Istimewa

expresi suka-suka (ekspresionis)


Iklan

“ Aku Gereja, kaupun Gereja, kita sama-sama Gereja ” = GPIB


“ Aku Gereja,  kaupun Gereja,  kita sama-sama Gereja ”  = GPIB

Pendahuluan

Setiap aku,kau  dan kita  yang menamakan diri sebagai anggota gereja,  sudah seharusnya   mampu menjawab pertanyaan  Siapakah aku, kau, dan kita dalam gereja? serta peran apa  yang sudah aku, kau dan kita perbuat dalam bergereja ?   Pertanyaan yang ditujukan pada diri sendiri sebagai anggota gereja menjadi “cermin” untuk  memahami pentingnya mengambil peran dalam hidup bergereja . Gereja adalah “aku, kau dan kita” sebagai umat Allah yang ditugaskan sebagai pelaksana di dunia.  “Aku, kau dan kita”  yang “memberi nyawa” bagi keberlangsungan bergereja, memperkenalkan karya Allah yang menegakkan tanda-tanda kerajaan-Nya .

Dalam pemahaman Zakaria J. Ngelow, gereja sebagai wujud eksistensil umat Kristen memiliki hakekat yang unik. Gereja adalah persekutuan orang-orang yang menerima pengampunan dosa yang dikaruniakan Allah melalui penderitaan,  kematian, kebangkitan Yesus Kristus dan menerima hidup baru dalam tuntunan Roh Kudus. 1)  

Gereja dari Tuhan asalnya. Manusia lebih sebagai pelaksana yang harus tunduk kepada Allah sebagai pemegang otoritas tertinggi dengan patuh kepada norma-norma dan prinsip-prinsib sebagai kesaksian kitab suci. 2)

Gereja berada di dalam dan diutus ke dalam dunia. Sungguhpun gereja tidak berasal dari dunia ini, gereja tidak bisa tidak terhubung dengan dunia dalam fungsi yang ditetapkan Tuhan, yaitu menjadi garam dan terang dunia   . 3)

Walaupun gereja diutus ke dalam dunia , dunia tidak ramah, dunia membenci gereja dan  menolak Tuhan Yesus . Gereja diutus Selaku domba  di tengah kawanan serigala. Tetapi kebencian dunia karena aku, kau dan kita  sebagai gereja sering membuat kesalahan dalam memberi kesaksian pada dunia. Perilaku aku, kau dan kita sebagai gereja yang pongah, terkungkung dengan kedudukan, materi, berpikir gamang dan  melekat pada kepuasan duniawi. Sering perilaku aku, kau dan kita sebagai gereja mementingkan diri sendiri, sering berdiam diri menyaksikan kezaliman,  tetapi cepat bereaksi ketika kepentingannya terusik.

Gereja menjadi hidup jika aku, kau dan kita tulus dalam melayani bahkan rela menderita dan berkorban.  Firman Tuhan : “Siapa yang mengikut aku hendaklah ia memikul salibnya setiap hari…” (Markus 8: 34).   Aku, kau dan kita sebagai makhluk sosial sebagai gereja jangan terkungkung dalam  “lapangan orang-orang berhikmat” (eksklusif) , harus memiliki tekad keluar dalam diri dan berjumpa dengan “aku, kau dan kita yang lain”  untuk berinteraksi , saling menghargai  dan tolong menolong dengan mengedepankan kasih.

___________

1. Asrianto Saili  Lamban,  Merawat kehidupan “Biografi dan Pemikiran” DR. Zakaria J. Ngelow,  h. 44

2. Zakaria J. Ngelow, “Gereja di tengah Bangsa dan  Masyarakat”, op.cit. h. 10.

3. Seri Membangun Bangsa, “Gereja dan Kontekstualisasi”,  h. 10

 Aku, kau dan kita  sebagai  gereja dan institusinya sering  beramah-tamah dengan dosa . Persoalannya amat kompleks: bukan sekedar urusan survival  secara finansial dan profesionalitas kepejabatan, maupun sikap kompromistik secara rohani, bahkan eksistensinya sendiri, terdapat isu sentral, yaitu kapasitas dalam rangka pemenuhan akan panggilan profetik kita dalam bersaksi dan melayani dalam maupun di luar.

Aku, kau dan kita sebaga gereja perlu didesain oleh-Nya sebagai suatu proses  pembinaan dalam rangka mewujudkan kehadiran Kristus  dalam lingkungan eksternal secara berkelanjutan.  Gereja  bukan sekedar sebuah kelompok doa, bernyanyi dan mendengar khotbah para pendeta, bahkan sekedar menjalankan program.  Aku, kau dan kita sebagai gereja  adalah “nafas” kehidupan iman dalam eksistensi sebuah gereja dimana Kristus sebagai kepalanya; bagaimana memerankan nilai-nilai spiritual untuk menyinkronkan dan menyatukan persepsi dan perbuatan.

Gereja memerlukan fleksibilitas yang tinggi dengan institusinya yang terpercaya (high trust). Tujuannya adalah untuk membangun kapabilitas yang memberikan perasaan percaya kepada setiap stakeholders (jemaat), bahwa gereja dan institusinya  berjalan dengan  terukur dalam sebuah sistem, prosedur, kebijakan, dan integritas yang mampu secara kontinyu memenuhi harapan dari para stakeholder.  Agar terjadi komitmen yang baru, diperlukan telaah tentang bagaimana dan seberapa sempurna gereja telah memberikan responsnya terhadap panggilan (profetik) tersebut.

Aku, kau dan kita sebagai gereja  hendaklah  bersifat kekinian dan keakanan yang penuh semangat, artinya gereja harus memerankan pemahaman iman  berwatak  up-to-date, saat ini,,  simultan, sejaman,  dan futuristik yang membumi. Gereja  hendaklah digiatkan  untuk melakukan tugasnya secara tulus dan konstruktif. Jika tidak, gereja akan berdampak “sistemik “  yang artinya ; Gereja akan mengalami  penyakit atau gejala yang mempengaruhi tubuh secara umum,  gereja akan mengalami  kehancuran dalam sistem yang saling berkait, semua yang ada dlm sistem itu akan hancur.

Aku, kau dan kita sebagai institusi Gereja  yang Visioner

Pemimpin/gereja  disebut visioner jika dia mentransformasi visi Yesus .  Di mana mereka harus  konsern, imajinatif,kreatif,aktif, dan memiliki skill yang memadai untuk merancang strategi untuk mencapai tujuan atau mendeliveri apa yang dicita-citakan dicita-citakan Yesus kepada anak-anak-Nya.   Bila seorang pimpinan telah memahami visinya  , artinya dia telah membuat sebuah warna  akan masa depan yang sejahtera Jadi, kepemimpinan yang visioner mutlak diperlukan namun tidak hanya sampai di situ, melainkan ia juga harus mampu merancang strategi untuk mencapai visi itu.

 Aku, kau dan kita sebagai institusi Gereja  yang “waras” (kontributif)  akan menghasilkan suatu organisasi yang bertunas dan berdinamika serta semua konstituennya bermanfat dengan seharusnya dan  membuahkan hasil yang baik   dan berimpresi, berimpak bagi lingkungan sekitar.Kepemimpinan yang kontributif  pasti ditopang  oleh beberapa elemen  penting sebagai penggerak  menuju arah ( yang dituju bersama)

Hendry Kissinger mengatakan, “Seorang pemimpin adalah seorang individu pecipta visi yang menggerakkan orang-orang dari tempat dimana mereka berada ke tempat dimana mereka belum pernah ada. Ini berarti aku,kau dan kita sebagai gereja  harus memiliki skill yang mumpuni.  Dengan visi sebuah organisasi akan  menjadi dinamisator  yang tepat pada sasaran  yang impikan bersama, namun sebaliknya bisa visi “macet”  oleh karena aku,kau dan gereja,  maka tentunya arah gerak suatu institusi  akan terombang-ambing seperti perahu ditengah ombak tanpa nahkoda.

Eka Darma Putera, menggambarkan ketiadaan pemimpin yang punya visi sebagai suatu keadaan yang bergerak tanpa arah, serta sibuk dengan diri, tanpa makna. Dan, hasilnya hanyalah kepenatan, tanpa tahu untuk apa.

Visi merupakan pemberian dari ‘mata iman’ untuk melihat yang tidak kelihatan, untuk mengetahui apa yang tidak mampu diketahui, dan memikirkan apa yang tidak mampu dipikirkan. Visi itu menjadi titik temu atau sasaran – arah gerak kita sebagai umat-Nya. Jadi jelas,  kalau seorang pemimpin tidak memilik visi dari Tuhan, ia akan ‘STOP’ .   Visi dari Tuhan merupakan panggilan bagi manusia.  Itu sebabnya penting bagi seorang pemimpin untuk mendapatkan visi yang bersumber dari Allah sendiri. Visi timbul karena adanya hati yang terbeban untuk mengetahui serta melakukan kehendak Tuhan dan untuk menjadi apa pun yang dikehendaki Tuhan.  4)

Tujuan visi Allah tidak lain adalah untuk membangun Tubuh Kristus, dimana Dia adalah kepala kita. Dan kepala memberikan kita visi dengan perintah yang sangat jelas.  Di sinilah letak perbedaan seorang pemimpin kristiani dengan pemimpin sekuler. Allah yang mengerjakan bagi umat-Nya dan Allah yang menuntun dalam mencapai visi itu untuk membangun tubuh Kristus.

Hal ini juga menunjukkan bahwa kekuasaan atau otoritas yang dimiliki Tuhan Yesus memberikan wewenang untuk menjalankan sebuah Visi,  yaitu visi Pemberitaan Injil dan ini yang harus dijalani oleh aku, kau dan kita sebagai gereja.

Aku, kau dan kita sebagai gereja mulai belajar ulang  telaah teologis  untuk menjawab kompleksitas  tentang wujud bergereja yang harus membumi sesuai dengan Firman Tuhan,  yang dalam keseharian hidupnya sukar mengaktualisasi dengan optimal visi dan misinya melalui program Tri Dharma panggilan gereja, apalagi membangun secara bermakna nilai-nilai fundamental yang dipercayai seperti akuntabilitas, responsibility secara ketat berdasarkan perspektif iman (faithful obedience). Atau dengan kata lain,  hubungan antara yang menyangkut saat sekarang ataupun masa depan di mana  gereja sebagai  institusi yang bertanggung- jawab atau berkewajiban   untuk memberitahukan, menjelaskan terhadap tiap-tiap tindakan dan keputusannya agar dapat disetujui maupun ditolak .

