Arti hidup di dalam Tuhan- (Tema ibadah Keluarga- Rabu,22/8-2012)


Bacaan: Yakobus 4:13-17

Konteks: Jangan melupakan Tuhan dalam perencanaan

 “Jika Tuhan menghendakinya ,   kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” 

Intermezo

 

Nats ini bertujuan mengkritik orang -orang yang memiliki konstruk berpikir yang overconfidence. Dalam membuat perencanaan, faktor-faktor diatas memang sangat diperlukan, tetapi jangan sok tau dan mampu melakukannya tanpa mengingat sedikit pun pada Tuhan yang memberikan hikmat kepadanya untuk berpikir. “memegahkan diri” di 4:16 adalah hal yang negatif , karena memegahkan diri dalam keangkuhan. Overconfidence,  menggambarkan kecenderungan orang untuk berperilaku seolah-olah mereka mungkin memiliki kendali padahal sebenarnya mereka tidak punya, mereka merasa mampu mengontrol dirinya. Jika terjadi Kesalahan perencanaan hal itu menggambarkan kecenderungan orang karena melebih-lebihkan  kemampuan diri mereka dan  meremehkan peranan Tuhan di dalam kehidupan mereka. Efek terlalu percaya diri akan bias dan tidak mapan, di mana kepercayaan subjektif seseorang dalam kepercayaan diri lebih besar dari akurasi tujuan mereka, terutama ketika kepercayaan diri yang relatif tinggi.

Apakah arti hidup? Banyak orang tidak pernah berhenti mempertimbangkan apakah arti hidup itu. Mereka memandang ke belakang dan tidak mengerti mengapa relasi mereka berantakan dan mengapa mereka merasa begitu kosong walaupun mereka telah berhasil mencapai apa yang mereka cita-citakan.

Dalam masyarakan humanistik kita, orang mengejar banyak cita-cita, menganggap bahwa di dalamnya mereka akan mendapatkan makna. Beberapa cita-cita ini termasuk: kesuksesan bisnis, kekayaan, relasi yang baik, seks, hiburan, berbuat baik kepada orang lain, dll. Orang-orang memberi kesaksian bahwa saat mereka mencapai cita-cita mereka untuk mendapat kekayaan, relasi dan kesenangan, di dalam diri mereka ada kekosongan yang dalam, perasaan kosong yang tidak dapat dipenuhi oleh apapun.

Listen kritik, terutama kritik konstruktif dari orang yang Anda percaya. Ini mungkin salah satu langkah yang paling penting dalam meredam overconvidence   Anda. Hal ini tidak selalu mengatakan kritikus selalu benar, jauh dari itu. Ada kemungkinan mereka benar, dan karena mereka melihat Anda dari perspektif yang berbeda, Anda harus mendengar mereka.

Treat komitmen serius. Terlalu percaya dapat menyebabkan Anda lebih melibatkan diri. Misalnya Menjanjikan untuk membetulkan HP teman anda yang rusak , meskipun belum pernah melakukannya, dapat berubah menjadi sebuah proyek tiga hari jika Anda adalah korban terlalu percaya diri.

 

Kontemplatif

Hidup ini ibarat melukis pada sebuah kanvas yang awalnya putih bersih, maka akan menjadi beranekawarna setelah kita melukisnya dan yang mendominansi warna hidup kita adalah warna hitam dan putih. Tak bisa kita pungkiri terkadang kita salah dalam mewarnai hingga kita menghapusnya walaupun kanvas itu tak sebersih seperti awalnya tetapi itulah usaha kita agar kita bisa memperbaiki dan memberi warna yang lain. Walaupun goresan itu tidak dapat dihapus. Gambaran di atas mengambarkan bahwa kita manusia tidak berarti dan tidak pernah mensyukuri, setelah Tuhan menegor kita dengan keras baru kita sadari.

Kehidupan adalah anugerah Allah bagi manusia dan juga bagi gerejaNya. Hidup adalah kesempatan untuk berkarya. Hidup bukan hanya sekedar menjalani hari-hari sampai kematian menjemput. Makna hidup ditandai dengan seberapa banyak hasil karya yang dapat dilakukan. Kehadiran gereja dan kehadiran orang percaya dirasakan dengan seberapa banyak hasil karya yang sudah dilakukannya.

Berkarya bagi Tuhan berarti mengembangkan setiap karunia dan potensi yang ada di dalam diri dengan setia dan taat. Inilah makna hidup yang sesungguhnya. Banyak orang memaknai hidup dengan menjalankan hari-harinya demi mengejar kesenangan belaka. Memaknai hidup bukan juga hanya sekedar mengembangkan hobi saja. Memaknai hidup harus dengan berkarya bagi Tuhan dengan taat dan setia serta bergantung padaNya.

Kemampuan, bakat dan talenta adalah perlengkapan senjata perang yang sudah Tuhan titipkan bagi setiap orang untuk dapat memaknai hidupnya dengan sempurna. Mari, kita memaknai hidup ini dengan berkarya bagi Tuhan!

