“Ku tak tahu…Kujenuh”


Narasiku adalah narasimu

Saat ini  masih adakah yang kita cari,
Di atas, tengah, dan di bawah?
mungkinkah pil pahit menyusup  ?
Apakah gereja membuat kita terdengkur?

Bersiap dan simaklah lah;
Aku akan menarasikan waritaku,
Narasiku ini adalah narasimu  juga,
Dan ini merupakan waritamu..

Serasa berabad-abad aku di gereja,
Nampak bak pentas pertunjukan yang solite.
Tetapi  aku harus kecewa……Kemana aku harus mencari Allah?

Aku termuslihat dalam  ibadah yang suam saja,
Puji-pujiannya telah menjadi dingin;
Kotbahnya kering kerontang dan berdebu,
Pangajarannya basi !

Dalam ibadah terasa seperti diulang-ulang,
Lagu-lagunya terdengar sama semua;
Kata-kata, berjalan tak tentu arah, tak satupun yang bermakna!

Hadirat Allah melompong di hati ku,
Jelas bahwa aku berada dalam rutinitas;
Aku haus, aku harus ke mana ?
Kerinduan ini menyala-nyala dalam jiwaku

BY: Martha belawati

Intermezo

Manusia selalu demanding/menuntut/banyak permintaan dan tidak melihat kenyataan dan buta melihat kebenaran dari dalam dirinya sendiri. Beberapa,cenderung menyalahkan lingkungan dan penciptaNya,padahal gak sampai segitunya…kalau dia mau bercermin pada dirinya sendiri.

Selamanya kepuasan tak akan dapat diraih karena sesungguhnya tidak ada kepuasan yang  absolud di dunia ini.
Seringkali kita salah dalam memilih cermin, sungguh absurd sehingga sesuatu yang semu menjadi bertambah bias tidak karuan.
Lebih bijak menganalisa/mengevaluasi diri pribadi daripada menggugat status karena sesungguhnya status tak pernah salah tapi karena manusianya yang menjadi “lakon” sehingga status atau keadaan yang “didomba hitamkan” (orang kristen pakai istilah domba). Rasa puas,gairahhasratintensikeinginankemauannafsu pretensitargettekad, dan ambisi (banyak sekali sinonimnya) pada manusia, sangat berkait  dengan kebutuhan manusia. Apalagi manusia memiliki kebutuhan yang tidak sama.

Karena pada dasarnya manusia punya sifat kejenuhan kronisdan terlalu singkat mempertahankannya maka ingin mencari dan mencoba hal-hal yang baru selalu begitu dan untuk menghindari hal tersebut lebih baik kita belajar   bersyukur atas segala  yang telah disediakan Tuhan. Kita harus membagi dengan adil pandangan yang kita liat. Baik ke bawah, ketengah, maupun ke atas.

Kontemplatif

Tuhan memberi kehendak pada manusia yang terarah/terencana/terkendali kepada kebaikan yang tak terbatas. Tetapi selama manusia hidup keegoisan memilih, ia hanya akan menerima kebaikan yang terbatas saja. Karena manusia memiliki “kebebasan kehendak”. Kebaikan baru diterima sebagai kebaikan kalau manusia sudah mendapatkan kebaikan yang “sejati”.  Jika manusia tidak mampu mengontrol dirinya untuk memperoleh kebaikan yang tidak terbatas maka manusia akan mengalami ketidak puasan dan kejenuhan. Kalau begitu bukankah ketidakpuasan adalah manusiawi? Yang ke dua apakah manusia memang diciptakan untuk sebuah rutinitas? Jika merenungi apa yang dilakukan oleh manusia kebanyakan setiap harinya, maka rutinitas adalah kata yang tepat.

Jenuh dengan rutinitas

Jenuh itu bisa saya artikan sebagai suatu hal yang penuh, padat merayap dan membosankan. Kejenuhan bisa terlihat dari tingkah laku seseorang yang tidak semangat, ekspresi wajah yang tidak biasa, sikap yang berubah dan biasanya kebanyakan mengeluh. Jangan jadikan kejenuhan menjadi alasan bagi kita untuk keluar dari tanggung jawab.

Dan manusia selalu akan menghadapi kejenuhan dalam hidupnya. Karena pada dasarnya kejenuhan adalah momen yang pasti akan dilalui manusia. . karena memang merupakan bagian dari dinamikanya sebagai manusia. Maka dari itu kejenuhan adalah bagian dari hidup manusia itu sendiri dan manusia yang menciptakannya. Contoh rutinitas:

Bangun tidur ku terus mandi

Tidak lupa menggosok gigi

habis mandi ku tolong ibu (kalau benar)

membersihkan tempat tidurku

berangkat ke sekolah (TK,SD,SMP,SMA, KULIAH 4/5 th, kerja)

pulang sekolah (TK,SD,SMP,SMA, KULIAH 4/5 th),kerja)

main

nonton TV

Ibadah (minimal 1 minggu sekali)

Itu semua rutinitas kita. Namun sebenarnya kejenuhan terhadap rutinitas itu sendiri memiliki pemahaman/Suatu usaha di mana manusia dituntut untuk tidak menyerah begitu saja dengan apa yang menjadi rutinitas dan tanggung jawabnya. Rutinitas akan keluarga yang itu-itu saja. Rutinitas akan masyarakat yang itu-itu saja. Rutinitas di dalam beribadah . Pokoknya segala hal yang menyangkut suatu kebiasaan yang begitu-begitu saja, semuanya !