Aku, kau dan kita  sebagai gereja harus diberi “suplemen” untuk menyalurkan seluruh energi dalam survival strategi institusinya, maka kesiapan untuk memberi respons terhadap tekanan-tekanan  di lingkungan sekitar dapat ditekan agar fungsi gereja sebagai garam dan terang dapat  terus berdampak .  Jika gereja tidak “berenergi” maka kehadiran gereja  hanya nampak pada simbol-simbol, dan mungkin juga sekedar  ritual dengan berbagai peranti penopangnya.

Aku, kau dan kita sebagai gereja harus membentuk  profil gereja yang membumi ,  mampu berperan dalam era globalisasi dan industrial yang bertumbuh dan berubah bagaikan anak panah yang melesat, dan karena itu gereja hendaknya memberi respon terhadap perkembangan  ini.

_________

1.SABDA.org / PUBLIKASI / e-Leadership / Edisi 2012 No. 0114

Idola yang baru adalah kemakmuran di mana materialisme memiliki juga dampak negatif  bagi gereja dan masyarakat luas. Harus kita akui gereja sendiri kurang berjuang atau tidak sama sekali berusaha mengubah  sehingga menyebabkan berkembangnya kekristenan yang “jalan di tempat”. Pada akhirnya  kapasitas dalam rangka pemenuhan akan panggilan profetik kita dalam bersaksi dan melayani di lingkungan gereja tidak berkembang .Aku, kau dan kita sebagai gereja hendaknya berusaha “menciptakan” komitmen yang baru, diperlukan kajian  tentang bagaimana dan seberapa sempurna gereja  telah memberikan responsnya terhadap panggilan (profetik) tersebut.

Analisisnya hendaknya dimulai dengan distorsi-distorsi dari kebenaran, dan didasarkan atas keyakinan bahwa:

 (1) Gereja juga sudah menjadi kontributor pada distorsi yang ada;

(2) Perlu ada kerendahan hati untuk bertobat dan memohon pengampunan—bukan menonjolkan arogansi;

(3) Semua pembaharuan harus bertolak dari perspektif kerajaan Tuhan—bukan kepentingan kelembagaan belaka. Mudah-mudahan dari titik berangkat demikian dapat diingat kembali dan ditumbuh kembangkan  kembali agar gereja  sadar betul bahwa:

 (a) “takut akan Tuhan adalah permulaan segala pengetahuan”—bukan saja pengetahuan rasionalistik;

 (b) “obedience to God” (ketaatan kepada Allah)  dimengerti sebagai “true freedom” (kebebasan sejati) dalam kontras dengan “individual self-determinism” (kebulatan yang bersifat pribadi) ;

(c) buah-buah roh diterima sebagai “abundant life”  (hidup berkelimpahan) dalam kontras dengan “personal success”. (kesuksesan pribadi).   5)

Jadi, gereja perlu mengulang dan mengembangkan sebuah common framework (kerangka umum) secara teologis untuk mewujudkan kehadirannya di dalam dunia—pada hakekatnya sebagai landasan dari kehidupan yang baru (langit yang baru dan bumi yang baru) yang substansial . 6)

Aku, kau dan kita  sebagai gereja bertanggung jawab secara moral sebagai ciptaan, hidup yang ingin kita bina “dari kelimpahan Allah” yang hidup untuk kita. Gereja harus berbelarasa dengan “keprihatinan-keprihatinan sosial”.  Aku, kau dan kita sebagai gereja  harus memiliki strategi yang lebih realistis dan berdampak langsung bagi masyarakat sekitar. Memberdayakan para stakeholder baik para fungsional maupun professional sebagai ‘think tank’ dalam menciptakan strategi pengembangan sebuah konsep mutualisme antara gereja sebagai institusi dengan jemaat berkarya dan berpartisipasi membangun bangsa dan lingkungan sekitar bahkan menjadi gereja yang mewujudkan damai sejahtera  bagi seluruh ciptaan-Nya secara tulus dan jujur. Gereja akan bertumbuh jika tangan-tangan yang terampil, berkualitas dan berintegritas dimanfaatkan dengan bijak.

___________

5. Tulisan ini  terinspirasi dari tulisan Willi Toisuta  –Nota Konsep Campus Ministry ,  (Willi Toisuta & Associates)

6.  Ibid.

Pentingnya Visi bagi kepemimpina di dalam  institusi Gereja

 Menurut Andreas Harefa, Sosok seorang pemimpin visionaris adalah orang yang mampu melihat ‘status Quo’ dan mampu melihat sebuah ide , impian, atau harapan tentang masa depan yang lebih baik, lebih manusiawi, dan lebih dikompromikan oleh Tuhan sebagai sebuah kenyataan yang mungkin dilakukan lewat perjuangan dalam ketaatan kepada-Nya. Memiliki minat dan perhatian yang amat besar terhadap potensi manusia yang ada, yang mengejar kesempurnaan sebagai ciptaan Tuhan; mengambil inisiatif dengan menerima tanggungjawab untuk melaksanakan perubahan yang diyakini sebagai panggilan hidup di dunia.”Ini berarti, seorang pemimpin visioner harus menempatkan visi itu sebagai “sandal” untuk berjalan keluar dari ‘status quo’, dan mencapai mimpi bersama dengan kelompok organisasi yang dipimpinnya. Oleh sebab itu seorang pemimpin  harus punya visi bila ingin menjadi pemimpin yang baik dan membawa perubahan bagi kelompok yang dipimpinnya.

Seorang tokoh terkemuka,  Dr. Martin Luther King Jr. yang berdiri di Tangga Lincoln Memorial, berbicara di depan 250.000 orang. Pada waktu berbicara, dia menyampaikan sebuah visi. Dia berbicara mengenai harapan masa depan yang lebih baik, tidak hanya untuk orang kulit hitam Amerika, tetapi untuk semua orang Amerika. Dia menyatakan demikian, “Saya memiliki sebuah Impian (I have a dream).” Dia menyatakan visinya dengan jelas, dengan cara yang bersemangat, optimis, dan membuat orang lain juga merasakan semangat yang sama, impian dan visinya itu telah menggerakkan bangsa itu. 7)

Visi adalah pendinamis artinya bergerak dan melangkah  saat ini  menuju ke masa depan yang lebih baik. Sebuah visi yang besar dan benar akan menggerakkan mereka untuk mengambil tindakan aktif di dalam visi itu. Visi yang baik akan menjadi tantangan bagi anggota untuk melakukan suatu perubahan besar yang bergerak ke arah yang lebih baik. Visi haruslah membawa pada satu pembaharuan dan menjadi harapan bagi banyak orang.

Keberhasilan suatu organisasi gereja dalam menggerakkan anggota  jika visi itu menginsipirasi dan menginterpetasi orang lain untuk berbuat sesuatu yang digumuli. Sebesar apapun suatu organisasi ditentukan oleh sebesar apa visi yang ditanamkan bagi organisasi. Sebuah visi terkadang memiliki cara yang unik untuk mengarahkan gerakan organisasi . Visi memberikan gambaran mental yang sesuai buat kita dan membuat orang-orang tetap memiliki “impian besar”. Visi adalah denah  perjalanan untuk menuntun dan mengarahkan aku,kau dan kita. Kita tidak akan pernah tahu ke mana kita harus melanjutkan perjalanan jika indra penglihatan kita tertutup, pasti kita akan meraba-raba dan tidak tahu kemana kita akan pergi. Seorang pemimpin visioner harus bisa tampil di depan dan mendeklarasikan visi organisasi itu, memimpin mereka, mendorong, mengarahkan dengan tetap bersandarkan pada visi yang diyakini bersama.

Brian Tracy, mengatakan bahwa diantara 3.000-an penelitian yang pernah dia baca, ia menyimpulkan dengan menempatkan visi pada tempat teratas dari daftar kualitas kepemimpinan pada umumnya. Visi, menurut tracy, memunculkan harapan, dan harapan adalah motivator yang ampuh. 

__________

7. www.gktlampung.org/…/pentingnya-kepemimpinan-k.,  Pentingnya kepemimpinan Kristen yang Visioner, 24 Juli 2010.

Visi bisa mengubah pikiran dan hati seseorang apabila mereka menerima visi tersebut sebagai visi mereka sendiri. Visi yang mengubahkan adalah visi yang mengilhami pengikutnya yang mendorong mereka memberikan pengabdian dan bertindak. Visi yang memotivasi memungkinkan pengikut visi itu hidup seakan-akan hari ini adalah hari yang pertama dan yang terakhir dalam kehidupan kita. Bukan untuk menyetir kita melainkan untuk memberi kita tujuan. Visi memberikan kita suatu keyakinan, dan memberitahu apa yang harus kita lakukan. Visi memotivasi kita karena hal itu memusatkan perhatian kita pada masa depan dan mendorong kita untuk mengambil tindakan ke arah perwujudannya. 8)

Yang harus kita ingat, aktif di  gereja tidak selalu  selaras   dengan spiritualitas pribadi.  Banyak di aantara kita terlalu sibuk sehingga  tidak konsern terhadap kebutuhan mendesak manusia yang ada di sekeliling mereka.  Kita  dapat saja aktif di gereja, tetapi tidak aktif dalam menjalankan ajaranNya sama juga boong.

Gereja tidak hanya sekedar berkumpul, tetapi lebi dari itu ! Dan kelebihan dari gereja itu akan menunjukkan kedinamisan gereja dan “kehidupan” gereja. Dari gereja harus dipancarkan “greget” yang dapat mempengaruhi segi-segi kehidupan masyarakat. 9)

Gurita materealis yang menyusup ke setiap tulang sumsum manusia kristen saat ini, termasuk para hamba Tuhan. Banyak di antara kita dibanjiri bujuk-rayu konsumeris yang melemahkan kesadaran kritis kita. Derasnya banjir bujuk rayu tak terimbangi oleh ketahanan daya tangkalnya, menumpulkan rasionalitas kritis. Hal ini terjadi baik di lingkungan di luar maupun di dalam gereja. Ciri khasnya adalah penekanan (pengejaran) terhadap kemakmuran.  Sehingga visi tidak berjalan semestinya bahkan menyimpang.

Jika makna kepemimpinan sekuler yang dihayatinya, maka sekalipun ia dikenal sebagai “pemimpin Kristen” tetapi sesungguhnya praktik kepemimpinannya bukan “kepemimpinan Kristen.”  Bangunan   gereja menjadi -ibarat- istana-istana kecil yang sering  konflik karena pernik-pernik dogmatik-liturgis, sehingga menjerat kaki yang akhirnya jalan menjadi tertatih-tatih bahkan stagnan. Sebaliknya, jika ia menghayati dan menerapkan kepemimpinan yang “Kristen” – berlandaskan perspektif Alkitab- maka baru kepemimpinannya layak disebut kepemimpinan yang “rohani”.

