HIDUP DENGAN TIDAK BERCELA


Kejadian 17:1-6

17:1 Ketika Abram berumur   sembilan puluh sembilan tahun  , maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram  dan berfirman kepadanya: “Akulah Allah Yang Mahakuasa,  hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.17:2 Aku akan mengadakan perjanjian   antara Aku dan engkau,   dan Aku akan membuat engkau sangat banyak.  ” 17:3 Lalu sujudlah   Abram, dan Allah berfirman kepadanya: 17:4 “Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau:Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.17:5 Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham  ,   karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.17:6 Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak;engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamuakan berasal raja-raja.

Mengapa Tuhan mau  menampakkan diri-Nya dan mengadakan perjanjian dengan Abraham?

Karena Tuhan melihat ketaatan Abraham terhadap-Nya sangat luar biasa, sehinga Allah menampakkan diri. Dan ada petisi  dari Allah agar Abraham hidup dengan tidak bercela.

Tuntutan Allah terhadap Abraham, karena Dia memiliki suatu draft untuk menjadikan Abraham sebagai bapa sejumlah besar bangsa, di mana bangsa-bangsa dari keturunan Abraham ini kelak menjadi raja-raja.

Tuntutan Allah ini mutlak harus dilakukan Abraham, bahwa dia harus hidup tidak bercela. Allah menuntut bahwa Abraham harus mengabdi sepenuhnya untuk melaksanakan kehendak Allah, agar dapat menerima perjanjian Allah, Iman Abraham harus disertai ketaatan.

Dengan kata lain, semua janji dan mukjizat Allah hanya akan terjadi ketika umat-Nya berusaha untuk hidup tidak bercacat dan hati mereka tetap terarah kepada-Nya

kontemplasi

“Berbahagialah orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat Tuhan” (Mzm. 119:1). Alkitab menyebut orang yang hidup menurut Taurat Tuhan sebagai orang yang berbahagia. Berbahagia berarti diberkati. Kalau sekarang orang akan menyebutnya kehidupan yang sukses.

Adapun hidup, dalam bahasa Inggris sering dinyatakan dengan kata to walk, berjalan. Alkitab antara lain menggambarkan kehidupan kita di dunia ini sebagai perjalanan. Jadi, berjalan mewakili kehidupan, gaya hidup dan perilaku kita. Kita akan berbahagia kalau kita berjalan atau hidup menurut Taurat Tuhan.

Kita dapat meneropong  kehidupan Abraham. Sebelum menyatakan perjanjian-Nya, Tuhan berfirman kepada-Nya, “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kej. 17:1).  Dalam terjemahan Inggris diungkapkan sebagai kalimat majemuk, “Walk before me, and be thou perfect.” ‘Berjalanlah di hadapan-Ku dan hendaklah kamu sempurna.’ Kalimat ini mengandung arti kausatif. Tuntutan Tuhan kepada Abraham sebenarnya sekaligus merupakan suatu peringatan, bahwa apa yang diperbuat manusia Tuhan mengetahuinnya. Ada tuntutan kesadaran akan keberadaan-Nya. Dengan mentaati-Nya maka kehidupan kita akan sempurna, tidak bercela, seperti dialami oleh Abraham.

Sekarang ini, ketaatan bukanlah topik yang populer di dunia. Ketaatan juga bukan bahasan yang disenangi di gereja. Kita senang membicarakan berbagai hal, asalkan tidak usah menyinggung-nyinggung masalah ketaatan.

Ketaatan selalu disimpulkan dengan pemahaman…… “Tidak boleh berbuat ini” dan “Tidak boleh melakukan itu.”  Dalam Alkitab ketaatan merupakan topik yang membumi  di dalam seluruh Firman Allah. Hidup taat memang tidak semudah membalik telapak tangan, tapi harus kita lakukan dan itu “harga mati” dari Tuhan.

Ayat-ayat pendukung

“Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat. Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanlah terus. Karena mereka tidak dapat tidur, bila tidak berbuat jahat; kantuk mereka lenyap, bila mereka tidak membuat orang tersandung; karena mereka makan roti kefasikan, dan minum anggur kelaliman” (Ams. 4:14-17).

Kesimpulannya? “Jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari. Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung” (Ams. 4:18-19).

