DISKUSI TENTANG PERMASALAHAN YG TERJADI PADA GKI YASMINASMIN BOGOR


bagaimana dan apa yang harus dilakukan lakukan Greja2/kita melihat permasalahan yang terjadi pada GKI Yasmin Bogor…????

Tidak Suka ·  · Berhenti Mengikuti Kiriman · 10 Oktober jam 11:20

  • 50 dari 52
    • Martha Belawati Tarihoran mungkin cari aman saja…..”Diam itu emas”, ada nggak yang berpikir: ibadah aja dah…dengar Firman Tuhan, “pelaku firman”, makan tidur…yang penting aman…hahahaha

      10 Oktober jam 14:00 · Suka
    • Martha Belawati Tarihoran Ada PGI….ada majalahnya oikumene…tapi sepertinya utk kalangan sendiri…ini sepertinya lho…….bener x ya eklusif…..”Raksasa dalam tempurung”

      10 Oktober jam 14:04 · Suka
    • Eka Christiawan dalam istilah TAA, gereja seringkali terjebak dalam “mastrubasi” ilmiahnya sendiri.

      10 Oktober jam 14:07 · Suka
    • Martha Belawati Tarihoran bisa juga majalahnya masuk di google….tapi gak semua yg baca

      10 Oktober jam 14:08 · Suka
    • Martha Belawati Tarihoran Bom greja di solo…..sepi,sunyi,senyap,………….greja masing dengan “kesibukkannya sendiri”

      10 Oktober jam 14:13 · Suka
    • Eka Christiawan bukan semakin memperkaya diri terhadap segala hal yang tengah bergolak dan berubah disekitarnya..gereja lebih sesring asik sendiri dengan segala program yang ada disusun baik dalam progja gereja pribadi, mupel dsb. jarang sekali bahkan mungkin hanya ada beberapa saja gereja secara umum dan GPIB secara khusus yg mau duduk bersama berdialog dan menjalin kerjasama dengan sdr2 yg berbeda tadi..gereja (GPIB) seringkali lebih eksklusiv dan tidak mau terbuka terhadp hal2 diluar sana yg mau tidak mau harus dihadapi. seberapa jauh germasa menanggapi hal ini? apakah ada didalam makalah germasa membicarakan sikap GPIB terhadap “kemajemukan

      10 Oktober jam 14:14 · Suka
    • Martha Belawati Tarihoran baru wacana….hahaha, tapi masing2 greja berjalan sendiri…gak perlu komando

      10 Oktober jam 14:16 · Suka
    • Eka Christiawan selain jender? karena kemajemukan sangatlah kompleks..kalau saya tidak salah ingat waktu itu sebenarnya di SBU bulan maret 2011 mungkin) ada ditulis terkait dengan upaya Yesus berbicara dengan seorang perempuan samaria di pinggir sumur, dalam hal ini saya belajar di SBU tentang sikap YEsus yang telah mau lebih dulu berbicara dan membuka diri, mengundang perempuan samaria yg tentu konteks latabel kita semua tahu, ..ada upaya meruntuhkan tembok2 keeksklusifan YAhudi…bagaimana dgn gereja kita? apakah upaya2 meruntuhkan tembok2 keesklusifan itu telah ada dan nyata dalam gereja kita? ataukah hanya menjadi sebuah wacana saja dalam hal in seperti yg saya katakan tadi…gereja hanya “bermastrubasi” ilmiah/pelayanan saja..(mencari aman sajalah…)

      10 Oktober jam 14:17 · Tidak Suka ·  1 orang
    • Eka Christiawan ada yg menarik dari GPIB paulus DKi, beberapa waktu yg lalu sempat melakukan dialog interfaith…tapi yang hadir hanya 16 orang…sungguh..menyedihkan…ternyata jemaat kurang care terhadap interfaith…bagaimana dengan pendeta2 GPIB?

      10 Oktober jam 14:19 · Suka
    • Mario Christoper Theodoran Timbuleng Ijinkan saya memberikan komentar pribadi dalam forum ini..GKI yasmin adalah bentuk lain dari hilangnya kepedulian pemerintah terhadap kebebasan beragama..kedua, mari dalam hal ini kita melepaskan apa yang kita sebut denominasi..bukankah kita semua orang Kristen harusnya melihat apa yang dialami GKI Yasmin bisa jg menimpa kita? Meminjam istilah sdri. Eka, gereja cari “aman” dan istilah vulgar “bermasturbasi” adalah bentuk kritik sosial terhadap apa yang terjadi..mungkin tidak semua gereja menutup mata, hanya tidak tahu harus bagaimana..seharusnya apa yang dibincangkan dalam forum ini membuahkan aksi-reaksi-reflektif..jgn sekedar “buah2″ manis wacana saja, butuh aksi dan reaksi diakhiri dengan refleksi..ketiganya tidak bisa dipisahkan, kalau hanya sekedar aksi aksi-refleksi tanpa reaksi? Apa gunanya?