Oleh sebab itu kepemimpinan amat penting dan signifikan dalam kehidupan bersama, begitupun di dalam bergereja. Sulit dibayangkan sebuah organisasi akan mampu melaksanakan visinya sesuai dengan program-program yang telah dirumuskan . Pemimpin dan kepemimpinan adalah motor penggerak, dinamisator, motivator, pemberi visi dan inspirasi bagi sebuah organisasi. Akan menjadi sia-sia jika pemimpin yang kita pilih hanya menjadi “ondel-ondel” (boneka). Dan akan lebih sia-sia lagi dan membuat Tuhan sedih kalau seseorang dipilih menjadi pemimpin karena menggesek ATM-nya.

Kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan yang dimotivasi oleh kasih, ditujukan untuk pelayanan, dan dikendalikan oleh Kristus dan mengikuti keteladananNya. Pemimpin-pemimpin Kristen yang terbaik mencerminkan sepenuhnya sifat pengabdian yang tanpa pamrih (tidak mementingkan diri sendiri), teguh hati, berani, tegas, berbelas kasih.  

_________

8. http://www.gktlampung.org/…/pentingnya-kepemimpinan-k.,  Pentingnya kepemimpinan Kristen yang      Visioner, 24 Juli 2010.

9. Seri membangun bangsa; Peran serta Gereja dalam Pembangunan nasional, h. 188,  (Jakarta,1998)

Sekilas pandang kepemimpinan Institusi GPIB

Benarkah GPIB termasuk gereja- gereja yang “primitif” (tradisional) yang menjadi gelanggang dan  bidikan  kritik dan celaan yang hebat ?

Kritik dan celaan datang dari  semua jurusan. Gereja-gereja tua dan tradisional dituduh hanya sibuk dengan dirinya sendiri, hanya memikirkan dirinya sendiri, bagaikan burung unta yang menyembunyikan kepalanya di dalam tanah. Tidak peka dan tidak perduli terhadap sekitarnya. Menutup mata terhadap ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya. Menutup telinga terhadap ratapan “wong cilik”  yang hidup dalam ketakutan dan penindasan. Gereja, kata mereka,  semakin kehilangan kredebilitasnya, kehilangan spritualitasnya, telah menjadi kering, terlalu memakai otak dan kepala, tidak menyisakan apa-apa untuk hati. Ibadah-ibadahnya loyo, nyanyian-nyayiannya hanya menggerakkan bibir, tidak menyentuh emosi. Kotbah-kotbahnya hanya abu tanpa api.. Itu sebabnya banyak warga jemat yang mulai mengungsi. Istilah yang dipakai: bosan makan rumput yang kering melulu. Karena itu keluar mencari rumput hijau.. 9)

Karena itu, Kualitas kepemimpinan  GPIB   harus diperkuat dengan pengertian tentang arti dan hakekat kepemimpinan yang melayani. Sebab sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, kepemimpinan yang dipraktikkan seorang pemimpin akan diwarnai oleh pemahaman internalnya tentang arti kepemimpinan itu sendiri. Apabila kualitas seorang pemimpin tidak memahami arti dan hakekat kepemimpinan, hal tersebut akan sama seperti yang di­katakan Tuhan Yesus, “orang buta me­nuntun orang buta”. Persyaratan pemimpin Kristen sangat menekankan aspek karakter dan sosialnya.

Yang harus kita garis bawahi organisas  kristen, terutama gereja BERBEDA  dengan organisasi “duniawi”. Saya meyakini bahwa kehadiran organisasi gereja ada karena campur tangan dan peran Tuhan di dalamnya. sekalipun tidak dapat dipungkiri sarana menejemen  berperan untuk membantu pengembangannya, tetapi eksistensi dan perkembangannya tidak semata-mata karena faktor menejemen belaka justru  pekerjaan Roh Tuhan harusnya mendominasi organisasi gereja dan tidak terbatas pada para pendetanya. Tidak jarang kita sebagai pendeta justru menjadi penghambatnya, mempersalahkan  anggota jemaat dan yang paling utama mempersalahkan diri sendiri, mengintropeksi diri. Apa kelemahan dan kekurangan saya?

Seorang filsuf Yunani klasik, yang bernama Heraclitus, pernah mengatakan, bahwa segala sesuatu itu selalu bergerak, selalu berubah. Tidak ada yang tidak ! Pantha rhei! . Satu-satunya yang tidak pernah berubah , kata Heraclitus, adalah perubahan itu sendiri. 10)

Jika dunia berubah, manusia telah berubah, seharusnya gerejapun berubah,  tidak hanya  begitu-begitu saja, gereja lambat seperti “kura-kura”. 

Jika tuduhan yang di alamatkan ke-GPIB, berarti GPIB  membutuhkan pemimpin yang “bersuplemen” untuk mencari jalan, mencari bentuk-bentuk baru untuk mengatasi masalah-masalah baru.

_________

10. Eka  Darmaputera, Menyembah dalam Roh & Kebenaran , (2007, Jakarta: Gunung Mulia), h.29-30

11. Ibid. h. 31

 

Ada dua perbedaan prinsipil antara gereja dan organisasi. Pertama, dari segi naturnya. Hakekat gereja adalah organisme bukan organisasi. Ada tiga pihak yang hadir dalam gereja: Kristus, warga jemaat, dan pemimpin. Karena hakekat gereja sebagai organisme maka setiap anggota harus memiliki relasi pribadi dengan Kristus sebagai kepala gereja, dan sewajarnya setiap anggota memiliki persekutuan satu dengan lainnya. Kedua, sasaran utamanya. Gereja mengutamakan manusia lebih daripada benda, kerja, atau hasil. Sebab itu tujuan utama gereja adalah kedewasaan dari tubuh dalam relasi dengan Tuhan dan antar sesama di dalamnya. Sedangkan tujuan utama organisasi adalah untuk melaksanakan tugas dan mencapai upaya produktif,sehingga bisa saja mengabaikan kepentingan individu dalam organisasi sebab yang penting bisa mencapai targetnya. 11)

Implikasi dari prinsip Alkitab tersebut adalah, gereja (komunitas umat Allah) sebagai organisme, secara terbatas dapat memanfaatkan sistem organisasi dan manajemen untuk melaksanakan fungsinya sebagai umat Allah. Namun gereja harus tetap mempertahan sifat “keorganismeannya” yang mengutamakan manusia, relasi antar pribadi, dan kebergantungan kepada Kristus sebagai Kepalanya.

GPIB sebagai organisasi gereja di samping memahami arti dan hakekat kepemimpinan GPIB juga harus memahami SISTEM KEMANUSIAAN secara mendasar yang pada akhirnya dapat memberi pemahaman/perbedaan  organisasi gereja.

Manusia adalah sebuah sistem : yang artinya bentuk fisik yang dikelilingi oleh lingkungan (surrounding). Yang membatasi sistem dengan lingkungan adalah pembatas (boundary).  12)

Manusia adalah ciptaan Tuhan yang spesial. Manusia diciptakan segambar dengan Tuhan yang sama-sama memiliki esensi roh. Arti segambar adalah manusia yang memiliki roh yang berasal  dari Tuhan. Sehingga manusia dapat memancarkan sifat-sifat rohani Tuhan yaitu buah-buah rohani, kasih, sabar, sukacita dst. Manusia yang mengandalkan Tuhan maka sifat-sifat roh (rohaninya) akan mempengaruhi keinginan jiwa.

Sistem manusia yang memiliki  rohani ini akan memiliki daya imun  untuk mencegah  keinginan dosa disaat seorang manusia-rohani berhubungan dengan lingkungan sekitarnya. Ketika seorang menembus batas (boundary) sistemnya dan memasuki lingkungan sifat-sifat roh itu muncul sebagai sifat manusiannya. Karena orang yang bersekutu dengan Tuhan memiliki “sistem online” sehingga Tuhan selalu membantu mereka dalam berbagai hal dalam kehidupannya. Roh Tuhan didalam hati manusia, maka mereka akan penuh kasih, tidak ada satupun hukum yang menentang kasih. 13)

Gereja adalah kumpulan dari sistem-sistem tersebut yang memiliki sifat roh yang sama. Jadi kita bisa melihat gereja sebagai suatu sistem yang lebih kompleks yaitu sistim di dalam sistem.

_________

12. gkagloria.or.id/artikel/a14.php‎ – GKA GLORIA – ARTIKEL – Gereja Kristen Abdiel Gloria Surabaya

       Kepemimpinan Kristen Versus Kepemimpinan Sekuler, Oleh: Pdt. Ruslan Christian

13.  filsafat.kompasiana.com/…  Manusia adalah Sebuah Sistem, OPINI | 28 January 2010 |

 14. Ibid.      

Gereja adalah kumpulan dari sistem-sistem tersebut yang memiliki sifat roh yang sama. Jadi kita bisa melihat gereja sebagai suatu sistem yang lebih kompleks yaitu sistim di dalam sistem. Gereja adalah tempat latihan, melatih sistem pribadi (manusia) untuk saling mengasihi, belajar saling mengisi, belajar saling menolong sehingga ketika masuk ke lingkungan mereka telah cukup kuat menghadapi tantangan di lingkungan. 14)

Semua yang berada di luar sistem adalah lingkungan. Sebagai individu maka keluarga dan gereja adalah lingkungan yang terdekat. Lingkungan adalah tempat kita memulai menyalurkan sifat rohani kita. Tanpa berkontak dengan lingkungan kita tidak dapat menunjukkan buah-buah rohani itu. 15)

Tapi pada dasarnya roh manusia tidak  konsisten, keinginan daging (dosa) mengalahkan jiwa dan roh, sehingga jangan heran jika rasul Paulus mengatakan bagaimana dapat lepas dari tubuh yang lemah ini (atau roh adalah baik tetapi keinginan daging lemah). Jangan heran jika ada pendeta atau hamba Tuhan yang jatuh kedalam dosa, itu semua karena keinginan daging (roh-roh lingkungan/energy lingkungan) mengalahkan keinginan jiwa dan roh. Memahami sistem manusia Organisasi GPIB dapat mendefinisikan lingkungan organisasi gereja sebagai pola asumsi dasar (basic assumptions) dalam menuntaskan pemasalahan yang dihadapi baik di dalam gereja maupun lingkunan sekitar. Hal ini harus dipahami secara serius oleh para pelaku orgnisasi GPIB.

