Menghayati Iman dalam kemerdekaan


saka2

Menghayati iman dalam kemerdekaan

Yohanes 8:33-36

33 Jawab mereka: “Kami adalah keturunan Abraham   dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” 34 Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa 1, adalah hamba dosa. 35 Dan hamba tidak tetap tinggal i  dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. 36 Jadi apabila Anak itu memerdekakan j  kamu, kamupun benar-benar merdeka .”

Intermezo

Pengertian menghayati iman dapat diartikan, seseorang mengalami dan merasakan sesuatu di dalam hati dengan keyakinan yang dianggap benar. Jika kita membaca dengan teliti pada ayat 33, mereka merasa bangga, dan sekaligus sombong dan angkuh. Mereka merasakan strata sosial atau kasta lebih tinggi berbeda dengan orang-orang yang bukan keturunan Abraham. Mereka tidak menhayati iman mereka dengan benar. mereka menolak pengajaran Yesus bahwa setiap orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa. Mereka buta, tidak mau dianggap sebagai hamba dosa. keturunan ini tidak seperti bapa leluhurnya Abraham yang begitu taatnya terhadap Tuhan, segala yang difirmankan Tuhan dilakukan Abraham, itu semua karena dia menghayati imannya.

“Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” (I Petrus 2:16)

Membicarakan pokok menghayati iman dalam kemerdekaan, ada sementara orang Kristen yang berpandangan, “Karena kita ini anak-anak Allah yang sudah dimerdekakan melalu Yesus, dan ahli waris Kerajaan Sorga, ” . Tindakan mereka cenderung meengeklusifkan diri, tidak perduli dengan dunia sekitar nya, hal ini tentu bertentangan dengan Firman Tuhan.  Tuhan Yesus mengatakan dalam bagian khotbah di bukit yang sangat terkenal, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di Sorga.” (Matius 5:16)

Sebenarnya, tidak ada seorangpun yang dapat dikatakan “sebagai orang merdeka” sebab sejak manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, semua manusia tiada kecuali adalah hamba yang dibelenggu dosa. ” Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah..” (Roma 3:23)

Sering “kemerdekaan” diartikan dalam hubungannya dengan penindasan. Merdeka juga sering diartikan boleh melakukan segala sesuatu dengan seenaknya, tidak diikat dengan peraturan.

Perenungan

Apa artinya  “menghayati iman dalam kemerdekaan” menurut Alkitab? Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Galatia “Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa” (Galatia 5:13). Tuhan Yesus menggambarkan “kemerdekaan yang semu” melalui perumpamaan ” Anak yang Hilang ” (Lukas 15:11-24). kemerdekaan tanpa tujuan dan tanggung jawab, barulah ia sadar bahwa, ia hanya bisa menikmati kebebasan yang merdeka jika dilandasi dengan keinginan dan pemahaman iman yang benar.

Hidup “merdeka” yang sesungguhnya tentu menuntut pola-pola hidup yang sesuai dengan nilai dan hakikat kemerdekaan itu sendiri. Ya, karena ada tanggungjawabnya. Juga ada resikonya! Jika tidak, itu bukanlah bobot kebermaknaan kemerdekaan dalam arti yang sesungguhnya. Atau dengan kata lain, dapat berarti menyalahgunakan kemerdekaan itu sendiri.

Tetapi, sesungguhnya “orang yang merdeka” adalah orang yang dapat menahan diri dari melakukan atau tidak melakukan sesuatu, dalam arti dapat mengendalikan dirinya sendiri. Mantan presiden Amerika – Franklin D. Roosevelt – pernah mengatakan ada empat kemerdekaan dasar yang dapat dinikmati oleh semua orang setelah Perang Dunia II berakhir, yaitu: kemerdekaan untuk berbicara; kemerdekaan untuk beribadah; kemerdekaan dari kekurangan dan kemerdekaan dari ketakutan. Tetapi,   Orang perlu merdeka dari dirinya sendiri dan kekuasaan kodratnya yang berdosa”

Surat Petrus “Hiduplah sebagai orang merdeka…hiduplah sebagai hamba Allah” artinya setiap orang percaya adalah orang merdeka dan setiap orang percaya adalah hamba Allah yang harus memiliki cara hidup yang baik di tengah-tengah suatu bangsa di mana ia berada “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.”(I Petrus 2:12)

“Jadilah garam dan terang, jangan sampai garam itu tawar, dengan apa dia di asinkan…?, jangan sampai garam itu jatuh, ia akan kotor dan diinjak-injak orang”—By: Martha Belawati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s