Keajaiban sang Gembala (Minggu 30/09-2012)


Bacaan Mikha 7:14-17

7:14 Gembalakanlah umat-Mu dengan tongkat-Mu, kambing domba milik-Mu sendiri, yang terpencil mendiami rimba di tengah-tengah kebun buah-buahan. Biarlah mereka makan rumput di Basan dan di Gilead seperti pada zaman dahulu kala.

Intermezo

Gembala adalah suatu pekerjaan yang amat mulia dikalangan kaum Yahudi; pekerjaan penggembalaan dilakukan baik oleh pria maupun wanita, anak-anak laki-laki ataupun perempuan, kaya dan miskin. Kej 30:29Kel 2:19. pekerjaan gembala adalah pekerjaan yang paling berat dan berbahaya.

Ayat-ayat ini adalah doa permohonan, yang meminta Allah menggenapi kata-kata dalam ayat  Mikha 7:8-13. Perhatian utama Mikha adalah supaya Allah sekali lagi akan memperhatikan Israel sebagaimana seorang gembala memelihara domba-domba-Nya.

Nabi Mika di Yehuda pada masa pemerintahan Raja Yotam, Ahaz dan Hizkia melihat adanya ketidak-acuhan  dari penguasa, orang kaya dan , bahkan nabi-nabi palsu terhadap orang miskin. Masing-masing orang mencari  kepentingan bagi diri sendiri, melakukan ketidak benaran dan penyelewengan terhadap peraturan atau hukum untuk memuaskan dan memenuhi pundi-pundi kekayaan mereka mereka, sehingga ada  kecurangan dan penindasan.

Kisah ketidak pedulian sering membuat duka, sedih bagi mereka yang hidup kudus dihaapan Tuhan ,  semakin arogan, mencari pembenaran diri, sehingga nilai empati dalam dirinya luntur dan ini menjadi awal kemerosotan moral, di mana nilai kebenaran bergeser oleh karena kepntingan dan keuntungan pribadi.

Pemandangan kemiskinan saat itu adalah sebuah fragmen dari mosaik realitas sosial dalam pemerintahan raja Yotam. realitas kemiskinan  sebentuk wajah kekerasan stuktural yang sebenarnya telah menciptakan pola mata-rantai kriminalitas dari level kelas “teri” (petty crime), nabi-nabi palsu hingga ke level penguasa yang turut melibatkan komponen pemerintahan dijaman pemerintahan raja Yotam.

Ketika moral semakin menyusut, ketika kasih  mulai memudar, maka tidak ada lagi kekuatan apapun yang bisa mengubah keburukan itu untuk membuat manusia bertobat. Manusia, bahkan tokoh agama pun tidak lagi cinta akan Firman Tuhan, tidak menjadikan pelita dalam perjalanannya. Dengan kejadian seperti ini, Nabi Mika menyerahkan pemeliharaan manusia sepenuhnya pada Tuhan. Ay 14, dikatakan: Gembalakanlah umat-Mu dengan tongkat-Mu,..

Gembala yang baik, akan: Pertama, membela umatNya. Sebagai Pembela Israel, Ia rela berkorban, Ke dua memberikan kecukupan. Perkataan “Biarlah mereka makan rumput di Basyan dan Gilead” (7:14) menunjuk kepada hidup yang berkecukupan, mulai dari Gunung Karmel sampai Basyan dan Gilead. Mikha berdoa memohon pemeliharaan dan perlindungan Allah sebagai Gembala. Jawaban  itu menyakinkan Israel akan campur tangan Allah, seperti yang dilakukan secara langsung dan pasti pada waktu Ia mengeluarkan mereka dari perhambaan di Mesir (15).

Kontemplatif

Bagi Mikha, ia beriman bahwa doa masih merupakan langkah yang paling efektif untuk memohon belas kasihan Tuhan agar Tuhan mau menggembalakan domba-domba-Nya, menjamah dan memulihkan keadaan pada waktu itu.  Sebab doa sanggup melakukan sesuatu yang mustahil menjadi mungkin. Doa sanggup menarik hati dan tangan Tuhan untuk menjamah dan melawat umat-Nya.

Nggak Ada seorangpun di dunia ini yang tidak pernah dirundung nestapa.  Pada renungan ini, Mikha mengajak  kita mengandalkan sang Gembala yang baik, yaitu Tuhan. Gembala yang baik akan membawa dombanya pada rumput yang hijau, dan pada sumber air yang jernih. Saat dombanya salah jalan, tersesak, sang gembala mengunakan gada dan tongkatnya untuk membawanya untuk kembali.

Peran “gembala” dalam gereja  sangat penting dan perlu mendapat perhatian mendalam. Berbicara mengenai gereja  bukanlah semudah membalikkan telapak tangan dalam mewujudkannnya. Seringkali permasalahannnya adalah gereja ingin bertumbuh dan ingin maju tetapi peranan pemimpinnnya atau gembalanya lemah.

Ada beberapa unsur yang harus dimiliki gereja untuk dapat bertumbuh dari 50 menjadi 100 dan berkembang terus yang mana “gembala” memainkan peranan yang penting dan tidak dapat diabaikan.

Yang paling penting dan merupakan ciri dari gereja  adalah selalu mengedepankan visi dan misinya dalam pelayanannya. Gereja yang bertumbuh visinya selalu di depan sebagai driven atau menggerakkan dan kemudian diikuti dengan relationship atau hubungan, diikuti oleh program dan kemudian management yang baik, yang semuanya saling mengikuti dan berjalan guna mendukung visi dan misi gereja,

Amatlah penting bagi “gembala” untuk dapat mengambil sikap sebagai seorang “Leader” atau pemimpin dan tahu bagaimana menempatakan sikap yang tepat sebagai seorang gembala dan seorang “Servant Leadership”.

Kata bijak

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s