Pendamaian Allah (Rabu, 24/10/2012)


Bacaan; 2 Kor 5:17-21

5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus,   ia adalah ciptaan baru  :   yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.  Dan semuanya ini dari Allah,   yang dengan perantaraan Kristus   telah mendamaikan kita dengan diri-Nya   dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. 5:19 Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka.  Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. 5:20 Jadi kami ini adalah utusan-utusan  Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami;   dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.   5:21Dia yang tidak mengenal dosa v  telah dibuat-Nya menjadi dosa   karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah . 

Intermezo

Pendamaian dalam pandangan kristen dapat kita pahami; Diselamatkan oleh anugerah adalah suatu konsep dalam teologi Kristen yang menyatakan bahwa keselamatan manusia adalah pemberian Allah. Dalam konsep ini, keselamatan manusia tidak ditentukan oleh perbuatan yang dilakukannya, melainkan berdasarkan anugerah dari Allah.

Istilah ‘pendamaian’ adalah suatu proses untuk meluruskan situasi yang tidak adil atau kacau. Sering kali ‘pendamaian’ dengan ‘pengampunan’ dipahami dalam pengertian yang sama, sebab keduanya sama-sama mengarah kepada kedamaian.

Pendamaian itu memiliki banyak arti, tidak ada definisi tunggal yang benar tentang damai, damai harus dilihat sebagai sesuatu yang jamak. Karena kata damai memiliki parameter keseimbangan yang harmonis antar sesama manusia dan dunia. Damai juga hadir, bila kita menciptakan dan mengembangkannya dalam cara yang kecil dalam kehidupan sehari-hari, dan damai akan berubah secara terus menerus. Damai juga dapat menunjuk ke dalam diri.

Surat yang kedua dari Rasul Paulus kepada jemaat Korintus, di mana Paulus berharap agar jemaat Korintus tetap setia, tegar, dan teguh  dalam iman  penantian akan kedatangan Kristus sambil bersedia mencari jalan keluar  dan ikut ambil bagian membantu jemaat  di Yerusalem yang mengalami  penderitaan karena iman kepada Kristus serta keterpurukan dalam perekonomian (baca: kemiskinan). Partisipasi dan pelayanan jemaat Korintus untuk mendukung terciptanya damai sejahtera  itulah menjadi tema dari perikop ini.

Perbedaan itu adalah suatu hal yang biasa, akan menjadi tidak biasa atau bermasalah ketika setiap perbedaan ditonjol-tonjolkan bahkan dipakai memojokkan dan menyudutkan orang lain  yang akibatnya terjadi perpecahan. Paulus tahu hal ini sehingga dia menasehati jemaat Korintus untuk lebih terbuka melihat persemaan yang menyatukan diantara mereka sebagai pengikut Kristus.

Berbicara soal persamaan berarti berbicara soal kesatuan dan persatuan. Bagi Paulus ini adalah sangat penting yakni bahwa setiap orang Kristen adalah satu “didalam Kristus”.

Persoalannya adalah apakah hidup yang demikian itu masih tampak dalam kehidupan orang Kristen? Belakangan ini, manusia sudah susah dikenal dari perbuatannya, walaupun memang ada orang Kristen yang baik, ada yang rajin melakukan pekerjaannya dan ada pula yang malas.

Manusia sekarang sudah susah dikenal bila tidak melihat KTP atau tanda pengenal lainnya.  Dari sekian banyak orang Kristen pun, kita harus memperjelas, berapa persenkah dari mereka yang telah hidup di dalam Kristus, yang rajin berdoa bersama dengan keluarga, yang menciptakan hidup damai bagi sekitarnya?

Kontemplatif

Jika Kristus Yesus mau berkorban untuk memperdamaikan Allah dengan kita, maka sebagai umat tebusan Kristus hendaklah kita juga mau menjadi pembawa damai dan menciptakan perdamaian diantara keluarga, sesama, dan lingkungan masyarakat, sebagai wujud kita mengasihi mereka. Kita sudah diperdamaikan dengan Allah dengan pengampunan-Nya, maka hendaklah anda juga harus mau memberi pengampunan dan menciptakan perdamaian dengan Tuhan, sesama, dengan diri anda, dan dengan alam.