Jika asumsi ini menjadi warna dan menjadi budaya yang harus “dipatenkan” sebagai acuan normatif bagi organisasi GPIB di dalam menyelesaikan segala permasalahan baik di dalam maupun di luar. Asumsi ini akan menjadi absolut untuk diterapkan.

Karena itu, perbaikan kepemimpinan di GPIB harus ditempuh dengan memperbaiki kualitas , sebab hal ini  merupakan salah satu  pilar yang terpenting dalam sebuah lembaga organisasi. Kepemimpinan GPIB sepatutnya  mampu  menggagas tingkah laku gereja yang di dalamnya adalah masyarakat dengan mengatur, menunjukan, mengorganisir atau mengontrolnya.  Pemimpin yang baik adalah seseorang yang memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya. Antara lain menghargai perbedaan pendapat , sikap egaliter, mau menerima masukan, dan lain sebagainya.

Karena itu, perbaikan kualitas  harus ditempuh dengan memperbaiki kualitas kepemimpinan dan orang-orang di dalamnya. Organisasi GPIB seharusnya sudah lulus dalam menata kelola visi dan misinya baik di dalam maupun di luar.

Selain faktor di atas,   ”Budaya feodalistis masih sangat kuat. Ini bertentangan dengan semangat egaliter,” .Banyak agenda yang dibicarakan GPIB diSetiap persidangan hanya membicarakan segala urusan internal saja, kurang serius atau mungkin tidak mau terbeban banhkan mungkin saja tidak mampu membahas arah dan pergumulan gereja dan masyarakat, Bagaimana kita mau serius mewujudkan kehadiran GPIB di

________

15. bsp3.blogspot.com/…/manusia-adalah-sebuah-sistem  bukan seorang pujangga, (14 November 2oo7)

16. Ibid.

 

 

tengah masyarakat.  Rumusan kepentingan  tidak terlihat jelas karena hanya sekedar wacana.

Dalam diskusi para pendeta GPIB di facebook  ;

Menurut Pdt. Jo Hehanusa  ,  GPIB masih berpikir bahwa hanya dengan kaca mata teologis saja semua persoalan bisa diselesaikan. Karena melihatnya hanya dari sudut teologis, kita kecenderungannya hanya mengaitkan yang teologis itu dengan internal gereja.

Menurut penulis, GPIB tidak tertarik dan mungkin terlalu sibuk di dalam, atau mencari aman sehingga gereja mengalami “rabun senja”, tidak tahu ke mana perubahan-perubahan terjadi di bangsa kita. Gereja harusnya membuat antisipasi, prediksi, dan proyeksi yang baik mengenai apa yang akan kita hadapi. Gereja harus gerak cepat untuk memahami perubahan-perubahan yang sedang terjadi, dan membuat beberapa formula kemungkinan untuk siap dalam perubahan tersebut.

Menurut Arie Ihalauw; Pekerjaan dalam Gereja bukan milik satu orang saja, seharusnya bisa dibicarakan berama, sebab kekayaan yang diberikan Tuhan itu sama, tetapi kemampuan kita berbeda, jadi saling mengisi . Nah,  jikalau kita berpikir demikian, maka sekali lagi kita membutuhkan waktu untuk duduk bersama sambil membicarakan masterplan, termasuk visi  pembentuk misi, barulah fungsi sistem dikembangkan, di mana setiap orang GPIB ikut mengambil dan berperan serta di dalamnya. Sekecil apapun potensi , itu adalah karunia Allah yang patut dipikirkan pemimpin masa depan, supaya potensi itu tidak tercecer, tidak dicuri orang, tidak dilecehkan; melainkan dihidupkan  dan diayomi dalam persekutuan.

GPIB sebagai gereja yang hidup di abad 21 dengan segala perkembangan arus modernisasi di bidang  pengetahuan dan tehnologi membutuhkan struktur dan sistem yang  lebih mumpuni di samping tentunya Tuhan turut terlibat di dalamnya.

Dan sudah waktunya GPIB memikirkan lebih serius lagi keberadaannya di lingkunkan luar sangat dibutuhkan. Jika ini tidak dilakukan GPIB  sama dengan  RAKSASA DALAM TEMPURUNG atau hanya ada di dalam ISTANA ORANG BERHIKMAT

Dengan demikian, kita bisa berharap dan membangun sikap optimisme ke depan bahwa kiprah GPIB  akan beriringan dengan peningkatan wawasan dan sikap kebangsaan seluruh komponen masyarakat Indonesia. GPIB harusnya menjadi pembelajaran yang dasyat. Berbagai isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA)

Dengan memahami gereja sebagai kehidupan bersama atau persekutuan orang-orang percaya, pria-wanita, tua-muda; maka sesungguhnya  gereja merupakan suatu organ, jadi adalah merupakan suatu organisai. Sebagai organisasi walaupun memiliki keteraturan/ketentuan yang spesifik, keteraturan/ketentuan secara umum harus juga diikuti oleh gereja. Justru keteraturan secara umum ini akan menempatkan gereja dalam hubungan dengan institusi/organ yang lebih baik secara vertikal maupun horizontal. Dengandemikian gereja bukanlah berada dalam situasi yang vacuum, tetapi berhubungan dan taat/”tunduk” kepada institusi/organ lain.secara duniawi., karena ada dalam kehidupan bersama.

___________

17. Seri membangun bangsa; Peran serta Gereja dalam Pembangunan nasional, h. 187,  (Jakarta,1998)

Budaya organisasi di GPIB

Sesungguhnya GPIB sebagai organisasi yang besar berperan   untuk mengembangkan suatu perilaku organisasi , mencerminkan kejujuran dan etika yang dikomunikasikan secara tertulis dan dapat dijadikan pegangan oleh seluruh anggotanya.  Budaya tersebut harus memiliki pondasi  nilai-nilai luhur  bagi etika pengelolaan suatu organisasi yang mencakup profesionalisme, kerja sama, keserasian, keselarasan, keseimbangan, dan kesejahteraan. Implementasi nilai-nilai yang terdapat dalam budaya kerja tersebut dalam suatu organisasi sangat erat hubungannya dengan kemauan manajemen untuk membangun etika perilaku dan budaya organisasi.

Nevizond Chatab menyimpulkan budaya organisasi dari beberapa batasan yang disampaikan oleh para ahli, yaitu merupakan pengendali sosial dan pengatur jalannya organisasi atas dasar nilai dan keyakinan yang dianut bersama sehingga menjadi norma kerja kelompok dan secara operasional disebut budaya kerja karena merupakan pedoman dan arah perilaku kerja orang-orangnya, sedangkan Pithi Sithi Amnuai menyebutkan, budaya organisasi adalah seperangkat asumsi dasar dan keyakinan yang dianut oleh anggota-anggota organisasi, kemudian dikembangkan dan diwariskan guna mengatasi masalah-masalah adaptasi eksternal dan masalah integrasi internal.

Budaya organisasi dapat menjadi perangkat daya saing  yang utama, yaitu apabila budaya organisasi mendukung cetak biru atau kebijakan  organisasi dan apabila budaya organisasi dapat menjawab atau mengatasi tantangan lingkungan dengan tepat sasaran.

Budaya organisasi sangat signifikan bagi organisasi dalam mencapai tujuannya. Jika orang-orang dalam organisasi tersebut mampu berpadanan budaya dengan skema atau haluan organisasi, maka tujuan organisasi dapat lebih “cespleng”, “tokcer” dan efisien dalam pencapaiannya. Budaya organisasi yang unggul dapat diciptakan jika organisasinya siap bertumbuh dan berkembang untuk mencapai tujuan akhirnya.

Persoalan manfaat  atau peran sosio-religius dari manusia itu merupakan skema  utuh dari sebuah arketipe, ornamen dan modus operandi budaya organisasi.  Karenanya ketika kita membicarakan Fungsi dan peran orgainisasi tersebut sesungguhnya kita sedang bicara soal sistem.

Menurut Arie Ihalauw dalam sebuah diskusi di face book : Organisasi GPIB pasti memiliki  DASAR (PRINSIP) TEOLOGI ALKITABIAH sebelum MEMBANGUN GAGASAN-GAGASAN atau Visi Dan Misinya. Sebab di dalam Alkitab terkandung banyak kekayaan spiritual dan sejarah sosial keagamaan yang dapat kita pakai untuk MEMBERDAYAKAN SISTEM KEHIDUPAN.  Sebagai organisasi GPIB yang di dalamnya terdiri dari para TEOLOG (Pendeta) sangat penting dan selalu diingat terus menerus untuk menafsirkan ulang (reinterpretasi) , menguji ulang (re-evaluasi) dan merumuskan kembali (re-formulasi) NILAI-NILAI ALKITABIAH sebagai landasan spiritual untuk melakukan pembentukan kembali (re-formasi) tentang MANUSIA dan SISTEM-ORGANISASINYA (Tatanan Hukum dan Pelaksanaan Organisasi Gereja) yang selalu berkembang mengikuti arus perkembangan jaman/dinamis.

Yang terpenting memiliki KESETIAAN PEMIMPIN GEREJA terhadap KONSESNSUS / KETETAPAN-KETETAPAN  yang ditetapkan melalui PERSIDANGAN SINODAL

GPIB yang bersistem presbiterial sinodal, memandatkan para presbyier sebagai “juru mudi”. Para presbiter yang adalah gabungan dari pilihan Allah berdasarkan pangilan (para pendeta) yang diberkati

Alah. Sama seperti Allah sipencipta dan siempunya dunia serta isinya, dan manusia diberi mandat sebagai pemelihara, sehingga manusia diciptakan dalam image of God. Begitu juga dalam sistem presbiterial sinodal para presbiter diberi mandat oleh Kristus untuk mengartikan gereja pada konteksnya. Hal ini berarti,  peran sipemegang mandat adalah temporal dan harus mempertanggung jawabkan kepada pemilik-Nya. Siempunya berhak kapan saja mengambil ke-mandat-an yang diberikanNya, bergantung dari analisa, pilihan dan hak kebebasanNya. 16)

Di dalam organisasi GPIB  sangat tampak  membangun konstruk gagasan dengan membingkainya ke arah pendekatan inferensi atau konklusi teologis alkitabiah merupakan “model sakti nan sakral”   Sedangakan gagasan dengan pendekatan induktif  yang artinya; Cara (hal) menggunakan nalar, pemikiran atau berfikir secara logis   masih sangat  minim. Bukan berarti penulis  menganggap pemahaman situasi teks tidak penting. Hal ini lebih merupakan sebuah style berpikir yang layan juga kita dalami namun tidak “idolatry” (pemberhalaan).

