Gerakan pemikiran ISLAM LIBERAL Indonesia


A. Intermezo Istilah lieberal sebenarnya problematic untuk kaum muslim di Indonesia. Bahkan cenderung kontroversial & terjadi penolakan. Karena umat Islam di Indonesia belum siap menggunakan istilah bahasa yang datangnya dari non Arab (tradisi Eropa/Amerika). Karena itu MUI bersama beberapa ormas Islam memberikan fatwa HARAM atas 3 kata :Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme. Padahal ke tiga  istilah  Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme  tidak semata dalam alur perdebatan teologis/ketuhanan semata tetapi masuk dalam ranah perdebatan sosiologi & politik. Secara khusus liberalisme merupakan perdebatan yg bermula dari persoalan-persoalan “TAFSIR” sebagai corpus yg terbuka,boleh dikritik, dan dirubah. Tafsir tidaklah mudah keberadaannya, membutuhkan konteks dan tidak imun dari ruang serta waktu kedatangannya. Kaum liberal berada dalam perdebatan semacam itu sehingga banyak kalangan yg kurang dapat menerimanya seakan-akan hendak merombak teks keagamaan, padahal hanya merombak tafsir. Disitulah persoalan Islam liberalisme   tidak dapat diterima. Persoalan tafsir akhirnya berkembang ke ranah lainnya, yg sifatnya sosiologis politis pula, yakni soal menempatkan paham (mashab) dalam memahami fenomena sosial yg terjadi dan berkembang. Dilihat dari perspektif modernisme oleh karena itu teks suci harus diperhadapkan dengan masalah modernism dan pascamodernism yg tidak ditolak kehadirannya oleh siapapun. Kaum liberal sangat berdekatan dengan modernisme maupun pascamodernism dalam memahami realitas sosial, sehingga teks harus hadir di sana. Teks suci keagamaan tidak boleh “lepas dari kondisi sosial” agar tidak kehilangan relevansinya. Hal lain yg terpenting dalam mashab liberal adalah menempatkan tafsir dalam konteks yg relative dan bisa dilakukan bahkan diakses oleh banyak pihak, dengan kadar kemampuan yg beragam tidak ada tafsir monolitik (penunggalan). Disinilah permasalahan keragaman tafsir teks ditolak oleh umat muslim yang berpatokan bahwa menafsirkan teks harus memiliki otoritas keagamaan tertentu yang sangat ketat syaratnya. Antara lain syaratnya; paham bahasa Arab, hapal ratusan bahkan ribuan dalil hukum, paham ushul fikih, dan sebagainya yg nyaris tidak mungkin dilakukan hanya satu orang. Tidak ada satupun syarat-syarat yang membicarakan pengetahuan sosial-politik, Ekonomi, maupun budaya. Padahal masyarakat  tidak pernah bebas dari permasalahan sosial-politik, ekonomi, maupun budaya. disinilah terjadi perdebatan sengit antara monolitik tafsir dan pluralistik tafsir teks berlangsung sengit. B. Beberapa catatan evaluatif dari perkembangan yg terjadi dan perdebatan yang muncul, sesungguhnya islam liberal Indonesia berbeda dengan islam liberal di Eropa ataupun di Timur-Tengah jika dilihat dari syariah, isu gender dalam tipologi syariah dan  perkembangan sosial yang terjadi sedangkan di Indonesia adalah sosial,politik,ekonomi,gender, maupun budaya. Namun demikian dalam perkembangannya liberal muslim Indonesia kemudian “terjerat” dalam kategorinya sendiri dan dikritik oleh beberapa pihak yang menolaknya, karena seakan-akan tidak lagi liberal (memberi kebebasan dalam menafsirkan teks) tetapi terpancang pada penafsiran-penafsiran teks dari pihak lain ang kemudian dijadikan sandaran utama dan melupakan yang lainnya. Pesoalan lainnya adalah kesan elitis dari kaum liberal islam indonesia, dimana mereka lebih mengusung tema-tema yang sifatnya akademik murni, bahkan kurang membumi, tidak menyentuh langsung permasalahan  riel yang terjadi di Indonesia. Karena itu tema yang diusung kaum islam liberalis dikritik sebagai tema untuk konsumsi kelas menengah atas bukan kebutuhan kelas bawah padahal yang membutuhkan kelas bawah yang terpinggirkan oleh kondisi sosial-politik,ekonomi,cultural, maupun spiritual oleh masyarakat lainnya. Sebab itu sering terdengar bahwa kaum liberal islam  Indonesia adalah mereka yang “genit secara intelektua” karena mengadopsi metodelogi dan tema bergensi bahkan memiliki kelas tersendiri sehingga membuat sulit berkembang di dalam msyarakat. Oleh sebab itu liberal islam Indonesia harus dibumikan pada ranah praksis dan kelas rakyat sehingga semakin banyak pengikut serta yang mengaksesnya. Jika tidak dibumikan maka akan terjadi penolakan-penolakan yang dilakukan oleh kelompok islam lain seperti FPI, FUI, MUI dan HTI akan semakin keras dan akan mendapatkan tempat di hati umat islam lainnya karena mereka dianggap mewakili hati dan spirit Islam rakyat. Sedangka islam liberal dianggap tidak/kurang mewakili aspirasi islam rakyat yang jumlahnya jauh lebih besar di Indonesia, dibanding kelas menengah Muslim Indonesia. Walhu alam bishowab

Hasil dari SITI (Studi Intensif Tentang Islam)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s