kemiskinan


 Roma 8:28-29
Beliung meliuk liuk mengarah  ke hati dan menyebit pilar-pilar diri
ku hampir tak piawai berdiri.

Sekali lagi aku bertanya pada diri sendiri, benarkah kemiskinan separah ini ?

KEMISKINAN bukan ungkapan asing bagi kita. Masing-masing pikiran kita punya persepsi tentang yang mana “miskin” dan mana “tidak miskin” atau “kaya”. Setiap saat kita dijejali dengan sekian produk “pemiskinan” yang membuat kita secara tidak sadar, mengkondusifkan proses “memiskinkan” diri sendiri.

 Siapa yang miskin itu ? 

Ada 3 kategori. pertama:, ditinjau dari segi ekonomik, ada orang yang miskin karena ketiadaan materi, mereka yang terhempas dari segala kebutuhan hidup primer.  Kedua: Ditinjau dari segi sosial, ada orang yang miskin akibat penindasan, yang merupakan kurban ketidakadilan , dan ketidakberdayaan. Ketiga: ditinjau dari segi spiritual,ada orang miskin yang rendah hati, yang sadar akan ketidakberdayannya dan mengharapkan pertolongan hanya dari Allah. Dalam masing masing kasus ini Allah tampil membela mereka, sesuai sifat uniknya, bahwa ‘Ia menegakkan orang-orang yang hina dari dalam debu’

Setiap kita menganggap kemiskinan sebagai bentuk cobaan. Dalam kriteria moralitas  kemiskinan bahkan dipandang sebagai pembalasan atas dosa-dosa yang telah diperbuat seseorang atau sekelompok orang pada waktu-waktu sebelumnya, termasuk kemalasan dan keserakahan.

Singkatnya, terdapat “kondisi global” yang melingkupi orang-orang yang miskin atau yang rentan menjadi miskin, yang memaksa mereka untuk – mau atau tidak mau, sadar atau tidak, menjadi miskin. Kondisi global yang secara sistemik telah memperkecil ruang-ruang ekspektasi dan kreatifitas hidup mereka, memposisikannya tetap di level suboordinat.

 

kontemplatif

Kita memiliki alasan yang sama untuk tidak melihat kemiskinan menganga di depan mata, setidaknya untuk memastikan bahwa kita juga masih punya nurani,  kita mempunyai kepedulian dan menginginkan kebahagiaan bersama, keceriaan berbagi dan keselamatan universal, tanpa sedih, duka dan air mata kelaparan.

Bila kita dapat memilih berapa banyak kesulitan hidup yang akan kita hadapi hari ini, tentu kita akan memilih angka nol. Namun Allah justru meletakkan tujuan di dalam setiap kesulitan yang kita hadapi. Dengan kuasa-Nya Dia memakai setiap pengujian kita untuk menggenapi rencana-Nya.

Salah satu tujuan Allah mengizinkan kesulitan hidup untuk kita alami adalah agar kita semakin intim dalam persekutuan kita dengan-Nya. Allah tahu bahwa kita seringkali bergumul dalam memberikan prioritas bagi-Nya. Banyak dari antara kita menempatkan prioritas yang lebih tinggi pada keluarga dan teman-teman daripada pada persekutuan dengan Allah. Ada juga yang memprioritaskan uang, pekerjaan atau bahkan hobi. Dan pada saat Tuhan melihat bahwa kita cenderung menjauhi-Nya, Dia dapat saja memakai kesulitan hidup demi menarik kita kembali sehingga kita dapat memberikan kepada-Nya tempat yang selayaknya.

Kesulitan hidup yang kita alami dapat memunculkan area-area yang tidak kudus ke permukaan; Allah juga menggunakan kondisi ini untuk memproses, membentuk dan memangkas kita. Proses pengudusan itu yakni pembangunan karakter KRISTUS di dalam hidup kita.

Tapi yang harus kita ingat; “Kemiskinan bukanlah sebuah kutukan, tapi ia ada karena diciptakan”. Tidak semua orang senang dikatakan miskin.

Jadi tunggu apalagi segera angkat sauh Anda. Segeralah berlayar bersama angin. Tinggalkan pelabuhan “kemiskinan”. Kapal tidak dibuat hanya untuk membumi  di sana. melangkahlah dalam kembara. Bermimpilah. Temukanlah sesuatu!”

Buang lah karya kemiskinan dalam diri. Pandanglah kedepan, Dunia akan menjadi lebih baik jika manusia jeli melihat potensi terbaik yang mereka miliki. Mereka pun juga giat memberikan sesuatu yang terbaik dari yang mereka miliki.

Kata bijak :

tak ada yang abadi, ini pasti berlalu

“Jika ingin sukses, Buanglah mental miskin jauh-jauh supaya dia tidak menghambat jalan anda menuju kesuksessan”—By: Martha belawati

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s