Minggu 16-Agst 2015 – Roma 15 : 1-13 Kemuliaan-Nya Dinyatakan Dalam SolidaritasNya yang Memerdekakan


Roma 15:1-13

15:1 Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat u  dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. 15:2 Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya v  untuk membangunnya. w  15:3 Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri 1 , x  tetapi seperti ada tertulis: “Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku. y 

Hari gini kita masih menulis judul  Solidaritas Nasiona(SGDK) …  Bagaimana solidaritas kita di dalam jemaat  maupun lembaga GPIB ? ZERO ZOOM . Bukan rahasia lagi saya  dan para rekan-rekan  selalu bertanya dan mengkritisi para stakeholder GPIB di MEDSOS  yang hanya berdiam diri, cari aman, nggak mau tau dengan masalah yang terjadi dalam lembaga kita, dsb. Tidak ada solidaritas dalam lembaga gereja kita, mungkin yang ada adalah RIVALITAS.

Kesalahan yang paling pokok dan paling fatal dalam lingkungan gereja kita adalah SOLIDARITAS BUTA yang berakibat ketidakmampuan mendengarkan kritik dan ketidak mampuan melakukan koreksi. Akibatnya para penggereja menjadi  ahli dan terampil  menggalang dan memberi dukungan secara artifisial.

SOLIDARITAS BUTA menutup kritikan korektif, memberi dukungan untuk membungkam koreksi. Semua yang mengkritisi di recaaling bahkan dipecat. Ketika kritikan korektif dibiarkan, maka yang tersingkir adalah kejujuran,dan yang terbenam adalah kebenaran. Dan yang menang adalah ego dan arogansi.

Muncul  penjilat-penjilat, kaum oportunis dan para vested-interest. Mereka yang hari ini berteriak “Hosana”, dan besok dengan sama lantangnya berteriak “Salibkan Dia”, virus-virus penyakit KKN. SOLIDARITAS buta  memelihara tikus-tikus untuk menggerogoti “rumah sendiri”.  

(tulisan di atas terinspirasi dari surat  terbuka eka darmaputra kepada Presiden Habibie-; APA-APA YANG TAK BOLEH TERULANG LAGI Oleh: Eka Darmaputera , Suara Pembaruan, 25 Mei 1998.)

Saat PS tinggal beberapa bulan  muncul  kepentingan kepentingan yang dipolitisasi , ada juga  faktor ketidak-adilan  yang seharusnya menuntut rasa soliditas & solidaritas yang lebih. Saya lebih cenderung dalam lingkungan gereja kita  terjadi rivalitas  yang cenderung dominan daripada solidaritas . karena banyak di antara kita memburu  kesuksesan (materi)  bagi pementingan diri maupun kelompok.  Ini terjadi persaingan   di berbagai aspek kehidupan yang dijiwai materi. Ada yang melakukannya secara halus (kasat mata)  ada juga yang melakukannya secara kasar . Itulah kecenderungan rivalitas yang lahir dari pementingan diri dan hal ini sudah banyak terjadi di lingkungan gereja tanpa kita sadari.

Lain dengan solidaritas. Ia lahir dari kepentingan demi kebersamaan  , melihat orang lain / kelompok lain adalah  saudaranya. Solidaritas bisa kita setarakan dengan kesetiakawanan. Solidaritas itu berbicara kebersamaan (hubungan sosial) , kepentingan yang sama, rasa simpati dalam lingkungan sosial  yang dirancang untuk kepentingan bersama.   Istilah ini umumnya digunakan dalam sosiologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya.

Surat Paulus pada jemaat di Roma mengatakan:

Ayat 1-> Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat  dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.

Ayat 2 -> Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. 

Ayat 3 -> Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri ,  tetapi seperti ada tertulis: “Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku. 

Ke tiga ayat di atas jelas berbicara  nila-nilai solidaritas,  bagaimana kita dapat berkontribusi pada mereka yg lemah, kekurangan,  yang dicerca, di zolimi dengan sesama dan  dapat merancang , menumbuhkan  kehidupan bersama yang indah. Bersama menikmati kebaikan Tuhan dari kehadiran bersama yang saling berbagi ruang, ilmu dan bahkan materi.

Ayat 3… : “Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku. Ayat ini menunjukkan pada kita  bahwa Tuhan ada bersama mereka yang di cerca, dizolimi, dsb.

Dalam arus modern  saat ini, manusia kristen sama .   Serba ingin   instan, praktis dan ekonomis. Pada akhirnya kita   tidak mau repot, tidak mau rugi , dan yang paling menonjol adalah KETIDAKPEDULIAN  yang telah menodai iman dan komitmen hidup kekristenan.

Gereja pun rentan terhadap    konflik  jika tidak dikelola dengan bijak akan muncul perbedaan pendapat dan perpecahan yang membentuk SOLIDARITAS BUTA . Pada akhirnya tidak  melihat masalah dengan bijak yang berlandaskan kebenaran Firman Tuhan.  SOLIDARITAS BUTA mengakibatkan perpecahan . Jangan sampai hanya demi solidaritas, kita lalu mengabaikan kebenaran.

Kita harus memahami bahwa Tuhan kita adalah  Tuhan yang solider , kita dapat hiudp saat ini  adalah wujud solidaritas Tuhan pada kita, Ia mengasihi kita dalam karya penyelamatanNya yang turun menjadi manusia dalam diri Yesus. Solidaritas-Nya ada dalam keseharian kita  ,  masuk dalam persoalan-persoalan, kebingungan, ketidakberdayaan. Ia  berbagi rasa dalam  suka maupun duka  , Ia berbelarasa dalam kerapuhan dan keringkihan manusia. Sebab itu  kita harus menjadi pelaku solidaritas  untuk membela kebenaran, bukan bersolidaritas untuk kepentingan kelompok tanpa alasan yg jelas, apakah yang  kita solideri itu benar atau salah . Jika itu terjadi kita akan terjebak dalam SOLIDARITAS  YANG BUTA.

