Budaya organisasi di GPIB (Selayang pandang organisasi GPIB 2)


Intermezo

Budaya organisasi

Sesungguhnya setiap organisasi bertanggung jawab untuk mengembangkan suatu perilaku organisasi yang mencerminkan kejujuran dan etika yang dikomunikasikan secara tertulis dan dapat dijadikan pegangan oleh seluruh anggotanya.  Budaya tersebut harus memiliki pondasi  nilai-nilai luhur  bagi etika pengelolaan suatu organisasi yang mencakup profesionalisme, kerja sama, keserasian, keselarasan, keseimbangan, dan kesejahteraan. Implementasi nilai-nilai yang terdapat dalam budaya kerja tersebut dalam suatu organisasi sangat erat hubungannya dengan kemauan manajemen untuk membangun etika perilaku dan budaya organisasi.

Nevizond Chatab menyimpulkan budaya organisasi dari beberapa batasan yang disampaikan oleh para ahli, yaitu merupakan pengendali sosial dan pengatur jalannya organisasi atas dasar nilai dan keyakinan yang dianut bersama sehingga menjadi norma kerja kelompok dan secara operasional disebut budaya kerja karena merupakan pedoman dan arah perilaku kerja orang-orangnya, sedangkan Pithi Sithi Amnuai menyebutkan, budaya organisasi adalah seperangkat asumsi dasar dan keyakinan yang dianut oleh anggota-anggota organisasi, kemudian dikembangkan dan diwariskan guna mengatasi masalah-masalah adaptasi eksternal dan masalah integrasi internal.

Budaya organisasi merupakan sistem penyebaran kepercayaan dan nilai-nilai yang berkembang dalam suatu organisasi dan mengarahkan perilaku anggota-anggotanya. Budaya organisasi dapat menjadi instrumen kompetitif yang utama, yaitu apabila budaya organisasi mendukung strategi organisasi dan apabila budaya organisasi dapat menjawab atau mengatasi tantangan lingkungan dengan cepat dan tepat.

fungsi pokoknya sebagaimana  adalah sebagai batas pembeda terhadap lingkungan, organisasi, maupun kelompok lain, dan sebagai perekat bagi orang-orang dalam organisasi. Sebagai batas pembeda ini karena adanya identitas tertentu yang dimiliki oleh suatu organisasi yang tidak dimiliki oleh organisasi atau kelompok lain, sedangkan sebagai perekat terhadap lingkungan hal ini merupakan bagian dari komitmen kolektif .

Budaya organisasi tersebut sangat berarti bagi organisasi dalam mencapai tujuannya. Jika orang-orang dalam organisasi tersebut mampu menyelaraskan budaya dengan strategi organisasi, maka tujuan organisasi dapat lebih efektif dalam pencapaiannya. Budaya organisasi yang unggul dapat diciptakan berkaitan dengan organisasi selalu tumbuh dan berkembang mencapai tujuan akhirnya.

Karakteristik utama dalam budaya organisasi ;

* Tiga tingkatan analisis adalah individu,kelompok dan organisasi adalah sama pentingnyauntuk penelaahan dan pemahaman budaya dalam organisasi
* Orientasi humanistik adalah penekanan atas pentingnya sikap dan persepsi dalam pemahaman budaya di dalam organisasi
* Orientasi prestasi kerja adalah perhatian yang berlanjut diberikan atas pencarian cara-cara meningkatkan , memelihara dan mendorong prestasi kerja    yang efektif
 * Pengakuan adanya kekuatan adalah pengidentifikasi dan pengamatan berlanjut atas kekuatan lingkungan penting untuk meningkatkan perilaku budaya organisasi.
 * Penggunaan metode ilmiah adalah jika mungkin .metode ilmiah digunakan untuk melengkapi pengalaman dan intuisi
 * Orientasi aplikasi adalah pengetahuan yang di kembangkan dalam bidang budaya organisasi akan sangat bermanfaat bagi  praktisi jika mereka dihadapan kepadamasalah individu.kelompok dan organisasi
Manfaat budaya organisasi

