Selayang pandang organisasi GPIB


Intermezo

Kualitas pemimpin

Kualitas kepemimpinan dalam sebuah organisasi   harus diperkuat dengan pengertian tentang arti dan hakekat kepemimpinan, ini sangat penting bagi seorang pemimpin. Sebab sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, kepemimpinan yang dipraktikkan seorang pemimpin akan diwarnai oleh pemahaman internalnya tentang arti kepemimpinan itu sendiri. Apabila kualitas seorang pemimpin tidak memahami arti dan hakekat kepemimpinan, hal tersebut akan sama seperti yang di­katakan Tuhan Yesus, “orang buta me­nuntun orang buta”.

Jika makna kepemimpinan sekuler yang dihayatinya, maka sekalipun ia dikenal sebagai “pemimpin Kristen” tetapi sesungguhnya praktik kepemimpinannya bukan “kepemimpinan Kristen.” Sebaliknya, jika ia menghayati dan menerapkan kepemimpinan yang “Kristen” – berlandaskan perspektif Alkitab- maka baru kepemimpinannya layak disebut kepemimpinan yang “rohani”

persyaratan pemimpin Kristen sangat menekankan aspek karakter dan sosialnya. Ada dua puluh kriteria yang dicantumkan dalam 1Tim. 3:1-13 dan Tit. 1:5-9, delapan belas berkaitan dengan reputasi seseorang, etika, moralitas, temperamen, kebiasaan, dan kedewasaan rohani serta psikisnya.

Yang harus kita garis bawahi organisasi kristen, terutama gereja BERBEDA  dengan organisasi “duniawi”. Munculnya organisasi gereja bukan hanya disebabkan keinginan beberapa gelintir orang yang ingin membentuknya karena mempunyai tujuan bersama. Saya meyakini bahwa kehadiran organisasi gereja ada karena campur tangan dan peran Tuhan di dalamnya. sekalipun tidak dapat dipungkiri sarana menejemen  berperan untuk membantu pengembangannya, tetapi eksistensi dan perkembangannya tidak semata-mata karena faktor menejemen belaka justru  pekerjaan Roh Tuhan harusnya mendominasi organisasi gereja dan tidak terbatas pada para pendetanya. Tidak jarang kita sebagai pendeta justru menjadi penghambatnya.

Ada dua perbedaan prinsipil antara gereja dan organisasi. Pertama, dari segi naturnya. Hakekat gereja adalah organisme bukan organisasi. Ada tiga pihak yang hadir dalam gereja: Kristus, warga jemaat, dan pemimpin. Karena hakekat gereja sebagai organisme maka setiap anggota harus memiliki relasi pribadi dengan Kristus sebagai kepala gereja, dan sewajarnya setiap anggota memiliki persekutuan satu dengan lainnya. Kedua, sasaran utamanya. Gereja mengutamakan manusia lebih daripada benda, kerja, atau hasil. Sebab itu tujuan utama gereja adalah kedewasaan dari tubuh dalam relasi dengan Tuhan dan antar sesama di dalamnya. Sedangkan tujuan utama organisasi adalah untuk melaksanakan tugas dan mencapai upaya produktif,sehingga bisa saja mengabaikan kepentingan individu dalam organisasi sebab yang penting bisa mencapai targetnya.
Implikasi dari prinsip Alkitab tersebut adalah, gereja (komunitas umat Allah) sebagai organisme, secara terbatas dapat memanfaatkan sistem organisasi dan manajemen untuk melaksanakan fungsinya sebagai umat Allah. Namun gereja harus tetap mempertahan sifat “keorganismeannya” yang mengutamakan manusia, relasi antar pribadi, dan kebergantungan kepada Kristus sebagai Kepalanya.

GPIB sebagai organisasi gereja di samping memahami arti dan hakekat kepemimpinan GPIB juga harus memahami SISTEM KEMANUSIAAN secara mendasar yang pada akhirnya dapat memberi pemahaman/perbedaan  organisasi gereja.

