dipersembahkan untuk Hut GPIB: Gereja bagai Bahtera


GEREJA BAGAI BAHTERA YANG MENAPAK Damai Sejahtera  UNTUK Hidup Saling Membangun  dengan sesama

 ROMA 14:19

Gereja Bagai Bahtera

Gereja bagai bahtera di laut yang seram
mengarahkan haluannya ke pantai seberang.
Mengamuklah samudera dan badai menderu;
gelombang zaman menghempas, yang sulit ditempuh.
Penumpang pun bertanyalah selagi berjerih:
Betapa jauh, di manakah labuhan abadi?

Refrein:
Tuhan, tolonglah! Tuhan, tolonglah!
Tanpa Dikau semua binasa kelak.
Ya Tuhan, tolonglah.

Gereja bagai bahtera pun suka berhenti,
tak menempuh samudera, tak ingin berjerih
dan hanya masa jayanya selalu dikenang,
tak ingat akan dunia yang hampir tenggelam!
Gereja yang tak bertekun di dalam tugasnya,
tentunya oleh Tuhan pun tak diberi berkah!

Gereja bagai bahtera diatur awaknya,
setiap orang bekerja menurut tugasnya.
Semua satu padulah, setia bertekun,
demi tujuan tunggalnya yang harus ditempuh.
Roh Allah yang menyatukan, membina, membentuk
di dalam kasih dan iman dan harap yang teguh.

Gereja bagai bahtera, muatannya penuh,
beraneka manusia yang suka mengeluh,
yang hanya ikut maunya, meng’ritik dan sok tahu,
sehingga bandar tujuan menjadi makin jauh.
Tetapi bila umatNya sedia mendengar,
tentulah Tuhan memberi petunjuk yang benar.

Gereja bagai bahtera di laut yang seram,
mengarahkan haluannya ke pantai seberang.
Hai kau yang takut dan resah, kau tak sendirian;
teman sejalan banyaklah dan Tuhan di depan!
Bersama-sama majulah, bertahan, berteguh;
tujuan akhir adalah labuhan Tuhanmu!

Di jaman semakin berkembang ini greja seharusnya bersatu dan pandai2 mengarahkan haluannya agar greja tidak terjerumus kedalam “amukan samudra dan badai yg menderu”…jika tidak ,kita tidak akan menemukan “labuhan abadi”.

Sebagai greja/orang Kristen, kita jangan terlau mengeksklusifkan diri dari dunia tempat kita hidup, sehingga kita tidak tahu bahwa “dunia hampir tenggelam”.

Greja harus bersatu padu, setia bertekun,
demi tujuan tunggalnya yang harus ditempuh.
Roh Allah yang menyatukan, membina, membentuk
di dalam kasih dan iman dan harap yang teguh

Gereja berisi beraneka manusia yang suka mengeluh,
yang hanya ikut maunya, meng’ritik dan sok tahu,
sehingga bandar tujuan menjadi makin jauh.
Tetapi bila umatNya sedia mendengar,
tentulah Tuhan memberi petunjuk yang benar

Dengan mengacu syair greja bagai bahtera…..kita dituntut untuk saling bersatu menjadi jemaat yg missioner dan bersifat universal. Indonesia adalah Negara kita..”rumah bersama” membutuhkan kita untuk tampil ke depan menggumuli realitas sosial yg terjadi di Negara ini bersama agama2 lain.

Tugas greja di tengah masyarakat /bangsa indonesia yg sedang ada dalam permasalahan, salah satunya berjuang bersama sama dengan dgn agama2 lain, mewujudkan masyarakat yg lebih manusiawi berdasarkan apa yg dianggap sama, yaitu asketisme yg bersifat profetis. bersama-sama berjuang menggarami masyarakat sehingga menjadi dekat pada cita cita Kerajaan Allah. Jika garam itu didiamkan aja, dia akan diinjak-injak orang.

Kita adalah bagian dari masyarakat, dan kita pun ikut terlibat dalam kesulitan, masalah, dan pengharapan yang dialaminya.

pemahaman iman kita sebagai orang kristen harus menjadi alat komunikasi antara umat bearagama dan dalam masyarakat Indonesia yg sedang dalam permasalahan maupun dalam membangun.tetapi greja hars mawas diri jangan sampai ada pemikiran bahwa mereka merasa terganggu dengan sikap kita, seolah olah kita memiliki jawaban atas segala permasalahan. sebab ada kesan bhw greja merasa dapat membuktikan kebenaran agama kita secara ilmiah.