Organisasi GPIB harus memiliki stakhoders yang  terdiri dari individu-individu dan kelompok yang diharapkan oleh sebuah organisasi dalam mewujudkan tujuan organisasi untuk pertumbuhan dan kelangsungan organisasi.

Menurut Mitchell (2006),  Ia menjelaskan bahwa Stakeholders dikelompokkan dalam beberapa tipe sesuai kemampuan mempengaruhi suatu organisasi berdasarkan power, legitimasi, dan urgensi yang dimilikinya. Diantaranya adalah sebagai berikut: 17)

1) Dormant stakeholder adalah stakeholder yang hanya memiliki power namun tidak memiliki legitimasi dan urgensi.

2) Discretionary stakeholder adalah stakeholder yang hanya memiliki legitimasi namun power dan urgensi tidak ada padanya.

3) Demanding stakeholder adalah stakeholder yang hanya memiliki urgensi namun tidak memiliki power dan legitimasi

4) Dominant stakeholder adalah stakeholder yang memiliki power dan legitimasi namun tidak memiliki urgensi.

Dangerous stakeholder adalah stakeholder yang memiliki power dan urgensi namun tidak memiliki legitimasi.

Dependant stakeholder adalah stakeholder yang memiliki legitimasi dan urgensi namun tidak memiliki power.

Definitive stakeholder adalah stakeholder yang memiliki power, legitimasi, dan juga urgensi.

_________

18. mindawatiperanginangin.wordpress.com/2008/‎

19. renungankesaksian.wordpress.com/…/analisis-stakehol    ,Analisis Stakeholders Menuju Organisasi

      Gereja berkesinambungan, Oleh I Gusti Bagus Rai Utama, SE.,MMA.,MA.       

Dari tujuh tipe stakeholder di atas, mungkinkah para stakeholder yang ada di gereja kita(GPIB) teridentifikasi ? Tipe stakeholder yang dianut di atas akan berimplikasi pada desain atau transformasi internal yang tentunya memiliki komitmen. Harusnya semua stakeholder organisasi GPIB ada dalam tipe definitive stakeholder yang memiliki power, legitimasi, dan juga urgensi sehingga keberadaan gereja dan jemaatnya akan bertumbuh dalam kepatuhan  yang berimplikasi dengan damai sejahtera.

Kelumpuhan atau depresi  organisasi GPIB  juga dapat disebabkan  kurangnya inovasi dan reka cipta para stakeholder yang kurang berkualitas . GPIB dimasa kini harus mampu menyentuh, mendiskripsikan dan berkolaborasi  menangani masalah yang berhubungan dengan kemanusiaan dengan berbagai permasalahannnya , “kemakmuran”  jemaatnya  serta afeksi/interes  terhadap lingkungan sekitar .

Jika GPIB  tidak mampu membawa nilai nilai sosial maka GPIB  bagaikan garam yang dibuang ke laut. Sedangkan jika GPIB  tak mampu membawa harkat  kekristenan pada lingkungannya maka GPIB tidak akan mampu menyinari dunia. Begitu juga, jika GPIB tidak mampu menjadi penggas  nilai-nilai ekonomi  maka GPIB tidak akan mampu memberi kesehjateraan pada jemaatnya. Hal ini  akan menjadi bingkai misi dan visi yang saling terkait satu dengan lainnya.  Gereja mau-tidak mau  membuat suatu formula  yang baru, sehingga kesaksian kita dapat lebih berdaya guna .

Pelayanan GPIB hendaknya dibangun dengan cara berfikir  yang integratif, perspektif jangka panjang, mempertimbangkan keanekaragaman dan mendeliveri  damai sejahteracbagi seluruh warganya dan tidak berorentasi pada partikulatif  dan perspektif jangka pendek. GPIB kiranya dapat mengembangkan pemahamannya mengenai misi dan menata ulang hal-hal yang tidak pada tampatnya. Yang perlu diingat kembali bahwa misi itu ditujukan kepada manusia (universal) di dunia ini, dan yang teologis tekstual, bahkan teologis historis perlu lebih dikontekstualisasikan.

Jika GPIB terlalu sibuk di dalam  maka GPIB akan mengalami “rabun senja”, tidak tahu ke mana perubahan-perubahan terjadi di bangsa kita. GPIB harus membuat antisipasi, prediksi, dan proyeksi yang baik mengenai apa yang akan kita hadapi,  harus gerak cepat untuk memahami perubahan-perubahan yang sedang terjadi, dan membuat beberapa formula kemungkinan untuk siap dalam perubahan tersebut ,  harus segera mencari solusi agar tidak terisolasi atau terpenjara dengan perubahan-perubahan di bangsa ini,

 

 

 

 

 

 

Rabu, 03/05/17 “Jangan Pandang Parasnya ( Imamat 25 :47-55)


25:47 Apabila seorang asing atau seorang pendatang di antaramu telah menjadi mampu, sedangkan saudaramu yang tinggal padanya jatuh miskin, sehingga menyerahkan dirinya kepada orang asing atau pendatang yang di antaramu itu atau kepada seorang yang berasal dari kaum orang asing,

25:48 maka sesudah ia menyerahkan dirinya, ia berhak ditebus, yakni seorang dari antara saudara-saudaranya boleh menebus dia,

25:49 atau saudara ayahnya atau anak laki-laki saudara ayahnya atau seorang kerabatnya yang terdekat dari kaumnya atau kalau ia telah mampu, ia sendiri berhak menebus dirinya.

25:50 Bersama-sama dengan si pembelinya ia harus membuat perhitungan, mulai dari tahun ia menyerahkan dirinya kepada orang itu sampai kepada tahun Yobel, dan harga penjualan dirinya haruslah ditentukan menurut jumlah tahun-tahun itu; masa ia tinggal pada orang itu haruslah dihitung seperti masa kerja orang upahan.

25:51 Jikalau jumlah tahun itu masih besar, maka dari harga pembeliannya harus dikembalikan sebagai penebus dirinya menurut jumlah tahun itu.

25:52 Jika waktu yang masih tinggal sampai kepada tahun Yobel sedikit lagi saja, maka ia harus membuat perhitungan dengan orang itu; menurut jumlah tahun itulah ia harus membayar uang tebusan dirinya.

25:53 Demikianlah ia harus tinggal padanya sebagai orang upahan dari tahun ke tahun. Janganlah ia diperintah dengan kejam oleh orang itu di depan matamu.

25:54 Tetapi jikalau ia tidak ditebus dengan cara demikian, maka ia harus diizinkan keluar dalam tahun Yobel, ia bersama-sama anak-anaknya.

25:55 Karena pada-Kulah orang Israel menjadi hamba; mereka itu adalah hamba-hamba-Ku yang Kubawa keluar dari tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.”

Manusia berada di dunia ini karena Tuhan. Tuhan mempunyai rencana  terhadap manusia.  Sebab itu manusia berharga di mata Tuhan.

kenapa manusia begitu berharga dimata Allah, dan mengapa Allah begitu mengasihi manusia? Karena manusia diciptakan menurut dan serupa dengan Tuhan. Karena Roh manusia  berasal dari-Nya dan ada di dalam setiap diri manusia. Karena itu manusia disebut makhluk yg mulia. Sebab  itu bagi Tuhan manusia sangat berharga

Di mata Tuhan Semua orang sama, Tidak ada pilih kasih  Dia tidak melihat rupa, Dia tidak melihat orang kaya dan orang miskin. TETAPI TUHAN MELIHAT HATI

Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” 1 Samuel 16 : 7 —-Bahkan: “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya” (Mzm. 116:15).  Lebih baik berharga dimata Tuhan dari pada dimata manusia.

kita ini biji mata-Nya Allah, siapa yang menjamah kita berarti menjamah biji mata-Nya. Pemazmur menggambarkan bagaimana kita dijadikan, “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku, aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib, ajaib apa yang Kaubuat dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” Yang terpenting bukan pandangan manusia yang seringkali menjatuhkan, melainkan pandangan Tuhan yang selalu menyambut kita dengan penuh sukacita.

Manusia adalah makhluk yang sangat tinggi yang bisa membayar lunas hanya Tuhan Yesus.  Manusia tidak akan bisa dihargai dengan harta benda duniawi. manusia bukan barang  yang segala sesuatu ada harganya dan tertera label harga.

Karena harga manusia hanya bisa dibayar oleh darah KRISTUS yang dicurahkan. DARAH YANG MAHAL. YESUS telah membayar harga manusia dengan lunas .

Sebagai “orang yang berharga” seringkali kita lupa diri  karena suguhan duniawi yang membawa nikmat. Kita lupa bahwa kesaksian hidup kita bisa berdampak bagi orang-orang, kita akan menjadi tontonan lingkungan di sekitar kita. Hidup kita ditonton oleh keluarga, rekan kerja, teman-teman dan orang-orang di sekeliling kita. Tidak perduli apakah kita sedang ada di dalam masalah, sedang berbeban berat atau sedang “letih”, namun kita tidak bisa memperlihatkan kepada mereka kalau kita sedang ada di dalam masalah. Orang-orang di dunia ini hanya mau melihat bahwa hidup kita penuh di dalam kemenangan.

Banyak orang yang sudah mengakui diri sebagai orang Kristen, namun masih tetap melakukan perbuatan “manusia lama”. Harusnya ini tidak boleh terjadi.

Cara kita meresponi status kita sebagai orang yang berharga di mata Tuhan adalah ditentukan oleh kualitas hidup kita. Artinya hidup kita harus berbeda dengan orang-orang di dunia ini. Tidak cukup hanya datang ke gereja, tidak cukup hanya memberi persembahan, tidak cukup dengan melayani Tuhan. Tuhan ingin kualitas hidup kita.

Ingat!, Tuhan melihat hati

hatituhan

 

 

 

 

 

Minggu 30 /04/2017 Mzm 86:1-13 Doa


Doa minta pertolongan

86:1 Doa Daud. Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah k  aku, sebab sengsara dan miskin aku 1 . 86:2Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu. l 86:3 Engkau adalah Allahku, kasihanilah m  aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru n  sepanjang hari. 86:4 Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat o  jiwaku. 86:5 Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia p  bagi semua orang yang berseru kepada-Mu. 86:6 Pasanglah telinga kepada doaku, ya TUHAN, dan perhatikanlah suara q  permohonanku. 86:7 Pada hari kesesakanku r  aku berseru s  kepada-Mu, sebab Engkau menjawab t  aku. 86:8 Tidak ada seperti Engkau u  di antara para allah, v  ya Tuhan, dan tidak ada seperti apa yang Kaubuat. 86:9 Segala bangsa yang Kaujadikan akan datang w  sujud menyembah x  di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan y  nama-Mu. 86:10 Sebab Engkau besar z  dan melakukan keajaiban-keajaiban; a  Engkau sendiri b  saja Allah. 86:11 Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu 2 , c  ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; d  bulatkanlah e hatiku untuk takut f  akan nama-Mu. 86:12 Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatikug , dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya; 86:13 sebab kasih setia-Mu besar atas aku, dan Engkau telah melepaskan nyawaku h  dari dunia orang mati i  yang paling bawah.

