REFLEKSI TEOLOGIS:ARTI BER-TUHAN, BAHAYA PEMUJAAN DAN BERGEREJA


REFLEKSI TEOLOGIS:ARTI  BER-TUHAN, BAHAYA PEMUJAAN DAN BERGEREJA

Apakah karena Overload Bertuhan

Sang kepala gereja adalah Tuhan.  Pertama/yg utama dari dasar gereja tentunya menempatkan FirmanTuhan/Alkitab sebagai pilar utama yang mendasari kehidupan bergereja , dan sudah barang tentu setiap falsafah hidup yang tidak “menyertakan Tuhan”, tidak boleh hidup dan berkembang di dalam gereja. di dalam gereja bukan kekurangan, melainkan kelebihan berbicara tentang Tuhan/Firman Tuhan. Tak ada hari di mana gereja tidak membawa berita yang berkaitan dengan Firman Tuhan dan orang-orang “berkeTuhanan” .  yang menjadi masalah bukan Firman Tuhan, melainkan bagaimana Firman Tuhan dapat dihayati dengan cara membangun persekutuan yg paling intim dengan   Tuhan yesus, bukan sekedar rutinitas yang dapat berakibat fatal. Jadi, ancaman terbesar dalam gereja kita sebenarnya bukanlah ateisme (tidak percaya Tuhan) melainkan overload “berTuhan”—kelebihan berTuhan tetapi sepi menjadi sang pelaku. Sayangnya, fakta menunjukkan realitas yang penuh “berTuhan” dalam gereja  tidak dibarengi oleh transformasi karakter, disiplin rohani dan cara pandang. BerTuhan baru sebatas simbol dan ritual semu.  Ini salah siapa???

Bahaya PEMUJAAN

Dalam Alkitab, dosa yang (mungkin) paling dibenci Tuhan adalah penyembahan berhala. Hukum pertama dalam dasa titah, yang menjabarkan hubungan umat dengan Allah dan sesama manusia—yang bisa pula disebut sebagai dasar kehidupan beragama dan bermasyarakat Israel—dibuka dengan larangan tegas untuk menduakan-Nya, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (Kel. 20:3). Namun menariknya, perintah pertama ini didahului oleh kalimat penting dalam ayat 2, “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan”—yang menurut Muilenburg merupakan “pusat atau fokus dari seluruh pentateukh” bahkan “inti dari seluruh Perjanjian Lama.” Ayat 2 ini penting sebab dengan ringkas-padat termaktub: (1) identitas Allah sebagai oknum Pembebas; (2) identitas mula Israel sebagai people of nowhere—kaum budak tanpa status yang; (3) dibebaskan dari perbudakan untuk memperoleh status baru sebagai umat perjanjian. Apa pointnya? Jauh dari kesan berfokus kepada keagamaan semu, dangkal dan berpusat pada ritual, kehidupan ber-Tuhan Israel didasari oleh sebuah relasi dengan Allah yang personal, dinamis, vital dan berimpak universal. Allah tidak memperkenalkan diri dalam jargon dan wacana keberadaan/eksistensi (ontologis) yang rumit, dan sebaliknya Israel tidak mengenal Allah dalam tataran dogmatika kaku. Sebaliknya Allah dikenal sebagai oknum yang senantiasa bertindak, berintervensi dalam masalah dunia dan rindu untuk mengubahnya menjadi lebih baik. Itulah sebabnya Blaise Pascal mengatakan, “Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub. Bukan Allah kaum filsfuf dan cendekiawan.” Ia Allah historis yang bertindak dan menginginkan perubahan, bukan sekadar refleksi mental-kognitif manusia yang cenderung statis, anti-perubahan dan berpusat pada kemapanan.

Inilah yang membedakan YHWH dengan berhala-berhala sesembahan bangsa-bangsa timur dekat kuno. YHWH adalah Allah yang senantiasa bertindak dalam ketidakberesan dan kejahatan dunia, sedangkan berhala adalah proyeksi semu akan hasrat-hasrat diri yang haus akan kelimpahan material, kestabilan emosional dan jaminan hari depan. Inilah bahaya berhala. Ber-Tuhan diprivatisasikan dan disempitkan soal kepentingan “saya.” Dan tentu privatisasi ini melanggengkan status quo serta membangkitkan apatisme terhadap perubahan. Mengapa? Dampak buruk dari penyembahan berhala bukanlah umat meninggalkan ibadah. Sebaliknya Alkitab menunjukkan semakin banyak berhala disembah, semakin rajin pula mereka beribadah, bergulat dengan teks suci dan mempersembahkan hewan kurban di Bait Allah. Dampak buruk dari penyembahan berhala adalah munculnya keagamaan dikotomis, munafik dan palsu. Privatisasi Tuhan membuat umat punya kehidupan keagamaan yang terbelah. Pada hari ibadah sangat saleh namun dalam keseharian sangat busuk dan kafir. Umat menjadi terbiasa untuk mengikuti selera dan selektif dalam mentaati Tuhan. Dalam keaslian-keseharian dampak ibadah sama sekali tidak nampak! Tuhan hanya dibiarkan menguasai sekelumit kecil area kehidupan umat—sedangkan sebagian besarnya tetap dikendalikan hawa nafsu kedagingan!