Hari  kemerdekaan Indonesia yang ke 70. Sudah menjadi tradisi menjelang HUT kemerdekaan bangsa Indonesia diisi dengan berbagai lomba, mulai dari makan kerupuk,lari kelereng, lompat karung, panjat pinang, dan lain-lain. Kita juga melakukan kerja bakti di kampung, di desa, di halaman rumah , gereja bahkan di kantor-kantor. memasang bendera, umbul-umbul dan gapura diujung-ujung gang (lorong) . Warna merah putih menghiasi, mendomonasi  jalan-jalan dan perkampungan.

Tuhan memanggil kita sebagai warga GPIB  untuk menjadi agen SOLIDARITAS SEJATI  yang membawa dampak di dalam maupun di luar GPIB…Masih banyak kaum papa yang  terbelenggu oleh  problema hidup.

GPIB BERDOA, agar bangsa Indonesia yang menghirup udara kemerdekaan  tujuh puluh  tahun ini mengalami kemerdekaan sejati dan sepenuhnya.GPIB harus juga berkomitmen untuk terus mengembangkan solidaritas kemanusiaan yang memerdekakan orang miskin dari cengkeraman kemiskinan dan peminggiran.

GPIB adalah living organism;  sebagai jemaat yang hidup, tidak lepas dari karakteristik “hidup” itu sendiri yang sangat berharga, bukan karena harta, melainkan karena  kelemahan  yang  perlu perhatian dan kebergantungan pada Tuhan. Apakah kesadaran ini benar-benar secara konkret telah dilaksanakan oleh GPIB ? apakah bentuk-bentuk solidaritas sudah terdengar “keluar” ? Apakah GPIB memerlukan “Solidarity Community Center” yang diharapkan dapat menjadi wadah perwujudan kepedulian sosial ?

Solidaritas adalah Kepedulian sejati . Kepedulian sosial seperti yang diteladankan Yesus adalah suatu penyerahan diri mutlak kepada pelayanan terhadap sesama manusia, tanpa bertanya.

GPIB  sudah  waktunya memperlihatkan kehadirannya yang tidak introver, tetapi sebaliknya mengarah ke “luar” sehingga dapat berperan aktif atau berpartisipasi aktif dalam pembangunan karakter bangsa yang saat ini sedang terus­menerus digaungkan,.

Tuhan memberkati pelayanan kita bersama.

solider

PEMBOGI (“PEMimpin BOdoh dan GIla itu bedanya tipis”)


Pemimpin yang bodoh dan gila itu BETI (bedah tipis). Pemimpin yang gila akan melakukan tindakan yang bodoh. Pemimpin yang bodoh akan melakukan tindakan gila, Para penjilat karakternya sama dengan sang pemimpin, yaitu BODOH dan GILA . Pemimpin ini merasa bahwa semua hal adalah haknya tanpa mau mendengar orang-orang di sekitarnya , tidak mengindahkan aturan , Nama Tuhan dipakai untuk menutupi kebodohan dan kegilaannya. Meminta maaf dan memaafkan hanyalah ‘di atas mimbar.’ Etika dan moralitas hanyalah ritual agama yang telah lapuk dan tak laku lagi karena ditutupi oleh kebodohannya dan kegilaannya . Emosi adalah guidance pemimpin yang bodoh dan gila . Show-off adalah suatu kebanggan. Ego adalah kewajiban-kewajiban tiada henti seperti karakter seorang “God Father”

Maka relasi pemimpin yang bodoh dan gila adalah dirinya sendiri . Keputusan yang diambil dirasakan adalah suatu kemenangan untuk dirinya sendiri . Pemimpin yang bodoh dan gila merasa terdepan dengan keputusan-kebutusannya yang STUPID , kata-kata/ucapan Kehendak Tuhan menjadi alasan untuk menutupi kebodohan dan kegilaannya..tidak menyadari,merasa terdepan dalam hal tak punya rasa malu, sering tidak jujur, aturan-aturan ditabrak, mengampil keputusan karena SAKIT HATI. Siapa yang tidak sejalan,yang mengkritik, yang melawan, dan menolak hal yg tidak benar akibat kesewenangannya akan DILIBAS

Tidak ada kasih, menjalin ‘pertemanan penuh intrik’. Konsepnya adalah: jika masih bisa dikibulin, kenapa harus dibaik-baikin? Jika masih bisa dibuly kenapa gak dimanfaatkan , kenapa harus diperlakukan dengan baik?
Yang ga waras tak akan kebagian, Pemimpin telah berada di atas ambang gila. Dia beyond craziness. Lima tahun ini lebih gila daripada sekedar gila.

Pemimpin yang bodoh dan gila menonjolkan keangkuhan, arogan dan keras kepala ini adalah penyakit aneh yang menyerang pemimpin dan para penjilatnya. Kenapa saya katakan aneh karena orang-orang yang terkena penyakit ini ga sadar. Tetapi kita-kita yang melihatnya “MAU MUNTAH”. Keangkuhan, arogan dan keras kepala merasuk ke setiap manusia tanpa melihat status. Ga ada yang kebal, karena penyakit ini merasuk jiwa jika kita “bodoh dan gila”

Biasanya manusia yang rentan dan terjangkit penyakit seperti ini adalah seorang PEMIMPIN (kuasa yang melekat). Karena kuasa yang dilekatkan pada diri para pemimpin tersebut tatkala mereka diberi kepercayaan untuk memimpin orang lain.

“Kepemimpinan yang berkualitas dan berusaha terintegritas jika ia mampu memadukan kualitas natural dan spiritual”.

Seorang pemimpin yang berjiwa besar lebih mementingkan atau mendahulukan kepentingan orang banyak daripada kepentingan dirinya sendiri. Ingat !, Kuasa sangat ampuh dalam membentuk dan mengubah karakter pemimpin.

Abraham Lincoln, pernah mengatakan: “Nearly all men can stand adversity, but if you want to test a man’s character, give him power.”

Firman Tuhan “barang siapa yang ingin menjadi terbesar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayan…” Ayat itu mengacu pada sifat manusia yang ingin berkuasa, terkenal, dan dihormati Sebutan sebagai “pelayan Tuhan” seringkali membuat pemimpin Kristen berlaku seperti Tuhan ketimbang seperti pelayan, merasa statusnya memiliki power dan berhak menjadi “BOS” (BODOH KOK SOK). Hal ini gampang terjadi dalam budaya yang paternalistis.

