KEPEMIMPINAN DI BAWAH KONTROL KUASA FIRMAN-Mnggu 18/03/12


Keluaran 7:1-7

7:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu.
7:2 Engkau harus mengatakan segala yang Kuperintahkan kepadamu, dan Harun, abangmu, harus berbicara kepada Firaun, supaya dibiarkannya orang Israel itu pergi dari negerinya.
7:3 Tetapi Aku akan mengeraskan hati Firaun, dan Aku akan memperbanyak tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang Kubuat di tanah Mesir.
7:4 Bilamana Firaun tidak mendengarkan kamu, maka Aku akan mendatangkan tangan-Ku kepada Mesir dan mengeluarkan pasukan-Ku, umat-Ku, orang Israel, dari tanah Mesir dengan hukuman-hukuman yang berat.
7:5 Dan orang Mesir itu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, apabila Aku mengacungkan tangan-Ku terhadap Mesir dan membawa orang Israel keluar dari tengah-tengah mereka.”
7:6 Demikianlah diperbuat Musa dan Harun; seperti yang diperintahkan TUHAN kepada mereka, demikianlah diperbuat mereka.
7:7 Adapun Musa delapan puluh tahun umurnya dan Harun delapan puluh tiga tahun, ketika mereka berbicara kepada Firaun.

Intermezo:

Dapatkah Anda membayangkan betapa heboh sekiranya Tessy dari grup lawak Srimulat atau (Alm) mbah Surip  ikut mendaftarkan diri untuk mengikuti konvensi pemilihan calon presiden. “Astagafirulah” dgn berteriak….. orang akan syok dan nyeletuk…”ya nggak pantaslah, ya?!

Begitu juga dengan Musa, sekiranya pada waktu itu dibuka kesempatan untuk mendaftarkan diri menjadi calon pemimpin…saya rasa nasib Musa pasti tidak akan lebih baik dari Tessy atau (Alm) mbah Surip…gugur sejak awal.

Apabila untuk memenuhi kriteria sebagai pemimpin seseorang harus kapabel sekaligus fleksibel;pemberani sekaligus hati-hati;tegas sekaligus bijak;berpandangan jauh ke depan sekaligus teguh berpijak dan “sekaligus-sekaligus” lainya  lagi;maka,wah,di mana kita dapat menemukan manusia sesempurna itu?!

Bukankah wajar bila kemudian orang berkesimpulan bahwa pemimpin itu tergolong “makhluk langka”? cuma bisa dilahirkan,tak mungkin dibentuk. Kemunculannya hanya bisa ditunggu.

Dalam desain Tuhan, “manusia” dijadikan “menurut gambar dan rupa Allah”. Artinya, pada satu pihak ia bukan Allah, ia adalah makhluk Ciptaan.Namun, dilain pihak, ia lebih, lebih, karena makhluk yang satu ini—“manusia”—adalah “citra Allah”.

Kesan yang didapat:

Pemimpin rohani muncul bukan menurut kemauan atau ambisi pribadi, melainkan karena tindakan Allah yang mempersiapkan, memanggil, menetapkan dan membimbingnya dalam mencapai tujuan-tujuan dari Allah. Dalam Perjanjian Lama, Allah yang mempersiapkan dan memanggil Musa dan Yosua juga Harun….

Manusia cenderung mengandalkan dirinya sendiri. Lihat betapa sabar TUHAN mengingatkan Musa bahwa DIA sendiri akan bertindak di dalam dan melalui Musa.

Keberhasilan dalam ukuran TUHAN bisa sangat berbeda dengan ukuran manusia, sebab manusia tidak mempunyai pengertian/kurang peka tentang rencana TUHAN secara lengkap.

TUHAN hanya mau memakai orang2 yang bersedia tunduk dan  taat sepenuhnya. TUHAN memperlengkapi siapa yang IA panggil.

KONTEMPLATIF

TUHAN mengingatkan Musa, bahwa DIA sendiri akan mengeraskan hati Firaun, dalam rangka membuat rangkaian mujizat2 dahsyat. Kita semua belajar disini betapa keras membatunya hati manusia. Penderitaan disesali, tapi introspeksi tidak mau dilakukan. Sudah tahu pasti kalah, tapi tidak pernah mau menyerah.
Seandainya orang Kristen mempunyai kekerasan hati yang sama dalam membela kebenaran, kita pasti tinggal dalam dunia berbeda. Sayangnya kekerasan hati lebih sering dipakai untuk menghancurkan diri sendiri.Musa dan Harun taat sepenuhnya. Ketaatan mereka dikatakan dua kali dalam satu ayat. (Kel. 7: 6). TUHAN hanya mau memakai orang yang bersedia taat sepenuhnya. 
Bekerja untuk Tuhan
Bekerja seharusnya mengikuti garis kebijaksanaan Boss. Apalagi kalau Boss adalah juga yang menciptakan kita. Siapa yang lebih tahu tentang kita daripada Sang Pencipta itu sendiri? Sayangnya manusia yang diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah, maunya hanya mengikuti kemauan sendiri. Malah terkadang merasa lebih tahu daripada Sang Pencipta kita.

Kesimpulan bijak

Tuhan Yesus menegaskan adanya perbedaan esensial antara pemimpin Kristen dan pemimpin sekuler dengan menyatakan, “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:42-45)

“memimpin” itu berarti “melayani”. “Memimpin” itu berarti “mengabdi”, “Menghamba”. Tanpa unsur “pelayanan” ini, unsur kepemimpinan yang lain, paling banter hanya memungkinkan orang menjadi seorang “pemimpin yg trampil” (a skilled leader). Seorang “pemimpin yang mampu” (a capable leader). Tapi belum bisa memberinya kualifikasi sebagai seorang “pemimpin yang sejati” (a true leader)…”Pemimpin sejati” harus punya sikap mental seorang pelayan. Mesti punya motivasi seorang abdi. Mesti bersikap dan bertindak bak seorang hamba. Ia adalah pemimpin yg menghamba. Sekaligus, hamba yang memimpin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s