Itulah sebabnya mengapa dalam kitab nabi-nabi, teks-teks yang membicarakan kesalehan teologis umat (percaya mutlak kepada YHWH dan penolakan kepada berhala) sering disandingkan sebelah-menyebelah dengan tuntutan kesalehan sosial umat dalam keseharian. Itulah sebabnya pula mengapa penyembahan dan pengenalan yang benar kepada YHWH erat dengan memperlakukan sesama, memutus belenggu kelaliman, memperjuangkan hak kaum lemah dan mengakhiri penindasan (Yes. 58-59; Yer. 9:24; 22:15-16; Am. 5). Kesalehan di Bait Suci harus sepadan dengan kesalehan dalam pekerjaan, rumah, dan masyarakat. Saat kedua hal ini tidak seiring-sejalan, Bait Suci berubah menjadi tidak lagi menjadi center of worship melainkan center of idolatry, agama menjadi musuh Tuhan dan harus berhadapan dengan keadilan Tuhan. Tidak heran jika dua kali dalam sejarah, Bait Allah yang dianggap representasi shekinah-kehadiran Allah itu, dihancurkan dua kali!

Peran gereja/Kita

 

Tuhan Membangun “Jembatan”

Juga karena merasa tertantang untuk menyelamatkan umat manusia, maka tak henti-hentinya Tuhan membangun “jembatan” demi “jembatan” untuk menghubungkan diri-Nya dengan segala bangsa di dunia. Jembatan yang tidak terbuat dari beton dan besi, melainkan manusia yang bersedia menjadi hamba-Nya.

Kalau begitu setiap orang berpeluang menjadi “jembatan” Tuhan, menjadi hamba-Nya, baik sebagai pendeta atau penatua. Itulah maha karya Allah yang tidak boleh dipandang ringan, sebab Tuhan tidak memaksakan kehendak-Nya. Dan manusia sering berani menolak panggilan Tuhan, karena lebih mendahulukan kepentingan sendiri.

Jika Manusia Bersedia Menjadi Hamba Tuhan

Jika ada yang bersedia menerima panggilan Tuhan, menjadi hamba-Nya, maka Tuhan akan sangat berkenan. Orang yang bersedia menjadi hamba Tuhan dengan segala kerelaan dan kesungguhan hatinya, dapat memiliki keyakinan bahwa sejak dari kandungan ibunya, ia sudah dipanggil oleh Tuhan.

Memercayai hal itu tanpa rasa sesal, akan mendatangkan rasa syukur yang sangat mendalam. Sebab baginya, Tuhan adalah segala-galanya. Dengan demikian menjadi hamba Tuhan mendatangkan kepuasan batiniah sebab merasakan bahwa hidupnya bermakna. Maka dorongan untuk memperkenalkan diri kepada lingkungan yang luas bukanlah merupakan suatu kesombongan, sebab dengan demikian justru sedang merendahkan diri sebagai hamba yang siap melayani (Yesaya 49:1).

Hubungan Akrab Sudah Terjalin Dengan Tuhan Sedini Mungkin

Hubungan yang sangat pribadi dengan Tuhan terlukis dalam firman-Nya yang indah. Yang pertama kali memanggil nama kita masing-masing, sesungguhnya adalah Tuhan, sebab Dia yang paling mengenal kita. Tuhan dapat mengenal dengan sangat jelas sebab Dialah yang mencipta dan menghadirkan kita ke dalam dunia ini. Dia merasa perlu secara terus menerus membentuk kita, supaya dapat menjadi seperti yang diharapkan untuk mewujudkan rencana dalam Kerajaan-Nya. Pengutusan menjadi tujuan utama dalam diri setiap hamba-Nya. Sekaligus pengutusan menjadi bukti yang mengharukan bahwa Dia bisa mempercayakan tugas penting kepada orang-orang, yang pada dasarnya sangat rapuh untuk menjawab/menyelesaikan segala permasalahan yang terjadi dalam kehidupan.

MENJADI PELAKU FIRMAN ITU EMANG SUSAH….TETAPI KITA HARUS TETAP BERUSAHA DAN BERUSAHA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s