 * Pengendalian operasi yang efisien
* Meningkatkan rasa tanggung jawab
* Menimbulkan rasa saling pengertian
Bentuk budaya organisasi
* Satu arah
* Dimana berlangsung secara cepat dan efisien
* Dua arah
* Dimana semua perintah dapat diterima dan didskusikan terlebih dahulu
Selayang pandang Budaya organisasi  GPIB
Persoalan Fungsi atau peran sosio-religius dari manusia itu merupakan konstruk utuh dari sebuah Model/sistem budaya organisasi.  Karenanya ketika kita membicarakan Fungsi dan peran orgainisasi tersebut sesungguhnya kita sedang bicara soal Sistem/model.
menurut Arie Ihalauw; Organisasi GPIB pasti memiliki  DASAR (PRINSIP) TEOLOGI ALKITABIAH sebelum MEMBANGUN GAGASAN-GAGASAN atau Visi Dan Misinya. Sebab di dalam Alkitab terkandung banyak kekayaan spiritual dan sejarah sosial keagamaan yang dapat kita pakai untuk MEMBERDAYAKAN SISTEM KEHIDUPAN.  Sebagai organisasi GPIB yang di dalamnya terdiri dari para TEOLOG (Pendeta) sangat penting dan selalu diingat terus menerus untuk menafsirkan ulang (reinterpretasi) , menguji ulang (re-evaluasi) dan merumuskan kembali (re-formulasi) NILAI-NILAI ALKITABIAH sebagai landasan spiritual untuk melakukan pembentukan kembali (re-formasi) tentang MANUSIA dan SISTEM-ORGANISASINYA (Tatanan Hukum dan Pelaksanaan Organisasi Gereja) yang selalu berkembang mengikuti arus perkembangan jaman/dinamis.
Yang terpenting memiliki KESETIAAN PEMIMPIN GEREJA terhadap KONSESNSUS / KETETAPAN-KETETAPAN  yang ditetapkan melalui PERSIDANGAN SINODAL
GPIB yang bersistem presbyterial sinodal, memandatkan para presbyter sebagai “pengemudi”. Para presbiter yang adalah gabungan dari pilihan Allah berdasarkan pangilan (para pendeta) yang diberkati Alah. Sama seperti Allah sipencipta dan siempunya dunia serta isinya, dan manusia diberi mandat sebagai pemelihara, sehingga manusia diciptakan dalam image of God.
Begitu juga dalam sistem presbyterial sinodal para presbyter diberi mandat oleh Kristus untuk meng-arti-kan gereja pada konteksnya. Kesemuanya itu berarti bahwa peran sipemegang mandat adalah temporal dan harus mempertanggung jawabkannya kepada pemiliknya. 
Kesemuanya itu berarti bahwa peran sipemegang mandat adalah temporal dan harus mempertanggung jawabkannya kepada pemiliknya. Siempunya berhak kapan saja mengambil ke-mandat-an yang diberikanNya, bergantung dari analisa, pilihan dan hak kebebasanNya. Sipenerima mandat haruslah bersyukur dan melaksanakan mandat dengan sukacita tanpa terikat akan status dan jangka kemandatan.
Di dalam organisasi GPIB  sangat tampak  membangun konstruk ide/gagasan dengan membingkainya dengan pendekatan deduktif teologis/Alkitabiah (pendalaman konteks sosio-historis sebuah teks,dstnya),  Sedangakan gagasan dengan pendekatan induktif masih minim atau hampir tidak ada sama sekali

Model berpikir deduktif tentu merupakan “Model Sakti nan Sakral” yang telah membingkai cara “pendeta-pendeta” pada kebanyakan dalam memanejemeni proses berpikir mereka, seperti kita sebagai pendeta di jemaat Konstruktor khotbah/boleh disebut Teolog dengan model berpikir khas deduktif biblis (tafsir situasional tek–berakhir pada aktualisasi konteks user kekiniannya). Bukan berarti saya menganggap pemahaman situasi teks tidak penting. Hal ini lebih merupakan sebuah style berpikir yang layan juga kita dalami namun tidak (idolatri). Sebagai sebuah organisasi gereja  kedua model pendekatan ini mari kita perlakukan sebagai sebuah kekayaan khasanah berpikir yang tentu hasil-hasil kajiannya akan lebih komprehensif.

GPIB sebagai sebuah organisasi , pemimpin harus Bekerja keras untuk mereka yang ikut di belakang (gereja-gereja) sebaliknya gereja menguatkan mereka yang ada di depan dengan penghargaan dan kritik yang konstruktif, membangung kerja sama yang kooperatif dan komunikatif Atau pilihannya kita lebih cenderung saling menjatuhkan, saling mempersulit kemajuan dan kesuksesan karena ego masing-masing.

