Tuhan yang hadir dan membawa berkat hidup (Ibadah Keluarga, 5 September 2012)


 

Bacaan: Kejadian 27:26-29

Intermezo

“Allah akan memberikan kepadamu embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur yang berlimpah-limpah. Bangsa-bangsa akan takluk kepadamu, dan suku-suku bangsa akan sujud kepadamu,…..” (Kejadian 27:28,29).

Kita tarik ke belakang, dalam kejadian 25: 29-34 (dibaca sendiri) ; Esau menganggap ringan hak kesulungan dengan menukarnya dengan semangkuk kacang merah (berbicara perut dan kedagingan), maka hak kesulungan itu dijual.murah meriah.

Saya diingatkan dengan ketetapan dalam kehidupan Yakub dan Esau. Kedaulatan Tuhan  memilih  berkat-berkat perjanjiannya  berlanjut melalui Yakub, bukan Esau (walaupun Esau adalah anak pertama). Esau diberikan sebuah berkat (Kejadian 27:38-40), tetapi berkat yang diberikan tidak seunggul perjanjian berkat yang disampaikan pada Yakub (Kejadian 27:26-29)

“Hak kesulungan diterima orang kristen begitu Israel menolak Yesus, maka hak itu diberikan kepada bangsa-bangsa lain” (Roma 11:11-24). Orang Kristen yang taat dan hidup dalam Tuhan ,maka ada “berkat kesulungan” (kejadian 27:26-29.

Yang diterima Esau konsekwensinya menjadi “ekor” atau hamba (ayat 37), karena dia telah menjual yang “rohani” untuk yang “jasmani”

Apa yang dimaksud hak kesulungan ?

Kata “hak” dalam kamus umum bahasa Indonesia memiliki beberapa arti, yaitu “sungguh ada”; “kekuasaan yang benar atas sesuatu atau untuk menuntut sesuatu”; “kekuasaan untuk berbuat sesuatu;” dan “kewenangan dan milik atau kepunyaan.” Dengan kata lain, hak kesulungan adalah kekuasaan untuk menuntut dan berbuat sesuatu (wewenang) yang dimiliki anak sulung sebagai ahli waris dari orang tuanya; baik di dalam hal tanggung jawab maupun dalam hak warisan.

Juga hak kesulungan termasuk hak menjadi imam dalam keluarga itu. Hak menjadi kepala keluarga hanya berlaku ketika adik- adiknya masih tinggal di rumah yang sama, sebab setelah adik- adiknya telah keluar dari rumah itu dan membentuk keluarga, maka mereka masing- masing menjadi kepala keluarga dan imam dalam rumah tangganya sendiri….

Kontemplatif

Demikian juga kita, sebagai orang Kristen, kita juga mempunyai “hak” sebagai anak Allah dan ahli waris Kerajaan-Nya (Yak. 2:5, Rm. 8:17, Yoh. 1:12). Ini merupakan kehormatan dan kepercayaan yang Allah berikan pada setiap orang percaya yang telah menerima Kristus sebagai Juruselamatnya.

Esau sudah terlambat, ia salah bertindak, ia bukannya mempertahankan hak kesulungannya melainkan mengejar sop merah yang dimasak oleh Yakub. Esau berpikir pendek, menikmati kenikmatan yang sifatnya hanya sesaat saja, tetapi Yakub berhikmat, ia mendapatkan hak kesulungan, karena ia mengejar hak itu.

Alkitab kita tanpa ragu dan malu menceritakan sepasang orangtua yang bersikap pilih kasih terhadap anak-anak mereka. Sebagaimana kita tahu, sikap pilih kasih orangtua berdampak pada kehidupan anak-anak mereka: Ada kisah tentang Yakub yang memanfaatkan kelelahan kakaknya untuk mendapatkan hak kesulungan , ada pula kisah persekongkolan Ribka dan Yakub untuk mengakali Ishak dan Esau . Selanjutnya kita mengenal kisah Yakub yang harus lari dari kemarahan Esau (karena penipuan yang dilakukannya). Kita pun tahu betapa – bahkan setelah bertahun-tahun berlalu – Yakub takut menemui Esau karena kesalahan lamanya itu. Wah, seandainya saja Ishak dan Ribka menyadari betapa panjang dan lama, pula betapa “ribet”-nya hubungan Esau dan Yakub karena sikap mereka dulu!

Syukurlah, Tuhan lebih besar daripada kesalahan manusia, termasuk kesalahan mengasuh Esau dan Yakub yang dilakukan Ishak dan Ribka. Tuhan juga menunjukkan betapa Ia tidak enggan berkarya di dalam keluarga yang tidak sempurna. Dari ketidaksempurnaan sebuah keluarga, Tuhan bisa memunculkan kesempurnaan karya-Nya.

Nah, belajar dari pengalaman keluarga-keluarga tidak sempurna dalam Alkitab, yang penting untuk kita adalah ini: Pertama. Jangan tutup mata kita alias bersikap pura-pura tidak tahu terhadap ketidaksempurnaan yang terjadi dalam keluarga kita. Semakin cepat kita menyadari dan mengakui ketidaksempurnaan tersebut, semakin cepat pula Tuhan bisa terlibat dan bertindak melampaui ketidaksempurnaan keluarga kita. Kedua. Jangan takut atau minder kalau keluarga kita ternyata adalah keluarga yang tidak sempurna. Sebab memang tidak ada keluarga yang sama-sekali bebas dari kekurangan dan kelemahan. Justru karena itu, Tuhan menasihati Paulus – dan juga kita! – demikian: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Korintus 12:9)

Jangan biarkan berkat kesulungan membuat Anda bergantung  . Berkat yang Anda terima seharusnya menumbuhkan rasa syukur dan membuat Anda bisa mengerjakan banyak hal yang Tuhan percayakan kepada Anda. Kita harus senantiasa menyadari bahwa berkat yang kita miliki merupakan anugerah Tuhan. Berkat yang Anda peroleh juga menjadi alat bagi Anda untuk bisa menjadi berkat bagi orang lain, khususnya bagi keluarga Anda dan bagi orang-orang yang memiliki relasi dengan Anda.

By: DoNnY

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s