Pemimpin oh pemimpin di mana kharisma mu ?–Rabu, 9 Mei


Keluaran 16:6-10


SEORANG “PEMIMPIN” YANG BAIK– ADALAH ORANG YANG DAPAT DIANDALKAN. ORANG YG SETIA. ORANG YANG KATA2 DAN JANJINYA DAPAT DIPEGANG. TIDAK MENCLA-MENCLE. (Y)

Intermezo

Memimpin memang susah, kalau nggak susah semua orang mau jadi pemimpin.Tidak semua mampu menjadi pemimpin….. Ya iya lah jika semua mampu dan mau jadi pemimpin wah kacau, peranan2 yang lain hilang:)  Namun  sebetulnya setiap orang ada peluang atau potensi menjadi pemimpin. Hanya malas. Kita memang sering hidup bersama kemalasan, berselimut dan bertabir kemalasan.

Banyak orang kagum akan ke’bisaan’ orang dalam memimpin, namun tidak banyak yang membangunkan dirinya untuk bisa menjadi pemimpin.

Yang lebih lucu lagi adalah ketika, ada sebagian orang yang belum memiliki leadership kemudian diberikan kewenangan untuk memimpin. Maka yang ada adalah sebuah kekacuan, kesemrawutan dan kebuntuan sebuah organisasi yang dipimpinnya.

Pemimpin adalah nahkoda, pengendali sebuah kapal, ke arah mana dan dengan kecepatan berapa kapal akan dibawa akan sangat tergantung pada kepemimpinannya.

Pertanyaannya apakah kepemimpinan bisa dipelajari ataukah dia bakat yang memang dibawa sejak lahir?

berarti ada tidaknya pemimpin akan sangat tergantung pada pemberian Tuhan? Benarkah demikian? Saat Tuhan tidak menyertakan jiwa kepemimpinan kepada bayi yang akan dilahirkan ke bumi maka selama itu pula tidak akan ada pemimpin yang layak dijadikan pemimpin?

Kontemplatif

Musa mungkin untuk jaman kita disebut sebagai “pemimpin karbitan”, cuma bedanya dengan pemimpin2  lain, Musa di karbit langsung oleh Allah . Musa pada waktu masih muda adalah orang yang keras dan temperamen dan  memecahkan masalah dengan otot tidak dengan otaknya(Kel. 2:12). Setelah  tua pun Musa  masih bukan orang yang cakap dan nggak “PEDE” banget.  Musa sendiri tidak percaya Allah memerintahnya (batinya; mungkin Allah salah liat kalik) untuk  melakukan tugas mengeluarkan bangsa Israel dari tanah mesir. Ini membuatnya bertanya kepada Allah, “Orang Israel sendiri tidak mendengarkan aku, bagaimanakah mungkin Firaun akan mendengarkan aku, aku seorang yang tidak petah lidahnya!” (Kel. 6:12). Lalu mengapa Allah memilih pemimpin yang tampaknya lemah ini untuk mengemban pekerjaan yang begitu penting?

Allah tidak memilih orang seperti manusia memilih
Dari luar, Harun tampak lebih cocok menjadi pemimpin Bangsa Israel. Ia lebih tua, dan lebih cakap. Ia juga mengetahui bagaimana cara menyenangkan banyak orang dengan kreativitas (Kel. 32:1-5).

Tetapi Allah tidak memilih orang berdasarkan pertimbangan manusia; “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1Sam. 16:7) 

Sungguh, “Jalan Allah adalah yang terbaik.”  kita dapat membayangkan malapetaka besar apabila Harun yang menjadi pemimpin. Insiden lembu emas menunjukkan bahwa ia adalah orang yang rentan terhadap tekanan banyak orang dan dapat dengan mudah menyesatkan Bangsa Israel (Kel. 32).

kita tidak perlu kabur dan bersembunyi. Setidaknya kita harus mencoba dengan semampu kita, karena pastilah Allah mempunyai alasan mengapa Ia menaruh kita pada posisi itu.

Ajakan

Tuhan memanggil Musa dan mengutusnya untuk memimpin Israel keluar dari Mesir, “Jadi sekarang pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.” (Keluaran 3:10) Bukan ambisi Musa. Terlalu banyak masalah muncul akibat ambisi pribadi untuk menduduki kursi kepemimpinan.

Delegasi

“Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. “ (Keluaran 3:9) . Ada tugas dan misi yang dibebankan. Tanpa misi, kepemimpinan menjadi tanpa arah.

