Hamoraon


 HAMORAON/kekayaan

Intermezo

Dalam kehidupan di era teknologi digital yang serba canggih dewasa ini, kecenderungan yang merasuki banyak manusia adalah hidup mengejar kesuksessan dalam karier, hidup dan bisnis setinggi-tingginya. Menjadi sukses dalam karier, hidup dan bisnis telah menjadi tujuan utama banyak manusia, apapun paradigma kesuksesan itu baginya. Kebanyakan manusia — apa pun suku bangsa, kedudukan, jabatan, maupun agamanya– menempatkan ukuran kesuksesan hidupnya melalui ukuran penguasaan materi atau harta benda.

‘KEKAYAAN’ itu sebenarnya menimbulkan suatu “resiko” , dan banyak orang yang gagal dan  bermasalah karena   kekayaan . Contohnya:

a. Kekayaan dapat menimbulkan berbagai penyakit, karena sibuk mengumpulkan kekayaan seseorang tidak memperhatikan kesehatannya, kurang olah raga, mengkonsumsi makanan yang berlebihan, pola makan yang tidak teratur, sibuk mengamankan “kekayaan” dan tidak ingat waktu karena tubuh kita bukan mesin…mesin saja perlu istirahat.

b. Kekayaan dapat menimbulkan keretakan dalam rumah tangga, bagi mereka yang tidak pernah puas dan selalu merasa kurang tidak sedikit dari mereka yang mengalami keretakan rumah tangga. Tidak memperhatikan psikologis pasangan dan anak-anak mereka. Akibatnya karena faktor kesepian pasangan ini menghabiskan waktu yang sia-sia bahkan kemungkinan karena butuh perhatian dan buth nafkah bating terjadilah perselingkuhan, bersyukur jika pasangan kita mengisi kesepian mereka dengan mencari kesibukan dengan hal-hal yang positif. Yang lebih parah mungkin anak-anak, karena kehilangan perhatian dan kasih sayang dari orang tua (apalagi jika kedua orang tua sibuk mengejar kekayaan) mereka dapat terjerumus dalam pergaualan bebas; seks bebas,narkoba, dan menghambur-hamburkan uang yang dicari orang tuanya. Bagi suami, karena semua bisa diperoleh dengan mudah maka kehangatan cinta hanya diukur melalui itu saja, seumpama berjajan ria di tempat hiburan dan hotel yang telah menyediakan semuanya untuk mereka.

C. Kekayaan dapat menimbulkan ketidak puasan dan selalu merasa kurang, semisal banyak pejabat yang tersangkut kasus korupsi sekarang ini, bisa diatakan juga mengidap penyakit Geransang (rakus) ini, melakukan tindak kejahatan korupsi karena tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimiliki, tidak pernah puas dengan semua fasilitas yang sudah diberikan, selalu ingin terlihat lebih dari yang  lainnya, gaya hidup hedonis yang menghantui pikirannya, menyeretnya kejurang nista, dari orang yang terhormat menjadi kehilangan kehormatan juga harta bendanya karena tersangkut kasus korupsi.

Inilah suatu problematis , begitu antusianya  manusia mencari kekekayaan materi , sehingga  mereka tidak ingat lagi makna  kehidupan dan apa arti kekayaan secara hakiki. Karena antusias yang lupa diri atau berlebihan dalam mengejar kekayaan dengan tidak memperdulikan norma-norma hukum  dan cenderung memutarbalikan hukum . Kecenderungan seperti inilah yang salah dan harus diluruskan kembali.

Kekristenan menolak kekayaan yang diperoleh dengan cara yang tidak halal. Hukum ke-8  JANGAN MENCURI !. Kekayaan bukan hanya berbicara TUJUAN tetapi BAGAIMANA cara menjadi kaya. Cara yang benar menjadikan tujuan benar. Cara yang salah membuat tujuan jadi salah.

Amsal 16:16
“Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak.”

