pertama orang kristen berbeda secara asasi dari non kristen, atau begitulah seharusnya.kedua metafora itu mempertentangkan kedua masyarakat itu. Dunia ini gelap,demikianlah dikatakan Yesus secara tdk langsung, tetapi kamulah yg harus jadi terangnya. Dunia sedang membusuk, tetapi kamulah yg harus menjadi garamnya. dan melindunginya terhadap kebusukan. kalau garam itu menjadi tawar…dengan apa dia di asinkan….gak ada gunanya selain dibuang dan diinjak-injak orang. juga orang tidak menyalakan pelita lalu meletakanya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian…sehingga menerangi semua org di dalam rumah itu. demikianlah hendaklah terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yg baik dan memuliakan Bapamu . Dan melalui kegunaan garam dan terang inilah Yesus kemudian menggambarkan pengaruh yg diharapkan-Nya akan diperankan oleh murid2Nya dalam masyarakat. di dalam gereja ada yg bai ada juga yg tidak baik…tentunya orang yg baik inilah yang membawa suara kenabian….

kebiasaan kita ialah berkeluh kesah tentang kemerosotan moral. Kita diliputi rasa was2 oleh ketiadaan tolak ukur hampir disegala bidang. dengan cemas kita ikuti lewat mas media berita2 yg mencekam tentang peristiwa2 kekerasan,korupsi,penipuan,keserakahan,kemaksiatan, dll. Kita bertanya dalam hati kita ini mau ke mana? lalu kita coba mencari jawaban atas pertanyaan, siapa yg harus disalahkan. Pemerintah? para elit? Masyarakat? atau mungkin juga seluruh bangsa ini?

kita lihat permasalahannya sebagai berikut, jika rumah menjadi gelap karna malam tiba,tdk ada gunanya menyalahkan rumah itu, sebab itulah yg terjadi kalau matahari tenggelam. Pertanyaan yg perlu kita ajukan : di mana lampu-lampunya? Jika daging menjadi busuk tak termakan lagi, maka tdk ada gunanya menyalahkan daging itu, karna itulah yg terjadi bila kuman2 dibiarkan membiak di dalamnya. Pertanyaan yg harus dikemukakan: ‘di mana garamnya?

sepertinya lebih baik kita mendekati problem pelik dewasa ini, dengan jalan mengembangkan akal budi kristiani. Maksudnya, akal budi yg berdiri teguh di atas praduga2 asasi Alkitab, dilenkapi dengan pengertian2 mendalam tentang kebenaran alkitabiah. Hanya akal budi yg demikianlah dapat berpikir secara utuh tentang masalah dunia…

saya berharap gereja jangan semacam “klub”, seperti klub sepak bola, cuma pusat perhatian anggotanya pada Allah.spti orang2 beragama yang melakukan hal2 agamawi secara ber-sama2. membayar uang iuran dan berhak atas kemudahan2 yg disediakan klub bagi para anggota. kita melupakan apa yg pernah dikatakan “seseorang”, bahwa greja adalah badan koperatif satu2 nya, yg keberadaanya semata-mata demi kepentingan mereka yg bukan anggota.

greja memiliki jati diri ‘ganda’, di satu pihak greja adalah suatu umat yg ‘kudus, yg dipanggil dri dunia utk menjadi milik Allah, tapi dilain pihak greja adalah suatu umat yg ‘duniawi’, dalam artian orang2 yg diutus kembali ke dalam dunia utk bersaksi dan melayani…”Keduniawian yang saleh” dr greja

Ada orang kristen dalam kerinduannya setia di dalam greja mendengarkan firman Tuhan, tanpa sadar memutuskan hubungan dengan “masa kini”, mengabaikan segala tantangan di hadapanya. Sebaliknya, ada orang kristen yg dalam kegairahannya menanggapi dunia dalam realitas sosialnya…supaya dengan demikian ternalar menjadi relevan terhadap tantangan masa kini…

