengan adanya kemandirian itu Allah dapat mengajak ciptaan-Nya untuk bekerjasama.

 

Kehadiran Allah di dunia patut kita pahami dalam kerangka kerjasama.Sebagaimana kehidupan di dunia ini terus berlangsung maka Allah pun terus menerus bekerja.Tetapi dalam menjalankan pekerjaan-Nya, Allah berkenan mengikut sertakan ciptaan-Nya.Memang tidak selalu kebebasan yang diberikan Allah dan kehendak Allah untuk bekerjasama dengan ciptaan-Nya berakhir dengan hasil yang baik.Ciptaan Allah tetaplah ciptaan yang di sana sini mudah jatuh dalam berbagai kesalahan. Mereka bukanlah makhluk yang begitu cerdas untuk mengerti kehendak Allah.Mereka juga bukan makhluk yang dapat bertahan dalam segala keadaan.Sehingga kelakuan mereka mudah berubah.Bukan karena mereka ciptaan yang buruk, namun karena mereka tidak dapat selalu menampilkan kebaikan.Allah bukan tidak tahu keadaan ciptaan-Nya itu, namun Allah tetap bersedia untuk mengajak ciptaan-Nya bekerjasama.Allah ingin mengajak ciptaan-Nya menata dan mengisi kehidupan di dunia agar setiap kali menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

 

Kelahiran Yesus Kristus dalam dunia memperlihatkan kepercayaan Allah kepada manusia bahwa di tengah semua kemungkinan untuk berbuat salah, manusia masih bisa diajak bekerjasama dalam menjaga dan mengembangkan kehidupan.Tetapi kepercayaan Allah itu tidak hanya terbatas pada manusia saja.Kita tahu bahwa hidup di dunia ini tidak mungkin terjadi tanpa keterlibatan ciptaan Tuhan lainnya.Bukan manusia saja yang memungkinkan hidup ini terus berlangsung, makhluk-makhluk bukan manusia juga memiliki peranan di dalamnya.

Kisah kelahiran Yesus dalam Injil Matius menyebut tentang bintang di Timur yang dilihat oleh para sarjana (Majus) dari Timur.Bintang yang adalah benda alam ternyata memberikan petunjuk.Allah berkenan memakai sebuah benda alam untuk menjadi petunjuk dari kehadiran-Nya sebagai manusia di dunia.Sementara itu, Injil Lukas mengisahkan bahwa kelahiran Yesus disambut oleh para gembala yang dalam menjalankan tugas-tugasnya berada dekat dengan alam.Bahkan bayi Yesus sendiri juga diletakkan dalam sebuah palungan di sebuah kandang.Bukankah itu semua dengan jelas menunjukkan penghargaan Allah kepada makhluk-makhluk bukan manusia?Semua yang ada di alam merayakan kelahiran Allah di dunia.

Dalam surat Efesus1.22  dikatakan, “dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.” Kata “segala sesuatu” dan “segala yang ada” memperlihatkan sebuah cakupan yang sangat luas.Penempatan Kristus yang demikian membuat-Nya tidak terpisahkan dari semua yang ada di dunia ini.Kristus tidak hanya menjadi kepala bagi manusia, namun bagi semua makhluk yang ada di dunia ini.Pengakuan iman yang tertulis dalam Kolose 1.16-17 mengatakan “karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.” Pengakuan iman ini mengaitkan Kristus dengan penciptaan.Karena penciptaan bersifat menyeluruh maka Kristus yang di dalam-Nya segala sesuatu diciptakan juga berada dalam keseluruhan ciptaan.

