FATHER


Sejarah Lahirnya Hari Ayah (The Father’s Day)

Peringatan hari ayah, pertama kalinya muncul di Spokane, Washington. Ide ini berasal dari seorang anak bernama Sonora Smart, ketika dia sedang mendengarkan pidato pada Mother’s Day tahun 1909. Dalam benak Sonora muncul keinginan untuk mengadakan hari yang sama bagi para ayah. Sonora sangatlah mengagumi ayahnya, William Jackson Smart. Baginya ayah adalah sosok yang istimewa, sosok yang telah berjuang merawat dia dan kelima saudaranya. Sonora ingin sekali mengatakan kepada ayahnya betapa istimewa dia.

Semenjak itu ia putuskan untuk mengusulkan satu hari yang bertepatan dengan tanggal kelahiran ayahnya, 19 Juni 1910, sebagai hari ayah The Father’s Day. Karena begitu banyaknya dukungan, dari para politisi, negarawan, dan pengacara Amerika: William Jennings Bryan, terhadap Sonora, ide mengkhususkan satu hari untuk menghormati jasa para ayah itu pun menjadi cepat tersebar luas.

Selanjutnya, di New York, tahun 1926, dibentuklah sebuah panitia nasional untuk menggolkan The Father’s Day ini. Dan akhirnya melalui kongres, tahun 1956 ide ini diakuipun  . Lalu tahun 1966 Presiden Richard Nixon  mengeluarkan keputusan bahwa, pada hari Minggu ketiga setiap bulan Juni, diperingati sebagai The Father’s Day.

Dalam Efesus 5:23 dikatakan, “Karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dia adalah yang menyelamatkan tubuh.” Begitu pula suami sebagai kepala keluarga wajib mengasihi istrinya, sama seperti tubuhnya sendiri (Efesus 5:28).

Sebagai  kepala keluarga, seorang suami harus bisa menjalin kesatuan hidup berumah tangga  untuk mencapai kebahagiaan . Ia harus   menjadi teladan  bagi keluarganya.

Suami  yang Diharapkan ?

1. “Sebab itu seorang laki laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kejadian 2:24). Awal pernikahan sangat penting untuk menciptakan suasana atau kebiasaan hubungan erat di antara suami istri, sebelum mereka menghadapi masalah di kemudian hari.

2. seorang suami dapat menjadi juru damai di antara mereka,  diharapkan untuk bersikap rendah hati dan mau mengakui kesalahan yang dilakukannya serta meminta maaf kepada istrinya.  “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang” (Roma 12:18).

3. “Yakni orang-orang yang tidak bercacat, yang mempunyai satu istri” (Titus 1:6a).  Inilah yang Tuhan inginkan dalam perkawinan, yaitu pasangan suami-istri yang setia satu sama lain sampai maut memisahkan mereka.Tiger Wood mengatakan, “It may not possible to repair the damage I have done, but I want to do my best to try… I need to focus my attention on being a better husband, father and person.” (Barangkali saya tidak dapat memperbaiki kerusakan yang sudah saya lakukan, tetapi saya akan berusaha keras untuk mencobanya… Saya perlu memusatkan perhatian saya untuk menjadi suami, ayah dan pribadi yang lebih baik). Tiger Wood menyadari bahwa sesuatu yang sudah rusak tidak mudah diperbaiki dan ada banyak kemungkinan untuk gagal.

4. Saling menghargai satu sama lain.

“Hai suami kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya. (Efesus 5:25). Di dalam Efesus 5:28-29 juga dikatakan, “Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri. Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat.”

Ayah Dalam Keluarga Kristen

Seorang ayah di dalam keluarga Kristen wajib membimbing istri dan anak-anaknya untuk dekat Tuhan . Efesus 6:4 mengatakan, “Dan kamu, bapak-bapak, jangan bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Amsal 2:6: juga mengajarkan, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”

Kontemplatif

Pendidikan adalah proses  pengembangan  dalam diri anak. Karena itu orang tua perlu terlebih dahulu mempunyai pemahaman yang baik tentang apa yang perlu dipupuk demi kepentingan hari depan anak-anak mereka. Pendidikan membutuhkan kerja sama yang erat antara suami dan istri.

Amsal 1:8 dengan tegas menyatakan hal itu, “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu.” Begitu juga  jika suami istria terlibat konflik, sebaiknya hal itu tidak dilakukan di depan anak-anak mereka.

Ayah  Teladan

*Seorang anak datang ke rumah Pak Pendeta dengan muka yang sangat sedih. Ia mohon agar Pak Pendeta mau datang ke rumahnya karena ada yang sakit di sana dan perlu didoakan. Dengan tergopoh-gopoh Pak Pendeta datang ke rumah anak itu, tetapi betapa kagetnya ia karena yang sakit hanyalah kucing peliharaan anak itu. Meskipun demikian, agar tidak mengecawakan anak itu, Pak Pendeta tersebut berdoa, “Hai kucing, kalau kamu mau mati, matilah, dan kalau kamu mau hidup, hiduplah. Amin.” Kemudian Pak Pendeta itu pulang.

Beberapa hari kemudian kucing itu sembuh, sehingga anak itu sangat gembira. Untuk menyatakan rasa terima kasihnya ke Pak Pendeta, ia membuat sebuah lukisan. Setelah lukisan itu selesai, ia segera membawanya ke rumah Pak Pendeta, tetapi tidak ada orang yang membukakan pintu untuknya, meskipun ia sudah mengetuknya beberapa kali. Ia hampir beranjak pergi, ketika didengarnya pintu dibuka oleh Pak Pendeta yang kelihatan kuyu dan tidak sehat. Anak itu dipersilakan masuk dan ia lalu menyerahkan lukisan hasil karyanya kepada Pak Pendeta. Sebelum pulang, ia meminta izin kepada Pak Pendeta untuk mendoakannya. Dengan wajah yang serius, anak ini lalu berdoa, “Hai Pak Pendeta, kalau kamu mau mati, matilah, dan kalau kamu mau hidup, hiduplah. Amin.”

Cerita ini tidak hanya lucu tapi mendidik…. menggambarkan bahwa seorang anak akan cepat (beradaptasi) menirukan sikap dan gaya orang yang lebih tua, karena itu kita harus selalu waspada . Ulangan 6:4 dengan jelas mengatakan, “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”

Komunikasi sangat penting di dalam sebuah keluarga dan harus dimulai sejak awal pernikahan. Anak-anak yang sejak kecil dididik untuk membina komunikasi yang baik dengan orangtua mereka.

Jangan lupa, Kita juga harus selalu melibatkan Tuhan di dalam mendidik anak-anak kita, karena anak-anak merupakan anugerah indah yang Tuhan percayakan kepada kita untuk dipelihara dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang.

Kata bijak

AYAH ITU MURAH HATI…..
Ia akan melupakan apa yang ia inginkan, agar bisa memberikan apa yang kalian butuhkan…. .Ia menghentikan apa saja yang sedang dikerjakannya, kalau kamu ingin bicara…

Created by: Martha Belawati

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s