Organisasi GPIB harus memiliki stakhoders yang  terdiri dari individu-individu dan kelompok yang diharapkan oleh sebuah organisasi dalam mewujudkan tujuan organisasi untuk pertumbuhan dan kelangsungan organisasi.

Menurut Mitchell (2006) Stake dapat mencangkup sesuatu nilai yang berbentuk sumberdaya; SDM, fisik bangunan tanah dan gedung, keuangan dan sebagainya, legalitas, moralitas, system dan tentunya juga budaya organisasi, dalam artian hal inilah yang akan dihold oleh stakeholders. Ia menjelaskan bahwa Stakeholders dikelompokkan dalam beberapa tipe sesuai kemampuan mempengaruhi suatu organisasi berdasarkan power, legitimasi, dan urgensi yang dimilikinya.Diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Dormant stakeholder adalah stakeholder yang hanya memiliki power namun tidak memiliki legitimasi dan urgensi.

2) Discretionary stakeholder adalah stakeholder yang hanya memiliki legitimasi namun power dan urgensi tidak ada padanya.

3) Demanding stakeholder adalah stakeholder yang hanya memiliki urgensi namun tidak memiliki power dan legitimasi

4) Dominant stakeholder adalah stakeholder yang memiliki power dan legitimasi namun tidak memiliki urgensi.

Dangerous stakeholder adalah stakeholder yang memiliki power dan urgensi namun tidak memiliki legitimasi.

Dependant stakeholder adalah stakeholder yang memiliki legitimasi dan urgensi namun tidak memiliki power.

Definitive stakeholder adalah stakeholder yang memiliki power, legitimasi, dan juga urgensi.

Dari tujuh tipe stakeholder di atas, kita dapat mengkondisikan organisasi yang ada di gereja kita, apakah para stakeholder termasuk salah satu diantaranya? Power mungkin berupa uang, kekayaan material lainnya, karisma dan sejenisnya. Legitimasi mungkin berupa kewenangan untuk membuat keputusan dan bertindak, dan urgensi mungkin berupa keinginan, kebutuhan, dan kepentingan untuk keberlanjutan organisasi.

Tipe stakeholder yang dianut di atas akan berimplikasi pada kreasi, inovasi, dan loyalitas jemaat yang ada. Harusnya semua Stakeholder organisasi GPIB ada dalam tipe definitive stakeholder yang memiliki power, legitimasi, dan juga urgensi sehingga kehidupan gereja akan mengalir dari loyalitas jemaat, jika loyalitas jemaat terbentuk maka alhasil kehidupan dalam bergereja akan dipenuhi dengan semara damai sejahtera.

Stagnasi organisasi GPIB  juga dapat disebabkan akan kurangnya inovasi dan kreasi para stakeholder yang disebabkan ketiadaan power dan urgensi. Organisasi masa kini harus mampu menyentuh dan bersentuhan dengan masalah yang berhubungan dengan kemanusiaan dengan berbagai permasalahannnya (Social Value), kesejahteraan para anggotanya (Economic Value), serta kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya (Environmental Value). Ketiga hal ini sangat menentukan maju mundurnya  organisasi GPIB.

Jika GPIB  tidak mampu membawa nilai nilai sosial maka GPIB  bagaikan garam yang dibuang di aspal. Sedangkan jika GPIB  tak mampu membawa nilai nilai kekristenan pada lingkungannya maka dia tidak akan dapat menjadi terang dunia. Begitu juga, jika GPIB tidak mampu menjadi inspirator nilai-nilai ekonomi (Intraprenurship) maka GPIB akan menciptakan umat-umat miskin fisik dan tentunya Injil akan sangat sulit untuk diwartakan. Ketiga Value (Social-Economic-Environmental) sebaiknya dijadikan bingkai segitiga dalam pelayanan Gereja masa kini dan sekaligus menjadi jembatan penghubung antara misi dan visi GPIB saat ini.

