Dalam kehidupan setiap manusia merupakan suatu proses menuju tua. artinya, sejak dilahirkan maka seseorang secara fisiologis menjadi lebih tua. Dengan bertambahnya usia, maka akan terjadi perubahan secara fisiologis maupun psikologis, yaitu perubahan

Dari 10 karakteristik isia madya yg telah dipaparkan di atas, yg menjadi konsern dalam penulisan ini adalah karakteristik yang  ke -9 bahwa usia madya merupakan periode masa sepi atau sarang kosong, dan secara lebih spesifik penulis hanya memberikan penekanan pada kaum wanita yg mengalami periode sarang kosong.

Alasan mengapa penulis lebih memberatkan pada wanita, karena periode sarang kosong lebih bersifat traumatik bagi wanita pada usia madya dari pada bagi pria. Ada indikasi mengapa periode sarang kosong lebih bersifat traumatik pda wanita, disebabkan karena wanita cenderung lebih banyak berkecimpung dalam keluarga serta banyak mencurahkan perhatiannya secra penuh pada anak dan rumah tangga, sehingga pada waktu anak-anak sudah masuk  dalam usia dewasa di mana mereka ingin berdiri sendiri dan meninggalkan orang tuanya, maka seorang ibu akan merasa kehilangan peranan intinya sebagai ibu  yang harus merawat anak-anaknya.

dari sini kemudian dapat dimengerti bahwa masalah yg secara umum dialami seorang wanita  pada usia madya adalah faktor kehilangan. Dalam usia ini, wanita merasa kehilangan sesuatu yang bernilai bagi dirinya, seperti kehilangan rasa yang dibutuhkan anak-anaknya, kehilangan rasa kasih sayang suaminya, kehilangan kecantikan, kehilangan pula apa yang setiap bulan mengingatkanya pada kewanitaannya karena telah datangnya menopause dan kehilangan tujuan hidupnya karena tugasnya sebagai ibu dan ibu rumah-tangga telah berkurang.

keadaan seperti di atas dalam bidang psikologis dikenal dengan istilah “Empty nest syndrome” atau “sindrom sarang kosomg”. Sindrom ini pada umumnya dialami oleh wanita yang berusia 40-60 tahun.

tingkah laku dalam motif2 seseorang.

Proses menuju tua merupakan suatu hal yg wajar, dan terjadi pada setiap orang, namun proses menuju tua ini menjadi momok bagi sebagian orang. Oleh sebab itu banyak orang dengan sengaja menghambat perjalanan usia tersebut. Dalam psikologi proses menuju tua ini dinamakan usia madya, di mana rentang usianya antara 40-60 th.

masa usia mdya ditandai oleh adanya perubahan2 jasmani dan mental. Pada usia 60 an biasanya terjadi penurunan kekuatan fisik. Sering pula diikuti olehh penurunan daya ingat. Usia 60 th dianggap sebagai garis batas antara usia madya dan usia lanjut. Oleh karena itu usia mdya merupakan rentang waktu yg panjang dalam kehidupan manusia,biasanya usia tersebut dibagi dalam 2 sub bagian, yaitu; usia madya dini antara 40-50 th dan usia madya lanjut antara 51-60 th. pada usia 40 th, perubahan fisik dan psikologis sudah mulai kelihatan.

Seperti halnya setiap periode dalam rentang waktu kehidupan, usia madya pun diasosiasikan dengan karakteristik tertentu yg membuatnya berbeda. Usia madya diasosiasikan dengan karakteristik tertentu yg membuatnya berbeda. Menurut Elisabeth B. Hurlock dalam buku Psikologi Perkembangan, Suatu perkembangan sepanjang rentang  kehidupan, ia membedakan dalam 10 karakteristik usia madya yg amat penting, yaitu:

1, Usia madya merupakan periode yg sangat ditakuti

Diakui bahwa semakin mendekati usia tua, periode usia madya semakin terasa lebih menakutkan.

2. Usia madya merupakan masa transisi

Seperti halnya masa puber yang merupakan masa transisi dari masa kanak2 ke masa remaja, demikian pula dengan usia madya  yang merupakan masa di mana pria dan wanita meninggalkan ciri2 jasmaninya yang lama, di mana pria mengalami perubahan dalam hal keperkasaan dan wanita dalam kesuburan menuju prilaku yang baru.