Mendapati kesaksian Alkitab tentang Yesus Kristus itu sudah seharusnya kita menyadari bahwa hubungan antara Tuhan dan ciptaan-Nya tidaklah terbagi-bagi.Tuhan adalah Tuhan bagi seluruh ciptaan.Kasih Tuhan tertuju bagi semua makhluk.Kepedulian Tuhan adalah kepedulian kepada semua yang Ia ciptakan agar semuanya tetap hidup dan berkembang. Jikalau demikian baiklah kita membangun kesadaran,

 

Kita hanyalah salah satu ciptaan Tuhan. Maka baiklah kita selalu membuka mata-hati kita kepada semua makhluk karena mereka adalah sesama ciptaan Tuhan bagi kita.

  1. Sikap kita kepada ciptaan Tuhan sudah seharusnya mengikuti sikap Tuhan yang dalam kepedulian-Nya menghendaki semua makhluk terpelihara.
  2. Ketika sekarang ini kita merayakan Natal, baiklah kita merayakan-Nya bersama seluruh makhluk karena Dia lahir bagi semua yang diciptakan-Nya.
  3. Hubungan kita dengan ciptaan lainnya adalah hubungan kerjasama dimana Tuhan juga ikut terlibat di dalamnya. Kerjasama ini memiliki tujuan utama memelihara dan mengembangkan segala yang ada.

Dalam kesadaran di atas kiranya kita menghindari sikap,

  1. Memperlakukan ciptaan Tuhan lainnya dengan semena-mena. Perasaan bahwa kita boleh melakukan apapun kepada makhluk lain bertentangan dengan kesadaran bahwa mereka adalah ciptaan yang dipedulikan juga oleh Tuhan, Sang Pencipta.
  2. Merusak,mengeksploitasi dan membinasakan alam. Seperti alam memberikan sumbangannya bagi kehidupan, kita pun harus memberikan sumbangan bagi kehidupan, bukan sumbangan bagi kematian.

Konfesi GKI 2014, yang sudah ditetapkan dalam Persidangan XVIII Majelis Sinode GKI 3-5 Desember 2014, melukiskan kepedulian Allah terhadap ciptaan-Nya demikian,

Kami percaya kepada Allah, yang dipanggil Bapa oleh Yesus Kristus,

Yang memelihara dan mengelola dengan baik lingkungan alam, seperti pemilik taman,

Yang merawat dan menjaga anak-anak-Nya seperti ibu atau bapa, [Konfesi GKI 2014, #2,4,5]

Selanjutnya dikatakan juga tentang keterbukaan Allah terhadap peranserta ciptaan-Nya demikian,  yang mengundang kami untuk berperan serta dalam pekerjaan-pekerjaan baik bagi seluruh ciptaan-Nya. [Konfesi GKI 2014 #6]

Dalam bagian pengakuan tentang Yesus Kristus dinyatakan pula bahwa

dengan naiknya Yesus ke surga maka sebagai gereja, kita sebagai GKI terdorong untuk menjalankan kesaksian kepada seluruh ciptaan. [Konfesi GKI 2014 #12]

Pada bagian pengakuan tentang Roh Kudus dinyatakan hal yang senada yaitu bahwa

Roh Kudus adalah “sumber kekuatan yang melibatkan kami dalam misi Kerajaan Allah.” [Konfesi GKI 2014 #12]

Gereja hadir di dunia untukmengerjakan misi Kerajaan Allah.Gereja adalah rekan sekerja Allah dalam meneruskan pekerjaan-pekerjaan-Nya yang baik bagi seluruh ciptaan. [Penjelasan Konfesi GKI 2014 #17.b]

Kesaksian kita tersebut jelas merupakan konsekuensi dari kesadaran kita tentang Allah Tritunggal yang dalam pergerakan-Nya selalu menyentuh segala sesuatu yang diciptakan-Nya.

Kiranya renungan tentang kehadiran Allah yang menyeluruh itu menjadikan Natal di tahun 2014 ini mempunyai makna tersendiri. Makna itu kiranya mewujud dalam suatu tekad untuk menyatakan kabar baik kepada seluruh ciptaan dengan berbagai cara yang mungkin kita lakukan.Akhirnya,kamiucapkan kepada seluruh anggota jemaat GKI, “Selamat Natal Tahun 2014 dan Tahun Baru 2015”. Tuhan memberkati.

