Sukacita di dalam penderitaan iman (Pelkat PKP- 5/10-2012)


Bacaan: Kis 5: 40-42

5:40 Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu menyesah mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan.5:41 Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus.

5:42 Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias.

Intermezo

“Apa yang menyebabkan penderitaan?” Kalau kita belajar dari kesaksian Alkitab, penderitaan bisa muncul karena rupa-rupa pencobaan. Tuhan Yesus pernah dicobai iblis, demikian pula Ayub dan Yusuf. Ada pihak eksternal, dari luar hidup kita yang membuat kita mengalami penderitaan. Tetapi penderitaan juga bisa disebabkan faktor internal, faktor yang bersumber dari diri kita sendiri. Sehingga kita perlu koreksi hidup kita, apa yang sebenarnya menjadi penyebab penderitaan hidup kita?

Apa yang biasa Anda lakukan ketika penderitaan melanda hidup Anda? Tentu saja Anda akan berusaha untuk keluar dari penderitaan itu. Orang beriman memandang penderitaan sebagai suatu kesempatan untuk bertumbuh dalam iman akan Tuhan.

Mampukah kita menghayati penderitaan sebagai peristiwa sukacita? Bagi manusia zaman sekarang hampir bisa dipastikan hal ini adalah sesuatu yang mustahil. Tetapi bagi murid Kristus, memaknai penderitaan sebagai sukacita, bukanlah hal yang mustahil (muda-mudahan). Hanya ada satu syarat yang harus kita penuhi yaitu memiliki pemahaman yang benar dan utuh tentang firman Tuhan.

Penderitaan memang menggangu hidup manusia. Penderitaan membuat orang terbatas dalam hidupnya. Penderitaan membuat orang bersedih hati. Namun penderitaan tidak selamanya membuat orang berdukacita. Penderitaan juga membuat orang bangkit untuk menghadapi penderitaan itu dengan sukacita.

Dalam penderitaan yang dialami, janganlah mengatakan bahwa Allah sedang mencobai kita. Yakobus 1: 13 menyatakan bahwa Allah tidak mencobai siapapun. Tuhan menjanjikan penyertaanNya dalam hidup kita. Itulah yang membuat kita kuat menghadapi pencobaan-pencobaan dalam kehidupan kita (I Korintus 10: 13)

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,” (Roma 5: 3) Marilah kita bersukacita, dan ungkapkan sukacita kita dengan ucapan syukur kepada Allah.

Karena itu, penderitaan mesti menumbuhkan iman. Penderitaan mesti berbuahkan kebaikan bagi kehidupan manusia. Tentu saja hal ini tidak mudah, karena dalam saat-saat penderitaan itu orang mudah meninggalkan Tuhan yang diimaninya. Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus bertumbuh dalam iman. Dengan demikian, hidup kita menjadi suatu kesempatan berharga dalam membangun kasih bagi sesama.

Pengalaman penderitaan Paulus adalah sebuah pengalaman yang nyata. Begitupun pengalaman sukacitanya. Ia sungguh-sunguh merasa bersuka cita karena penderitaan yang dialaminya. Mengapa ia sanggup bersuka cita betapapun yang dihadapinya itu adalah penderitaan?

Paulus bersukacita karena ia boleh menderita untuk jemaat, yaitu jemaat di kolose. (Kolose 1:24-29). Ia bersukacita karena melalui penderitaannya, ia telah menyukakan hati Tuhan. Tujuan pelayanan Paulus, dan juga kita, adalah menyukacitakan hati Tuhan karena membawa jemaat boleh mengenal Tuhan. Mengantar kepada pengenalan yang utuh akan Tuhan sungguh mendatangkan suka cita yang tak ada taranya. Tapi ini merupakan tugas yang sangat berat. Tantangan dan penderitaan niscaya akan datang. Dan Paulus menanggungnya dengan penuh sukacita.

Kontemplatif

Namun, berapa lama sukacita itu akan bertahan?  Sukacita yang ditawarkan oleh dunia ini sifatnya hanya sementara, tidak akan bertahan lama.  Lalu, di manakah kita menemukan sukacita yang sejati dan berlimpah-limpah itu?  Sukacita yang melimpah dan yang tak lekang oleh waktu hanya akan kita temukan di dalam Tuhan Yesus.

Pada dasarnya, penderitaan adalah segala sesuatu yang menyakitkan dan mengganggu. Dalam rancangan Allah, penderitaan adalah sesuatu yang menuntut kita supaya berpikir. Penderitaan adalah alat yang dipakai Allah untuk membuat kita menjadi peka dan yang dipakai Allah untuk mencapai maksudNya dalam hidup kita yang tidak bisa terjadi selain lewat pencobaan dan lewat keadaan yang tidak menyenangkan.

Prinsip-prinsip sukacita sejati meliputi:

1. Orang benar bersukacita karena Tuhan (Maz 64:11)

2. Orang benar bersukacita karena ada kepastian (Luk 10:17-20)

3. Sukacita yang tidak dinikmati oleh diri sendiri (Roma 12:15)

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s