3. usia madya merupakan masa stres

Marmor membagi stres dalam beberapa kategori, yaitu:

a. Stres somatik, yang disebabkan oleh keadaan jasmani yang tua.

b. Stres budaya, yang berasal dari penempatan nilai yang tinggi pada kemudaan, keperkasaan dan kesuksesan oleh kelompok budaya tertentu.

c. Stres ekonomi, yang diakibatkan oleh beban keuangan dalam mendidik anak dan memberi status simbol bagi seluruh anggota keluarga.

d. Stres psikologi, yang mungkin diakibatkan oleh kematian suami atau istri, kepergian anak dari rumah, kebosanan terhadap perkawinan, hilangnya masa muda atau mendekati ambang kematian.

4. Usia madya merupakan masa berbahaya,

Usia madya merupakan suatu masa di mana seseorang mengalami kesusahan fisik sebagai akibat terlalu banyak bekerja, rasa cemas yang berlebihan, ataupun kurang memperhatikan kehidupan.

5. Usia madya adalah masa canggung,

di mana pria dan wanita menginjak usia madya merasa bukan muda lagi tetapi bukan juga tua.

6. Usia madya adalah masa berprestasi,

menurut erikson, selama usia madya orang akan menjadi lebih sukses daripada masa sebelumnya atau sebaliknya  mereka berhenti dan tidak megerjakan sesuatu apapun lagi.

7. Usia madya merupakan masa evaluasi,

periode ini merupakan masa mengevaluasi diri, karena biasanya usia madya merupakan saat pria dan wanita mencapai puncak prestasi, maka logislah apabila masa ini juga merupakan saat mengevaluasi prestasi tersebut.

8. Usia madya dievaluasi dengan standart ganda,

Yaitu standart bagi pria dan wanita. Ada dua aspek yang perlu diperhatikan: pertama, yang berkaitan perubahan jasmani.

9. Usia madya merupakan masa sepi (empty nest)

masa ketika anak2 tidak lagi tinggal bersama orang tua. Apabila periode masa sepi atau sarang kosong ini terjadi, berarti pada saat itu ke dua orang tua tersebut harus melakukan perubahan peran, misalnya mencari kegiatan di luar keluarga.

10. Usia madya merupakan masa jenuh,

Banyak pria dan wanita mengalami  kejenuhan pada usia 40-an. Pra pria menjadi jenuh dengan kegiatan rutin sehari-hari dan kehidupan bersama keluarga hanya memberi sedikit hiburan. Bagi wanita yang hanya menga\habiskan waktunya di rumah dan membesarkan anak2 nya, akan bertanya-tanya, apa yang akan mereka lakukan 20-40 tahun yang akan datang.