Doa Daud meminta pertolongan  inginmengajarkan bangsa israel  bahwa dalam suka maupun duka doa Daud mau memberi pemhaman dan mengajak  bangsa israel kedalam aspek yang memungkinkan terjadinya pemulihan jika kita berdoa dengan sungguh dengan segenap hati. Dimana Daud dalam doanya dengan segenap hati meminta pertolongan Tuhan. Daud yakin bahwa Allah itu maha pengampun. Doa Daud sangat emosional sekali. Apakah benar doa Daud ini? Daud  mengungkapkan ketidakberdayaan  menolong dirinya sendiri dan membutuhkan pertolongan  dari Tuhan yang ia yakini.

Doa meminta pertolongan Daud bisa kita katakan  doa yang bersifat emosianal. Karena Daud   merasa hidupnya tertekan, sehingga yng muncul adalah jeritan instingtif. Doa menjadi sirkulasi dari tekanan-tekanan emosiaonal, namun sebenarnya ia sedang memikirkan dirinya sendiri. Doa yang emosional bersifat mendesak atau berharap ada tindakan yang segera. Salahkah Daud dalam doanya berharap ?

Banyak yg terjadi di antara kita yang berdoa secara emosional di saat ada permasalahan yg mendesak dan  butuh jawaban secepatnya  bahkan keyakinan  mereka tersebut sangat kuat,  tidak menutup kemungkinan ‘lebay’. Kadang kala mereka yakin bahwa terkabulnya doa tergantung  dari faktor  mereka  yg berdoa, yaitu kokohnya iman dan uletnya doa.  Kalau ternyata  doanya belum tekabul, maka doanya menjadi semakin emosional lagi, atau dapat juga timbul rasa frustasi dan ngambek. 

Jangan kita berpikir  dan menganggap  bahwa karena Allah berkuasa , maka Allah dapat mengabulkan doa kita begitu saja. Padahal justru karena kemahakuasaan-Nya, Allah dapat mengabulkan doa  tetapi dapat juga menolak doa. Jangan jadikan Allah  untuk kepentingan pribadiku. 

Ada penyalahgunaan doa. Terkadang kita terlalu cepat menjadikan doa sebagai alternatif final  dalam menghadapi persoalan, seolah tidak ada jala keluar.  Kita sering  mengambil kesimpulan bahwa kita sudah tidak berdaya lagi. Dengan berdoa kita merasa diri sudah BERSERAH , padahal sebenarnya kita MENYERAH.  Kita sering kali kalah sebelum berperang, Sehingga, DOA DIJADIKAN ALIBI  atau alasan untuk membela diri bahwa kita tidak mampu berbuat banyak  kecuali berdoa.

Bukan kita saja , gerejapun sering menjadikan DOA SEBAGAI ALIBI. ketika terjadi pembakaran gereja, pembongkaran gereja, penganiayaan, kerusuhan terhadap orang kristen hanya sebagaian kecil kita dan gereja yg berani ambil resiko untuk menolong mereka. Harusnya kita malu dengan orang orang atau lembaga di luar gereja yang berani bersuara lantang bahkan tidak sedikit mereka yang mau melindungi. Tetapi kebanyakan gereja tidak mau turun tangan. Mereka hanya berkata, ” KAMI SUDAH MENDOAKANNYA.”

Gereja tahu bahwa di sekitarnya  terancam bahaya: pencemaran lingkungan hidup, pelanggaran HAM, adanya perbedaan antara kaya-miskin, dsb. Apa yg diperbuat gereja ? masih minim, sisanya  “kami cuma dapat mendoakan”

Banyak di antara kita bahkan gereja  merasa diri lebih benar dalam hubungan dengan doa, mudah terjebak ke dalam sikap merasa diri lebih rohani. Sama seperti orang farisi merasa diri lebih benar dan lebih rohani dari orang lain, kesalahan orang lain di soroti, tetapi kesalahan diri sendiri tidak disadari. Mereka mengajarkan rupa2 hal yg baik, namun mereka sendiri tidak menjalankannya. Tuhan Yesus berkali-kali menghardik ornag farisi, “…celakalah kamu…, nyamuk kamu tapiskan dari minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan” (Mat.23:24)

Sebenarnya aspek yang diberitakan Alkitab sangat banyak ragamnya, untuk melukiskan memperlakukan doa, ada  berbagai macam kata kerja seperti;  berkeluh kesah, berteriak, berlutut, berharap, bersorak-sorai, bersujud,berseru,bersyukur,memuji,memuja,meratap,mengadu,menengadah,meminta,menyembah,mengagungkan,memanggil,merindu,mencari,mengangkat jiwa,menantikan,hati meluap, dsb.  

Alkitab begitu kaya aspek doa,tetapi tanpa disadari, sering kali kita memandang dan tertarik hanya pada salah satu aspek saja yang sering kita mutlakkan, sehingga pemahamn kita tentang doa menjadi sektarian/ekstrem dan ‘pendek pikiran’ atau ‘singkat akal’.

Fokus berita Alkitab bukanlah terpusat pada diri kita yang berdoa pada Allah, melainkan pada diri Allah yang mendengarkan doa manusia. Allah adalah Allah yang aktif dan bertindak.

kita harus merefleksikan faedah tentang doa, agar kita dapat memahami dan menggambarkan  ulang yang lebih utuh tentang doa. Sebab tujuan doa bukanlah semata-mata mengeluarkan perasaan (meminta ini dan itu,mengeluh, dsb), melainkan mengawali untuk memasukkan perasaan: Tuhan ada di sini !

“Doa yg sungguh-sungguh besar khasiatnya”

saling mendoakan

Humor 2016


Screenshot_22

Cerita Lucu Terbaru

Hello friends pada kesempatan kali ini saya akan membagikan artikel kumpulan cerita lucu yang menarik tentunya.

Baiklah friends langsung saja dibawah ini sudah saya susun kumpulan cerita lucu terbaru dari saya. selamat membaca ya !!!
– ” Dek kau bagaikan facebook yang slalu abang isi dengan status baru di setiap waktu, tapi jangankan coment, like pun tak pernah kau dek.
– ” Cinta kita memang sulit bertemu di social media ya dek, abang ol di twitter kau ol di facebook, dan sebaliknya, sengaja ya dek gak mau inbokan.
– ” waduh baru ini lihat cewek menebang pohon bambu lemang, awas dek terkena miangnya.
– ” itu orang pura pura tidur tengok wajahnya tersenyum.
– ” Seorang ibu mengingatkan kepada si amat anaknya yang hendak pergi bermain dengan teman temannya,

” ingat ya mat kalau pulang bermain tuh sendal jangan lain sebelah lagi.
– ” Sekumpulan anak anak itu sedang asyik bermain games teka teki bingung, ketika semakin bingungnya mereka bermain,

salah satu yang celat bicaranya berkata, …aaaadah jam berapa nih wee, pupupulang yok wee uuudah lappper nih wee.
– ” Si udin sedang asyik menggosok gosok batu akiknya agar mengkilap dan seketika itu si amat lewat dan berteriak,

” Usah digosok gosok kali din entar keluar jin nya, hahaa canda si amat membuat si udin kaget.
– ” Si udin duduk diteras rumah berharap melihat cewek cakep lewat, eh ternyata yang lewat malah si amat dengan

tradisi bahasa teriakannya ” Usah dimenung kali din, gak akan lari gunung dikejar… hahaha dasar si amat.
– ” Lucu melihat cara si amat menyapa cewek dengan gombalannya, dan seketika itu

si cewek berkata ” Jangan menggatal kau mat… dan si amat menjawab ” Gatal digaruk dek. hahaha
– ” Lihat dek ada bintang jatuh, si cewek ” Mana bang ? , si cowok ” Lambat, itu udah lewat, si cewek ” Kepala hotak kau lah bang.
– ” Jangan dilewati dek titi di parit tuh udah lapuk, tak peduli si cewek perlahan menyeberangi parit tersebut dengan selamat dan berkata ” Titinya masih kuat kok bang,

si cowok ” Dasar cewek nekad.
Demikian dulu ya friends kumpulan cerita lucu dari saya, cerita singkat diatas hanyalah untuk sekedar menghibur friends semata, dan apabila ada kesilafan dan kesalahan kata mohon sekiranya

dimaklumi, dan terutama jangan bosan bosan ya friends berkunjung ke situs ”https://planethumor.wordpress.com

Arti kehadiran-Mu Minggu,09/04/17 markus 11 :1-11


Yesus dielu-elukan di Yerusalem

11:1 1 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah dekat Yerusalem, dekat Betfage dan Betania e  yang terletak di Bukit Zaitun,f  Yesus menyuruh dua orang murid-Nya 11:2 dengan pesan: “Pergilah ke kampung yang di depanmu itu. Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan segera menemukan seekor keledai muda tertambat, yang belum pernah ditunggangi g  orang. Lepaskan keledai itu dan bawalah ke mari. 11:3 Dan jika ada orang mengatakan kepadamu: Mengapa kamu lakukan itu, jawablah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya ke sini.” 11:4 Merekapun pergi, dan menemukan seekor keledai muda tertambat di depan pintu h  di luar, di pinggir jalan, lalu melepaskannya. 11:5 Dan beberapa orang yang ada di situ berkata kepada mereka: “Apa maksudnya kamu melepaskan keledai itu?” 11:6 Lalu mereka menjawab seperti yang sudah dikatakan Yesus. Maka orang-orang itu membiarkan mereka. 11:7 Lalu mereka membawa keledai itu kepada Yesus, dan mengalasinya dengan pakaian mereka, kemudian Yesus naik ke atasnya. 11:8 Banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menyebarkan ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang.11:9 Orang-orang yang berjalan di depan dan mereka yang mengikuti dari belakang berseru: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang 2  dalam nama Tuhan, i  11:10 diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi! j 11:11 Sesampainya di Yerusalem Ia masuk ke Bait Allah. Di sana Ia meninjau semuanya, tetapi sebab hari sudah hampir malam Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas murid-Nya. k 

Kehadiran Tuhan Yesus dan ke 12 muridnya memberi makna bagi penduduk Yerusalem. Sehingga banyak orang yg menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yg menyebarkan ranting-ranting hijau yg mereka ambil dari ladang (ay. 8)

Kisah Yesus memasuki Yerusalem  adalah kisah menghebohkan, sensasional dan spektakuler. Kisah ini sangat esnsial dan mendalam di ingatan dan pikiran  banyak orang. baru kali ini Yesus disambut begitu meriah. bak raja  dengan menunggani keledai yg dikenal sebagai hewan lemah, dan  bodoh. Ia datang ke Yerusalem dengan pandangan tertuju pada salib, melaksanakan kehendak Bapa-Nya yaitu menyelamatkan isi dunia (manusia)

Mereka menyerukan “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang 2  dalam nama Tuhan, i  11:10 diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi! …  Hosana memiliki arti, selamatkan aku sekarang.