Aku adalah satu diantara mereka dan kamu. Aku hanya bagian dari yang tidak terpisahkan diantara mereka dan kamu. Hidupku adalah bagian dari mereka dan kamu. Apa yang ada padaku adalah sebuah anugerah bagi mereka dan kamu. Aku Mereka dan Kamu adalah gereja”

Manusia adalah sebuah sistem : yang artinya bentuk fisik yang dikelilingi oleh lingkungan (surrounding). Yang membatasi sistem dengan lingkungan adalah pembatas (boundary).

Apakah manusia itu? Menurut alkitab, manusia adalah roh, tubuh dan Jiwa. Apakah jiwa itu ? Jiwa = Tubuh + Nafas. Manusia adalah ciptaan Tuhan yang special. Manusia diciptakan segambar dengan Tuhan yang sama-sama memiliki esensi Roh. Arti segambar adalah manusia yang memiliki roh yang besumber dari Tuhan. Sehingga manusia dapat memancarkan sifat-sifat rohani Tuhan yaitu buah-buah rohani, kasih, sabar, sukacita dst. Manusia yang mengandalkan Tuhan maka sifat-sifat roh (rohaninya) akan mempengaruhi keinginan “jiwa dan daging”.

Sistem manusia yang memiliki  rohani ini akan memiliki daya imun untuk mencegah  keinginan dosa disaat seorang manusia-rohani berinteraksi dengan lingkungan. Ketika seorang menembus batas (boundary) sistemnya dan memasuki lingkungan sifat-sifat roh itu muncul sebagai sifat manusiannya. Karena orang yang bersekutu dengan Tuhan memiliki “sistem online” sehingga Tuhan selalu membantu mereka dalam berbagai hal dalam kehidupannya. Roh Tuhan didalam hati manusia, maka mereka akan penuh kasih, tidak ada satupun hukum yang menentang kasih.

Gereja adalah kumpulan dari sistem-sistem tersebut yang memiliki sifat roh yang sama. Jadi kita bisa melihat gereja sebagai suatu sistem yang lebih kompleks yaitu sistim di dalam sistem. Gereja adalah tempat latihan, melatih sistem pribadi (manusia) untuk saling mengasihi, belajar saling mengisi, belajar saling menolong sehingga ketika masuk ke lingkungan mereka telah cukup kuat menghadapi tantangan di lingkungan.

Semua yang berada di luar sistem adalah lingkungan. Sebagai individu maka keluarga dan gereja adalah lingkungan yang terdekat. Lingkungan adalah tempat kita memulai menyalurkan sifat rohani kita. Tanpa berkontak dengan lingkungan kita tidak dapat menunjukkan buah-buah rohani itu.

Tapi pada dasarnya roh manusia tidak  konsisten, keinginan daging (dosa) mengalahkan jiwa dan roh, sehingga jangan heran jika rasul Paulus mengatakan bagaimana dapat lepas dari tubuh yang lemah ini (atau roh adalah baik tetapi keinginan daging lemah). Jangan heran jika ada pendeta atau hamba Tuhan yang jatuh kedalam dosa, itu semua karena keinginan daging (roh-roh lingkungan/energy lingkungan) mengalahkan keinginan jiwa dan roh. Memahami sistem manusia Organisasi GPIB dapat mendefinisikan lingkungan organisasi gereja sebagai pola asumsi dasar (basic assumptions) dalam menuntaskan pemasalahan yang dihadapi baik di dalam gereja maupun lingkunan sekitar. Hal ini harus dipahami secara serius oleh para pelaku orgnisasi GPIB.

Jika asumsi ini menjadi warna dan menjadi budaya yang harus “dipatenkan” sebagai acuan normatif bagi organisasi GPIB di dalam menyelesaikan segala permasalahan baik di dalam maupun di luar. Asumsi ini akan menjadi absolut untuk diterapkan.