    Tanda dan gejala sindrom
Tanda dan gejala sindrom sarang kosong menurut  yaitu:
1).  Wanita yang mengalami sindrome ini sering mengalami kesedihan
2).   sering ngelamun seorang diri di kamar
3).   menyimpan sesuatu yg sering digunakan orang-orang yang dikasihi
 bila keadaan ini berlangsung lama maka disebut sindrom sarang kosong. Wanita yang mengalami sindrom sarang kosong akan mengalami krisis kepercayaa
  Faktor Resiko
Saltz (2008) menjelaskan bahwa sindrom sarang kosong dibuktikan dengan adanya kesulitan dalam menghadapi perubahan, yang mana dapat dilihat dari gejala yang muncul, yaitu sedih yang berlebihan, takut akan perannya dalam kehidupan tak dibutuhkan lagi, adanya
 faktor yang mempengaruhi sindrom sarang kosong pada ibu, yaitu keberadaan dan hubungan dengan pasangan, hubungan dengan anak sebelum, saat dan sesudah terpisah serta keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri.
 faktor resiko yang menyebabkan seseorang terkena sindrom sarang kosong (Saltz, 2008):
1).      Orang yang sulit menerima perubahan dan perpisahan
2).      Orang tua yang selalu memberikan waktunya secara penuh
3).      Orang yang mengalami menopause, pensiun dan penuaan
4).      Orang tua yang merasa tidak siap ditinggal pergi anaknya dari rumah
e.    Cara Mengantisipasi
Sindrom sarang kosong tidak akan terjadi jika anda memikirkan bagaimana menghadapi perubahan agar menjadi lebih mudah. Beberapa hal dibawah ini dapat anda lakukan dengan mudah, lebih menggembirakan dan menyenangkan, Saltz (2008):
1).      Membuat perencanaan awal
Mulailah menyusun rencana sedini mungkin dan tanyakan pada anak anda tentang rencana mereka dimasa depan.
2).      Mengerti akan pasangan kita
Lihatlah secara positif, bahwa waktu yang ada adalah milik anda dan suami untuk menumbuhkan kembali sikap romantis, ciptakan privasi dalam rumah, berjalan-jalan dan cari tahu kembali mengenai hal-hal lain.
3).      Buatlah daftar tentang mimpi dan cita-cita anda
Membuat daftar dari pemikiran kita tanpa harus tercapai dan melibatkan anak-anak. Seperti membuat puisi, belajar piano, menemukan sebuah pekerjaan baru atau melanjutkan sekolah karena belajar tidak mengenal usia.
4).      Menghindari perubahan yang terlalu besar
Jangan membuat perubahan yang terlalu besar, berilah waktu pada diri anda dan jangan melakukan sesuatu secara tiba-tiba.
5).      Berbagi dengan orang lain yang mengalami hal sama
Satu masalah yang timbul pada ENS adalah bagaimana mendapakan simpati, karena itu terbukalah kepada orang lain.
6).      Persiapkan anak anda
Persiapkanlah suatu hal yang terbaik bagi anda dan anak anda.
Apabila sindrom sarang kosong terjadi berlarut-larut dan tidak diantisipasi, maka seorang ibu akan menjadi sangat sensitif dan kerap berprasangka negatif. Seorang ibu merasa anaknya tidak lagi menempatkannya di urutan pertama dalam hidup setelah anaknya menikah. Ia merasa anaknya lebih memilih pasangannya daripada dirinya (Indriasari & Ivvaty, 2007).
f.      Cara Mengatasi
Terdapat beberapa cara yang baik untuk mengatasi akibat ENS yang merugikan, yaitu meyakinkan pada diri sendiri bahwa kepergian anak adalah untuk kebaikan masa depannya. Tidak perlu merasa tidak berguna, karena semua bimbingan seorang ibu yang disertai kasih sayang yang mendalam, akan tertanam dalam nurani anak. Menghindari mengungkap sesuatu yang merisaukan perasaan anak. Berbagi rasa dengan teman atau saudara yang mengalami hal yang sama.  Mencurahkan perhatian pada hal yang menyenangkan atau melakukan pekerjaan sesuai hobi (Dewi, 2007).
Menurut Rahmah (2006), penyesuaian awal yang harus dilakukan adalah penyesuaian terhadap keluarga yang dalam hal ini berarti pasangan hidup atau suami, dan secara otomatis menyebabkan harus dilakukannya perubahan peran. Perubahan peran seorang ibu akan menjadi awal penyesuaian diri menghadapi sindrom sarang kosong. Seorang ibu yang masih memiliki pasangan, cenderung lebih mudah menyesuaikan diri dibandingkan dengan ibu yang sudah tidak memiliki pasangan. Keberadaan pasangan sangat berpengaruh dalam mencapai keseimbangan diri seorang ibu setelah kepergian anak, karena orientasi peran dalam hidup kembali berpusatkan pada pasangan. Selain itu, keberadaan pasangan juga mampu mereduksi kesedihan dan rasa sepi pada diri seorang ibu. Untuk ibu yang sudah tidak didampingi pasangan, cenderung mengorientasikan diri pada kegiatan diluar rumah. Dengan melibatkan diri pada kesibukan dan keramaian di luar rumah, seorang ibu mendapatkan kompensasi atas rasa kehilangannya terhadap anak-anak. Kemudian bersamaan dengan berjalannya waktu sebagai pemicu munculnya kebiasaan, seorang ibu akan keluar dari sindrom sarang kosong.

Lebih lanjut Rahmah mengungkapkan bahwa penyesuaian diri seorang ibu yang mengalami sindrom sarang kosong dipengaruhi beberapa faktor, yaitu: kemampuan menjalin hubungan baik dengan orang lain, perkembangan dan kematangan intelektual dan emosi, agama, usia, psikologis, kebahagiaan personal, keyakinan dan percaya diri, serta produktivitas. Bersamaan dengan itu, diidentifikasi pula dinamika penyesuaian diri ibu yang diawali dengan berubah drastisnya keadaan didalam rumah yang memunculkan kesepian dan kesedihan berlarut-larut sehingga dirasakan sebagai tekanan hidup. Lansia perlu mengalihkan diri pada kegiatan-kegiatan tertentu termasuk pendekatan kepada Tuhan, guna membantu meringankan beban dan menerima keadaan dirinya apa adanya sehingga lansia bisa menikmati kehidupan barunya tanpa kehadiran anak-anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s