Sang Pendeta


Kalau ia muda, dianggap kurang pengalaman;
tapi bila rambutnya beruban, ia dianggap terlalu tua.

Kalau keluarganya besar, ia adalah beban jemaat;
bila tidak mempunyai anak, ia tidak bisa diteladani.

Kalau istri/suami aktif, ia dituduh mau menonjolkan diri;
bila tidak, ia tidak mendukung pelayanan istri/suami.

Kalau berkhotbah dengan membaca, sangat membosankan;
kalau di luar kepala itu tandanya ia tidak mempersiapkan diri.

Kalau ia berusaha mengadakan pembaharuan, ia dituduh sewenang-wenang;
kalau melanjutkan saja yang ada, ia dianggap boneka.

Kalau khotbahnya banyak contoh, ia kurang alkitabiah;
kalau tidak ada contoh, dianggap terlalu tinggi.

Kalau ia gagal menyenangkan hati seseorang, itu berarti ia menyakiti
hati jemaatnya;
kalau ia berusaha menyenangkan hati semua orang berarti ia penjilat.

Kalau ia terus terang dalam kebenaran, ia dianggap sengaja menyinggung
perasaan;
kalau tidak berterus terang, ia dianggap pengecut.

Kalau khotbahnya panjang, membuat orang mengantuk;
kalau pendek, ia pendeta pemalas.

Kalau berani kotbah tentang persembahan, dicap mata duitan;
kalau tidak menyinggung sama sekali, dikatakan tidak mendidik jemaat.

Kalau banyak studi, dikatakan melalaikan jemaat;
kalau banyak melawat dianggap suka berkeliaran.

Kalau banyak melayani keluar jemaat, dicap “jual firman Tuhan”;
kalau menolak pelayanan keluar, dicap “jual mahal”.

Kalau berpakaian necis, dikatakan sok mewah;
kalau berpakaian sederhana dikatakan bikin malu jemaat.

by
joas adiprasetya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s