“ketika Tuhan marah” (Rabu, 26/9-2012)


Bacaan :Yeremia 7:16-20

”Tetapi engkau, janganlah berdoa untuk bangsa ini, janganlah sampikan seruan permohonan dan doa untuk mereka, dan janganlah desak Aku, sebab Aku tidak akan mendengarkan engkau.”

Intermezo

Doa adalah NAPAS kehidupan manusia  doa memiliki  kuasa  dan itu hanya dimiliki bagi orang yang selalu berdoa, karena:

  1. Dengan Doa seseorang tahan menghadapi berbagai tantangan dan penderitaan
  2. Dengan Doa seseorang tidak akan mudah putus asa
  3. Dengan Doa kita dibawa  pengenalan kehendak Tuhan
  4. Doa adalah senjata untuk mengalahkan dan menghancurkan iblis
  5. Dengan Doa seseorang akan bergerak terus mencari jalan keluar di tengah-tengah himpitan
  6. Dengan Doa seseorang dapat melihat peluang di depan
  7. Dengan Doa seseorang akan siap melakukan tugas dan mengalami pertumbuhan
  8. Dengan Doa seseorang dalam langkah hidupnya akan lebih bijak
  9. Dengan Doa seseorang akan merasa gairah dalam hidupnya yang mampu menerobos tantangan
  10. Hidupnya berkemenangan

Dan mukjizat selalu terjadi bagi orang yang percaya.

“Janganlah berdoa untuk bangsa ini.”  Kenapa ayat ini berkata, janganlah berdoa:

  1. Karena selama orang benar berdoa sesuatu yang baik akan terjadi (baca; Sodom & Gomora).
  2. karena Tuhan tidak akan menjatuhkan hukuman kalau masih ada orang yang berdoa.
  3. karena umat Tuhan menyakiti hati Tuhan dengan mengeraskan hati dengan menyembah berhala-berhala (mendua hati).
  4. Tuhan akan menjatuhkan hukuman, karena segala pemberontakan mereka (ketidak taatan) .
  5. Ada saatnya kita harus serahkan sepenuhnya pada Tuhan, maka Tuhan akan bereskan perkara yang dahsyat
  6. Selama hati kita lembut, dan masih mau bertobat pasti Tuhan memberikan pengampunan

Danger !, Jika Tuhan marah ?

Kata “DANGER yang berarti bahaya” adalah kata “ANGER yang berarti marah” yang dimulai dengan huruf “D” di depan.  Dan kemarahan itu bisa dikatakan sesuatu hal yang berbahaya.

Siapa sih yang nggak pernah marah, Kemarahan bukanlah  sesuatu yang asing . Semua orang di dalam dunia ini pernah dan selalu mengalami dan berkenalan dengan apa yang disebut sebagai kemarahan entah memarahi atau dimarahi baik dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama maupun diri sendiri.

Namun persoalan yang harus dipikirkan dengan serius adalah ketika kemarahan itu diletakkan, ditinjau dan diinterpretasikan dari kaca mata etika Kristen. Di antara kita mungkin beranggapan kemarahan itu adalah sebuah dosa dan lalu bagaimana dengan mereka yang pandai menyembunyikan amarahnya daripada orang yang terlihat amarahnya. Mungkin pendapat-pendapat semacam ini didasarkan pada beberapa ayat Alkitab yang memberi kesan agak negatif tentang kemarahan seperti Mazmur 37:8 : “Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, janganlah marah, itu hanya membawa kepada kejahatan“. Kolose 3:8 : “tetapi sekarang, buanglah semuanya ini yaitu amarah…”

Dengan demikian pertanyaan yang perlu dibahas sekarang adalah “apakah kemarahan itu sebuah dosa?” Mungkinkah ayat-ayat seperti Mazmur 37:8 dan Kolose 3:8 membicarakan dan melihat kemarahan sebagai suatu dosa yang harus dibuang dan dihindari? Lalu bagaimana dengan kenyataan bahwa Allah juga marah?