      10 Oktober jam 15:12 melalui seluler · Tidak Suka ·  1 orang
    • Martha Belawati Tarihoran sebenarnya kita ga usah tunggu-menunggu…..kita yang harus berkreatifitas….

      Selasa pukul 15:23 · Suka
    • Martha Belawati Tarihoran sebenarnya kalau sudah berlarut-larut, dan pemerintah acuh tak acuh..atau pura2 buta…entah apa lagi…kalau kita berusaha secara “duniawi” ya sia2….walaupun PGI mengecam pun dah brapa kali…toh tetap terjadi juga……

      Selasa pukul 15:39 · Suka
    • Martha Belawati Tarihoran dan terjadinya keradikalan terhadap greja….membawa pertanyaan apakah kita/greja turut berperan di dalamnya…….

      Selasa pukul 15:40 · Suka
    • Martha Belawati Tarihoran bahkan tidak menutup kemungkinan…agama2 lain turut berperan di dalamnya

      Selasa pukul 15:47 · Suka
    • Martha Belawati Tarihoran mengapa dulu aman2 saja kok sekarang nggak….mengapa? …apa itu adalah bagian dari resiko jika kekristenan bertumbuh pesat….atau apa?

      Selasa pukul 15:48 · Suka
    • Martinus Unun Pattiwaell Di Jemaat “Immanuel” Smd ada 1 sektor yg mau dikembangkan menjadi jemaat mandiri sejak 8 thn lalu, tanah utk gedung gereja sdh ada, 2 tahun lalu semua persyaratan sdh dilengkapi ttp kembali mentah krn ada komplain lagi. Tp, ada jg gereja2 lain dg. mulus dpt membangun gedungnya. Satu tantangan yg perlu digumuli tidak sj dlm usaha tapi juga dengan doa. Teringat kesaksian seorang Pnt yg ayahnya adalah Pendeta (non GPIB) di Madura, bagaimana pergumulan dlm doa itu betul2 dilakukan bahkan timpukan batu dr. masy. setempat dikumpulkan satu per satu dan diletakan di bawah mimbar seraya didoakan. Dan, akhirnya atas perkenan Tuhan, Gedung gereja pun dpt dibangun disana melalui ijin tokoh yg menjadi panutan masy. setempat.

      Selasa pukul 16:31 · Tidak Suka ·  2 orang
    • Martha Belawati Tarihoran DOA ADALAH NAFAS KEHIDUPAN KITA….

      Selasa pukul 16:34 · Suka
    • Martha Belawati Tarihoran KADANG2 KITA HARUS “TULUS SEPERTI MERPATI CERDIK SEPERTI ILMUWAN” (BL. PADATU)

      Selasa pukul 16:36 · Suka
    • Martinus Unun Pattiwaell Setuju Martha Belawati Tarihoran, jg perlu dibarengi dg. kesabaran. Upaya2 pembelaan, advokasi dan pressure group ttp perlu dilakukan oleh institusi pada aras nasional dg. berpola cerdik spt ilmuwan itu shg kebijakan agama yg mmg menjadi tanggungjawab pemerintah pusat dpt lebih fair gitu.

      Selasa pukul 17:01 · Tidak Suka ·  1 orang
    • Martha Belawati Tarihoran oke bapak….karena apa pun yang kita/greja lakukan…..selalu mental…karena pemerintah buta dan tuli mungkin…..tapi gak semua greja hehehe…..Hanya doa yang bisa menembus semua kebuntuan….

      Selasa pukul 17:05 · Suka
    • Martinus Unun Pattiwaell Kalo perlu, diadakan gerakan keprihatinan dlm bentuk doa dan puasa bersama secara sinodal, momentumnya pas jk mendekati atau sesudah HUT ke 63 GPIB, hehehe

      Selasa pukul 17:17 · Tidak Suka ·  2 orang
    • Martha Belawati Tarihoran saya sangat setuju…

      Selasa pukul 17:33 · Suka
    • Dee Siregar segala bentuk pelanggaran human rights-termasuk hak untuk beribadah dgn bebas dan aman, bila tidak dapat diatasi pemerintah, maka akan ada sorotan dari

      Selasa pukul 18:29 · Tidak Suka ·  1 orang
    • Dee Siregar sambungan: sorotan dari PBB dan dunia international. dan akan dilanjutkan dengan tekanan2 dunia international-yg dapat menyudutkan dan mengisolasi negara kita, terutama dalam ekonomi dan pertahanan keamanan. negara2 yg tidak dapat menjamin human rights segenap lapisan rakyatnya step by step akan kolaps oleh karena dis integrasi sosial dan tekanan international.