SUARA PROFETIK: “SALAH KATAKAN SALAH, BENAR KATAKAN BENAR. JANGAN MELAWAN KALAU SALAH. JANGAN TAKUT MELAWAN KALAU BENAR. KARENA TUHAN BERADA DI PIHAK KITA YANG BERANI MENGATAKAN DAN MELAWAN JIKA ITU MENYANGKUT KEBENARAN

justice

KEPEMIMPINAN


Menurut penulis

Kepemimpinan  adalah aktifitas mempengaruhi, inovatif, profesional, melayani , serta mampu menciptakan suatu manuver untuk mengajak, mengarahkan, berkiprah dalam suatu kemitraan dengan tiap-tiap individu agar mau menelisik   misi dan visi  yang diinginkan bersama.

Atas dasar itu dapatlah disimpulkan bahwa :

Kepemimpinan adalah : Rantaian vitalitas sistematisasi berupa kapabilitas atau kompetensi  perilaku orang lain agar berkolaborasi untuk mencapai tujuan yang telah diikrarkan bersama.

Pengertian pemimpin adalah klasifikasi, kategorisasi atau strata tertinggi dari suatu morfologi (desain), komposisi  yang mempunyai hak mengatur,mengelola, mengendalikan, mengorganisir tempat/orang  yang dipimpinnya. Dalam memimpin, kemampuan mengorganisir merupakan bagian yang terpenting dalam konstelasi (sistem) kehidupan sosial. Karena manusia itu merupakan makhluk sosial.

Seorang pemimpin mempunyai peran untuk mengatur, memberi arahan, dan pengendali atas orang-orang  yang dipimpinnya. Sehinggadalam kehidupan bermasyarakat jika terjadi sesuatu permasalahan maka menjadi tanggung jawab seorang pemimpin . Menjadi seorang pemimpin  bukanlah tugas yang ringan. Kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan oleh seorang pemimpin.  Seorang pemimpin  harus memiliki potensi , kapabelitas, dan integritas dalam memimpin, bahkan mempunyai kemampuan mengimpresi aksioma sekelompok orang yang memiliki visi yang sama. Seorang pemimpin memiliki  rekam jejak prestasi keadilan, kejujuran, cara-cara memimpin dan kedekatannya dengan anggota dan masyarakat. Kepemimpinan itu berarti melayani.

Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul dari analitis dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi pemimpin, baik untuk pribadi, keluarga, bahkan lingkungan sekitarnya.Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari analistis transformasi intens di dalam diri individu. Kepemimpinan muncul ketika seseorang menemukan visi dan misi dalam hidupnya, ketika terjadi inner peace, dan membentuk bangunan karakter yang kokoh. Setiap  ucapan dan prilaku  memberikan impak kepada lingkungannya untuk bertransformasi dalam organisasinya. Jadi kepemimpinanitu sesuatu yang bertunas atau terbit  dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).

Seorang pemimpin tidak  menimbulkan ketakutan, arogansi tetapi mereka-mereka yang menginspirasi, yang mau bertanya , yang menghargai para pengikutnya  dan selalu meletakkan mereka sebagai sentral dalam semua kebijakan, pikiran dan kata-kata mereka. Kepemimpinan yang baik  adalah kepemimpinan yang mendengarkan dan tidak berjarak (sombong) dan tidak meletakkan otoritas sebagai bahasa kepada bawahannya tetapi mendorong entusiasme. Seorang  pemimpin mampu menciptakan loyalitas dan saling percaya yang pada akhirnya  berujung pada kinerja yang baik.

Dalam arus globalisasi  perkembangan dunia informasi mengalir begitu deras  , dimana segala aspek yang mempengaruhi perkembangan organisasi menjadi begitu sangat besar pengaruhnya, dibutuhkan kepemimpinan yang mampu berelaborasi, berfikir jauh ke depan, mampu mengantisipasi segala dampak dalam perkembangan zaman, di era yang sangat kompetitif dan tuntutan kebutuhan yang semakin beragam, dan  spesifik menjadi sangat relevan. Organisasi membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjadi roda penggerak organisasi  untuk mencapai visi bersama.

Kriteria Pemimpin kristen    

  • Mengasihi :

… “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (Matius 22:37-39)

“Kasih yang sejati tidak bersukacita ketika melihat kegagalan orang lain atau ketika melihat orang lain jatuh dalam dosa. Jangan membiasakan diri membicarakan kegagalan,kelemahan serta kekurangan orang lain. Sebaiknya luangkan waktu untuk mendoakan orang-orang di sekitar kita.”

  1. Kasih itu sabar

Kesabaran bertutur  tentang kapabilitas seorang pemimpin yang bersiteguh tentang  kasih. Disaat terhasut  untuk melampiaskan amarahnya. Pemimpin yang sabar tidak mudah  terhasut  menghadapi segala persoalan dan tidak suka membalas kejahatan dengan kejahatan. Pemimpin yang penuh kesabaran tetap mengasihi walaupun ada berbagai alasan untuk marah,  seperti yang diperlihatkan Tuhan Yesus terhadap murid-muridnya.

  1. Kasih itu murah hati

Kasih melihat ketidaksempurnaan dan kekurangan orang lain, tetapi memilih untuk tetap acuh, peduli , mengasihi, menerima orang lain apa adanya dan selalu berharap yang terbaik bagi orang lain. Pemimpin yang memiliki kasih yang murah hati mempunyai  sistem dan ikhtiar  untuk melakukan hal  yang benar di mata Tuhan. Pemimpin yang bermurah hati  ditandai dengan suka menolong, pengasih, baik hati,  suka memberi apresiasi terhadap para pengikutnya tanpa kepura-puraan.

  1. Kasih tidak cemburu

Ada dua istilah untuk cemburu, yaitu “jealous” dan “envious”. Jealous adalah cemburu yang beralasan, yaitu cemburu karena yang bersangkutan memiliki hak untuk cemburu. Envious adalah cemburu yang tidak beralasan, karena tidak punya hak untuk cemburu. Pemimpin yang cemburu dan iri hati membuat ia selalu merasa  bersaing dengan orang lain atau anggotanya, ingin menjadi “lebih” dari orang lain. Pemimpin yang iri hati tidak akan menuju  visi bersama , namun kepada kehancuran. Kasih sejati tidak cemburu ketika melihat keberhasilan, berkat dan kemampuan yang dimilik orang lain.