 

Teriring salam dan doa

Badan Pekerja Majelis Sinode

Gereja Kristen Indonesia

 

 

Makna Natal Bagi Iman Kristen

 

Bagi sebagian orang bulan Desember adalah salah satu momen yang paling dinantikan, karena seluruh umat Kristiani merayakan Natal; hari di mana seluruh umat Tuhan memperingati kelahiran Yesus Kristus. Ada banyak perayaan Ibadah Natal di mana-mana, bahkan sebelum bulan Desember pun, di sepanjang jalan sudah banyak para pedagang yang menjual pernak-pernik Natal yang dijual di pinggir jalan, dan semuanya itu adalah untuk menyambut hari Natal yang bahagia itu, bahkan nyanyian Natal telah berkumandang di pusat-pusat  perbelanjaan dan pusat kota pada umumnya.

Namun, pada orang-orang tertentu bulan Desember bisa saja menjadi masa yang suram. Kemeriahan Natal bisa saja tidak bisa merubah berbagai situasi yang dihadapi orang-orang tertentu. Sebab ada banyak orang juga yang tidak bisa merayakan hari Natal tersebut, apalagi untuk berkumpul dengan keluarga. Pada keluarga tertentu Natal tidak dirasakan menjadi sebuah kebahagiaan bagi mereka yang masih dalam kemiskinan. Yang lebih menyedihkan lagi apabila ada seseorang yang pada bulan ini sedang menantikan vonis hukuman atas perbuatannya,  atau karena keadaan-keadaan lainnya yang memprihatinkan.

Dengan berbagai kondisi tersebut di atas apakah sebenarnya makna Natal akan berubah dengan atau tanpa perayaan yang besar? Apakah makna Natal akan berubah jika kita tidak dapat merayakannya bersama keluarga kita? Seandainya hal-hal di atas tidak ditemui dalam Natal kita tahun ini, masihkah iman kita tetap ada di dalam Kristus? Masih adakah sukacita di dalam hati kita? Masihkah kita bersekutu dengan Tuhan dan bertumbuh dalam Tuhan di dalam Natal ini? Sebab Natal akan sangat berdampak bagi iman kita apabila seseorang telah mengerti apa sebenarnya makna Natal yang sesungguhnya.

Sebagai orang-orang Kristen yang sejati kita mengetahui bahwa perayaan Natal adalah sebagai tanda hari kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus yang datang ke dalam dunia untuk membawa Keselamatan dan hidup yang sejati. Orang yang percaya kepada Kristus adalah orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus. Oleh sebab itu, maka kelahiran Kristus ke dunia ini juga harus kita maknai dengan penuh iman kepada-Nya (Matius 1:21). Ada beberapa alasan yang mengapa perayaan Natal harus menjadi iman bagi orang percaya, sehingga peristiwa kelahiran Kristus yang kita rayakan sebagai perayaan Natal menjadi sebuah peristiwa penting dalam iman kita kepada Yesus Kristus.

1. Natal Adalah Bukti Cinta Kasih Tuhan Atas Umat-Nya
Kelahiran Yesus Kristus adalah bukti cinta kasih Tuhan kepada umat-Nya (Yohanes 3:16). Ayat tersebut mengungkapkan isi hati dan tujuan Allah bahwa Kasih Allah cukup luas untuk menjangkau semua orang, yaitu “dunia ini.” Allah“mengaruniakan” Anak-Nya sebagai korban penghapus dosa di atas kayu salib. Langkah pendamaian yang mengalir dari hati Allah sendiri yang penuh kasih dan korban Kristus itu bukanlah suatu tindakan yang terpaksa dilakukan oleh Allah. Tuhan Yesus Kristus lahir ke dunia untuk melepaskan manusia dari belenggu apapun yang sedang menjerat hidupnya.