Jika kita jenuh berarti ada tuntutan  untuk mencoba memberi warna dan bentuk yang sama sekali baru dan menyenangkan, dituntut untuk mencoba mencari cara atau alternatif lain yang mungkin bisa membongkar kejenuhan tersebut. Bukan hanya bicara saja tapi tidak ada aksi (critics is no solution) Suatu kejenuhan yang ada akibat dari cara pandang dan pemahaman yang hanya tertuju pada satu sisi saja.

Dalam kehidupan setiap manusia beribadah kepada Tuhan merupakan  suatu keharusan. Bagi kita orang kristen hari Minggu adalah hari yang harus kita pergunakan sebagai kesempatan untuk beribadah bersama-sama dengan orang tua,kakak,adik, opa, oma, dan saudara-saudari kita di gereja, bersekutu bersama untuk memuji dan memuliakan srta mendengarkan firman Tuhan, bersyukur atas penyertaanNya dalam hidup kita.  Turut dalam persekutuan-persekutuan keluarga untuk saling menguatkan, menghibur, menasehati dan saling menolong.

Di luar itu semua, setiap hari kita juga sangat dianjurkan untuk meluangkan waktu  bersama keluarga, dan ada usaha untuk mencari kedekatan dan bersekutu dengan-Nya.   Sehingga kita menjalani hari ke hari sepenuhnya bersama Tuhan. Paulus mengatakan, “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.” (2 Timotius 3:5). Jika hidup kita hanya “terpaku dengan rasa jenuh maka  tidak heran manusia akan tetap hidup dalam bayang-bayang rutinitas dan gampang goyah ketika permasalahan menerpa mereka. Mereka hadir dalam ibadah, namun pada hakekatnya memungkiri kekuatannya. Secara fisik mereka menjalankan kewajiban beribadah, tapi sebenarnya mereka tidak menangkap inti dari ibadah itu sendiri. Sehinggak kita sering menyalahkan bahkan menuding, bahwa:  kecewa dengan ibadah yang berjalan secara rutinitas dan Sok mencari Tuhan. Merasa jalannya ibadah hanya suam-suam saja, pujian seolah tak teresap dalam hati. Menganggap kotbah pendeta kering-kerontang,berdebu, dan pengajaran yang basi ! Seolah-olah menganggap diri lebih mampu. Merasa tidak hada hadirat Allah dalam hatinya.  Jika alasan-alasan itu dipakai  maka tidak akan ada apa-apa yang dialami dan diperoleh dari ibadah itu sendiri.

Dan tidak sedikit orang kristen kemudian melupakan esensi dari sebuah ibadah dan pada akhirnya melakukannya hanya karena kewajiban semata, sebagai sebuah rutinitas yang terbiasa dilakukan tanpa mengingat makna penting di balik itu semua.  Ini semua mencerminkan bahwa kita sebetulnya melupakan esensi dari ibadah. Rutinitas lahir karena kejenuhan , sehingga pengaruh-pengaruh luar pun dapat dengan mudah mengganggu kita dalam menunaikan ibadah.

Kehidupan Kristen semestinya adalah kehidupan yang penuh dengan damai sejahtera, sukacita, kesegaran dan kegairahan. Kehidupan Kristen semestinya tidak membosankan, jenuh apalagi melelahkan secara emosi. Tapi faktanya ada banyak orang Kristen saat ini yang merasa punya hidup yang sangat lelah dan membosankan. Mengapa ini terjadi?

Sadar tidak sadar, kita sebenarnya sedang hidup dalam dunia yang makin kompleks dengan aktivitas. Setumpuk kegiatan menanti kita setiap hari dan akhirnya kita hidup hanya untuk beralih dari satu rutinitas ke rutinitas yang lain tanpa tahu maknanya. Tentu ada banyak “jalan keluar” yang ditawarkan dunia untuk mengatasi masalah ini. Biasanya tawaran tersebut bersifat praktis, simple, dan menyenangkan. Namun, jalan-jalan keluar tersebut hanya bersifat sementara. Sejenak kita keluar dari masalah, namun secepat kilat pula kita akan kembali masuk dalam rutinitas, kejenuhan, kelelahan, dan kebosanan yang sama dengan sebelumnya. Itulah natur dari uang, gelar kesarjanaan, prestasi dan prestise, hobi, mall, televisi, computer game, hanging-out, dan makanan, yang bagi banyak orang dianggap sebagai jalan keluar.

Padahal ibadah sangat berguna untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik dan membuat pertumbuhan rohani kita semakin dewasa. Hal ini tentu hanya dapat dicapai jika kita memahami hakekat sebenarnya dari ibadah itu.

Akhirnya, di mana pun kita, jangan sampai terperangkap pada rutinitas, kejenuhan, kekeringan emosi yang berlanjut, dan akan menjadi sebuah lingkaran yang membunuh. Tetapi bangunlah, dan suntiklah kerajinan secara kuantitas, dan kualitas. Untuk itu konsumtif pulalah terhadap firman dan perbuatan. Muliakan Tuhan lewat kehidupanmu yang tangguh dalam pengharapan, kesesakan, dan tekun dalam doa.

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh.” (Roma 1:21).

Sebuah ibadah sejati tidak boleh terbatas hanya pada ritual-ritual keagamaan, rajin ke gereja, aktif dalam pelayanan atau ikut persekutuan, tapi ibadah sejati haruslah juga menyangkut sebuah hubungan atas kasih dan syukur kepada Tuhan dalam Roh dan Kebenaran dalam kehidupan sehari-hari, kapan saja dan dimana saja.

Kata bijak

Pada dasarnya kejenuhan adalah momen yang pasti akan dilalui manusia tetapi berusahalah jangan jadikan kejenuhan menjadi alasan bagi kita untuk keluar dari tanggung jawab. -Martha belawati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s