Membangun Motivasi Pelayanan


Bacaan: 2Korintus 4:1-6

Intermezo

2 Kor. 4:1-6,  menceritakan permasalahan-permasalahan  yang dihadapi oleh Rasul Paulus ketika melayani jemaat di Korintus. Ketika itu jemaat Korintus diliputi oleh keributan atau pertikaian . Banyak diantara para pemimpin menggunakan kekuasaan  mereka untuk kepentingan pribadi dan pemenuhan hawa nafsu mereka, dan bukan untuk melayani dan memberitakan Injil Yesus. Rasul Paulus mengajarkan bagaimana seharusnya memiliki pola kepemimpinan yang benar sebagai pemimpin jemaat dan sekaligus hamba Kristus.

KONSEP DASAR

Membangun Motivasi pelayanan  menuntut banyak interaksi dalam keragaman dan perbedaan dari perilaku, persepsi, harapan, kebutuhan, dan logika berpikir manusia. Hal ini menimbulkan tantangan yang sangat besar untuk menghasilkan pelayanan yang konsisten. Konsep dasar  adalah belajar dari berbagai skenario yang betul-betul terjadi dalam berbagai situasi pelayanan di dunia nyata pelayanan. Untuk membangun motivasi pelayanan kita  didorong untuk menjadi kreatif dan mampu muncul dengan solusi sendiri tanpa mengabaikan prinsip dan standar pelayanan Alkitabiah.

Tiga pokok utama yang dibahas adalah:

I. Bagaimana kepelayanan disia-siakan?

  • Ketika Anda dipilih sebagai pelayan atau presbiter     atas dasar kemampuan intelektual, senioritas dan/atau semata-mata berdasarkan kekayaan materinya bukan karena panggilan Kristus atau bukan karena keterpanggilan yang digumulinya secara intens. Maka diri Anda tidak merasakan panggilan Yesus (internal call).
  • Ketika seorang pelayan atau presbiter melayani seperti penguasa (karena faktor materi berlimpah) tetapi tanpa dibekali atau diyakini dengan dasar-dasar seorang pelayan yang menghamba maka akan terjasi seperti yang digambarkan Rasul Paulus, ketka Firman Allah dibengkokkan sedemikian rupa agar sesuai dengan keinginan-keinginan mereka sendiri.
  • Ketika  seorang pelayan atau presbiter  mengadopsi cara-cara duniawi dan mengaborsi prinsip-prinsip Firman Allah.
  • Ketika seorang pelayan atau presbiter mengorbankan kepentingan orang lain demi  mementingkan dirinya sendiri  (bukan untuk Kristus)

II. Mengapa kepelayanan  disia-siakan?

Permasahan utamanya utamanya ialah karena kita pura-pura “bodoh” , menutup hati kita  untuk mengerti siapa diri kita di hadapan Kristus. Kita gengsi dengan predikat kita, bahwa kita sebagai  “jongos” atau budak  Kristus dan  sesama kita. Pertobatan kita untuk menjadi pengikut Kristus adalah saat kita mulai menjalani perbudakan/perhambaan baru.

“…bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah, untuk melayani Allah yang hidup dan benar” (1 Tes.1:9).

“Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah (douloi)” (1 Pet.2:16).

Renungkanlah !

1. Taat (obedience):
Apakah kita mau taat di area pelayanan, di manapun kita ditempatkan, bagaimanapun perasaan kita? Atauah kita lebih sering memilih-milih pelayanan?

2. Patuh (submission):
Apakah kita mampu bersyukur kepada Tuhan, apapun yang terjadi di area di mana kita ditempatkan, bahkan meskipun kita mungkin tidak memahaminya?

3. Penyerahan Diri (reliance):
Apakah kita mau secara total menggantungkan diri kita kepada Tuhan   daripada kepada harapan semu, tujuan dan arti hidup yang tidak jelas  kita pikirkan? Sering kali kita lebih cenderung mengutamakan penampilan, karir, pencapaian dan kontribusi kita di dalam masyarakat, yang merupakan kebanggaan, harapan, makna dan tujuan hidup kita. Oleh karena itu kita masing-masing perlu bertanya, “Kepada siapa saya mengabdi? Kepada Tuhan yang menjadikan segala sesuatu bagi saya, atau bagi kebanggaan saya sendiri?”

4. Menaruh Kepercayaan (trust):
Adakah pergumulan, masalah atau keterbatasan di dalam hidup kita, yang menurut kita terlalu besar untuk Tuhan atasi?
Budak semua orang: dimerdekakan dari perbudakan/perhambaan (1 Kor. 7:21-24)

  • 1 Korintus: “… sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang”(9:19)
  • 2 Korintus: “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hamba-Mu karena kehendak Yesus” (4:5)
  • Galatia: “… maka aku bukanlah hamba Kristus ” (1:10)
    “…melainkan layanilah  seorang akan yang lain oleh kasih”(5:13)

III. Bagaimana motivasi pelayanan kita yang benar?

Banyak di antara kita sebagai pelayan sering kali kita salah atau bahkan pura-pura bodoh, buta, dan tuli dalam memahami arti  “melayani,” misalnya; melayani ada pamrihnya agar menerima “berkat” sebagai imbalan  (menyogok Tuhan) supaya Tuhan tidak marah kepada kita. Apa bedanya kita dengan orang-orang yang memberi sesajen, karena takut akan malapetaka/hukuman dari Tuhan?