Kekayaan di tangan orang jahat akan cenderung digunakan untuk melakukan kejahatan. Sebaliknya di tangan orang baik, kekayaan akan digunakan untuk melakukan kebaikan juga.  Segala segi kehidupan kita tak luput dari curahan berkat-berkat-Nya. Dengan kata lain, Tuhan tidak menginginkan kita hidup berkekurangan. Namun kenyataannya banyak orang yang seharusnya hidup dalam limpahan berkat Tuhan ternyata masih berkesusahan. Mengapa? Karena mereka diberkati tetapi tidak tahu bagaimana harus menggunakan berkat-berkat itu dengan bijaksana. Karena itulah Alkitab mengatakan “cinta uang akar segala kejahatan” (I Tim 6:10). Segala hal yang kita perbuat di dalam hidup ini hendaknya dipimpin oleh hikmat, hingga akhirnya kita bisa membuat perhitungan yang matang dan akhirnya bisa melangkah dengan bijak. Demikian juga halnya soal bagaimana mengatur uang kita. Pengaturan uang tanpa pertimbangan yang bijak hanya akan menimbulkan kesulitan pada diri kita sendiri pada akhirnya.

Dampak yang ditimbulkan dari mengejar kekayaan adalah sebagian orang setelah kaya semakin mendekat kepada Tuhan, namun sebagian lagi justru menjadi menjauh. Banyak orang yang jatuh dalam dosa disebabkan karena terjerat harta: penipuan, korupsi, pembunuhan dan kejahatan lainnya. Harta, yang meliputi uang, materi dan kekayaan, sebenarnya bukan sesuatu yang salah/jahat.

Adalah wajar dan sah jika kita ingin hidup sejahtera dan berkecukupan. Tuhan juga menjanjikan hidup berkelimpahan kepada orang percaya (Yoh 10:10, Maz 23:5-6, II Kor 9:8). Namun nasehat yang bijak agar kita melakukan kebajikan dan kasih  bukan karena ada pamrihnya.

Manusia membutuhkan uang karena bisa digunakan berbagai macam kebutuhan hidup tetapi uang tidak bisa mendapatkan segala-galanya, uang hanyalah sarana mencapai sesuatu yang diinginkan , tetapi kalau salah mengunakan uang  justru akan merusak dan menghancurkan hidupnya .  Jika harta menjadi tujuan utama dalam hidup ini bisa menjadi jerat yang menjerumuskan kita dalam dosa. Karena itu nasihat firman Tuhan (Mazmur 62:11), ”janganlah hatimu melekat pada harta.” Sebab jika hati kita melekat pada harta, maka kasih kita kepada Tuhan akan beralih pada harta.  Alkitab menolak kekayaan sebagai tujuan akhir (ultimate goal) dalam hidup. Bahkan Alkitab menjadikan uang sebagai alat untuk menguji kesetiaan iman. Barangsiapa dapat dipercaya soal uang, dapat dipercaya juga soal iman. (Luk 16:10).

Kekristenan memahami kekayaan (yang diperoleh secara benar) sebagai berkat Tuhan sekaligus sebagai godaan. Kekayaan tidak otomatis sebagai berkat. Sama seperti kemiskinan dibalik kekayaan juga ada godaan dan resiko. (Amsal 30:1-7)

Kritik kita kepada “teologi kemakmuran” adalah karena menjadikan kekayaan sebagai satu-satunya tanda atau bukti utama berkat Tuhan. Itu artinya: semua orang kaya otomatis orang yang diberkati oleh Tuhan. (walaupun kaya karena mencuri, korupsi dan kolusi) Sebaliknya semua orang miskin pastilah tidak diberkati oleh Tuhan (walaupun miskin karena jujur, adil dan benar). Padahal Tuhan justru memberkati orang jujur, adil dan benar.

Jika orang Kristen tidak tahu tujuan hidupnya berarti mereka memang tidak punya sasaran untuk dicapai. Sasarannya hanya mencari uang, menikmati hidup yang cukup memuaskan sampai saat Anda mati nanti. Setelah itu Anda mati dan dikuburkan, hanya itu saja!  Mungkin hanya satu hal saja yang diketahuinya secara pasti yaitu bahwa suatu hari nanti hidupnya akan berakhir di liang kubur. Lebih dari itu, tidak ada arah yang jelas!  Paling tidak batu nisan Anda akan terlihat sedikit lebih mewah ketimbang batu nisan tetangga Anda. Dan mungkin nanti peti mati Anda bisa memiliki lebih banyak hiasan perunggu ketimbang sekadar kayu saja.

