JANGAN SOK


Daniel 7:1-10

1. Pada tahun pertama pemerintahan Belsyazar, raja Babel, bermimpilah Daniel dan mendapat penglihatan-penglihatan di tempat tidurnya. Lalu dituliskannya mimpi itu, dan inilah garis besarnya:
2. Berkatalah Daniel, demikian: “Pada malam hari aku mendapat penglihatan, tampak keempat angin dari langit mengguncangkan laut besar,
3. dan empat binatang besar naik dari dalam laut, yang satu berbeda dengan yang lain.
4. Yang pertama rupanya seperti seekor singa, dan mempunyai sayap burung rajawali; aku terus melihatnya sampai sayapnya tercabut dan ia terangkat dari tanah dan ditegakkan pada dua kaki seperti manusia, dan kepadanya diberikan hati manusia.
5. Dan tampak ada seekor binatang yang lain, yang kedua, rupanya seperti beruang; ia berdiri pada sisinya yang sebelah, dan tiga tulang rusuk masih ada di dalam mulutnya di antara giginya. Dan demikianlah dikatakan kepadanya: Ayo, makanlah daging banyak-banyak.
6. Kemudian aku melihat, tampak seekor binatang yang lain, rupanya seperti macan tutul; ada empat sayap burung pada punggungnya, lagipula binatang itu berkepala empat, dan kepadanya diberikan kekuasaan.
7. Kemudian aku melihat dalam penglihatan malam itu, tampak seekor binatang yang keempat, yang menakutkan dan mendahsyatkan, dan ia sangat kuat. Ia bergigi besar dari besi; ia melahap dan meremukkan, dan sisanya diinjak-injaknya dengan kakinya; ia berbeda dengan segala binatang yang terdahulu; lagipula ia bertanduk sepuluh.
8. Sementara aku memperhatikan tanduk-tanduk itu, tampak tumbuh di antaranya suatu tanduk lain yang kecil, sehingga tiga dari tanduk-tanduk yang dahulu itu tercabut; dan pada tanduk itu tampak ada mata seperti mata manusia dan mulut yang menyombong.
9. Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar;
10. suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapan-Nya; seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri di hadapan-Nya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-kitab.
Intro
Apakah arti sebuah nama?” demikian Shakespeare berkata. Betapapun sederhana, sebuah nama pasti me-miliki makna. Nama menjadi sebuah tanda, harapan, janji, atau yang lain. Nama “Daniel” berarti “Tuhan adalah hakimku”. Dan pemuda Yahudi yang turut diangkut ke pembuangan di Babel ini, telah sungguh-sungguh hidup sesuai makna namanya.Daniel dengan beberapa temannya sebagai orang buangan terpilih menjadi pegawai raja adalah rancangan Tuhan. Sebuah status elite bagi orang buangan. Sebagai pegawa raja tidak membuat Daniel “Angkuh”.  Sebagai pegawai raja, ia perlu menganalisa keadaan dan membuat banyak pilihan  sambil tetap membuka diri pada kemungkinan-kemungkinan bahwa pilihannya bisa jadi keliru . Di situlah ia me-ngandalkan Allah yang adalah hakimnya, yang dapat menolongnya mengambil keputusan yang benar.  Daniel kerap dihadapkan pada situasi-situasi pelik di mana ia harus memilih dan memutuskan sikap—memilih makanan, mengartikan mimpi, membaca tulisan di dinding, menyerahkan diri pada keadilan Allah ketika di gua singa. Dan dalam segala situasi itu, ia membuat pilihan-pilihan yang penuh integritas dan berdasarkan petunjuk Tuhan.Intermezo

kekua­saan sering membuat orang jadi pelit senyuman, kehilangan empati akan kebaikan, dan yang paling menonjol membuat orang berhobi memamerkan kekuasaan di sana-sini.

Banyak orang punya kekuasaan atau kekuatan uang atau massa, apalagi punya status sosial yang tinggi, sering tidak sabar memperjuangkan gagasan-gagasan mulianya. Kekuasaan dan kekuatan uang dan massa yang dimiliki sering diekspresikan dengan pamer kekuasaan, kekuatan dan pengaruhnya. Kekuasaan dan kekuatan itu hendaknya digunakan untuk memperjuangkan gagasan muli dengan penuh kasih.

Fenomena

Apakah memamerkan kekuasaan merupakan fenomena…… Mengapa manusia selalu cenderung   memamer kekuasaan? Mengapa demikian?
memamerkan kekuasaan… bisa dimengerti sebagai perilaku yang disengaja dan bertujuan melukai karena super ego mendominasi.  Motif yang mendasari adalah penyalahgunaan kekuasaan serta hasrat menjalankan intimidasi dan dominasi terhadap sesama.

Konsep yang lebih detail dikemukakan Ken Rigby (2003) yang mengatakan tindakan itu melibatkan hasrat untuk melukai dan diwujudkan dalam tindakan. Munculnya tindakan itu akibat dari ketidakseimbangan kekuasaan yang dimiliki oleh individu-individu. Aspek penting lain, tindakan itu merupakan penggunaan kekuasaan yang tidak adil yang dilakukan secara terus-menerus (repetitif).

nah lo, memamerkan kekuasaan   merupakan fenomena…lanjut !