perlunya hal keterlibatan gereja/teolog dengan dinamika lingkungannya (ekonomi, sosial, bidaya, politik,ect), gap atas pertanyaan di atas yang dilampaui dalam diskusi ini adalah bukan lagi mempertanyakan soal dasar alkitabiah (walaupun hal ini nantinya kita perlukan), gap pertanyaan yang saya maksudkan seyogyanya kita tidak lagi menggunakan pertanyaan yang sifatnya “menolkan” proses yang telah lama dikerjakan para pendiri gereja menyangkut totalitas keterlibatananya. Jadi pertanyaaannya bukan lagi mengapa orang kristen harus terlibta, namun bagaimana soal kualitas dan kuantitas, format-format keterlibatan gereja/umat dalam penyelenggaraan pelayannan berhadapan dengan kuatnya pengaruh lingkungan dimana misi kerajaan Allah berlangsung. Umat kristen/gereja the facto telah terlibat, dilibatkan dan melibatkan dirinya secara otomatik. Nah bila kemudian pertanyaan dasar alkitabiah ingin kita ketengahkan maka bidikannya adalah apakah keterlibatan gereja selama ini telah berhasil mendasarkan dirinya pada argumentasi tekstual yang esensil dan progresif. Ekspresi pelandasan titik simpul keterlibatan gereja tentunya dapat diukur dengan “gairah berteologinya” yang dapat dibaca dengan tumbuh-sumburnya “Dokumen teologinya.

Injil yang utuh-lah yang akan menutupi lubang menganga di atas. Karena Injil berpihak kepada permasalahan sosial kini dan di sini, Injil pula berbicara tentang TUJUAN akhir yaitu hidup kekal. Jadi, mengapa menggantikan Injil dengan social gospel jika Injil lebih komprehensif?
Sekedar mengutip nas, Filipi 1:6,7:

1:6 Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain,
1:7 yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus.

Saya tahu, nantinya ada yang “tidak terima” jika social gospel-nya dianggap tidak Injili. Untuk itulah kita disini, untuk bertengkar dan bercengkerama, hahaha…

Keterlibatan sosial politik gereja dapat diwujudkan melalui “PROPOSAL REKOMENDASI” yang berisi analisis-analisis kritis terhadap berbagai dinamika persoalan negara/pemerintah. Persoalannya gereja diminta untuk belajar berpikir kritis, metodolis dan sistematis. Karenanya bila GPIB ingin berpartisipasi menggumuli problem kenegaraan sepatutnyalah/lagi-lagi kita harus “BERTERIAK” Lakukan riset-riset mendalam baik menggunakan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif atau mixing metodologi. Kritik bagi GPIB (gereja pada umumnya) baru menggunakan pendekatan-pendekatan kualitatif, ini melemahkan/ketimpangan organissi gereja dalam mendalami isu-isu sosial politik. Lagi-lagi LITBANG mendapat tantangan yang tidak ringan, karenanya pembenahan organisasi ikerjakan secara sistemik!

Apa yang ditawarkan social gospel sudah ada dalam Injil kanonik, bukan hal baru sama sekali, bukan sesuatu yang menambahkan, mengurangi iya. Tanggungjawab sosial gereja tidak untuk melalaikan tanggungjawab Kerajaan Allah. Dalam iman pun saya meyakini, tidak akan ada “produk baru” yang akan menggantikan Injil. Segala usaha yang menyeret warga gereja beramai-ramai meninggalkan gereja Eropa, samasekali tidak membatalkan kebenaran Injil. Kebenaran adalah kebenaran sekalipun tidak ada penganutnya. Lagian, berita tentang keselamatan di dalam salib adalah kebodohan bagi hikmat dunia. Dan pilihan saya menjadi orang bodoh yang memercayai Injil adalah sahih, sama sahihnya dengan kebebasan berpikir seminarian. Berangkat dari kebebasan berpikirku, aku memilih percaya bahwa Yesus sajalah juru selamat, yang lain makin ketinggalan! Hehehe… kayak iklan Yupiter MX.

Di Perusahaan yang maju, ada Corporate Social Responsibility (CSR), istilah lainnya “Sustainibility Policy” (keberlangsungan), yang terdiri dari 4 pilar: Ecological Sustainibility, Social Sustainibility, Energy Sustainibility dan (tentu saja) Economics Sustainibility.
Perusahaan yang ingin langgeng, berkelangsungan, akan mempunyai (sub-)departemen Sustainibility ini. Kegiatan Sustainibility antara lain memastikan hubungan relasional dengan para rekanan, bahkan penduduk lokal dimana perusahaan berdiri. Bisa dalam bentuk membantu pembangunan musola, membagi sembako, memprioritaskan perekrutan penduduk lokal, partisipasi dalam ibadah kurban, dll.
Namun, CSR atau Sustainibility bukanlah untuk menggantikan tujuan fundamental dari perusahaan: mencari keuntungan ekonomis. Tanpa mencapai tujuan fundamental ini, perusahaan berubah jadi panti asuhan dan panti jompo saja.
Sama, gereja juga, ada missi sosial sekaligus missi “kristenisasi”, hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s