Ada banyak diantara kita belum mengenal Tuhan Yesus dengan benar, kebanyakan kita mengenal Tuhan Yesus hanya sebatas  pengagum. Banyak juga diantara kita mungkin belum tau arti Hosana yg sebenarnya.

Bagaimana dengan kita, apakah kita juga menyambut Dia dan membentangkan hati kita sebagai rasa syukur atas anugerah keselamatan yg diberikan pada kita ? Apakah kita berseru “Hosana”  untuk berserah pada-Nya dengan apa yg terjadi dalam hidup kita atau justru kita datang ke sesama kita ?

Di minggu pra paskah ini marilah kita berserah dan mengucap syukur atas anugerah keselamatan-Nya dan andalkan Dia dalam setiap persoalan…Hosana !  

 

 

Pemuridan (Yes 50:4-11) Ibadah Rumah Tangga-RabuTgl. 05/04/17


penaYes, 50:4-11

Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Yesaya 50:4

Arti murid secara umum   adalah sekumpulan orang yang menjadi perhatian khusus dalam dunia pendidikan. Secara umum murid berarti orang yang mau belajar dan menimba berbagai ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kualitas dirinya. Apabila orang tua menyekolahkan anaknya dalam pembelajaran atau pendidikan yang berkualitas, bertujuan mencerdaskan anaknya dan meningkatkan kualitas hidupnya di masa depan.  Murid adalah sosok  yang mempunyai potensi dan mengalami proses berkembang jika mereka belajar.

Dalam pengertian Alkitab murid tidak hanya berarti orang yang belajar, tapi juga menjadi pengikut yang mengabdikan diri pada guru/pembimbingnya. Seperti Elisa menjadi pengikut dan penerus Elia, dan lain sebagainya. Yesus Kristus dengan ke-12 murid-Nya, dll.  jadi menjadi murid  Kristus adalah orang-orang percaya yang mau belajar tentang segala ajaran Kristus, mempertajam pendengaran dan mengabdikan dirinya hidup mengikuti Kristus. Tapi tidak semua orang yang mau menjadi murid-Nya.

Apa misi Allah bagi kita ? Semua orang percaya harus menjadi murid, ini kehendak Tuhan

Matius 28:19  Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa   murid-Ku dan baptislah   mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.

Kriteria menjadi murid Tuhan

a. Menjadi murid tentu memiliki kemauan diajar dan di didik,  agar erus berkembang, terus diperbaharui dan terus bertumbuh seperti yg diinginkan Tuhan.

b. Menjadi murid tentu ada suatu proses yg panjang dan tidak langsung tamat. Kita diolah sampai apa yg Tuhan mau.

c. Proses menjadi murid Tuhan itu susah harus melalui penyangkalan diri. supaya kita taat terhadap gurunya yaitu Firman Tuhan

d. Bersedia memikul salib.

Seorang teolog Jepang, Kosuke Koyama pernah bertanya: “Kenapa orang Kristen harus memikul salib? Mengapa lambang orang Kristen adalah salib? Mengapa bukan rantang yang berisi makanan bergizi dan memiliki gagang sehingga mudah menentengnya?” Pertanyaan Kosuke Koyama ini membantu kita memahami salib bukan sebagai hal yang menyenangkan atau membanggakan, tetapi salib adalah harga yang harus kita bayar sebagai murid Kristus. Setiap orang pada dasarnya memiliki salibnya masing-masing, yang harus dipikul dengan sabar dan taat kepada Kristus. Dalam memikul salib sebenarnya kita tidak perlu menggembar-gemborkan kesulitan yang kita alami, tetapi justru kita perlu belajar tetap bersukacita dalam Kristus (1 Petrus 4:12-14).  gkipi.org/menjadi-murid-kristus/

e. Targetnya murid tersebut harus seperti gurunya –Lukas 6:40  Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapayang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.

f. Tugas kita sebagai murid adalah memuridkan walaupun kita belum sampai terget seperti guru kita yaitu Tuhan.

Sebagai seorang murid atau  orang percaya,  apalagi aktif dalam pelayanan atau hidup di tengah lingkungan masyarakat, kita harus siap ,  menjaga kualitas kita sebagai seorang murid atau orang percaya. Karena pasti ada banyak penilaian. Menilai apa yg kita perbuat dan apa yg kita katakan katakan. Di dalam gerejapun jemaat menilai gerak gerik kita dan perkataan kita. Apalagi kita sebagai hamba Tuhan.Apa yg kita lakukan dan apa yg kita katakan sebagai murid  sangat mempengaruhi kesaksian hidup kita. Apa yg keluar dari mulut kita mencerminkan kualitas diri kita sebagai murid . Sesuatu yg lebih menyakitkan dari pukulan adalah perkataan. Orang yg bijak dan yg melayani akan merasa malu jika tindakannya juga  tidak lebih baik dari kata-katanya. Karena itu jaga mulut kita, karena apa yg sudah diucapkan tidak dapat ditarik kembali.

Murid sejati,  harus mau dan  siap diasah dan siap dipertajam pendengarannya. Ia tidak hanya mendengarkan dirinya sendiri (ego) . Mendengar adalah tugas seorang murid. Dan Pemahaman yang baik mampu memberi semangat yang baru kepada orang yang letih lesu.

Proses pemuridan  bisa dimaknai sebagai peredaran/pendauran yang harus dilakukan. Regenerasi adalah proses peredaran/pendauran ulang – di mana generasi selanjutnya dipersiapkan untuk dapat memberi kontribusi mereka secara smart di ladang Tuhan.” Jadi Gereja dituntut juga untuk mempersiapkan atau mengkaderisasi setiap orang yang tentunya berkualitas untuk meneruskan Visi dan Misi yang lebih kompetitif. Dituntut waktu Gereja untuk melakukan kajian, evaluasi, dan pemahaman akan esensi dari hal – hal yang telah di lakukan, sampai sejauh mana Visi dan Misi yang sudah gereja jalankan. Regenerasi dan kaderisasi merupakan suatu term yang wajib dijadikan ingatan pertama dan utama bagi bagian yang mengelola resource sumber daya manusia termasuk gereja di dalamnya. Padanyalah dipertaruhkan masa depan gereja, keberlangsungan atau hidup matinya.

Proses regenerasi  amat penting guna menunjang Visi dan misi gereja. Tidak hanya pada unit yang mengelola sumber daya manusia sebagai penanggung jawab utama dalam hal ini melainkan seluruh pelaku dalam organisasi/gereja. Jadi yang dimaksud dengan regenerasi di sini ialah Gereja mempersiapkan penerus selanjutnya untuk pelayanan  sesuai dengan visi dan misi dari Tuhan

Yang harus kita ingat, gereja bukan untuk laboratorium percobaan, namun lebih pada kebutuhan komitmen berkelanjutan, artinya untuk membangun Visi dan  Misi Tuhan memerlukan waktu yang tidak sebentar, tentu sebagai jemaat kita harus memahami persoalan Gereja, yang mungkin secara ideal pengkaderisasian itu harus ada dan berjalan terus  secara konsisten dan tanpa lelah.

Betapa sering kita mendengar khotbah tentang misi yang hanya menunjuk kepada Amanat Agung, “Pergilah ke seluruh dunia . . .” sebagai dasar kegiatan misionari/ pemuridan.

Sepanjang perjalanan hidup-Nya di dunia, Yesus berusaha menyiapkan/mengkader murid-murid-Nya untuk pelayanan membawakan Injil kepada semua bangsa, meskipun pada prinsipnya “kepada orang Yahudi lebih dahulu” semua itu dilakukan karena dia tau waktuNya akan tiba. Harold Cook menyatakan fakta yang sama sebagai berikut, “Kita tidak bisa menyangkal bahwa Yesus Kristus mengajarkan misi, Ia ingin supaya pengikut-pengikut-Nya menjadi utusan Injil, Ia ingin agar Injil-Nya diberitakan di seluruh dunia.

Pada masa kini, setiap gereja harus memperhatikan dan perlunya mempersiapkan para regenerasi. Bila setiap gereja mempersiapkan regenerasi, visi dan misi yang sudah berjalan dari para  pendahulu tersebut dapat diteruskan oleh generasi selanjutnya.

Yang jelas Tuhan mau lewat proses pemuridan , seorang  “Hamba Tuhan” itu tetap dapat mengontrol kehidupannya yang walaupun hidup dalam tekanan yang berat namun dia tetap memiliki “Lidah seorang murid”,“Mendengar sebagai seorang murid”, sehingga kesetiaannya sebagai seorang murid ditengah-tengah tekanan yang berat membuat dia dilayakkan menjadi orang benar di hadapan Allah. Menjadi dewasa secara rohani harus melalui proses pemuridan.

Pdt. Martha Belawati

Sang Pembebas (Minggu,02/03/17-Yes 41-1:7)


Yesaya 41:1-7

TUHAN membangkitkan seorang pembebas

Ada suatu penekanan dalam Yesaya 41:1-7 ;  di mana  Allah tampil dan menunjukkan jati diri-Nya ditengah-tengah bangsa-bangsa sebagai Allah yang menentukan , Allah yang setiap waktu  mampu mengubah apa yg mau diubah. Allah yang  universal ; Allah untuk semua bangsa dan berkuasa menggunakan bangsa-bangsa untuk rencana-Nya, Allah yang berkuasa menentukan nasib bangsa-bangsa dan manusia, menyatakan ketetapan Mahakuasa-Nya. Allah juga ingin menyatakan dirinya pada bangsa Israel  bahwa Ia adalah  Allah  Abraham, Ishak, Yakub, Musa.  Bahkan pernyataan-Nya  juga ditujukan kepada semua umat yang Ia kasihi.

Rangkuman Yesaya 41:1-7

1.Allah berkenan berperkara dengan mereka.