      Selasa pukul 18:36 · Tidak Suka ·  1 orang
    • Martha Belawati Tarihoran Jelas ya bang..kalau begini terus indonesia akan menjadi sorotan dunia……karena pemerintah gak mampu…takut….bahkan mungkin berperan…..

      Selasa pukul 18:53 melalui seluler · Suka ·  1 orang
    • Dee Siregar saat inipun sudah jadi sorotan dunia barat dan usa. tekanan2 ekonomi bisa dilakukan dengan mengisolasi aktifitas export import, investasi modal asing berkurang drastis dgn alasan tidak adanya jaminan keamanan.

      Selasa pukul 19:05 · Tidak Suka ·  1 orang
    • Agust Priambodo bukan mencari aman dan bukan pula brdiam diri… keterlibatan kita/gereja dlm setiap dinamika sosial disekitarnya memberikan nilai tambah bg pelaksanaan dan prkembangan jemaat. Sprti contoh menjalin silahturahmi/kerjasama dgn ormas2 keagamaan; GP Ansor, Banser. Kedekatan dan kekuatan loby kita dipemerintahan jg mempengaruhi upaya2 yg kita/gereja lakukan disaat sprti GKI Yasmin. Tdk lepas dr semua usaha dan jalinan sosial yg ada, secara institusi dan brsama-sama menyatakan sikap keprihatinan atas prlakuan diskriminasi dinegeri(katanya) yg menjunjung demokrasi ini… setuju sekali dgn adanya action Doa & Puasa serentak bg kebebasan melaksanakan ibadah di NKRI.

      Selasa pukul 19:33 · Tidak Suka ·  2 orang
    • Mario Christoper Theodoran Timbuleng langkah konkrit, datangi mereka..lihat situasi dari dalam bukan analisis luar yang semua bisa lakukan dan memberi komentar..sudahkah kita melakukannya?

      Selasa pukul 19:39 melalui seluler · Suka
    • Dee Siregar pertanyaan sederhana saja: apa yang gereja bisa perbuat bagi toleransi umat beragama, jika jaminan keamanan beribadah saja sudah tidak ada ???

      Selasa pukul 19:45 · Suka
    • Octovianus Marthen Luther Atalaka Bila perlu semua perwakilan gereja gereja Protestant ikut beribadah di trotoar pada suatu hari minggu yang disepakati bersama, kalau bisa ditempuh jalan darat saya ingin mengambil photonya

      Selasa pukul 19:49 · Suka ·  1 orang
    • Eka Christiawan beberapa waktu yg lalu saya sempat diskusi dengan seorang teman yg merupakan utusan dari GKI pengadilan bogor dan sangat mengetahui tentang GKI YAsmin..suatu sore saya bertanya,” gimana sih sebenarnya GKI taman yasmin itu? kok sampe segitunya aparat dan masyarakat? dengan entengnya teman saya ini menjawab..ya…GKInya juga kayak gitu..saya tanya lagi maksud ngana? jawaban dia,” tidak bisa salahkan masyarakat dan pemda serta aparat, karena dalam masalah ini GKI yasmin juga turut ambil bagian. gimana enggak, karena merasa gereja yang cukup berkelimpahan dalam hal dana, mereka (oknum perwakilan dari GKI yasmin) waktu itu tidak pernah mau menjalin silaturahmi yang baik dgn warga sekitar dan memiliki pemahaman sempit bahwa segala sesuatu bisa selesai dengan uang! warga sekitar pun diberi sejumlah uang (dan ini pernah disaksikan oleh ybs.). singkat cerita, hal ini terulang..msalah kembali timbul, uang digunakan untuk menyumpal mulut2 dan aksi protes warga sekitar. uang ada, pergolakan dan protes surut. uang habis, warga minta lagi ke GKI YASMIN, dan diberi lagi sejumlah uang..begitu terus..apakah ini yang dinamakan upaya menjalin silaturahmi yang baik dgn warga sekitar? saya rasa tidak! dan saya sedikit terheran2 juga, ketika kmi akan mengakhiri diskusi sore itu..dari mulut teman saya keluar statment GKI yasminnya juga sih cari gara2..dipikirnya semua masalah bisa selesai hanya dengan sejumlah uang? salam kasih