Bersigap

Tuhan memilih Musa setelah mempersiapkannya terlebih dahulu. Masa kecil musa sampai dewasa di istana Firaun.  Pastilah Musa digembleng ilmu kenegaraan dan peperangan di Mesir, dan Musa mengalami bentukan karakter yakni kasih dan kesabaran.   Pada dasarnya kesiapan terdiri dari dua unsur: Kemampuan dan Karakter.

Religiositas

Apa pun itu yang Musa lakukan,  selalu didasari atas Firman Tuhan. Tidak heran kita melihat sebuah “dwi-kepemimpinan” yaitu Tuhan dan Musa. Pemimpin yang efektif berjalan di atas rel Firman Tuhan dan bergaul akrab dengan-Nya.  Agar tidak kehilangan sentuhan dengan kepentingan Tuhan.

 Kasih dan Ketegasan

Berulang kali Musa harus menghadapi pemberontakan bangsanya dan semua ia hadapi dengan kasih dan ketegasan. Ia mengasihi Israel; itu sebabnya ia melarang Tuhan memusnahkan bangsanya. Namun ia pun tegas kepada mereka yang bersalah. Pemimpin yang mengasihi pengikutnya memikirkan kepentingan mereka dan bersedia berkorban bagi mereka. Pemimpin juga mesti tegas; tanpa ketegasan ia akan menuai kekacauan

Untuk memenuhi kriteria sebagai pemimpin seseorang harus kapabel sekaligus fleksibel;pemberani sekaligus hati-hati;tegas sekaligus bijak;berpandangan jauh ke depan sekaligus teguh berpijak dan “sekaligus-sekaligus” lainya  lagi;maka,wah,di mana kita dapat menemukan manusia sesempurna itu?!

Bukankah wajar bila kemudian orang berkesimpulan bahwa pemimpin itu tergolong “makhluk langka”? cuma bisa dilahirkan,tak mungkin dibentuk. Kemunculannya hanya bisa ditunggu.

Dalam desain Tuhan, “manusia” dijadikan “menurut gambar dan rupa Allah”. Artinya, pada satu pihak ia bukan Allah, ia adalah makhluk Ciptaan.Namun, dilain pihak, ia lebih, lebih, karena makhluk yang satu ini—”manusia”—adalah “citra Allah”.

Kesan yang didapat:

Pemimpin rohani muncul bukan menurut kemauan atau ambisi pribadi, melainkan karena tindakan Allah yang mempersiapkan, memanggil, menetapkan dan membimbingnya dalam mencapai tujuan-tujuan dari Allah. Dalam Perjanjian Lama, Allah yang mempersiapkan dan memanggil Musa dan Yosua juga Harun….

Manusia cenderung mengandalkan dirinya sendiri. Lihat betapa sabar TUHAN mengingatkan Musa bahwa DIA sendiri akan bertindak di dalam dan melalui Musa.

Keberhasilan dalam ukuran TUHAN bisa sangat berbeda dengan ukuran manusia, sebab manusia tidak mempunyai pengertian/kurang peka tentang rencana TUHAN secara lengkap.

TUHAN hanya mau memakai orang2 yang bersedia tunduk dan  taat sepenuhnya. TUHAN memperlengkapi siapa yang IA panggil.

Bekerja untuk Tuhan

Bekerja seharusnya mengikuti garis kebijaksanaan Boss. Apalagi kalau Boss adalah juga yang menciptakan kita. Siapa yang lebih tahu tentang kita daripada Sang Pencipta itu sendiri? Sayangnya manusia yang diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah, maunya hanya mengikuti kemauan sendiri. Malah terkadang merasa lebih tahu daripada Sang Pencipta kita.

Kesimpulan bijak

Tuhan Yesus menegaskan adanya perbedaan esensial antara pemimpin Kristen dan pemimpin sekuler dengan menyatakan, “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:42-45)

“memimpin” itu berarti “melayani”. “Memimpin” itu berarti “mengabdi”, “Menghamba”. Tanpa unsur “pelayanan” ini, unsur kepemimpinan yang lain, paling banter hanya memungkinkan orang menjadi seorang “pemimpin yg trampil” (a skilled leader). Seorang “pemimpin yang mampu” (a capable leader). Tapi belum bisa memberinya kualifikasi sebagai seorang “pemimpin yang sejati” (a true leader)…”Pemimpin sejati” harus punya sikap mental seorang pelayan. Mesti punya motivasi seorang abdi. Mesti bersikap dan bertindak bak seorang hamba. Ia adalah pemimpin yg menghamba. Sekaligus, hamba yang memimpin.

Tunggu apa lagi semuanya sudah tersedia dalam terang Firman Tuhan…

By; Martha

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s