2. Kehancuran Babel serta keberhasilan Koresh yang akan terjadi, memperlihatkan bahwa Allahnya Israel, adalah benar-benar Allah Yang Berkuasa dan yang menetapkan nasib manusia.

3. Berhala yang dibuat para kafir adalah alat duniawi yang dirancang manusia  adalah semu belaka. Mereka hanyalah ilah-ilah, bukan Allah yang Mahakuasa.

Perenungan

Karena itu ada  gambaran “ekspresionis”  dari usaha kita dan bangsa Israel harus memenuhi tuntutan-Nya. Bangsa Israel dan kita sebagai orang percaya  adalah desain,gubahan,komposisi, atau reka-cipta Allah sendiri, yaitu jalan keselamatan yang disediakan-Nya untuk semua orang yang percaya .

Firman Tuhan berkata: “Keselamatan tidak ada didalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kisah 4:12)

Kita sudah lama hidup dan bergaul dengan dengan Tuhan  melalui firman-Nya. Kita telah mengetahui tentang siapakah Tuhan yg  sebenarnya. Namun pengetahuan dan pengenalan kita tentang Tuhan  kadang kala sangat dangkal. Kita mungkin hanya mengetahui tentang Dia dari apa kata orang. Kita kadang kurang berusaha mengenal-Nya sungguh-sungguh melalui Kitab Suci. Untuk itu, seringkali kita pun menolak-Nya bahkan melupakan-Nya.

Sering kita lupa  bahwa Allah sang penentu . Kita lupa Allah itu setiap waktu  mampu mengubah apa yg mau diubah. Kita sering kali lupa Allah itu adalah Allah  yang universal ; Allah untuk semua bangsa dan berkuasa menggunakan bangsa-bangsa untuk rencana-Nya, Kita sering gagal paham  bahwa Allah yang berkuasa menentukan nasib bangsa-bangsa dan manusia, menyatakan ketetapan Mahakuasa-Nya. Kita gagal paham  juga bahwa Allah juga ingin menyatakan dirinya pada bangsa Israel  bahwa Ia adalah  Allah  Abraham, Ishak, Yakub, Musa.  Bahkan pernyataan-Nya  juga ditujukan kepada semua umat yang Ia kasihi.

Selama “retret agung” 40 hari lamanya, umat Kristiani dibantu untuk mengenal Yesus Kristus secara mendalam. Masa pra paskah tahun ini mengajak kita untuk menyadari gambaran kita tentang Yesus Kristus .

DSC00113

Images: GPIB Sion Nunukan -KALTARA

Intermezo

 Kesaksian Ahok

Ini adalah Kesaksian Wakil Gubernur DKI Jakarta  Basuki T. Purnama

Saya lahir di Gantung, desa Laskar Pelangi, di Belitung Timur, di dalam keluarga yang belum percaya kepada Tuhan. Beruntung sekali sejak kecil selalu dibawa ke Sekolah Minggu oleh kakek saya. Meskipun demikian, karena orang tua saya bukan seorang Kristen, ketika beranjak dewasa saya jarang ke gereja.

Saya melanjutkan SMA di Jakarta dan di sana mulai kembali ke gereja karena sekolah itu merupakan sebuah sekolah Kristen. Saat saya sudah menginjak pendidikan di Perguruan Tinggi, Mama yang sangat saya kasihi terserang penyakit gondok yang mengharuskan dioperasi. Saat itu saya walaupun sudah mulai pergi ke gereja, tapi masih suka bolos juga. Saya kemudian mengajak Mama ke gereja untuk didoakan, dan mujizat terjadi. Mama disembuhkan oleh-Nya! Itu merupakan titik balik kerohanian saya. Tidak lama kemudian Mama kembali ke Belitung, adapun saya yang sendiri di Jakarta mulai sering ke gereja mencari kebenaran akan Firman Tuhan.

Suatu hari, saat kami sedang sharing di gereja pada malam Minggu, saya mendengar Firman Tuhan dari seorang penginjil yang sangat luar biasa. Ia mengatakan bahwa Yesus itu kalau bukan Tuhan pasti merupakan orang gila. Mana ada orang yang mau menjalankan sesuatu yang sudah jelas tidak mengenakan bagi dia? Yesus telah membaca nubuatan para nabi yang mengatakan bahwa Ia akan menjadi Raja, tetapi Raja yang mati di antara para penjahat untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi Ia masih mau menjalankannya!

Itu terdengar seperti suatu hal yang biasa-biasa saja, tetapi bagi saya merupakan sebuah jawaban untuk alasan saya mempercayai Tuhan. Saya selalu berdoa “Tuhan, saya ingin mempercayai Tuhan, tapi saya ingin sebuah alasan yang masuk akal, cuma sekedar rasa doang saya tidak mau,” dan Tuhan telah memberikan PENCERAHAN kepada saya pada hari itu. Sejak itu saya semakin sering membaca Firman Tuhan dan saya mengalami Tuhan.

Setelah saya menamatkan pendidikan dan mendapat gelar Sarjana Teknik Geologi pada tahun 1989, saya pulang kampung dan menetap di Belitung. Saat itu Papa sedang sakit dan saya harus mengelola perusahaannya. Saya takut perusahaan Papa bangkrut, dan saya berdoa kepada Tuhan. Firman Tuhan yang pernah saya baca yang dulunya tidak saya mengerti, tiba-tiba menjadi rhema yang menguatkan dan mencerahkan, sehingga saya merasakan sebuah keintiman dengan Tuhan. Sejak itu saya kerajingan membaca Firman Tuhan. Seiring dengan itu, ada satu kerinduan di hati saya untuk menolong orang-orang yang kurang beruntung.

Papa saat masih belum percaya Tuhan pernah mengatakan, “Kita enggak mampu bantu orang miskin yang begitu banyak. Kalau satu milyar kita bagikan kepada orang akhirnya akan habis juga.” Setelah sering membaca Firman Tuhan, saya mulai mengerti bahwa charity berbeda dengan justice. Charity itu seperti orang Samaria yang baik hati, ia menolong orang yang dianiaya. Sedangkan justice, kita menjamin orang di sepanjang jalan dari Yerusalem ke Yerikho tidak ada lagi yang dirampok dan dianiaya. Hal ini yang memicu saya untuk memasuki dunia politik.

Pada awalnya saya juga merasa takut dan ragu-ragu mengingat saya seorang keturunan yang biasanya hanya berdagang. Tetapi setelah saya terus bergumul dengan Firman Tuhan, hampir semua Firman Tuhan yang saya baca menjadi rhema tentang justice. Termasuk di Yesaya 42 yang mengatakan Mesias membawa keadilan, yang dinyatakan di dalam sila kelima dalam Pancasila. Saya menyadari bahwa panggilan saya adalah justice. Berikutnya Tuhan bertanya, “Siapa yang mau Ku-utus?” Saya menjawab, “Tuhan, utuslah aku”.

Di dalam segala kekuatiran dan ketakutan, saya menemukan jawaban Tuhan di Yesaya 41. Di situ jelas sekali dibagi menjadi 4 perikop.

Di perikop yang pertama, untuk ayat 1-7, disana dikatakan Tuhan membangkitkan seorang pembebas. Di dalam Alkitab berbahasa Inggris yang saya baca (The Daily Bible – Harvest House Publishers), ayat 1-4 mengatakan God’s providential control, jadi ini semua berada di dalam kuasa pengaturan Tuhan, bukan lagi manusia. Pada ayat 5-10 dikatakan Israel specially chosen, artinya Israel telah dipilih Tuhan secara khusus. Jadi bukan saya yang memilih, tetapi Tuhan yang telah memilih saya. Pada ayat 11-16 dikatakan nothing to fear, saya yang saat itu merasa takut dan gentar begitu dikuatkan dengan ayat ini. Pada ayat 17-20 dikatakan needs to be provided, segala kebutuhan kita akan disediakan oleh-Nya. Perikop yang seringkali hanya dibaca sambil lalu saja, bisa menjadi rhema yang menguatkan untuk saya. Sungguh Allah kita luar biasa.

Di dalam berpolitik, yang paling sulit itu adalah kita berpolitik bukan dengan merusak rakyat, tetapi dengan mengajar mereka. Maka saya tidak pernah membawa makanan, membawa beras atau uang kepada rakyat. Tetapi saya selalu mengajarkan kepada rakyat untuk memilih pemimpin:

  1. yang pertama, bersih yang bisa membuktikan hartanya dari mana.
  2. Yang kedua, yang berani membuktikan secara transparan semua anggaran yang dia kelola.
  3. Yang ketiga, ia harus profesional, berarti menjadi pelayan masyarakat yang bisa dihubungi oleh masyarakat dan mau mendengar aspirasi masyarakat. Saya selalu memberi nomor telepon saya kepada masyarakat, bahkan saat saya menjabat sebagai bupati di Belitung. Pernah satu hari sampai ada seribu orang lebih yang menghubungi saya, dan saya menjawab semua pertanyaan mereka satu per satu secara pribadi. Tentu saja ada staf yang membantu saya mengetik dan menjawabnya, tetapi semua jawaban langsung berasal dari saya.

Pada saat saya mencalonkan diri menjadi Bupati di Belitung juga tidak mudah. Karena saya merupakan orang Tionghoa pertama yang mencalonkan diri di sana. Dan saya tidak sedikit menerima ancaman, hinaan bahkan cacian, persis dengan cerita yang ada pada Nehemia 4, saat Nehemia akan membangun tembok di atas puing-puing di tembok Yerusalem.

Hari ini saya ingin melayani Tuhan dengan membangun di Indonesia, supaya 4 pilar yang ada, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya wacana saja bagi Proklamator bangsa Indonesia, tetapi benar-benar menjadi pondasi untuk membangun rumah Indonesia untuk semua suku, agama dan ras. Hari ini banyak orang terjebak melihat realita dan tidak berani membangun. Hari ini saya sudah berhasil membangun itu di Bangka Belitung. Tetapi apa yang telah saya lakukan hanya dalam lingkup yang relatif kecil. Kalau Tuhan mengijinkan, saya ingin melakukannya di dalam skala yang lebih besar.

Saya berharap, suatu hari orang memilih Presiden atau Gubernur tidak lagi berdasarkan warna kulit, tetapi memilih berdasarkan karakter yang telah teruji benar-benar bersih, transparan, dan profesional. Itulah Indonesia yang telah dicita-citakan oleh Proklamator kita, yang diperjuangkan dengan pengorbanan darah dan nyawa. Tuhan memberkati Indonesia dan Tuhan memberkati Rakyat Indonesia.

Sumber: PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com