Alkitab banyak berbicara tentang tanggung jawab sosial kita. Nabi-nabi Perjanjian Lama menegur mereka yang mengabaikan orang miskin dan memanfaatkan orang lemah. Kehidupan manusia dipengaruhi oleh dosa, dan setiap upaya untuk memajukan masyarakat akan selalu tidak sempurna.

Greja seharusnya merenungkan ulang dan memperbaruhi pemahaman teologisnya dengan mengacu pada kemanusiaan Yesus mendorong munculnya kristologi yg dialogis komunikatif, sebab dr situ kita  dapat mengkontruksikan dasar-dasar  kontekstualnya di tengah masyarakat yg kini dan yang akan datang.kita harus memiliki suatu pemahaman baru agar kita dapat memberi tempat bagi saudara2 kita yg beragama lain…jangan intelektual kita kita simpan dalam “istana orang berhikmat” .
Kita harus mengurangi penderitaan, dan menyingkirkan akar masalah ketidakadilan, prasangka ras, kelaparan, dan kekerasan. Kita bekerja demi hidup yang tenang dan tentram serta harkat manusia bagi sesama. Mengapa? Karena Allah mengasihi dunia yang menderita ini. Yesus melihat kerumunan orang dan “tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan” (Matius 9:36).

kita harus merenung ulang/atau sudah saatnya kita memikirkan dan merumuskan suatu pehaman teologi yg menempatkan agama2 lain dalam teologi kita.

Dalam sejarah kemanusiaan yesus,,,, Ia sangat peduli dengan pribadi manusia secara keseluruhan termasuk lingkungan masyarakat tempat manusia itu hidup. Apakah kita juga memiliki kepeduliaan-Nya?

Keberadaan anak-anak Tuhan di muka bumi ini adalah untuk menjadi jawaban atas segala permasalahan yang ada di sekitarnya.tidak benar demi identitas kita harus memisahkan diri dr yg lain karena bangsa/indonesia adalah “rumah bersama”…tidak benar kita dapat berkembang tanpA dipengaruhi oleh agama lain. Juga tidak benar bahwa pemahaman iman greja adalah sesuatu yg dapat dirumuskan dalam “tempurung”.Justru identitas itu harus selalu berkembang dalam hubungan dengan perkembangan agama2 lain.

pembakaran,perusakan,penutupan, dll yg bersifat anarkis pada greja di negri kita adalah suatu sinyal.alaram yg serius memperingatkan,bahwa cara2 “memperluas dan memperkokoh greja” dengan gaya ” kolonial imperial” sudah ketinggalan jaman.

kita harus sungguh-sungguh memperjuangkan perwujudan Kerajaan Allah dengan makin terbuka satu sama lain dalam kejujuran dan kerjasama yang baik..tidak berjalan sendiri-sendiri.

memberikan teladan bagaimana sesungguhnya hidup dalam damai-sejahtera dan saling membangun. Keteladanan ini seharusnya terpancar keluar, kepada seluruh masyarakat dan agama2 lain agar merekapun mampu hidup dalam damai sejahtera dan saling tidak mempersalahkan satu terhadap yang lain.

kata-kata bijak:

“jadikan lidahmu semanis madu dan sesejuk hamparan air di gunung-gunung Tuhan, karena dengan begitu Ucapanmu  melukiskan nilai dan kualitas dari dirimu untuk membawa damai dan membangun setiap orang yg mendengarnya.” ~Martha belawati

“Buatlah matamu setinggi gunung yang dapat melihat apa yang terjadi dan sedalam lautan yang mampu mengisi semua yang ada di alam ini, karena dari situlah  keberanian,kejujuran,dan ke-ikhlasan-mu menghadapi segala hal”  ~Martha belawati

“Tuhan membentuk tangan kita, karena kelak dari tangan2 ini kita mewakili pekerjaan-Nya  sebagai pendamai, jangan biarkan tanganmu mengejar kecurangan dan kejahatan.” ~Martha belawati

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s