Karena itu, perbaikan kepemimpinan di GPIB harus ditempuh dengan memperbaiki kualitas , karena itu merupakan salah satu  pilar yang terpenting dalam sebuah lembaga organisasi. Kepemimpinan GPIB seharusnya sudah sangat memahami aturan dan  nilai-nilai kepemimpinan asumsi dasar  dimana mampu  menggagas tingkah laku gereja yang di dalamnya adalah masyarakat dengan mengatur, menunjukan, mengorganisir atau mengontrolnya, atau melalui prestise, kekuasaan, atau posisinya.  Pemimpin yang baik adalah seseorang yang memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya, dan akseptansi secara sukarela oleh para pengikutnya. Antara lain menghargai perbedaan pendapat , sikap egaliter, mau menerima masukan, dan lain sebagainya.

Karena itu, perbaikan kualitas  harus ditempuh dengan memperbaiki kualitas kepemimpinan dan orang-orang di dalamnya. Organisasi GPIB seharusnya sudah lulus dalam menata kelola visi dan misinya baik di dalam maupun di luar.

Selain faktor di atas,   ”Budaya feodalistis masih sangat kuat. Ini bertentangan dengan semangat egaliter,” .Banyak agenda yang dibicarakan GPIB diSetiap persidangan hanya membicarakan segala urusan internal saja,  kurang serius atau mungkin tidak mau terbeban banhkan mungkin saja tidak mampu membahas arah dan pergumulan gereja dan masyarakat, bagaimana kita mau serius mewujudkan kehadiran GPIB di tengah masyarakat.  Rumusan kepentingan  tidak terlihat jelas karena hanya sekedar wacana.

Menurut Pdt. Jo Hehanusa ; GPIB masih berpikir bahwa hanya dengan kaca mata teologis saja semua persoalan bisa diselesaikan. Karena melihatnya hanya dari sudut teologis, kita kecenderungannya hanya mengaitkan yang teologis itu dengan internal gereja.

menurut penulis, GPIB tidak tertarik dan mungkin terlalu sibuk di dalam, atau mencari aman sehingga gereja mengalami “rabun senja”, tidak tahu ke mana perubahan-perubahan terjadi di bangsa kita. Gereja harusnya membuat antisipasi, prediksi, dan proyeksi yang baik mengenai apa yang akan kita hadapi. Gereja harus gerak cepat untuk memahami perubahan-perubahan yang sedang terjadi, dan membuat beberapa formula kemungkinan untuk siap dalam perubahan tersebut.

Menurut Arie Ihalauw; Pekerjaan dalam Gereja bukan milik satu orang saja, seharusnya bisa DIBICARAKAN BERSAMA…. sebab kekayaan yang diberikan TUHAN itu sama, tetapi KEMAMPUAN kita berbeda, jadi saling mengisi . Nah,  jikalau kita berpikir demikian, maka sekali lagi kita membutuhkan waktu untuk duduk bersama sambil membicarakan MASTERPLAN, termasuk VISI pembentuk MISI, barulah FUNGSI SISTEM dikembangkan, di mana SETIAP ORANG GPIB IKUT MENGAMBIL & BERPERAN SERTA di dalamnya. Sekecil apapun POTENSI, itu adalah KARUNIA Allah yang patut dipikirkan PEMIMPIN MASA DEPAN, supaya POTENSI itu tidak tercecer, tidak dicuri orang, tidak dilecehkan; melainkan DIHIDUPKAN & DIAYOMI dalam PERSEKUTUAN.

GPIB sebagai gereja yang hidup di abad 21 dengan segala perkembangan arus modernisasi di bidang  pengetahuan dan tehnologi membutuhkan struktur dan sistem yang  lebih mumpuni di samping tentunya Tuhan turut terlibat di dalamnya.

Dan sudah waktunya GPIB memikirkan lebih serius lagi keberadaannya di lingkunkan luar sangat dibutuhkan. Jika ini tidak dilakukan GPIB  sama dengan  RAKSASA DALAM TEMPURUNG atau hanya ada di dalam ISTANA ORANG BERHIKMAT

Dengan demikian, kita bisa berharap dan membangun sikap optimisme ke depan bahwa kiprah GPIB  akan beriringan dengan peningkatan wawasan dan sikap kebangsaan seluruh komponen masyarakat Indonesia. GPIB harusnya menjadi pembelajaran yang dasyat. Berbagai isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA)

BY:Martha Belawati Tarihoran

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s