Dosa telah di tanggung-Nya demi manusia, agar kita hidup menjadi orang-orang yang merdeka dan tidak diperhamba oleh dosa. Keselamatan dan hidup kekal merupakan anugerah Allah. Anugerah yang sangat berharga. Anugerah tersebut tidak dapat dibeli dengan apapun, juga tidak dapat dicapai dengan kemampuan manusia. Hidup kekal adalah anugerah Allah dalam Yesus Kristus. Melalui penebusan yang disediakan Allah di dalam Anak-Nya, kita dapat menghampiri-Nya untuk menerima kasih, kemurahan, kasih karunia, dan pertolongan-Nya pada waktunya.

Dengan pengorbanan dan kematian Yesus Kristus mengubah dan membebaskan kita dari dosa. Karena Allah telah menetapkan kasih-Nya sejak semula, yaitu untuk membentuk dan memperbaiki hubungan dengan umat-Nya melalui korban Yesus Kristus yang telah menebus dosa kita di atas kayu salib (Roma 3:24-26).

2. Natal Membawa Sukacita Besar
Sepanjang sejarah ke-Kristenan peristiwa kelahiran Tuhan Yesus Kristus adalah sukacita terbesar dan    selalu menjadi momen yang abadi bagi umat manusia. Kelahiran Yesus lebih dari 2000 tahun lalu membawa sukacita bagi para malaikat, para gembala, dan tiga raja dari timur, yang kemudian bergegas menyambut-Nya dengan cara mereka sendiri. Kelahiran Yesus Kristus seharusnya juga menjadi sukacita yang tidak berkesudahan bagi umat Tuhan saat ini.

Mengapa demikian ? Karena kedatangan-Nya telah memberi hidup kekal yang tidak dapat dijamin oleh keyakinan apa pun. Hidup kekal adalah anugerah Allah dalam Yesus Kristus Tuhan kita (Yohanes 3:36). Hal inilah yang seharusnya menjadi dasar agar setiap orang percaya tetap bersuka. Perayaan Natal adalah sukacita abadi yang tak tergantikan oleh apapun.

Memperingati hari Natal bersama keluarga atau orang-orang yang kita kasihi memang adalah suatu momen yang sangat baik jika mampu dirasakan secara bersama-sama, namun sekalipun mungkin kita tidak dapat berkumpul bersama keluarga untuk merayakan Natal, maka hal itu tidak membuat sukacita kita berkurang di hadapan Tuhan, kehadiran Kristus secara pribadi dalam hidup kita adalah sukacita yang sejati. Perayaan Natal akan menjadi lebih berarti bagi Iman Kristen apabila setiap orang percaya mampu mengalami Kristus secara pribadi di dalam hidupnya.

3. Natal Merupakan Persekutuan Dengan Tuhan
Kelahiran Yesus yang kita rayakan saat ini adalah sebuah kabar sukacita di tengah-tengah dunia yang keras dan kejam. Di dalamnya kita merayakan persekutuan dengan Tuhan yang datang kepada kita dan memberi arti bagi hidup kita. Manusia bersekutu dengan Allah dan Dialah sumber hidup kita. Tuhan Yesus menggambarkan hubungan-Nya dengan jemaat seperti pokok anggur dan ranting-rantingnya (Yohanes 15:5).

Orang yang bertumbuh di dalam Tuhan adalah orang yang hidup dengan Allah dan hidup dalam terang (1 Yohanes 1:5-7). Bertumbuh di dalam Tuhan juga berarti bahwa seseorang hidup dalam ketaatan terhadap perintah Allah (1 Yohanes 2:3-7), terutama perintah untuk mengasihi, serta hidup di dalam kebenaran Firman.