Kita kerap memper-Tuhan-kan diri kita sendiri dan bukan Tuhan  Yesus Kristus . Oleh karena itu esensi dari motivasi pelayanan  kita seharusnya karena “Dia yang telah mengasihi kita,” .

Kristus Yesus, walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba (budak), dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Akhirnya kita dapat menebus kembali kepemimpinan yang telah kita sia-siakan hanya apabila kita benar-benar bersedia untuk bersandar kepada Kristus dan percaya serta beriman kepada-Nya.

Kontemplatif

KEHIDUPAN ORANG KRISTEN IBARAT SEBUAH JENDELA YANG MELALUINYA ORANG LAIN DAPAT MELIHAT YESUS

Kehidupan para hamba Tuhan memerlukan “transformasi karakter” ; yang  bukan Cuma seseorang yang berprilaku seperti KRISTUS secara eksternal ( kelihatan luarnya saja ), Transformasi karakter adalah seseorang yang mengalami perubahan “ pembentukan hati seorang hamba yang sejati “, maka cermin hidupnya dengan sendirinya akan berubah , itulah Transformasi yang menghasilkan karakter KRISTUS !

Sebagai orang percaya kita harus bisa mengetahui bahwa tujuan Kristus datang ke dunia ini bukan hanya untuk menyelamatakan manusia saja tetapi juga untuk menyiapkan dan membentuk orang-orang percaya dan gereja-Nya agar bias menjadi “mempelai” yang sepadan dan mempunyai karakter yang serupa dengan Kristus.

Tujuan pembentukan karakter ialah supaya kita sebagai orang percaya bisa mempunyai karakter hati yang menghamba. Dan ini semua tergantung sampai sejauh mana kita secara intens mencari dan menghamba pada-Nya .

Karakter yang dimiliki oleh Kristus terdapat dalam Galatia 5:22-23 yang dijelaskan tentang buah-buah roh yang juga menggambarkan sifat atau karakter dari Roh Kudus atau Tuhan Yesus itu sendiri yaitu Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri.

Kita tidak dapat merubah karakter kita,  sampai kita sadar bahwa kita perlu untuk berubah dan diubah. Oleh sebab itu Tuhan memakai berbagai macam cara untuk membentuk karakter kita, yaitu: melalui kesalahan yang kita buat, melalui Pengujian dan tekanan Yakubus 1:1-3, melalui Firman Tuhan, melalui keteladanan, melalui didikan atau teguran dari orang lain, dan tentunya melalui Roh Kudus.

Sumber Motivasi
(a) Biogenesis – yaitu keberadaan orang itu sendiri. Sejak awal orang seperti ini memang sudah aktif dan agresif. Ia mampu membangun motivasi diri dengan baik. Orang seperti ini memiliki prinsip hidup yang amat kuat, dan rasa percaya diri yang amat besar.
(b) Sosiogenetis – yaitu lingkungan sekitar. Seorang anak akan makan lebih banyak jika ia diletakkan di tengah-tengah lingkungan orang lain yang juga sedang makan dnegan lahapnya. Orang yang tidak mampu berbahasa Inggris “dipaksa” untuk bisa mengguna-kan bahasa itu jika ia diterjunkan di tengah lingkungan yang berbahasa Inggris.
(c) Teogenesis – yaitu dari Tuhan, sifatnya supranatural. Contoh yang sangat jelas adalah motivasi Rasul Paulus dalam memberitakan Injil (Kisah 26:19)

Motivasi Alkitabiah
Setelah kita memahami hakekat pelayanan, pertanyaan berikutnya adalah “apa yang bisa membuat seseorang mau melayani?”

ada 4 hal yang dapat memotivasi kita melayani Tuhan.

(a) Motivasi Ketaatan
(b) Motivasi Kasih
(c) Motivasi Keteladanan
(d) Motivasi Regeneratif, yaitu melihat ke depan, dimana masa depan gereja  ada di tangan orang-orang yang kita layani sekarang.

Kata bijak

“Membangun motivasi pelayanan  hanya bisa diraih jika Anda memiliki motivasi yang kuat dalam diri Anda untuk memilik hati yang menghamba. Tanpa motivasi , sulit sekali Anda menggapai apa yang di inginkan. Karena memiliki hati yang menghamba diperlukan transformasi karakter” – Donny Corneles 

Iklan

2 pemikiran pada “Membangun Motivasi Pelayanan

  1. Kondisi Sekarang di Jakarta atau bahkan Indonesia, semua mata sedang tertuju dengan jokowi yg selalu berbicara ttg pelayanan dan pelayanan, ybs turun ke lapangan, Lalu ada Dahlan Iskan yg cuci kamar mandi di angkasa pura cenkareng, masuk ke dua org tersebut masuk kelompok motivasi yang mana.
    Bagaimana tanggung jawabseorang Pemimpin jemmat thd lingkungan nya,,,,,,,,????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s