*Jika pemahaman budaya organisasi dikenakan dalam kehidupan ber- GPIB, maka ada beberapa hal yang dapat kita simak lewat persidangan-persidangan yang diadakan GPIB di dalam keputusan-keputusan aras sinodal yang merupakan potret yang menarik. Dimana banyak terjadi keputusan-keputusan pada tingkat aras sinodal masih “tergantung” tidak terselesaikan dan pada sidang selanjutnya keputusan ini akan terlupakan. Semua ini terjadi karena tidak ada mekanisme yang jelas. Misalnya, jika pertanggungjawaban MS kita terima dengan catatan, maka catatannya harus jelas, apalagi jika itu menyangkut laporan keuangan.  Nyatakan apa yang salah dan apa yang benar dengan tegas agar kita tau kesalahan yang kita perbuat dan belajar untuk tidak mengulanginnya lagi (seperti kasus-kasus yang terjadi di gereja). Terlalu banyak wacana yang akhirnya tidak berjalan semestinya.

*kurang adanya perhatian terhadap para pendeta emiritus (suatu saat kita juga)  walaupun telah disiapkan untuk mendapatkan tunjangan pengadaan rumah mereka setelah pensiun, juga kepada mereka dipersiapkan pensiun (termasuk kita), sekalipun  sebenarnya jaminan itu tidaklah mencukupi kebutuhan hidup (Apalagi dana pensiun masih belum lunas) setelah pensiun dan para emiritus (suatu saat kita juga) tidak mendapat pelayanan kesehatan yang baik ( udah parah baru ada perhatian ). Membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk menanganinya.

kurang ada perhatian misalnya,dengan permasalahan terhadap rekan pendeta yang diberhentikan tanpa alasan yang jelas. Janji untuk menyelesaikan tetapi tidak ditepati.

*Hal-hal yang tidak memadai seperti inilah muncul sisi kemanusian,dan jangan disalahkan jika  jemaat yang basah menjadi incaran dalam mutasi.  Karena mutasi adalah kewenangan MS, maka orang berlomba-lomba memilih dan menempatkan orang yang tepat di MS adalah taruhannya (Muda-mudahan tidak) dan mengharapkan timbal balik bagi mereka yang terpilih (Muda-mudahan salah). Kurangnya jaminan kesejahteraan membuat para pendeta berusaha semaksimal mungkin  mengambil hati bahkan mungkin  tidak memiliki independensi, tidak berani bersikap keras terhadap jemaat/majelis jemaat yang berbuat salah.  Ketergantungan ekonomis  pendeta pada jemaat basah semakin besar. Hal ini berpengaruh pada aras sinodal, dimana berharap untuk cepat mutasi dari tempat yang kering…apalagi jika yang ada di MS teman dekat/keluarga. Ini akan berdampak pada GPIB yang terus menerus menjadi gereja yang “primitif”, “kuper”, dan tertutup.

MS kurang memvasilitasi atau tidak menyediakan sisitim pembinaan pagi para pendeta secara konseptual misalnya  penyediaan buku-buku untuk pegembangan potensi, pengembangan spiritualnya untuk penyegaran di dalam kepenatan pelayanan. Penerbitan GPIB yang kurang dimaksimalkan dan masih terbatas pada renungan-renungan seperti SBU,SGK, dan lainnya. Kurang adanya perhatian terhadap jenjang karier pendeta dalam hal studi lanjut bahkan tidak harus pada jurusan teologi, karena GPIB sangat memerlukan juga disiplin ilmu yang lain untuk pengembangannya. Semuanya untuk mewujudkan memberdayakan potensi  jemaat untuk menjadi jemaat yang misioner. Sudah waktunya GPIB bersosialisasi dengan lingkungan disekitarnya.

Tulisan ini adalah   kerinduan dan mewujudkan kasih di lingkungan gereja kita agar semakin berbuah dan tentunya menghadirkan tanda-tanda  Kerajaan Allah. Pelayanan GPIB hendaknya dibangun dengan cara berfikir  yang integratif, perspektif jangka panjang, mempertimbangkan keanekaragaman dan mendelivery keadilan sosial ekonomi yang lebih baik bagi seluruh warganya dan tidak berorentasi pada partikulatif  dari perspektif jangka pendek. GPIB kiranya dapat mengembangkan pemahamannya mengenai misi dan menata ulang hal-hal yang tidak pada tampatnya. Yang perlu diingat kembali bahwa misi itu ditujukan kepada manusia (universal) di dunia ini, dan yang teologis tekstual, bahkan teologis historis perlu lebih dikontekstualisasikan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s