Secara sosiologis, memamerkan kekuasaan adalah wujud ketidak berimbangan kekuasaan.  Apa yang dimaksud dengan kekuasaan adalah kemampuan mempengaruhi pihak lain untuk mengikuti apa yang diinginkan dan diperintahkan pihak tertentu. Pihak yang memerintah adalah profil yang berkuasa. Adapun yang cuma menjalankan perintah adalah pihak yang tidak berkuasa.  Hukum yang diterapkan adalah siapa paling kuat maka dia boleh hidup.

Homo homini lupus, manusia menjadi serigala bagi sesamanya. Siapa yang menjadi pelaku dan korban? Karena aksi-aksi dari tindakan itu sangat berkaitan dengan kekuasaan, pelaku adalah pihak yang berada dalam posisi dominan. Pihak yang menjadi korban atau targetnya adalah kalangan minoritas.

Dari cara pandang ini, siapa pun berpotensi menjadi pelaku. Relasi-relasi sosial yang terbentuk melibatkan identitas dan posisi dalam struktur sosial. Identitas di sini dapat dilihat dalam keberadaan agama, etnis, gender, orientasi seksual, kelas sosial, atau ketidakmampuan fisik (disability).

Memamerkan kekuasaan tidak hanya terjadi pada lingkup sekolah dasar dan menengah. Di tempat kerja yang nyaman pun, dapat berlangsung. Termasuk muncul melalui telepon seluler, dalam bentuk kiriman pesan singkat (SMS) yang memuat ancaman dan olok-olok, misalnya. Bahkan, dalam wilayah sosial yang bersifat virtual (internet), misalnya media sosial seperti facebook, twitter, dan e-mail, yang biasa disebut cyber bullying.

Jadi  ….MEMAMERKAN KEKUASAAN ITU SUDAH MENJADI TABIAT MANUSIA DAN SUDAH BERAKAR KUAT….

kontemplatif

Ada 10 filosofi hidup Jawa sebagaimana sering diwejangkan oleh para leluhur suku jawa dahulu. Saya cuma mengutip 6 saja  Sebagai sebuah perenungan dan introspeksi diri bagi kita semua dalam menjaga keselarasan hidup.

1.URIP IKU URUP
Hidup itu nyala, hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita
2.SEKTI TANPA AJI-AJI
Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan dan kekayaan
3.AJA KETUNGKUL MARANG KALUNGGUHAN, KADONYAN LAN KEMAREMAN
Janganlah terobsesi atau terkungkung dengan kedudukan, materi dan kepuasan duniawi
4.AJA KUMINTER MUNDAK KEBLINGER, AJA CIDRA MUNDAK CILAKA
Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka
5.AJA MILIK BARANG KANG MELOK, AJA MANGRO MUNDAK KENDHO
Jangan tergiur oleh hal2 yg tampak mewah, cantik, indah dan jangan berfikir gamang/plin-plan agar tidak kendor niat dan kendor semangat
6.AJA ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA
Jangan sok kuasa, sok besar/kaya, sok sakti

Falsafah ini mengingatkan pada kita sebagai manusia agar kita selalu menjaga  keselarasan dan keseimbangan hidup. Sebagai insan yang  saling membutuhkan antara satu dan yang lainnya dan saling menjaga persaan dalam tutur kata, perbuatan, dan sikap tingkah laku budi pekerti mulia.

Daniel sebagai staf di istana raja kerap dihadapkan pada situasi-situasi pelik di mana ia harus memilih dan memutuskan sikap—memilih makanan, mengartikan mimpi, membaca tulisan di dinding, menyerahkan diri pada keadilan Allah ketika di gua singa. Dan dalam segala situasi itu, ia membuat pilihan-pilihan yang penuh integritas dan berdasarkan petunjuk Tuhan…..

Daniel mengajar kita bahwa integritas kita akan lulus uji jika kita memiliki iman yang terus membuka diri kepada Allah dalam segala aspek kehidupan. Jika seluruh hidup dan hati kita terarah kepada Allah, maka hidup kita akan semakin mantap dan pasti dapat menjawab segala tantangan zaman. Daniel mengajarkan sikap kerendahan hati dan bersandar pada Tuhan sepenuhnya…karena ia sadar pemilihan dia bersama beberapa temannya atas rancangan Tuhan…. dia tidak sok pamer kekuaasan.

Sudahkah kita berbuat baik kepada sesama ?, sudahkah kita menjadi penyeimbang kehidupan di sekitar kita?…ataukah sebaliknya….

Jadilah Daniel “sejati” ….bahwa kekuasaan yang ada pada kita oleh karena kasih karunia-Tuhan….jangan jumawa, jangan pamer.

AJA ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA
Jangan sok kuasa, sok besar/kaya, sok sakti

Created by: Martha Belawati

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s