Kontemplatif

Tuhan itu sangat mengasihi kita. Ada banyak diantara kita  yang menerima  sesuai dengan kebutuhan yang kita perlukan supaya kita bisa terhindar dari hal-hal atau perbuatan-perbuatan yang tidak berkenan .Tiap tetes keringat yang mengucur ditubuh kita adalah tanda anugrah kesehatan yang diberikan oleh-Nya, ingat ‘KESEHATAN’ adalah ‘KEKAYAAN’ yang tak ternilai harganya . Jika hidup kita berkeluh kesah, berarti kita kurang mensyukuri nikmat yang diberikan oleh-Nya. Padahal kita bisa hidup serba cukup seperti ini juga karena kehendak-Nya.  Tuhan memang mengasihi kita lewat kehendak yang diberikannya secara unik, karena kehendak-Nya jika kita taat kita bisa terbebas dari nafsu duniawi dan terhindar dari perbuatan yang mungkin bisa merusak diri atau keluarga kita.

Banyak orang yang tampaknya menjalani hidup ini tanpa arah tujuan.  Bayangkan jika sebuah kapal berlayar tanpa tahu akan berlayar kemana. Setiap kapal yang akan berangkat tentu membawa kompas untuk memastikan bahwa ia memang sedang mengarah ke pelabuhan, tempat atau negara tertentu; dan ia akan dilengkapi dengan peta yang menandakan jalur perjalanannya.

Harapan Tuhan pada kita sebagai manusia kristen di antara umat manusia, bukanlah untuk mengajarkan kepada para pengikutnya untuk mencari harta sebanyak-banyaknya ataupun mencari kekuasaan setinggi-tingginya. Dia datang untuk melayani mereka yang kesusahan dan terpinggirkan. Tanpa semangat melayani, tidak akan ada artinya kekayaan dan kekuasaan di mata-Nya. Jadi, keberadaan kita di dunia adalah untuk MELAYANI dan menerima orang-orang yang ada disekitar kita.

Ukuran kaya menurut Allah tidak seperti ukuran manusia, Tuhan tidak melarang kekayaan. Tuhan mengajar agar anak-anaknya mencari dahulu jenis-jenis kekayaan yang bisa dibawa kedalam kehidupan sebagai anak-anak yang takut akan Tuhan. Ukurannya ialah:

Matius 6:19-20

6:19 “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.
6:20 Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.

Allah tidak mengajarkan kita untuk mengejar kekayaan duniawi. Allah akan memberkati keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaanNya. Kekayaan adalah berkat Tuhan semata :

Filipi. 4:19
Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

Amsal 10:22
Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.

Jika kita memiliki harta, maka kita harus minta kuasa untuk dapat menikmatinya. Ada orang yang diberi harta oleh Tuhan tetapi tidak bisa menikmatinya.  Mintalah kepada Tuhan agar kita dapat menguasai diri untuk menikmati berkatNya.

Pengkhotbah 6:2- orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit.

Jika kita diijinkan untuk memiliki kekayaan, kita harus sadar bahwa semuanya karena anugerah Allah saja. Sebab bagi umat Tuhan, harta dunia, apapun bentuknya, bukanlah tujuan akhir hidup ini.

Jadi kekayaan adalah hal yang sepele buat Tuhan, Allah kita Allah yang kaya, maka sebagai anak, hendaklah kita tahu dan mengerti apa yang Tuhan mau. Berkat tidak selalu berupa materi, Hikmat adalah sebuah berkat yang lebih dari kekayaan.

Pengkhotbah 7:

11 Hikmat adalah sama baiknya dengan warisan dan merupakan suatu keuntungan bagi orang-orang yang melihat matahari.
12 Karena perlindungan hikmat adalah seperti perlindungan uang. Dan beruntunglah yang mengetahui bahwa hikmat memelihara hidup pemilik-pemiliknya.

Ulangan 8:17-Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini.

Kata Bijak

Jika hari ini Anda berdoa kepada Tuhan, janganlah hanya meminta berkat kepada-Nya. Mintalah juga hikmat untuk mengelola berkat-berkat tersebut. Orang yang tahu mengelola berkat sedang menjauhkan dirinya dari jerat kesusahan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s