Kematian Sebuah Gereja

Seorang pendeta merasa sedih dengan keadaan gerejanya di suatu kota kecil yang 90% umat kristen.

Jemaatnya makin lana makin sedikit….sibuk mengejar materi, sampai lupa/malas  ke greja

Pendeta itu berpikir bagaimana caranya agar jemaat mau datang lagi ke greja?

akhirnya ia mendapat solusinya, pendeta itu memasang pengumuman di koran bahwa gerejanya telah mati

dan ia bermaksud mengadakan upacara penguburan yang akan diadakan Minggu siang.Rupanya pengumuman itu

menarik perhatian warga kota itu.

Warga kota itu ingin tahu bagaimana upacara itu akan dilakukan.

Maka merekapun datang ke gereja pada saat upacara itu dilakukan.

Di depan mimbar ada sebuah peti mati.

Pendetapun membacakan khotbahnya,

kemudian ia mempersilahkan jemaat untuk maju ke depan

untuk menyampaikan rasa hormat pada yang meninggal.

Suatu antrian panjang terbentuk.

Setiap orang menjenguk ke dalam peti mati lalu kembali dengan wajah bersalah dan malu.

Di dalam peti dipasang sebuah cermin besar.

Setiap orang melihat dirinya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s