      Selasa pukul 20:33 · Tidak Suka ·  1 orang
    • Eka Christiawan menghadapi perlakuan2 yg sering dianggap”tidak adil” tadi oleh sebagian kalangan kristen, bgaimana seharusnya sikap kita/GPIB? berpuasa dan berdoa, tentu sangat bagus, ini merupakan salah satu bentuk dari solidaritas bagi sdr2 kita yg seiman, tapi saya rasa itu tidaklah cukup! demikian juga dengan beribadah di trotoar jalan pada suatu minggu, ini pun juga tidaklah cukup! apalagi membalas, Tuhan tdk pernah mengajarkan demikian. ora et labora, harus ada wujud konkret, jangan hanya wacana, berapa banyak Gereja yg turut mendoakan kedamaian bagi setiap pemeluk agama, dan berapa banyak dari Gereja2 GPIB yg turut mendoakan kasus YAsmin ini didalam ibadah Pelkat, maupun ibadh minggu? dan sudahkah kita mendatangi sdr2 kita di GKI taman yasmin, serta menepuk pundak mereka sambil berkata, sdr.ku, engkau tdk sendirian, kami disini turut berdoa dan memberikan dukungan dalam menghadpi masa2 sulit ini? sudah adakah? kalau sudah ada syukur Puji Tuhan, jika belum, mari kita wujudkan agar ini tidak hanya menjadi sebuah wacana belaka.

      Selasa pukul 20:45 · Suka
    • Martha Belawati Tarihoran MCTT@ kalau saya terlalu jauh datang ke sana…hehehe, kenapa nggak kamu aja……saya pingin tahu langkah kongkrit apa yang sudah kamu ambil….hahaha

      Selasa pukul 22:46 · Suka
    • Martha Belawati Tarihoran MCTT@ kamu ajarin kita langkah kongkritnya gimana?… apa emang langkah konkrit harus liat situasi dari dalam…emang kalau kita melakukannya harus lapor dulu…hehehe, apakah doa bukan langkah konkrit….namanya aja forum diskusi

      Selasa pukul 22:54 · Suka
    • Martha Belawati Tarihoran MCTT@ posting di atas…apa yg harus dilakukan greja melihat permasalahan yg terjadi pada greja GKI yasmin Bogor…….dan kamu bantulah apa yg harus dilakukan greja….

      Selasa pukul 22:58 · Suka
    • Martha Belawati Tarihoran dulu orang mau buat pesawat ,ke bulan awalnya juga wacana…..

      Selasa pukul 23:04 · Suka
    • Eka Christiawan iya bu..heheheh…tapi wacana itu kemudian ada tindak lanjut..klo gak pasti gak pernah ada yg kebulan..dan tentu gak akan ada tekhnologi2 seperti skrg..wacana perlu..realisasi terhadap sebuah wacana itu pun diperlukan

      Selasa pukul 23:06 · Tidak Suka ·  1 orang
    • Martha Belawati Tarihoran Eka@ berarti komen saya bahwa greja turut berperan di dalamnya terbukti…..Uang lagi uang….jadi kita gak perlu berdoa dan puasa….hehe

      Selasa pukul 23:09 · Suka
    • Martha Belawati Tarihoran sebab itu saya bilang kita harus yang berkreatifitas…karena kita adalah greja…

      Selasa pukul 23:11 · Suka
    • Martha Belawati Tarihoran banyak yang bereaksi lewat google….hehehe

      Selasa pukul 23:11 · Suka
    • Eka Christiawan iya, memang gereja seringkali turut berperan didalam menghadirkan kekerasan, tdk hanya pada kasus Yasmin dan gereja2 lainnya..oleh krn itu tdi saya mengatakn kita memberi dukungan doa, smg pergumulan mereka yg timbul karena mereka sendiri dapat terselesaikan seturut dgn kehendak Tuhan..hehehe..mungkin yg perlu kita memberi dukungan doa dan puasa adalah pemerintah supaya sadar deng mereka2 punya kebusukan…sebagai bentuk gereja mengecam ketidaktegasan pemerintah dan aparat..seperti yg dilakukan oleh ketua PGI beberapa waktu yg lalu bersama dgn para pemuka agama yg lainnya..(meski pak yewangoe dkk tidak puasa bersama hehehe)

