“Maknyus”


Kita pasti sering dengar acara kuliner yang dipandu  oleh pak Bondan disalah satu acara televisiPada acara kuliner yang ada di salah satu stasiun televisi, dimana kita sering selali mendengar pak Bondan mengucapkan Maknyus dan Top markotop saat menikmati makanan yang dirasakan sangat lezat. Sehingga dia mengucapkan “Maknyus” dengan ekspresi mukanya yang membuat para penonton jadi ngiler  ingin menikmati makanan tersebut. Dalam kamus slang, Arti maknyus adalah Mantap, Sedap, Top Banget, Uenak Tenan. Lidahnya cerdas. Mungkin demikian kata orang. Tak sekadar bisa bilang maknyus, lidahnya juga mampu bercerita banyak tentang makanan yang disantapnya. Mulai makanan mewah racikan chef andal, hingga jajanan kaki lima.

Jika Firman Tuhan kita ibaratkan dengan makanan rohani, maka seperti makanan jasmani, makanan rohani pun butuh diolah (dimasak), diragamkan dan didayakan terlebih dahulu agar penikmatnya mudah mencernanya, menikmati bahwa dalam olahan itu ada sensasi yang luar biasa…Maknyus, tentunya kita harus “berwisata kuliner”. Firman (makanan rohani) yang sering kita terima melalui ibadah maupun di dalam Alkitab bisa diibaratkan sebagai makanan yang sudah diolah,diragamkan dan didayakan terlebih dahulu.

Jika Firman Tuhan kembali diibaratkan dengan makanan, maka renungan pribadi bisa diibaratkan sebagai memasak dan mengolahnya  sendiri untuk dishare ke dalam kehidupan kita . Kita mencari bahan yang sesuai dengan kebutuhan kita, meracik sendiri, serta memasak makanan sendiri sesuai dengan apa yang kita inginkan atau yang dibutuhkan. Dengan itu  kita bisa makan makanan kapanpun dan di manapun kita. Dengan berbekal Alkitab, kita bisa makan makanan rohani di berbagai tempat . Selain itu, jika dalam memasak kita dapat memilih bahan yang digunakan , cara memasak (bersih atau tidak), serta bumbu yang digunakan (pake penyedap rasa atau tidak), demikian juga dengan . Dengan  kita dapat memastikan bahwa makanan itu sehat, bersih,  karena kita yang mengolahnya.Tentu didalam mengolah kita perlu minta resep dari sang  “KOKI” agar makanan yang kita olah rasanya Maknyus.
Layaknya sebuah masakan yang tidak asing lagi bagi kita, Daud pun merasakan hal seperti itu terhadap firman Tuhan. Bagi Daud, merenungkan dan melakukan firman Tuhan  sebagai sebuah kesukaan yang didasari rasa dan tubuhnya memerlukan asupan yang sangat bergisi. Ia terus menikmati  firman Tuhan hingga ia menyatakannya dengan “merenungkannya sepanjang hari”, dan di awal kitab Mazmur ia mengatakan merenungkannya “siang dan malam”. Inilah bentuk kecintaan Daud yang luar biasa besarnya terhadap olahan sang “Koki”. Mengapa ia bisa jatuh cinta sedemikian dalam terhadap “masakan” Tuhan?…Karene Daud menemukan begitu banyak hal yang membuktikan keampuhan olahan sang “Koki”

Kita bisa melihat bahwa Yesus tahu betul apa yang menjadi tugas atau ‘makananNya’, seperti yang ditulis dalam ayat berikut: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yohanes 4:34). Belajar dari hal ini, kita pun perlu benar-benar tahu terlebih dahulu apa yang menjadi panggilan dan tugas kita agar kita mampu mengatasi masalah selera ini. Tanpa tahu panggilan kita maka akan sangat sulit bagi kita untuk tetap fokus dalam mengeluarkan yang terbaik dari diri kita.

Yesaya 55:2 Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.
Memahami Yesus adalah Roti Hidup (Yoh. 6:24-35) bahwa  Yesus lebih penting dari pada perbuatan-Nya. Walaupun Dia telah memberi makan lima ribu orang hanya dengan lima roti dan dua ikan, yang lebih penting diharapkan-Nya agar para pengikut-Nya mempercayai Dia sepenuh hati.

Yesus tahu betul bahwa setelah mereka makan, yang dikuatirkanNya akan terjadi, yakni orang banyak mencari Yesus bukan  karena ketagihan. Mereka hendak mengangkat Dia menjadi menjadikan  “gudang makanan”,  mereka terus mencari Yesus. Mereka seperti orang yang sangat religius cuma sayang sekali, mereka dan kita juga orang-orang percaya hanya sebatas sebagai idola, sebagai pemuja, hanya pelantun pujian. Sebagian orang melihat firman Tuhan hanya pelengkap kenikmatan. Yang lebih sedih apabila Tuhan dipercayai hanya sebatas pemberi makanan; Tuhan produsen, kita konsumen.

Yesus adalah Roti Kehidupan. Mempercayai Dia, itu yang utama, Dia sekarang sumber kehidupan; barangsiapa percaya kepada-Nya “tidak akan lapar lagi” dan “tidak akan haus lagi” . Artinya, orang percaya memperoleh multi vitamin yang kekal dalam  hidupnya. Hidupnya tidak akan lagi mudah goyah. Dia bukan beriman hanya untuk makan-minum, bukan untuk kemakmuran. Tanpa percaya orang dapat makan-minum, bahkan berlebihan sampai kekenyangan. Tanpa beriman banyak orang meraup kekayaan, sangat makmur hidupnya, hartanya banyak.

Yesus mau menegaskan Allah sedang bertindak, dalam Kristus Dia turun ke dunia untuk memberi hidup yang kekal (Yoh. 5:24). Karena itu Ia lebih dari roti, lebih dari manna pada masa Musa. Roti hanyalah simbol, hanya penunjuk kepada roti yang lain, roti hidup yakni Yesus sendiri.

“Anda diibaratkan garam dunia! Jika garam itu cuma ngumpul bareng sesama garam saja, tanpa mau ditabur untuk mengasinkan makanan, apakah gunanya? Tidak ada lagi gunanya selain bikin keasinan dan darah tinggi!” .Sebagai garam dunia, Anda dituntut mengasinkan  lingkungan yang “tawar”/membutuhkan garam. “Kalau sang garam saling menggarami atau hanya “Inside Box”  sia-sialah pengharapan Tuhan pada Anda.

BY: Martha Belawati

 

 

Iklan

2 pemikiran pada ““Maknyus”

  1. Bagus bu, di akhir perlu ditajamkan apa yang harus dilakukan jemaat mulai hari ini perubahan pola pikir bukan hanya mencari makan atau sekedar konsumen, tetapi bisa memasak dari FT yang dibaca setiap hari (pagi) dan dirasakan untuk kehidupan di hari itu sehingga bisa bilang “maknyus”, karena FT sungguh nyata bagi ybs.Tuhan memberkati pelayanan ibu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s