  1. Kasih tidak memegahkan diri dan tidak sombong

Kasih penuh dengan kerendahan hati. Pemimpin yang rendah hati, tidak “menepuk dada” dan bermegah karena perbuatan baiknya . Tidak mengandalkan kekuatan sendiri tetapi mengandalkan Tuhan dan tidak melecehkan kelemahan dan keterpurukan  anggotanya.  Pemimpin yang tidak bermegah dan tidak sombong menyadari bahwa semua keberhasilannya hanya  karena berkat  Tuhan.

  1. Kasih tidak melakukan yang tidak sopan

Kasih itu beretika,  menghormati dan menghargai orang lain, dapat menempatkan diri pada posisi yang seharusnya. Kasih tidak melakukan hal-hal yang melanggar etika maupun perbuatan-perbuatan amoral . Pemimpin yang memiliki kasih pasti beretika ,  penuh dengan kelemah-lembutan dan menjaga kehormatan orang lain.   Firman Tuhan menasihatkan: “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.”(Roma 13:13)

  1. Kasih tidak mencari keuntungan diri sendiri

Kasih tidak egois, tidak memanipulasi orang lain dan tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Kasih ini bersifat peduli kepada  orang lain. Pemimpin Kristen yang penuh  Kasih  tidak mengekploitasi atau mencari keuntungan  dengan  tidak mengorbankan orang lain, tidak berharap akan imbalan, tidak menjual nama baik untuk mencari keuntungan pribadi. Pemimpin yang penuh kasih berusaha senantiasa menjadi sahabat yang menyenangkan untuk semua orang, kerena kebahagiaan terbesar kita adalah pada saat kita memberi, bukan pada saat kita menerima.

  1. Kasih tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain

Kasih yang sejati tidak mudah tersulut kemarahan. Kasih  sangggup mengendalikan diri dan menanggung segala sesuatu walaupun itu sangat menyakitkan . Pemimpin yang penuh Kasih dapat mengerti dan menerima kegagalan tanpa harus sakit hati, karena kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Pemimpin yang penuh kasih  terpancar melalui perilaku dan perangai  yang baik, tidak menaruh curiga dan tidak menyimpan amarah terhadap orang lain.

  1. Kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran

Kasih yang sejati tidak bersukacita ketika melihat ketidakadilan atau ketika melihat orang lain “terjerembab” . Pemimpin yang penuh kasih  diyakini memilik  empati terhadap kemalangan orang lain. Kasih  tidak menekan atau menyetujui perbuatan yang melanggar firman TUHAN dan hukum, sehingga membuat  sesama manusia menderita.

  1. Kasih menutupi segala sesuatu

Berbeda dengan kasih yang dimiliki dunia ini, kasih yang dari Allah tidak memandang kekurangan, kesalahan, dan kegagalan orang lain, tetapi senantiasa menunjukkan kebaikan dan terus terpancar dalam segala keadaan. Inilah kasih agape, kasih yang tulus, yang bersumber dari Allah sendiri. Pemimpin sejati adalah pemimpin yang memiliki kasih sejati  tidak menjatuhkan dan mencemooh kelemahan atau kegagalan orang lain, tetapi menjaga kehormatan sesama dengan penuh pengertian. Kasih sejati tidak akan pernah membuka “borok” siapapun, sekalipun harus menanggung rugi.

  1. Kasih percaya segala sesuatu

Percaya adalah hal yang semakin langkah di dunia ini, namun kasih mengajarkan kepada kita untuk percaya, selalu berpikir positif, tidak mudah menghakimi, tidak mudah berprasangka dan berusaha melihat yang terbaik pada diri orang lain. Kasih  mengatasi segala kecurigaan, kebimbangan atau ketidakpercayaan. Pemimpin sejati  memilih percaya segala yang baik dari orang lain dan menerima mereka apa adanya. Firman Tuhan: “Janganlah merencanakan kejahatan terhadap sesamamu, sedangkan tanpa curiga ia tinggal bersama-sama dengan engkau. Jangan-lah bertengkar tidak semena-mena dengan seseorang, jikalau ia tidak berbuat jahat kepadamu.”(Ams 3:29,30)

  1. Kasih menharapkan segala sesuatu

Dalam dunia yang penuh keputusasaan dan kekecewaan, kasih membawa pengharapan yang didasari oleh iman kepada yesus Kristus. Kasih sejati selalu optimis bahwa hari esok akan lebih baik daripada hari ini. Pemimpin  sejati tidak pernah menyerah dan putus asa. Pemipin  sejati akan selalu berjuang untuk meraih yang terbaik, untuk kebahagiaan bersama dengan TUHAN dan sesamanya. Mereka tidak dihantui ketakutan dan kecemasan. Kata-kata iman mewarnai suasana kehidupannya sebagai pemimpin. Halangan dan rintangan tidak pernah menyurutkan cita-cita yang luhur dan mulia pemimpin sejati . Dengan pengharapan ini, apa yang terjadi, pemimpin sejati  dimampukan untuk menjalani hidup hari ini dan hari esok. Kasih berharap dengan penuh iman, bahwa pada akhirnya, segala sesuatu akan menjadi baik.

  • Bertanggung Jawab :

Pemimpin akan selalu berinterelasi dengan tanggung jawab, sebab tanggung jawab itu menjadi domain  terhadap apa yang dipimpinnya. Jika kemudian pemimpin hanya berperan dalam “panggung sandiwara” maka kredibilitas pemimpin tersebut layak dipertanyakan. Dalam artian, tanggung jawab inilah yang menjadi “stempel” atau legitimasi atas kepemimpinan tersebut. Terlepas  hasil dari tanggung jawab itu baik atau buruk,  menjadi hal yang terpenting adalah pemimpin itu punya sikap, visi, pendirian serta komitmen atas tanggung jawab terhadap organisasi yang dipimpinnya demi kemuliaan-Nya.

