“GEDUBRAK”


GEDUBRAK,….“Aduuh….tolong….”, demikian jeritan terdengar yang tiba-tiba memecah keheningan.

Siapa yang tidak kaget, jeritan itu memecah keheningan. Itu jeritan membuat kekagetan dan beberapa jemaat, blingsatan dan mengeluarkansumpah serapah karena latah…. beranjak datang untuk mendekati dan menolongnya sambil berbisik marah.
Siapa yang tidak kaget ?,siapa yag tidak terlonjak ?,pikiran Siapa yang tidak terenggut sesaat ? , Siapa tidak tercengang ?, siapa yang tidak tergemap ?, siapa yang tidak terkesiap?, siapa yang tidak terpengarah ?, siapa yang tidak tersentak (dah banyak ne) , pokoknya semua perasaan yang sangat tidak aenak akan berebutan…kocar-kacir dan tunggang-langgang berebutan dan berdesak-desakan keluar semua karena ada sesuatu yang terjadi diluar dugaan, belum lagi yang latah dengan sumpah-serapah.
Kalau ini terjadi di rumah, kantor dan di lapangan mungkin nggak menimbulkan banyak pertanyaan “siapa-siapa dan siapa” , tetapi ini terjadi dalam ibadah gereja hari minggu. jemaat lagi serius, khusyuk, dan terpesona dengan pemberitaan Firman Tuhan dari sorang hamba Tuhan……tiba-tiba… GEDUBRAK, seorang jemaat jatuh terjerembab…..Hamba Tuhan itu kaget sambil mbatin; “apa kah itu pengaruh Firman yang kuberitakan” (narsis)…… Jemaat itu rupanya tertidur….mungkin mimpi nyempung (terjun) di sumur….(setelah bangun)…nggak taunya nyemplung di lantai.

serius ne
Jika respon atau kaget karena mendengar petir yang menggelegar, respon kita setelah kaget tarik nafas dalam-dalam. Jika kaget waktu mendengar berita duka dari keluarga baik dari orang tua, oma, opa, paklek, bulek, pakde, bude, responnya terisak, menangis biasa dan meraung-raung (beda dengan srigala) karena perasaan kehilangan. Kaget waktu domepet hilang, responnya langsung menghubungi dan melapor pada polisi. Semua kaget di atas bisa digolongkan dalam kaget yang biasa, karena responnya juga biasa……walaupun nelongso (sedih)
Tapi kejadian kaget di gereja tersebut, setelah saya renungkan, …….Responnya berbeda dengan kaget- kaget yang lain. Emang sih sepertinya kejadian sederhana, Selagi kusyuk mendengar Firman Tuhan, tiba2 terdengar suara GEDUBRAK keras sekali.
Tapi cerita tidak hanya sampai disini. Karena jemaat terganggu dan KAGET tadi, moodpun jadi berubah dan tidak ada kekusyukan lagi, merasa berhak untuk marah, ya jadinya setelah ibadah selesai para jemaat sebagian menegur jemaat yang “GEDUBRAK” tersebut dengan mengatakan, mengapa tidur di gereja kok nggak di rumah aja. “GEDUBRAK” Buyar deh… kedamaiannya…. Pulang nggak bawa berkat malah bawa cerita…. “GEDUBRAK”. Si “GEDUBRAK” jadi merasa bersalah dan langsung pamit ngibrit pulang (mungkin lanjutin tidur).

Sebenarnya yang paling menderita adalah si “GEDUBRAK” itu… karena:
pertama, dia sudah sangat malu dan kaget sendiri karena tidak bisa mengontrol dirinya…mungkin jika wajahnya bisa dilepas …udah dilepas dan dimasukin kekantong, atau disimpan dalam dompet, ‘aha’…mungkin juga dimasukin dalam sela-sela Alkitab…sangking malunya.
kedua, mungkin saja dia terluka akibat benturan keras tadi (malah lupa nanya)
ketiga, dia dikagetin lagi dengan melihat jemaat yang melompat dan menjerit kaget,
dan masih ditambah lagi dengan teguran yang nadanya menyalahkan (bukan bersyukur karena dia selamat)…
lengkap sudah penderitaannya…. kalau saja….
Ternyata disaat kagetpun sebenarnya kita dituntut untuk menjaga hati. Kekagetan bisa membawa kita kepada tindakan yang keliru. Tentu saja yang paling baik adalah menjaga hati di segala hal, setiap saat.

Amsal 4:23
Jagalah HATImu dengan segala keWASPADAAN, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s