Pendeta juga manusia


 

Mencuci Piring
Setelah makan malam, seorang ibu dan putrinya bersama-sama mencuci mangkuk dan piring, sedangkan ayah dan putranya menonton TV di ruang tamu. Mendadak, dari arah dapur terdengar suara piring yang pecah, kemudian sunyi senyap. Si putra memandang ke arah ayahnya dan berkata,

“Pasti ibu yang memecahkan piring itu.”

“Bagaimana kamu tahu?” kata si Ayah.

“Karena tak terdengar suara Ibu memarahi orang
lain.”

Pedagang Jeruk VS Pedagang Koran
Suatu pagi di Bus umum ada penjual jeruk dan koran berusaha mengais rezeki sambil menjual barang dagangannya.

Pedagang jeruk : “Jeruk,jeruk! !pagi-pagi enaknya makan jeruk bisa nambah vitamin, ketimbang baca koran nggak ada gunanya”. (sambil melirik pedagang koran).

Pedagang Koran :(Dengan kesal ulah pedagang jeruk) “Berita hangat, berita hangat!! Ada beberapa orang mati sehabis makan jeruk”
Pedagang jeruk :?!???! (melongo)

Seruan Hati Seorang Engkong
Dahulu aku muda,
sekarang aku telah menjadi tua.
Dulu aku tampan,
sekarang keriput ada di mana—mana.
Dulu aku di panggil engkoh,
sekarang aku di panggil engkong.
Dulu aku sering ke diskotik,
sekarang aku sering ke dokter.
Dulu selalu make minyak wangi,
sekarang selalu make minyak gosok.
Dulu tidur beradu hidung,
sekarang tidur beradu punggung.

Ini adalah seruan orang-orang yang tidak lagi memilik pengharapan di masa tuanya. Adakah kita juga akan menjadi salah satu dari mereka saat kita sudah masuk di usia senja nanti?
Bukankah Allah sendiri berkata bahwa pengharapan kita tidaklah akan hilang, sekalipun kita telah menjadi tua. Dan pengharapan ada pada Allah dan bukan pada dunia fana ini.
Amsal 23:18: “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang”.
(Diambil dari AkuPercaya.com)

Waktu Perang Dulu

Seorang Opa bercerita tentang pengalamannya kepada cucunya, Ungke.
Opa : “Waktu opa perang dulu, opa badiri paling muka (Dulu, waktu Opa ikut perang, Opa berdiri paling depan)
Ungke : “Wah, Opa jago e,trus opa…” (Wah, Opa jagoan ya, trus Opa?)
Opa : “Opa tembak tuh samua musuh deng senjata, 20 orang, 50 orang samua dorang opa tembak” (Opa tembak semua musuh dengan senjata, 20 orang, 50 orang, semua Opa tembak).
Ungke : “Kita pe Opa memang jago. Terus Opa…?” (Opaku memang jagoan. Terus Opa?).
Opa : “Trus bagitu, pas waktu dorang datang dengan 100 orang opa ley nyanda mundur.” (Terus, ketika mereka datang dengan 100 orang, Opa nggak mundur).
Ungke : “Waduh, Opa nya tako dorang mo tembak pa opa?”
(Waduh, Opa nggak takut ditembak musuh?)
Opa : “nyanda..!” (Nggak..!)
Ungke : “Memang kita pe opa ini dang paling jago deng barani se Manado.” (Emang Opa-ku ini memang paling jago dan pemberani se Manado).
Opa : “Opa bukang jago ato barani ungke, mar karna dibelakang opa itu ada jurang, jadi nyanda bisa mundur.” (Opa bukan jago dan berani, Ungke, tapi karena di belakangnya Opa ada jurang, makanya nggak bisa mundur).
Ungke : “Pe mar butul ni opa.” (Dasar Opa! Ngerjain aja!).

Jam dan Parfum
Seorang gadis cilik sangat bangga akan hadiah Natalnya: jam dan parfum yang baru pertama kali itu ia miliki. Ia benar-benar menjadi pengganggu sepanjang hari — menghampiri seluruh kerabatnya lalu menempelkan jamnya di telinga mereka dan memaksa mereka mencium parfumnya.
Seorang pendeta akan bertamu ke rumahnya untuk makan siang. Tapi sebelum pendetanya datang, ibu gadis itu berkata, “Jika kamu menyebut-nyebut jam dan parfum itu sekali lagi saja, aku akan mengurungmu di kamar seharian.”
Makan siangnya berjalan mulus dan gadis cilik itu menahan mulutnya sampai makanan penutup dihidangkan. Ia ingin memastikan bahwa pendeta itu juga tahu akan jam dan parfumnya. Maka ia berkata, “Jika Anda mendengar sesuatu atau mencium sesuatu …, itu pasti aku!”