  • Menyendengkan telinga:

Pemimpin sebagai pelayan, harus  menyendengkan telinganya atas tuntutan atau keluh kesah para anggotanya . Karena banyak pemimpin sekarang pura-pura tuli terhadap keluhan anggotanya, kareana mereka lebih mengutamakan kepentingan pribadi. Kepemimpinan kristen yang melayani harus menyendengkan telinga dan membuka hati  terhadap suara sekalipun suara itu membuat hati dan telinganya sakit. Sebab itu mereka harus menjadi representatif dan teladan, baik dalam hal kinerja maupun tanggung jawab yang diemban olehnya. kepemimpinan  Kristen yang melayani harus menjadi kiblat atau haluan  dan setiap kebijakan yang dibuatnya harus didasarkan untuk kepentingan dan kesejahteraan para pengikutnya. Siapapun yang ingin menjadi pemimpin yang melayani senantiasa mengasah telinganya agar tidak tumpul. “Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata,” (Yak 1:19).  Tetapi yang paling utama pemimpin yang melayani wajib hukumnya  mendengar suara Tuhan.

  • Berjiwa besar:

Seorang pemimpin yang berjiwa besar lebih mementingkan atau mendahulukan kepentingan orang banyak. Yesus adalah  Pemimpin yang berjiwa besar dan bertanggung jawab terhadap murid-muridnya walaupun salah seorang muridnya mengkhianati tetapi Ia tetap mengasihi murid tersebut. Pemimpin yang berjiwa besar mampu menangani kekisruhan organisasi yang dipimpinnya, Karena kegagalan organisasi yang dipimpinnya adalah kegagalannya dia sebagai seorang pemimpin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rabu 22 juli 2015–Kisah Para rasul 12:18-19 Kasih dan Kuasa doa mengatasi segalanya


Rabu 22 Juli’ 15 Kisah 12:18-19

12:18 Pada keesokan harinya gemparlah prajurit-prajurit itu. Mereka bertanya-tanya apakah yang telah terjadi dengan Petrus. 12:19 Herodes menyuruh mencari Petrus, tetapi ia tidak ditemukan. Lalu Herodes menyuruh memeriksa pengawal-pengawal itu dan membunuh mereka. i  Kemudian ia berangkat dari Yudea ke Kaisarea j  dan tinggal di situ.

Raja Herodes sangat dikenal sebagai raja yang lalim. Dengan kekuasaan yang dimiliki ia bertindak semena-mena terhadap rakyatnya, bahkan melakukan penganiayaan dan pembunuhan secara kejam . Petrus dan jemaat mula2  pun tidak terlepas dari kesemenaan raja Herodes, mereka di tahan , dipenjarakan, bahkan berencana menghukum mati Petrus. Semua ini terjadi karena begitu cepatnya penyebaran injil yang terjadi akibatnya orang Yahudi marah, karena mereka menolak injil  Kristus .

Jika kita kaitkan dengan paskah terjadinya kerusuhan/amuk masa di Tolikara Papua akibatnya  berimbas di beberaba gereja yang dibakar, yaitu di Bantul dan Purwo rejo (pintu gereja dibakar disertai ancaman), juga ancaman pembakaran gereja di kota palu, dan ribuan Orang Petisi Jokowi Usut Tuntas Kerusuhan Tolikara http://www.cnnindonesia.com .. Apakah insiden yang terjadi di Tolikara hanya karena masalah speaker atau kesalahpahaman, Walahualam.

Bagaimana kita sebagai warga gereja menyikapinya ?;  Apakah kita marah, menulis di medsos mengutuki peristiwa yg terjadi itu berimbas pada aksi balas dr kaum radikal ?; Apakah kita apatis , diam saja , dan  menyerahkan permasalahan ini pada aparat pemerintahan mengusut tuntas insiden yg terjadi ?; Atau kita BERDOA karena ketakutan  ?

12:5 Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah

Sebagai manusia, adalah hal yang wajar kita mengalami rasa takut. Rasa takut yang normal sebagai manusia misalnya terjadi seperti ancaman dan pembakaran gereja yang kita dengar,baca, bahkan kita  mengalami kejadian (saksi mata) tersebut, hal itu sangat wajar.

Mahatma Gandhi pernah berujar bahwa kekuatan (power) yang menggerakkan seseorang untuk melakukan sebuah tindakan berasal dari dua sumber.

Pertama, berasal dari rasa takut akan hukuman. Misalnya, seseorang melakukan ibadah dan segala macam tindakan kesalehan oleh karena ia takut dihukum. Jika melanggar aturan agama maka kelak dirinya tidak akan mendapat bagian di sorga, sebaliknya mendapat hukuman di neraka.

Kedua berasal dari cinta kasih. Seseorang menjalani kehidupan saleh, beribadah dan berbuat baik oleh karena dia mencintai Tuhannya. Tuhan yang dia sembah tidak suka kejahatan, maka ia dengan sadar ingin menyenangkan hati Tuhannya. Kekuatan yang didasarkan pada cinta kasih, kata Gandhi seribu kali lebih efektif dan permanen ketimbang kekuatan atau motiv  yang berasal dari ketakutan akan hukuman.

Dengan bertekun dalam kasih kita mampu mengalahkan  ketakutan, egois, tamak, benci dan dendam yang selalu ada dalam diri kita. Bukankah musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri ? Egonya! Daud mampu menaklukkan  Goliat. Namun, Daud gagal mengalahkan dirinya sehingga ia jatuh karena keinginannya memiliki Bersyeba, istri Uria.  Kekuatan keserakahan/egoisme tidak pernah menang melawan kekuatan kasih.

Gandhi belajar banyak tentang “Khotbah di Bukit”. Gandhi berhasil membuktikan bahwa perlawanan tanpa kekerasan, ahimsa, dapat mengalahkan penjajahan. Namun, ia harus mati bukan di tangan lawan, melainkan pengikutnya sendiri pada 30 Januari 1948 di New Delhi. Penghianat yang tidak rela Gandhi menebar cinta untuk semua kalangan, untuk perdamaian Hindu dan Islam. Radikalis Hindu ini menghadiahi tiga butir peluru di dada Gandhi. Gandhi tewas bersimbah darah membawa keyakinannya bahwa cinta kasih takkan pernah terkalahkan!

Dengan kematian Gandhi, Pengaruh kekuatan cinta Gandhi menyebar ke berbagai peloksok dunia. Dr. Martin Luther King, Jr pernah mengatakan: “Jika umat manusia adalah peradaban untuk kemajuan, Gandhi tidak bisa dihindari. Ia hidup, berpikir, bertindak dan terinspirasi oleh visi kemanusiaan yang menghendaki dunia yang damai dan harmoni.”Kekuatan cinta yang diperagakan Gandhi terus mengispirasi banyak orang bahkan sampai kini.