Hidup adalah suatu keindahan yang harus diterima dengan keindahan maka perjalanan sesuatu yg indah akan selalu indah
Hidup adalah sebuah anugerah yang harus tersadarkan pada makna dari anugerah itu sendiri sehingga apapun rotasi dalam hidup senantiasa menemukan mengandalkan Tuhan dalam makna jiwa.
Hidup adalah “sendagurau” yang harus dijalani dalam ruang jiwa yang membiaskan energi kemerdekaan dalam keterikatan dengan segala sendi tatanan dan struktur sosial hidup hingga bermuara pada kebahagiaan dan syukur yang hakiki. Hidup haruslah paham akan muara hidup sehingga sadar jika hidup hanyalah untuk Tuhan semata. Didalam keindahan hidup, akan mekar kuntum anugerah yg cemerlang dengan bias energi kedamaian sehinga senda gurau dapat dilakoni dalam tatanan kesadaran lalu memahami akan tujuan dan muara hidup.
Tuhan adalah Muara hidup, Ia sandingkan keindahan pada tatanan kehidupan agar kita dapat bersenda gurau dalam menikmati hidup sebagai makna anugerah, namun kadang kita tidak menyadari dan keliru untuk melakoni hidup. Bahkan kadang kita sering salah dalam ber-Tuhan namun kita tidak sadar akan kesalahan tersebut. Kita hanya mampu memandang, namun tak melihat secara utuh pada setiap falsafah hidup yang kita lalui, kita hanya bisa bicara namun tak mampu membahasakan dengan sempurna akan makna terdalam yang mengalir di balik jiwa. Yang kita lakoni hanyalah sebatas syukur dibalik ketidak sempurnaan lakon syukur yang kita persembahkan.
Dan ini sangatlah berbeda jika kita tidak sampai pada pemahaman yang sempurna, kita hanya berada pada elemen terendah dalam falsafah hidup, namun kita merasa sudah sempurna dalam memahami ; memahami tentang hidup dalam syukur padahal sesunggunya tidak demikian. Syukur yang terpatri masihlah bersifat egosentris, dimana ketika jiwa memancarkan ego sebatas menerima hal-hal yang dipandang baik dan enggan menerima hal-hal yang kurang baik. Untaian syukur dilakukan sepenuh hati namun sebatas pada lantunan dan ucapan syukur dalam rangkaian kalimat do’a tulus. Dan tidak pada taraf kesadaran akan lakon diri dalam makna syukur.
Ketika diperhadapkan pada sebuah fenomena hidup, ego kembali muncul dalam merangkai do’a untuk menepis apa yang ada agar secepat mungkin berlalu, disinilah jiwa kehilangan kesempatan dalam membaca dan melakoni dengan sempurna akan makna hidup. Dan semua ini terjadi lantaran kita salah dalam memahami kehendak Tuhan, kita keliru mengerti makna hidup, bahkan kita cenderung SALAH DALAM BER-TUHAN.
Arti hidup yang sebenarnya tidak ditemukan hanya dengan mengenal Yesus sebagai Juruselamat (seindah apapun hal itu). Makna hidup yang sebenarnya ditemukan ketika orang mulai berjalan mengikuti Kristus sebagai muridNya, belajar dari Dia, menggunakan waktu bersama dengan Dia dalam FirmanNya, Alkitab, bersekutu dengan Dia dalam doa, dan berjalan denganNya dalam ketaatan kepada perintah-perintahNya.

Ada suatu quote yang mengatakan manusia dapat menulis apapun dalam suatu kertas yang kosong, namun berikanlah penghapusnya kepada Tuhan. Analogi ini mengesankan bahwa manusia dapat merencanakan segala sesuatu yang ia inginkan untuk hidupnya, namun tetap saja Tuhanlah yang memiliki kuasa atas hidup kita, yang artinya Tuhan berhak mengabulkan atau bahkan menghapus rencana kita sesuai dengan kehendakNya.

Seperti yang tertulis dalam Yakobus 4 : 14-15 dijelaskan bahwa hidup manusia itu singkat, seperti uap yang sebentar akan lenyap. Jadilah apalah arti hidupmu yang singkat ini? Sebagai manusia yang lemah haruslah kita dalam berencana ataupun bertindak tidak mencongkakkan diri sendiri namun menyerahkan segala sesuatunya sesuai dengan kehendak Allah. Sebab sesungguhnya Tuhan mengetahui setiap rancangan manusia (Mazmur 94 : 11) dan janganlah sampai kita jatuh atas rancangan yang kita lakukan sendiri karena apa yang kita rencanakan adalah hal yang salah (Mazmur 5 :11).

Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu (Yes 55:8). Tetaplah ingat dan yakin bahwa Tuhan tahu dan menyediakan rancangan yang terbaik untuk kita yakni rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan yang mencelakakan (Yeremia 29:11-12).

Untuk itulah marilah kita terus berdoa dengan segenap hati dan mengandalkan Tuhan dalam setiap perencanaan yang kita lakukan. Segala sesuatu pasti indah pada waktuNya.   Semoga bermanfaat untuk direnungkan dan diaplikasikan.

By: Martha Belawati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s