Bergumul dan berseru—Tema Rabu


Yeremia 15:10-14

INTERMEZO

 Bergumul

Dalam kamus bahas Indonesia bergumur diartikan bergulat;bergelut: keduanya bergelut dimuka orang banyak….yang kedua bergumul dapat diartikan juga melibatkan diri dengan: sehari-hari dia harus bergumul dengan sampah2 untuk menghidupi keluarganya…yang ketiga, bergumul dapat juga diartikan memperdalam…

Berseru

Dalam kamus bahasa Indonesia berseru berarti memanggil atau menarik perhatian dengan suara nyaring: terdengar suara orang berseru, seolah-olah memaggil kita….kedua berseru diartikan berkata atau bersuara nyaring…yang ketiga berserua dapat diartikan mengajak atau menganjurkan

Bergumul  pada hakekatnya  adalah proses untuk memahami  kehendak Tuhan, tetapi di dalam kelemahan  manusia hal ini seringkali kabur pada akhirnya  istilah “bergumul ” ini seringkali akhirnya hanya menjadi slogan saja dan  yang terjadi justrun kita menunda-nunda menjalankan kehendak Tuhan untuk akhirnya menggenapkan kehendak kita sendiri.  Jadinya bergumul dan berseru menjadi hambatan/batu sandungan anak2

Berseru kepada Tuhan, sama dengan berdoa dengan serius. bukan cuma berbisik saja. apakah saudara termasuk orang yang setia berdoa ?  apakah saudara hanya berdoa sekali sekali kalau lagi kepepet. apakah saudara pernah mendoakan suatu pokok doa sampai bertahun tahun ? hanya saudara yg dapat menjawabnya dengan tulus.

setiap kali saudara berseru dan berteriak kepada Tuhan. maka wajah saudara muncul pada layar monitor Tuhan di surga. Pernahkah saudara berdoa- saking seriusnya sampai menangis termehek-mehek ?

Tuhan tidak mempersoalkan apakah saudara menagis atau tidak ketika berdoa, tetapi yang terpenting adalah apakah saudara benar benar serius dan setia berdoa atau tidak.

 kontemplatif

Hidup sebagai anak Tuhan adalah hidup yang terus-menerus diperbaharui oleh akal budi. Salah satu tanda hidup anak Tuhan  adalah hidup yang bergumul dan berseru. Hidup  yang tak pernah bergumul dan berseru adalah hidup  yang sia-sia mungkin nggak seri kali ya…. Mengapa? Karena bergumul dan berseru adalah tanda kita memiliki hubungan dekat dengan Tuhan, bukan hanya mengenal Tuhan secara kognitif/theologi.

 Pergumulan dan berseru  ciri dari penyesalan dan kekaguman, keyakinan dan keraguan, jawaban dan pertanyaan, sorak-sorai dan ratapan, bahkan berdiam diri.

Coba kita intropeksi diri, sering nggak Kita sebagai anak Tuhan salah memahami pergumulan dan berseru sebagai sesuatu yang timbul akibat ketidakjelasan kita akan kehendak Tuhan , tetapi sebenarnya pergumulan dan berseru  adalah sesuatu yang Allah karuniakan  bagi manusia . Kehendak-kehendak Tuhan bagi anak2 Tuhan adalah sesuatu yang  mustahil dipahami jika bukan Allah sendiri yang mewahyukannya.

Pikiran Allah bukanlah pikiran manusia dan jalanNya bukanlah jalan kita, maka selalu ada proses yang harus manusia lewati untuk mengerti kehendak Tuhan sebagai respon terhadap pewahyuan kehendak itu, inilah

Maka di dalam pergumulan kita , yang menjadi masalah terbesar  bukanlah mencari kehendak Tuhan itu sendiri, melainkan bagaimana menundukkan diri yang selalu ingin memberontak ini kepada kehendak Tuhan. Sering  kita bergumul dengan rasionalisasi-rasionalisasi yang terdengar sangat rohani tetapi yang berdiri bukan mewakili kepentingan rohani melainkan keinginan daging kita. Waktu bergumul kita menjadi waktu “time out” untuk mencari strategi dan jawaban untuk melarikan diri dari hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Proses bergumul dan berseru seringkali bukan lagi manusia yang sedang memraktekkan kehendak bebasnya, bukan lagi proses manusia memilih, tetapi proses membebaskan diri dari pilihan yang benar sambil menggenapkan keinginan berdosa kita.

Mari kita belajar sungguh-sungguh bergumul mencari kehendak  Tuhan dengan benar serta tidak lagi mengeraskan hati dalam pergumulan dan seruan  kita. Jika kehendak Allah sudah dinyatakan kepada kita, mari kita berhenti “bergumul” dengan rasionalisasi-rasionalisasi kita.

Mari kita berhenti mengahabiskan energi dan pikiran secara sia-sia dengan “bergumul dan berseru” mencari-cari pembenaran untuk mensahkan keinginan-keinginan daging kita dan mulai belajar untuk taat penuh pada kehendak Tuhan.

Bergumul bukan untuk melarikan diri, bergumul bukan untuk membenarkan diri, bergumul adalah untuk mengenal, mengerti, mentaati, dan menjalankan kehendak Tuhan atas hidup kita yang bebas ini.

“Percaya” adalah dasar hidup. Semua hubungan berdiri di atas saling percaya. Tetapi sering terjadi malah kebalikannya : bimbang, cemas, cemburu, cuek, curiga,prasngka, ragu dan was-was. Percaya bugan barang jadi. “Percaya masih perlu digumuli”

Belajarlah dari pergumulan pada nabi Yeremia, bukankah iman kita nggak ada bedanya dengan Yeremia….”SELAMAT BERGUMUL DAN BERSERU……..”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s