Dalam momen Natal yang sangat dinantikan ini, kita memaknai hari Natal untuk merenungkan kembali pertumbuhan iman kita di dalam Tuhan, agar kelak kita dapat untuk melaksanakan amanat Tuhan Yesus Kristus; sebagai pemberita kebenaran akan karya penebusan dan hidup yang kekal (1 Yohanes 2:22-25).

4. Natal Membuat Kita Bertumbuh di Dalam Tuhan
Kelahiran Yesus ke dalam dunia ini adalah sama seperti sebagaimana kelahiran manusia pada umumnya. Dalam peristiwa kelahiran Yesus di dalam hidup manusia juga merupakan momen awal baginya untuk kemudian tumbuh menjadi seorang kristen yang dewasa. Setiap orang yang ingin bertumbuh di dalam Tuhan harus melekat kepada Tuhan. Ranting-ranting harus tetap tinggal di dalam pokoknya kalau mau hidup, bertumbuh dan berbuah (Yohanes15:1-7).

Adanya hubungan itu harus diwujudkan secara nyata dalam perbuatan kasih kepada sesama dan ciptaan Tuhan lainnya. Dengan perayaan Natal yang sangat berharga ini, maka kita sebagai umat Tuhan harus dapat saling mengasihi kepada sesama umat Tuhan. Bentuk-bentuk lahiriah dari kasih harus nyata dalam kehidupan sehari-hari, tanpa membuat perbedaan, dalam keluarga, lingkungan kerja, dan bentuk interaksi sosial lainnya.

Natal adalah momen untuk perubahan dan peneguhan atas komitmen kita sebagai pengikut Kristus untuk mencintai sesama dalam suka dan senang serta peneguhan panggilan kita sebagai orang-orang yang dipercayakan Tuhan mengelola dan merawat ciptaan-Nya. Ia harus menyadari apa sebenarnya panggilan hidup-Nya sebagai utusan Allah. Orang-orang yang telah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat harus bertumbuh di dalam Tuhan hingga menjadi orang Kristen yang dewasa.

5. Natal Membawa Hidup Yang Penuh Kelimpahan
Tuhan Yesus dalam kitab Yohanes memberitahukan bahwa kedatangan-Nya ke dunia ini adalah untuk memberi hidup, bahkan hidup yang Ia berikan adalah hidup yang penuh dengan kelimpahan. Ketika kita menyadari bahwa kelahiran Yesus Kristus di dalam hidup kita adalah pemberian anugerah keselamatan dan hidup (hidup yang berkelimpahan). Hidup yang berkelimpahan di dalam Tuhan itu ada di dalam kehidupan orang percaya yang sejalan dengan firman Tuhan. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,”  (Filipi 2:5). 

Jika hati dan pikiran kita dikuasai oleh Roh Kudus dan sesuai dengan pikiran Kristus, maka  “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:7). Sebagai orang percaya kita tidak boleh kehilangan makna Natal yang sesungguhnya. Jangan sampai Natal kita hanya berfokus kepada hal-hal yang sifatnya seremonial semata. Jika kondisi tersebut terjadi dalam hidup orang percaya, maka sesungguhnya kita telah terancam kehilangan makna Natal sehingga Natal bisa menjadi momen yang berlalu begitu saja tanpa ada pesan natal bagi iman dan hidup kita secara pribadi.

Tuhan memang  tidak menghendaki supaya kita mengurangi kebahagiaan di hari Natal, Dia sendiri telah “memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati” (1Timotius 6:17), termasuk merayakan hari Natal dengan bahagia. Akan tetapi Dia juga menghendaki agar makna Natal itu berdampak bagi iman kita, agar kita semakin beriman kepada Kristus sebagai penebus kita, memiliki persekutuan dengan Allah, serta bertumbuh di dalam Tuhan dan  memiliki hidup yang berkelimpahan. Dengan demikian maka perayaan Natal lebih berarti pada tahun ini dan di tahun-tahun mendatang kelak. Selamat merayakan sukacita Natal!