      Selasa pukul 23:13 · Tidak Suka ·  1 orang
    • Martha Belawati Tarihoran itu sudah saya lakukan…..dengan mengirim ke beberapa greja untuk menaikkan syafaat kita…terhadap ketidakadilan terhadap greja…lewat blog saya….beberapa jam yg lalu…mungkin doanya selama ini kurang sungguh2 hehehe…..jadi dibelokan ke tempat lain—-

      Selasa pukul 23:18 · Suka ·  1 orang
    • Eka Christiawan waduh dibelokkan kemana tuh bu??hehehe doa yg dibelokkan? baru dengar..ada2 saja ibu ini..jd kita sudah sampai di conclusion ini ataukah belum? siapakah yg bertugas membuat kesimpulannya? hehehe..diskusi yg menarik apalagi kalo dikaitkan dengna realitas sejarah perjumpaan kristen dan islam hoohohoh bsia panjang sekalii dan membelok jauh2 dari pokok utama, seperti doa tadi…hehehhe

      Selasa pukul 23:21 · Suka
    • Agust Priambodo beberapa waktu yg lalu satu dr dua pos pelayanan kami disini jg ditutup… prmasalahanya mrk (org2 muslim) tdk suka ada 2 gereja (Gereja Baptis & Pospel Gpib) didlm satu komplek perumahan yg kurang lebih ada 300an KK itu, padahal org kristen didlm perumahan itu hanya 30an KK sdg mrk hanya punya satu mushola utk 200an KK lebih… blm lagi kecemburuan sosial yg timbul krn jemaat yg hadir wkt ibadah memakai mobil sdg mrk hanya naik spd angin, spd motor bhkn ada yg jalan kaki. Sejak medio maret 2011 pospel Gpib tdk boleh lg digunakan utk bribadah sdg GB masih boleh dgn beberapa prsyaratan dan ijin2 yg sampai saat ini masi diurus… ada wacana kita akan pinjam tmpt ibadah GB spy tdk trkesan ada 2 gereja lg tp kita masi hrs menunggu keputusan sidang kongresial tua2 gereja GB apakah setuju dipinjam pakai o/ Gpib ato tdk, disini GB menghadapi dilema… satu sisi ingin membantu sdr seiman disisi lain mrk trancam akan ditutup total sama sprti pospel Gpib…

      Rabu pukul 0:04 · Suka
    • Martha Belawati Tarihoran AP@ kecemburuan sosial yg ter jadi itu salah atau benar

      Rabu pukul 0:09 · Suka ·  1 orang
    • Martha Belawati Tarihoran salahnya “obet” atau “acang”

      Rabu pukul 0:13 · Suka
    • Agust Priambodo pospel Gpib berjalan sejak tahun 2005an sdg GB dari tahun 2003an, wkt itu tdk ada masalah… (mungkin mrk blm “ngeh” kali) yg bkn kebetulan rumah utk pospel Gpib dan pastori brselang 3 rmh dgn mushola yg ada… 6thn brjalan dan trnyata ada saja alasan yg dicari2 utk menghentikan pribadahan…
      ;pengalaman dan pelajaran sangat brharga bg kita utk kembali brserah dlm doa kpd Tuhan Yesus sembari kembali menjalin silahturahmi dgn warga disekitar… bkn hnya dgn kata2 tp dgn tindakan dan action yg benar2 mendarat mulus dihati mereka (warga sekitar) bhw gereja hadir bkn menjdi kaum exclusive
      -mohon dukungan doanya jg utk proses yg sedang brjalan sampai saat ini…

      Rabu pukul 0:47 · Tidak Suka ·  2 orang
    • Martha Belawati Tarihoran kadang kita tidak mennyadari bahwa kita mengeksklusifkan diri…tidak membaur……banyak yg lainnya…saya dah komen di posting2 yg lama tentang masalah ini….buka wordpress saya..ada tentang diskusi yg saya kumpulkan menjadi tulisan…greja yg misioner

      Rabu pukul 0:54 · Suka ·  1 orang
    • Dee Siregar Perlu mengadakan dialog karya lintas agama, yg dilanjutkan dengan karya2 nyata di masyarakat yg mayoritas non kristen.

      Kemarin jam 11:16 · Tidak Suka ·  3 orang
    • Martha Belawati Tarihoran dialog karya lintas agama ada sih tapi belum membuming….mungkin banyak greja yang “traumatik” dengan kejadian2 yg dialami….sering dalam dialog terjadi “kepincangan”

      Kemarin jam 13:11 · Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s