Jadi, akhirnya, “Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu” (Ams. 4:26). Jalan yang rata dapat melambangkan ketaatan yang simple, tidak berbelat-belit penuh pertimbangan, dan langsung dilakukan. Untuk taat, juga diperlukan konsistensi — hendaklah tetap segala jalanmu

Kritikus

Sering kita tidak menyadari, bahwa kita lebih senang berbicara tentang Allah daripada berbicara dengan Allah. Seorang mahasiswa teologi mengundurkan diri dari kuliahnya karena ia merasa semangatnya menurun, imannya melemah, dan ketertarikannya kepada kekristenan mulai memudar. Padahal ia pandai dan sering lulus dengan nilai cum laude. Kemudian ia menyadari bahwa kegagalannya disebabkan karena selama ini lebih tertarik untuk berbicara tentang Allah daripada berbicara dengan Allah.

Allah bukan pengetahuan, melainkan Pribadi. Allah hadir di dalam hidup kita bukan untuk dipelajari, melainkan untuk dikenal. Hosea 6: 3 dan 6 ditulis: “Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi. Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” Bila kita ingin agar kehidupan kita bergairah dan berarti, maka kita harus hidup bergaul dengan Allah. Bila kita belum melakukannya, mari segera melakukannya, jangan tunggu sampai rohani kita mati.

Sampai saat ini belum ditemukan alat ukur yang dapat mengukur seberapa tinggi  hubungan seseorang dengan Allah merupakan hal yang sangat subyektif, hanya Allah dan orang itu sendiri yang mengetahuinya. Sangatlah sulit untuk melakukan pengukurannya. Ada 4 ciri orang Kristen.

Pertama:

orang Kristen KTP (Kristen Tanpa Pertobatan), yang selama hidupnya datang ke Gereja hanya ketika dia dibaptis, menikah, dan meninggal dunia.

Kedua:

orang Kristen biasa-biasa, yang datang beribadah kalau lagi senang ke Gereja.

Ketiga:

orang Kristen sungguh-sungguh, yang benar-benar suka beribadah dan melayani Tuhan.

Keempat:

orang Kristen munafik, yang ketika di Gereja tampak mirip sekali dengan orang Kristen sungguh-sungguh.

Antara orang Kristen sungguh-sungguh dan yang munafik sangat sulit dibedakan, sehingga orang sering salah sangka. Salah satu ukuran eksternal dari kesungguhan kehidupan Kristen seseorang adalah melalui buah roh yang keluar dari dalam dirinya (kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri – Gal. 5: 22-23). Inipun masih dapat dimanipulasi, karena Iblis itu dapat menyamar sebagai “malaikat terang.”  Orang Kristen yang sungguh-sungguh, mengeluarkan buah karena ia telah diselamatkan, sedangkan orang Kristen yang tidak sungguh-sungguh, mengeluarkan buah untuk mendapat keselamatan, atau untuk memperoleh popularitas diri, dan sebagainya.

Ukuran secara internal terpulang kepada kita masing-masing. Ada 3 pertanyaan yang dapat membantu kita:

Pertama:

Apakah kita berjalan dengan Allah?

Kegagalan yang dialami banyak anak Tuhan adalah ketika dia mengizinkan Tuhan berjalan dengan dia hanya di tempat-tempat tertentu. Kemudian memisahkan diri dari Tuhan lalu mengikuti jalannya sendiri ketika dia mau berbuat dosa.

Kedua:

seberapakah rasa takut kita akan Allah?

Takut dalam pengertian merasa kagum dan hormat disertai gentar terhadap Allah.

Ketiga:

seberapakah kerinduan kita untuk berjalan di dalam kehendak Allah?

Di dalam Maz. 25:14 yang kita baca tadi tertulis: “perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.” Orang yang bergaul karib dengan Allah tentu akan berjalan di dalam kehendak Allah. Di dalam keakraban kita dengan Allah, kita harus mencapai tingkat ini yaitu berjalan di dalam kehendak Allah, dan ini berarti bahwa kita tidak lagi berjalan di dalam kehendak diri sendiri. Mungkin saat ini kita tidak lagi berjalan di dalam kehendak Iblis, tetapi ada anak-anak Tuhan yang masih berjalan di dalam kehendak diri sendiri.

Simpulan

Pertimbangkanlah dua pernyataan ini. “Tuhan, aku mau melakukan segala sesuatu bagi Engkau di dalam hidupku.” “Tuhan, aku mau melakukan apa yang Engkau mau aku lakukan bagi-Mu di dalam hidupku.”

Marilah kita memeriksa diri kita, seberapa karibkah hubungan kita dengan Allah. Bila selama ini kita hanya mengetahui tentang Allah, marilah segera mengambil keputusan untuk mengenal Allah dan memulai suatu hubungan yang akrab dengan Allah.

By: Martha Belawati-

One thought on “HIDUP DENGAN TIDAK BERCELA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s