Gandhi pernah mengaminkan perkataan Yesus tentang kekerasan yang tidak harus ditanggapi dengan kekerasan. Ia mengatakan, “Jika mata ganti mata itu hanya akan membuat seluruh dunia menjadi buta.”

Gandhi, meskipun tidak mengakui Yesus sebagai Tuhannya, ia telah berhasil menjadikan ajaran Yesus itu hidup di dalam dirinya. Bagaimana dengan kita yang menyebut Yesus Tuhan? Mestinya lebih dari Gandhi dalam menjalankan ajaranNya. Ataukah apa yang diwariskan Yesus hanya sebagai wacana sehingga sangat langka orang-orang yang dengan sungguh-sungguh meneruskan cinta kasih Yesus.

“Mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama – terletak seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”  Memang harus kita akui sangat sulit untuk dilaksanakan. Pada hal Manusia di ciptakan Tuhan  secara kodrati dapat mengasihi Tuhan dan sesama. Ini berarti dibutuhkan iman yang luar biasa.

Jangan pernah  kehidupan kekristenan anda itu umpama baterai yang dapat dicas dengan pelatihan-pelatihan, pelajaran Alkitab dan doa. Anda diisi ke tingkat yang tertentu, supaya setelah waktu doa dan pelajaran Alkitab, anda dapat keluar dan berlari untuk waktu yang lama dengan cas dari baterai itu. Kemudian anda kembali kepada Allah untuk dicas ulang hanya apabila anda merasa bahwa cas itu mulai berkurang. Ini sama sekali tidak benar. Kita harus hidup dalam kelemahan saat demi saat, dan senantiasa menarik kekuatan dari-Nya. (copas)

Saat anda merasa takut dan berada dalam kelemahan, itulah saatnya untuk bersyukur dan berdoa  pada Tuhan. Mungkinkah  Tuhan perlu menusukkan duri ke dalam daging kita (seperti kata Rasul Paulus). Melalui kelemahan  kuasa Allah dinyatakan , di dalam setiap masalah jika kitaberdoa,   ada kekuatan-Nya untuk mengatasinya.

Doa adalah nafas kehidupan kita,  salah satu sarana manusia untuk berdialog  dengan Tuhan. Orang yang berdoa tentu sudah memiliki iman bahwa Tuhan akan mengabulkan apa yang dimintanya, percaya Tuhan akan melindungi dan menjaga kita.

Iman atau percaya  menuntut  penyerahan diri.  Yang perlu dilakukan setiap orang percaya adalah menyerahkan segala permintaannya kepada Tuhan, sebagaimana yang dikatakan Yesus di ayat 24, ‘… percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.’ Yakobus 5:16 doa itu besar kuasaNya.  “Jangan lah berharap doa kita adalah kehendak kita, melainkan melaksanakan kehendak Allah “

“Jika Kita sudah  tidak bisa berbuat apa-apa, hanya dengan doa yakinlah semua hal dapat dilakukan karena doa dapat melebihi atau mengangkat halangan, mengatasi setiap kuasa yang menentang, dan mencapai tujuan dalam menghadapi halangan yang tak terkalahkan.”

gandhi-280x300

Minggu 19 juli 15 Nehemia 6:1-9 —Tantangan dalam pelayanan


Nehemia 6:1-9

6:1 Ketika Sanbalat dan Tobia r  dan Gesyem, s  orang Arab itu dan musuh-musuh kami yang lain mendengar, bahwa aku telah selesai membangun kembali tembok, sehingga tidak ada lagi lobang, walaupun sampai waktu itu di pintu-pintu gerbang belum kupasang pintunya, 6:2 maka Sanbalat dan Gesyem mengutus orang kepadaku dengan pesan: “Mari, kita mengadakan pertemuan bersama di Kefirim, di lembah Ono! t ” Tetapi mereka berniat mencelakakan aku. 6:3 Lalu aku mengirim utusan kepada mereka dengan balasan: “Aku tengah melakukan suatu pekerjaan yang besar 1 . Aku tidak bisa datang! Untuk apa pekerjaan ini terhenti oleh sebab aku meninggalkannya dan pergi kepada kamu!” 6:4 Sampai empat kali mereka mengirim pesan semacam itu kepadaku dan setiap kali aku berikan jawaban yang sama kepada mereka. 6:5 Lalu dengan cara yang sama untuk kelima kalinya Sanbalat u  mengirim seorang anak buahnya kepadaku yang membawa surat yang terbuka. 6:6 Dalam surat itu tertulis: “Ada desas-desus di antara bangsa-bangsa dan Gasymu v  membenarkannya, bahwa engkau dan orang-orang Yahudi berniat untuk memberontak, dan oleh sebab itu membangun kembali tembok. Lagipula, menurut kabar itu, engkau mau menjadi raja mereka. 6:7 Bahkan engkau telah menunjuk nabi-nabi yang harus memberitakan tentang dirimu di Yerusalem, demikian: Ada seorang raja di Yehuda! Sekarang, berita seperti itu akan didengar raja. Oleh sebab itu, mari, kita sama-sama berunding!” 6:8 Tetapi aku mengirim orang kepadanya dengan balasan: “Hal seperti yang kausebut itu tidak pernah ada. Itu isapan jempolmu belaka!” 6:9 Karena mereka semua mau menakut-nakutkan kami, pikirnya: “Mereka akan membiarkan pekerjaan itu, sehingga tak dapat diselesaikan.” Tetapi aku justru berusaha sekuat tenaga.

Nehemia adalah salah satu nabi yang memberi salah seorang pemimpin yang memberi  gagasangerak hatiideilhamkata hati,kreativitaspetunjuksempena hati,  tentang sosok pemimpin. Kadang modus operandi/sistem  tampak “acak adul” , namun Tuhan berkenan dan membawa restorasi atau perubahan kehidupan bangsa Israel dalam waktu yang singkat. Sistem yang dilakukan Nehemia berkaitan dengan kualitas karakter  Nehemia .