Bulan Promisi
Seorang penjahat kelas kakap tertembak mati oleh polisi. Langsung saja dia dibawa oleh iblis ke neraka. Namun alangkah terkejutnya ia ketika mendapati bahwa suasana di neraka sungguh indah..ada taman penuh bunga, banyak artis top berseliweran, bahkan ada taman bermain yang semuanya free alias gratis!
Langsung saja ia melangkah masuk namun ia ditahan oleh si iblis, kata si iblis: “Tunggu dulu..waktumu belum tiba..kamu akan aku kirim kembali ke dunia, berbuatlah jahat lagi maka kunjungan berikutnya pasti kamu akan masuk neraka…”
Walaupun kecewa, sang penjahat menuruti si iblis.. Ia dikembalikan ke dunia berbuat lebih jahat lagi dan akhirnya ia mati tertembak…
Ia diantar kembali oleh iblis yg sama namun kali ini ia kaget setengah mati, neraka terlihat merah oleh api dimana-mana terdengar jeritan dan tangisan ditengah kebingungan ia bertanya pada si iblis “Loh khan neraka bukan seperti ini kemarin, mana taman bunganya? Mana artisnya? Dan taman bermainnya?”
Si iblis tersenyum sambil berkata: “Ooooh….yang waktu itu bulan promosi….”

Kopi Panas
Seorang pelayan restoran yang frustasi karena tidak mendapatkan libur di malam Natal menyuguhkan secangkir kopi panas kepada seorang tamunya tanpa memberikan sendok untuk mengaduk kopi tersebut.
Untuk menyindir kelalaian si pelayan, tamu tersebut berkata, “Kopi ini sangat panas … dan jika aku menggunakan jariku untuk mengaduknya pasti jariku melepuh karena kepanasan!!”
Sang pelayan lalu masuk ke dalam dapur. Tidak lama kemudian dia muncul dengan membawa satu cangkir kopi lagi dan berkata, “Mungkin yang satu ini tidak terlalu panas dan aman untuk jari Anda, Tuan!”

Pulang Kampung
Seorang pria di Manado menelepon anaknya yang ada di Jakarta sehari sebelum malam Natal dan berkata, “Aku tidak bermaksud merusak harimu, tapi aku harus memberitahumu bahwa aku dan ibumu akan bercerai; sudah cukup aku menderita selama 45 tahun.”
“Apa yang Papa bicarakan?” teriak anak laki-lakinya.
“Kami tidak dapat bersama lagi,” kata sang ayah. “Kami saling benci dan saya sudah muak membicarakan hal ini, jadi teleponlah kakak perempuanmu di Bali dan katakan padanya mengenai hal ini.”
Dengan kalut, ia menelepon kakaknya di Bali, yang kemudian berteriak di telepon, “Mereka tidak akan bercerai! Aku akan menangani masalah ini.”
Ia segera menelepon ke Manado dan berteriak kepada ayahnya, “Papa nggak akan cerai. Jangan lakukan apa pun sampai aku tiba di sana. Aku akan menelepon adik dan kami akan tiba di sana besok pagi. Jangan lakukan apa-apa sampai kami tiba di sana, mengerti?” Ia menutup teleponnya dengan kesal..
Pria itu menutup teleponnya juga dan berkata kepada istrinya, “Oke,kita berhasil” katanya, “mereka akan pulang saat Natal dan mereka juga membayar ongkos perjalanannya sendiri!”

Cape’ Dech!
Seorang anak kelas satu SD tidak mau bergabung dengan teman-teman sebayanya yang dengan ceria ngobrol tentang liburan Natal. “Apa kamu ngga suka liburan Natal?” tanyaku. “Nggak terlalu,” akunya. “Capek, karena orang tuaku selalu menghadiri banyak sekali kebaktian Natal, dan aku harus selalu ikut.” “Loh, orang tuamu pendeta, ya?” tanyaku lagi penasaran.
“Bukan, hanya anggota gereja biasa,” jawabnya, “kami harus selalu ikut agar mama tidak perlu masak lagi di rumah, cape’ deh.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s