Bahkan kemarahan Allah itu selalu diikuti dengan penghukuman. Begitu besarnya amarah-Nya sehingga lebih tepat dikatakan sebagai “murka”. Mazmur 102:11 : “Oleh karena marah-Mu dan geram-Mu sebab engkau telah mengangkat aku dan melemparkan aku“. 2 Samuel 6:7 : “Maka bangkitlah murka Tuhan terhadap Uza, maka Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu. Ia mati di sana dekat tabut Allah itu“. Alkitab juga menceritakan bahwa Yesus pernah marah ketika Ia” menjungkir balikkan” “bazar” di bait Allah karena mereka menghabiskan halaman bait, yang mestinya jadi tempat orang, malah menjadi tempat domba-domba. Dalam topik ini diperlihatkan bahwa Yesus pun sebenarnya bisa bertindak radikal dan sangat tidak terbayangkan. IA yang suka mengelus-elus rambut anak kecil, yang peduli pada janda miskin, ternyata juga adalah Kristus yang menjungkirbalikkan semua.  di Bait Allah yang menurut-Nya telah dijadikan sebagai sarang penyamun ,bahkan ayat 15 berkata : “Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar uang dihamburkan-Nya ke tanah, dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya“. Luar biasa! Ini adalah kemarahan dalam kualitas yang sangat tinggi.

(23)”hanya yang berikut inilah yang telah Kuperintahkan kepada mereka” Dengarlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku, dan ikutlah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia!”

Jika kemarahan adalah sebuah dosa maka Allah dan Yesus adalah pendosa-pendosa besar sebab kemarahan Mereka berada dalam tingkatan yang sangat luar biasa. Tetapi bukankah Mereka itu mahasuci dan tak mungkin berdosa? Jika demikian maka persoalannya bukan terletak pada “apakah Allah berdosa atau tidak?”  tetapi pada interpretasi yang benar tentang kemarahan itu sendiri.

Perhatikanlah ayat berikut : Mazmur 4:5 : “Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa…”, Efesus 4:26 : “Apabila kamu menjadi marah,  janganlah kamu berbuat dosa…”. Kedua ayat ini dengan tegas memisahkan kemarahan dan dosa. Rupanya kemarahan tidak diidentikkan dengan dosa tetapi dilihat sebagai sesuatu yang dapat menyebabkan (penyebab) dosa, atau dosa dilihat sebagai akibat dari kemarahan.

Kontemplatif

Sasaran kemarahan Tuhan,  ditujukan kepada mereka karena sudah sangat keterlauan yang mereka lakukan, tidak mengindahkan Tuhan sama sekali bermain-main dengan Tuhan, menduakan Tuhan dengan menyembah berhala-berhala …Hal ini sangat menentukan interpretasi terhadap amarah Tuhan. Amarah itu akan menjadi atau mendatangkan dosa jika amarah itu diarahkan pada sasaran atau obyek yang keliru, demikian pula sebaliknya amarah itu bukanlah merupakan sebuah dosa jika amarah itu diarahkan pada sasaran atau obyek yang benar.

Jika Anda melihat ketidakbenaran, dosa, kemunafikan dan kejahatan dan itu tidak sempat mengusik amarah Anda, maka Anda berdosa (Bandingkan Yehezkiel 3:16-21), sedangkan jika anda melihat kasih, kebaikan, ketulusan dan keluhuran lalu anda menjadi marah, maka anda berdosa karena amarahmu adalah amarah yang salah sasaran dan tidak layak.

Bentuk dari kemarahan Tuhan itu berbicara tentang alasan dari kemarahan itu sedangkan tujuan dari kemarahan Tuhan  itu berbicara tentang apa yang hendak dicapai dari kemarahan itu. Mengapa Tuhan marah? Karena Dia mengasihi Anda. Tuhan ingin  marahi karena ia tidak ingin umatnya  tetap hidup di dalam dosa. Dengan kata lain ada kasih yang turut mengalir dalam amarah Tuhan.

Tuhan telah memberikan contoh melalui tindakan-Nya. Ia marah bahkan benci terhadap pelaku dosa tetapi sekaligus mengasihi mereka. Ia akan menghukum orang berdosa (konsekuensi), tetapi penghukuman terhadap orang berdosa itu  adalah refleksi dari kasih-Nya . Jadi kasih juga harus menjadi motiv yang benar dari amarah kita.

Ingat lah :JANGAN SIMPAN AMRAH ANDA SAMPAI MATAHARI TERBENAM !

Kata bijak

“Doa bukan sekedar diucapkan, tetapi untuk direnungkan. Merenunglah sambil berdoa dan berdoalah sambil merenung.  Hidup adalah mencari perteduhan, Karena itu berteduhlah pada Tuhan” -by Martha Belawati

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s