Nehemia menunjukkan ia seorang yang tekun berdoa, artinya,  rendah hati. Sosok yg berani menghadapi tantanganNehemia juga seorang yang berani , serta penuh kasih terhadap sesama . Ia juga memiliki visi, berani ambil keputusan,  dan seorang yang sederhana dengan apa adanya.

Nehemia adalah manusia/pemimpin:
1. Berintegritas

  1. bervisioner

“Jika tantangan kita hadapi dengan benar maka kita akan memperoleh hasil yang baik. Kesuksesan terbesar kita jika kita menemukan tantangan sejati dan menaklukkannya, dan hal itu menolong diri kita sendiri –so hadapilah”- Donny

Tantangan adalah suatu objek yg merangsang kita untuk berbuat sesuatu dalam mengatasi masalah. “Tantangan dan masalah merupakan tanda bahwa kita masih hidup” demikian seorang filsuf pernah bertutur.

Tantangan ada di-mana-mana bahkan sampai di ujung bumi sekalipun dengan kata lain tidak ada tempat pun di dunia ini yang terbebas dari tantangan.. Untuk pertumbuhan mental yang “oke”, Tantangan sangat diperlukan. Tantangan yang dilakukan dengan hati-hati dan seksama  akan memberikan pembelajaran yang paling berharga bagi kehidupan seseorang.

Tantangan akan “memacu adrenalin”,  jika dilakukan dengan teratur memberi tujuan, dan dapat memberi yang terbaik dalam diri kita. Tantangan memotivasi kita untuk memberi hasil terbaik dari diri anda.
Tantangan  ada untuk mendorong kita ke atas untuk mencapai target.

Walaupun tantangan itu sulit ,  tapi hal itulah yang memberikan arti dan nilai. kesuksesan terbesar hadir lewat kebiasaan berurusan dengan serangkaian tantangan. Bukan dengan menghindari tantangan.

Melayani Tuhan adalah tantangan

Ada beban beban berat yang harus kita pikul , misalnya saja dalam hal keteladanan bukankah sebagai pelayanan Tuhan, sisi kehidupan Tuhan harus kita teladani .  Jika tidak, kita belum layak disebut sebagai pelayan Tuhan yang sejati.  Inilah yang dikehendaki Tuhan,  “supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,”  (Filipi 2:15). Itulah kualitas hidup seorang yang melayani Tuhan. Itu bukan hal yang mudah, banyak aral melintang yang harus kita lewati.

Tapi kita jangan Kaget,  bahwa disaat kita bersedia melakukan kehendak Allah di saat itu tantangan muncul dan ini  perlu disadari oleh setiap orang beriman. Jangan heran bila saat kita mulai menggebu-gebu  untuk melayani  atau kita mulai berusaha menerapkan prinsip-prinsip firman Tuhan dalam rumah tangga atau saat kita mulai menerapkan etika kristiani dalam pekerjaan, justru saat itu kita mengalami berbagai tantangan  yang terkadang  menggoncangkan iman kita. Sekalipun demikian, ingatlah bahwa tantangan merupakan sarana di tangan Allah untuk membuat kita bergantung kepada-Nya. Allah ingin kita selalu beriman kepada pemeliharaan serta perlindungan-Nya.

Tidak seorangpun di dunia ini terbebas dari masalah, baik masalah keluarga, masalah pekerjaan, masalah sosial, juga masalah2 dalam pelayanan.  Tuhan mengaruniakan/memberi kita suplemen, yaitu  iman,  akal budi, hikmat, dll  agar kita kuat dan dimampukan menghadapi setiap persoalan hidup.

Kehidupan ini memang sulit. Setiap hari kita menghadapi tantangan kecil, sedang, berat, hingga sangat berat. Tetapi pada dasarnya tantangan kehidupan tidak mengurangi nilai kita sebagai manusia. Sebaliknya tantangan kehidupan sangat diperlukan untuk meningkatkan nilai diri kita.

“Tuhan itu laksana seorang ayah yang tinggal di tepi sungai. Ia tidak memindahkan sungai atau rumah itu agar jauh dari jangkauan anaknya. Melainkan sang ayah melatih kemampuan anaknya agar bisa berenang supaya tidak dihanyutkan oleh air sungai itu.”

 Derajat anda tidak dapat diukur disaat ia berada di alam yang nyaman dan ramah.  Mentalitas yang tangguh   mampu menghadapi tantangan seberat apapun, disitulah derajat anda dapat diukur “ -Donny

 

Selalu bersyukur, tulus melayani Tuhan dan tekun dalam doa adalah kunci untuk menghadapi tantangan dan menjadi orang Kristen yang berkualitas!

tukang2

Minggu 12 Juli 2015 (Yesaya 45:1-3) Jangan batasi Kehendak-Nya sebatas logika


45:1 Beginilah firman TUHAN: “Inilah firman-Ku kepada orang yang Kuurapi,   kepada Koresh   yang tangan kanannya Kupegang   supaya Aku menundukkan bangsa-bangsa   di depannya dan melucuti raja-raja, supaya Aku membuka pintu-pintu di depannya dan supaya pintu-pintu gerbang tidak tinggal tertutup: 45:2 Aku sendiri hendak berjalan di depanmu dan hendak meratakan   gunung-gunung, hendak memecahkan pintu-pintu   tembaga dan hendak mematahkan palang-palang besi.   45:3 Aku akan memberikan kepadamu harta  benda yang terpendam dan harta kekayaan yang tersembunyi, supaya engkau tahu, lbahwa Akulah TUHAN, Allah Israel, yang memanggil engkau dengan namamu.

Sangat mengejutkan!  dan tidak masuk akal, tergemap,terheran-heran, terkesiap,terperengah, terperanjat, tersentak dan yang pasti jemaat GPIB mengutuk bahkan mungkin lebih radikal lagi jika  para presbiter memilih seorang pemimpin dari agama lain…sama halnya  Koresh, raja dari bangsa penyembah berhala, yang tidak mengenal Allah Israel dipakai Tuhan untuk menyelamatkan umat-Nya. Heran dan bingung toh!, MengapaTuhan memanggil, mengurapi, dan memimpin Koresh untuk menaklukkan raja-raja dunia ?. Dan Tuhan sendiri yang memastikan keberhasilan Koresh . Padahal pengurapan dalam Perjanjian Lama ialah penugasan Tuhan kepada orang pilihan-Nya dari umat-Nya untuk jabatan tertentu!

