TANTANGAN DAN PELUANG GEREJA DALAM

MELAYANI MASYARAKAT PERKOTAAN

Tantangan Gereja Dalam Melayani Masyarakat Perkotaan

Dinamika kehidupan masyarakat kota yang kompleks pada akhirnya juga menimbulkan tantangan pelayanan yang kompleks bagi gereja.  Sebagaimana telah diketahui bahwa masyarakat kota terbentuk melalui arus urbanisasi yang mana urbanisasi itu sendiri adalah masalah yang cukup serius.  Persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota akan menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan.  Jumlah peningkatan penduduk kota yang signifikan tanpa didukung dan diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan, fasilitas umum, aparat penegak hukum, perumahan, penyediaan pangan tentu akan menimbulkan masalah-masalah yang pelik di kemudian hari.  Dan masalah-masalah itu pada gilirannya menjadi tantangan dan sekaligus peluang bagi gereja yang melayani masyarakat perkotaan.

Dalam uraiannya Soerjono Soekanto menyebutkan beberapa masalah yang timbul di perkotaan akibat urbanisasi:

Satu.  Perluasan wilayah kota tanpa diimbangi dengan tata kota (plannologi) yang baik.  Orang yang sudah meninggalkan tempat tinggalnya di desa, mempunyai kecenderungan untuk tetap tinggal di kota kecuali apabila ada keperluan penting.  “Di dalam rangka ini, kemungkinan besar urbanisasi mengakibatkan perluasan kota, karena pusat kota tidak akan mungkin menampung perpindahan penduduk desa yang begitu banyak. Timbullah tempat-tempat tinggal yang baru di pinggiran kota.”[6]

Dua.  Timbulnya pengangguran.  Menurut Soekanto:

“Penduduk desa yang berbondong-bondong mencari pekerjaan di kota,
menjumpai kekecewaan yang besar, karena besarnya jumlah mereka yang
mencari pekerjaan, maka timbul persaingan yang datang dari penduduk kota
sendiri.  Orang-orang desa tidak mengerti bahwa mereka harus berjuang
sendiri; di kota tak akan ada orang lain yang mau membantu. Cita-cita yang
muluk akhirnya terhambat, lalu timbul pengangguran yang pada akhirnya
mengakibatkan meningkatnya tuna karya.”[7]

Tiga.  Meningkatnya tuna susila dan kriminalitas.  Selanjutnya Soekanto menyebutkan adanya korelasi antara pengangguran dengan peningkatan tuna susila dan kriminalitas.

“Persoalan meningkatnya tuna karya secara korelatif mengakibatkan
meningkatnya tuna susila, dan meningkatnya kriminalitas. Kriminalitas yang
mula-mula didorong oleh rasa lapar, dapat berubah menjadi suatu pekerjaan
tetap, sehingga timbullah organisasi penjahat yang sangat sukar untuk dicegah
dan diberantas.  Gejala semacam itu banyak dijumpai di kota-kota besar seperti
Jakarta, Surabaya dan lain sebagainya.”[8]

Empat. Timbulnya perkampungan kumuh.  “Pertambahan penduduk kota yang pesat, mengakibatkan pula persoalan pewismaan.  Orang-orang tinggal bersempit-sempit dalam rumah-rumah yang tidak memenuhi persyaratan sosial maupun kesehatan.”

Lima.  Timbulnya masalah kesehatan dan pendidikan.  Kembali Soekanto menandaskan bahwa: “Keadaan yang demikian (rumah-rumah yang tidak memenuhi persyaratan) memberi akibat negatif dalam bidang kesehatan dan yang lebih penting lagi adalah dalam rangka pendidikan tunas-tunas muda.”[9]

Di tempat lain, Haans menyebutkan 7 masalah-masalah akud yang umumnya kita temukan di perkotaan masa kini, yaitu:

“a. Masalah kerja dan pengangguran. Saat ini diperkirakan 40 (empat puluh)
juta pengangguran terdiri dari tenaga kerja trampil dan non trampil. Pekerjaan
tidak selalu disesuaikan lagi dengan latar belakagn pendidikan. Pengangguran
menjadi beban bagi keluarga dan pemerintah. Pengangguran telah
menimbulkan kerawanan sosial….b. Hubungan-hubungan perusahaan dengan
buruh….c. Ketimpangan sosial (kemiskinan, kekayaan dan hidup
sederhana)….d. Perkawinan dan perceraian. Perubahan konsep terhadap
perkawinan, ilah-ilah zaman perkawinan, longgarnya nilai-nilai, komitmen
yang berubah, masalah komunikasi, pendidikan anak, masalah tempat tinggal
dan ekonomi, tindak kekerasan dalam keluarga, perselingkuhan. e. Masalah-
masalah moral. New morality: kota dan kesempatan, masalah-masalah tempat
kost, kontrol masyarakat yang longgar, pergaulan bebas, perselingkuhan,
aborsi, masalah prostitusi, pornografi, pengaruh media, sekularisasi, hedonisme
dan materialisme. Semua ini mempengaruhi moral masyarakat. f. Stress dan
depresi. Stress dan depresi menjadi salah satu masalah yang akut di perkotaan.
Orang stress makin banyak, orang gila bermunculan sementara belum terdapat
pelayanan yang sungguh-sungguh terbeban dalam masalah ini. g. Sadisme dan
kekerasan. Persoalan-persoalan perkotaan telah menimbulkan tindakan sadisme
dan kekerasan (curas, masalah iri hati, sentimen sosial, egoisme, emosi yang
tidak stabil) melahirkan tindakan-tindakan yang tidak lajim.”[10]

 

Peluang Gereja Dalam Melayani Masyarakat Kota

Gereja ada adalah dengan maksud untuk menghadirkan ‘shalom’ ke dalam dunia termasuk kota.  Kata ‘shalom’ mencakup tiga ide:

 

“seutuhnya, well being dan harmony. Claus Westermann mengungkapkan sbb:
“Untuk membuat sesuatu menjadi lengkap, atau untuk membuat sesuatu
menjadi menyeluruh atau menyeluruh. Arti dasar shalom adalah kesejahteraan
material dan jasmani, namun juga diekspresikan dalam lingkup politik dan
militer. Shalom adalah sebuah konsep sosial yang lebih melihat kemakmuran
untuk kelompok daripada untuk individu atau yang melihat kesejahteraan
sebuah komunitas atau sebuah bangsa lebih utama daripada seseorang.
Beberapa ayat yang menggarmbarkan shalom: a. Shalom dalam hubungan (Ul.
6:5); b. Shalom dalam keluarga (Kej. 2:24); c. Shalom dalam komunitas (Kel.

20:12-17).”[11]

 

Karena itu, tantangan yang begitu hebat di tengah-tengah masyarakat perkotaan justru adalah juga sekaligus peluang bagi gereja untuk menghadirkan shalom bagi masyarakat perkotaan.  Gereja tidak cukup hanya menggeluti upaya-upaya pelayanan yang bersifat ke dalam.  Gereja juga perlu melihat ke luar dan di tengah-tengah tantangan yang besar di perkotaan kita melihat banyak gereja yang tetap eksis dan bertumbuh dengan baik serta memberi dampak yang besar bagi kotanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s