Perang Saudara–Jumaat, 10/8-2012 (Pelkat PKP)


Hakim-hakim 20:17-35

Perang Saudara merujuk kepada suatu jenis perang di mana bukan dua atau lebih negara yang menjadi kubu yang berlawanan namun beberapa faksi (=saudara) di dalam sebuah entitas politik.

Sekilas

Dua kali bangsa Israel kalah dalam peperangan ini, mengalami kegagalan, bukan karena bangsa Israel tidak ahli dibidangnya. Tetapi yang membuat bangsa Israel gagal adalah karena mengandalkan kekuatan Mereka sendiri dan bertindak diluar jalur yang Tuhan kehendaki. Tetapi setelah mereka berdoa dan berpuasa, mereka bertanya lagi yang ketiga kalinya  Pada Tuhan dan Tuhan menjawab mereka untuk maju dan mereka menag. Firman Tuhan mengatakan: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!” 

Intermezo

Orang Indonesia yang menyukai wayang khususnya orang jawa, tahu betul istilah Bharata Yudha, yaitu sebuah perang yang melibatkan keluarga besar keturunan Bharata (Mahabarharata), yang terbagi menjadi dua cabang Pandawa dan Kurawa. Lima bersaudara Pandawa, dengan Yudhistira sebagai yang tertua, adalah wakil dari “golongan putih”, yang dianiaya dan diusir dari negeri sendiri oleh seratus bersaudara Kurawa yang mewakili “golongan hitam”, dengan Duryudana sebagai yang tertua. Dikisahkan oleh Abiasa dan para penulis serta dalang penerus pengkisahan Mahabharata, bahwa perang itu demikian besar, mengerikan, memilukan, namun juga mengandung banyak pelajaran.

Dalam perang yang demikian , mata dan hati dilumpuhkan. Yang melek dan tampil perkasa hanyalah hawa membunuh. Dalam perang yang garang, semua harus dilupakan. Hubungan-hubungan darah, kakek-cucu, ayah-anak, paman-keponakan, kakak-adik, guru-murid, teman, tetangga, saudara seperguruan atau sesusuan, semua harus diabaikan. Bila ada sambung rasa di antara kedua pihak, rasa bersambung hanyalah kemarahan, kebencian, dan dendam.

Bila ukurannya adalah persaudaraan; apakah persaudaraan berdasar keturunan atau kesamaan spesies sebagai manusia, Bharata Yudha adalah perang yang mengkhianati persaudaraan itu. Tapi, bila ukurannya adalah moral, perang itu memang harus dilakukan. Kresna menegaskan bahwa saudara sendiri itu ternyata telah tampil mewakili “golongan hitam”, musuh kemanusiaan dan moral. Arjuna, anggota “golongan putih”, harus menghilangkan sikap sentimental, dan harus memunculkan sikap rasional yang berpihak pada moral.

Itulah, antara lain, nilai Bharata Yudha. Sentimen persaudaraan harus dilupakan bila ternyata melindas moral. Maka, perang saudara pun harus dilakukan oleh “golongan putih”, bukan karena keserakahan, dendam atau kebencian. Perang itu harus dilakukan “demi tegaknya kebenaran”.


KONTEMPLATIF

Perang secara fisik memerlukan kekuatan fisik yang luar biasa dan straregi yang jitu karena pertaruhannya nyawa. Tuhan Memilih dan memanggil kita tentu ada tugas dan tanggung jawab yang harus kita pikul yaitu menjadi garam dan terang. Haru kita garis bawahi bahwa Tuhan memanggil kita bukan untuk menghancurkan atau memusnahkan manusia yang melakukan kejahatan. Kita dipanggil untuk mengalahkan kecenderungan kejahatan dalam diri, Karena dengan itub kita mempersempit ruang gerak dan pengaruh kejahatan dalam dunia sekitar kita.
Yer. 17:7  “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan dan yang menaruh harapannya pada Tuhan.”

By: Martha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s