Gak usah  heran dan bingung juga kaget ,  mengapa? ….karena Tuhan berdaulat, berhak, berjaya, berkuasa, bertuah, independen, otonom, swapraja, untuk memakai siapa saja sebagai alat-Nya.  Allah melalui Yesaya memberitahu umat Israel, dan bangsa-bangsa bahwa Koresh adalah alat di tangan-Nya, yang dipakai untuk kebesaran dan kemuliaan-Nya . Tujuan Tuhan, yaitu untuk membebaskan bangsa Israel.  Koreshlah  menjadi “mukhalis” bagi bangsa Yahudi.

Jika kita kaget , heran dan tidak percaya atas  tindakan Tuhan ini, Berarti  kita secara tidak sadar membatasi kehendak Tuhan sebatas logika kita, bukankah itu sering terjadi dalam kehidupan orang percaya?  Apa yang bagi kita di luar logika, Tuhan  sanggup melakukannya. Harus ada kesadaran “spiritualitas” bahwa Tuhan bisa menggunakan siapa saja di luar kehendak manusia walaupun itu orang yang tidak seiman, bahkan mungkin musuh kita…Seperti Koresh dipilih oleh Tuhan untuk melakukan sebuah pelayanan, membebaskan orang Yehuda yang tertawan, membiarkan mereka pulang ke negeri asal mereka dan membiarkan mereka beribadah kepada Tuhan.

Dalam Yesaya 45:1 malah dikatakan “Inilah firman-Ku kepada orang yang Kuurapi, kepada Koresh yang tangan kanannya Kupegang…”. Ketika Tuhan mengatakan Kuurapi biasanya ditujukan kepada: orang yang akan menjadi raja atas Israel ,umat Tuhan,  imam ,  dan Mesias yang akan datang .

Memang cerita ini luar biasa dan tidak biasa. Dia mengurapi seorang raja yang sama sekali tidak mengenal-Nya, untuk membebaskan umatNya dari kekuasaan Babel, mengapa Tuhan tidak mamakai umat pilihan-Nya ?…karena Ia berdaulat dan berkuasa. Bagi kita sebagai orang yang percaya bahkan mungkin fanatik dengan hidup kerohanian kita seperti orang Yahudi  pasti heran cara Tuhan memberlakukan keadilan di bumi,  dengan cara yang Dia ingini. Kebijakan Tuhan yg di luar logika kita mengajak kita berpikir, mengapa?, ada apa?…Kemungkinan Tuhan marah, jengkel dengan umat pilihan-Nya yang tegar tengkuk, tidak menjadi pelaku2 Firman, mereka hidup seperti “manusia duniawi” (baca: ay 7-13)

Allah dapat memakai Gusdur. Perjuangan Gus Dur yang tak mengenal lelah dalam membela hak-hak minoritas menunjukkan kepekaannya terhadap rasa keadilan.  Ingat bagaimana Gusdur berjuang demi orang-orang Tionghoa di Indonesia.  Gusdur berjuang   untuk kebebasan beribadah umat beragama lain.

Tahun ini , bulan Oktober di Balikpapan, GPIB akan mengadakan perhelatan akbar/ Persidangan Sinode 5 tahunan sekaligus pergantian pengurus FMS (Fungsionaris Majelis Sinode).Jika kita melihat respons Gereja/jemaat/presbiter terhadap perhelatan akbar yang menelan beaya fantastis, minimal ada 3 respons.

(1) Bersemangat mendukung dan memilih calon pemimpin-pemimpin  yang baru.

(2). Tidak asal milih

(3)  Menggunakan hak pilih kita

Yesaya 45 mengatakan bahwa Tuhan mengurapi Koresh, seorang raja Persia; artinya, Koresh adalah orang yang dipilih Tuhan untuk menjalankan kehendak dan rencana Tuhan dalam hidupnya. Sebagai alat Tuhan. Dari sini kita dapat memahami bahwa Tuhanlah yang berdaulat di  dunia ini. Semua ada dalam kehendak-Nya, Kita boleh berencana tetapi Tuhan adalah Sang penentu. Kita boleh mengatur strategi siapa2 yang akan kita pilih, mereka yg digadang-gadang sebagai calon pemimpinpun bisa memiliki rencana siapa2 yg akan menjalin kerja sama dengannya, tetapi ingat, Tuhanlah yang menentukannya karena Tuhan tahu, masih banyak di antara kita yang berpikir SEBATAS LOGIKA.

Calon pemimpin2 GPIB , jika Anda2 terpilih teladani tindakan nabi Yesaya yang jujur dan berani menyatakan suara kenabiannya dan menjaga sikap hidupnya, sehingga mereka hidup mereka dapat menjadi sosok “guru”, digugu lan ditiru, yaitu ditaati dan diteladani.

unduhan (6)

Begadang jangan Begadang


Originally posted on Catatan dari Zion kota damai:

BEGADANG 
Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya
Begadang boleh saja, kalau ada perlunya
Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya
Begadang boleh saja, kalau ada perlunya
Kalau terlalu banyak begadang
Muka pucat karena darah berkurang
Kalau sering kena angin malam
 
Segala penyakit akan mudah datang
Darilah itu sayangi badan
Jangan begadang setiap malam

Ketika kita mahasiswa apalagi yang jauh dari keluarga, BEGADANG adalah tema faforit dan hukumnya wajib (kataku). Apabila berkaitan dengan tugas tugas yang menumpuk, ujian semester, biasalah “SKS” sistim kebut semalam  karena  dominasi “yuk kita santai agar otot tidak kejang, yuk kita santai agar syaraf tidak tegang”sangat lekat dalam kehidupan mahasiswa…TERLALU!. Padahal kita tau BEGADANG itu salah satu pola hidup tidak sehat…Yuk kita santai agar otot tidak kejang, yuk kita santai agar syaraf tidak tegang…(pinjam lagi liriknya Rhoma Irama ) untuk mengupas permasalahan BEGADANG

Saudara, coba cek kembali jadwal tidur malam Anda setiap hari…

Lihat yang asli 814 kata lagi