Mampukah kita melakukannya?

Permasalahan antara,  Tuhan-manusia, suami-istri, orang tua-anak, perasaan-pikiran, saudara seiman, tetangga, dalam hidup bergereja dan sebagainya pasti mengakibatkan luka. Jenis lukanya beragam: ada yang tergores sedikit, ada yang agak dalam, dan ada yang sangat dalam. Hal ini bisa mengakibatkan keretakkan atau bahkan putusnya suatu hubungan: “Tuhan dan manusia bermusuhan”, suami dan istri bercerai, anak membunuh orang tuanya dengan cara yang sadis, bertahun-tahun lamanya sesama warga gereja tidak mau bertegur sapa.

Memperbaiki hubungan yang sudah retak atau putus merupakan pekerjaan besar. Untuk itu diperlukan perjuangan yang keras dan tidak mengenal lelah. “Terus menerus Tuhan merangkul, mengajak manusia berdamai”. Namun, begitu lama Tuhan harus menanggung kekecewaan karena penolakan-penolakan manusia terhadap uluran damai itu. Banyaknya keluarga Kristen yang bercerai menunjukkan sulitnya mewujudkan upaya perdamaian. Perpecahan dalam gereja  juga menunjukkan tingkat kesulitan yang harus ditempuh untuk mewujudkan perdamian.

Perpecahan dan permusuhan, jelas, bertentangan dengan Visi dan Misi Allah, yaitu menghadirkan kerajaan damai (sorga) di bumi. Gereja, yang sudah didamaikan dengan Allah melalui ketaatan Kristus Yesus diundang oleh Allah untuk menjadi juru damai.  Sebagai”pembawa damai’” adalah orang yang tidak mudah terseret dalam pertikaian dan keributan. Yang kedua, dia juga adalah orang yang aktif mengadakan pendamaian. Dia tidak ingin hidup dalam permusuhan, pertikaian dan ingin segera menyelesaikan segala persoalan yang ada sehingga tidak timbul kekecewaan yang berujung ke akar pahit. Dia tidak akan berpura-pura mengucapkan salam ketika dia bersitegang, ketika ada orang yang memusuhi dia. Jika dia berbuat demikian tanpa ketulusan, itu hanyalah kemunafikan belaka. Tetapi seorang pembawa damai akan sungguh-sungguh mengusahakan penyelesaian pertikaian dan ketika mengucapkan salam itu sungguh lahir dari hati yang ingin mengusahakan perdamaian. 

Bukan jalan yang lurus dan penuh bunga yang akan ditempuh oleh gereja atau pembawa damai. Jalan terjal, berliku dan curam akan dihadapi oleh gereja. Untuk itu, Gereja harus meneladani Tuhan Yesus Kristus, yaitu menunjukkan ketaatan kepada Allah terus menerus. Sekalipun gereja harus mati, seperti Tuhan Yesus Kristus mati.

Sesungguhnya, Tuhan selalu menyediakan waktu bagi kita asal kita mau berusaha mengerti kehendak-Nya dan berupaya menjadi seperti yang Dia kehendaki. Gunakanlah waktu yang ada sebaik mungkin karena jarum jam kehidupan terus berputar dan tidak ada seorang pun yang tahu kapan jarum tersebut akan berhenti. Time is free but it’s priceless, you can’t own it but you can spend it. You can’t keep it but you can use it.

PENDAMAIAN itu seni. Dan seni yang paling mulia adalah yang ditampilkan oleh Raja Damai. Seni ini patut kita perhatikan sungguh-sungguh di saat masalah dunia yang kian uzur ini makin bertambah-tambah dengan konflik berbagai pihak.

Anda dan saya harus mulai dari sini dan mulai dari sekarang keluar dan memperdamaikan Allah dengan manusia, memperdamaikan manusia dengan manusia dan menjadi pembawa damai di generasi ini di atas dasar kebenaran.  Dan sebagai anak-anak Allah, kita  rindu mereka yang masih hidup dalam permusuhan dengan Allah bisa beroleh pendamaian dalam Kristus.

Kata Bijak

Berusahalah agar setiap diri kita boleh menjadi sarana bagi sesama agar merekapun mengalami pendamaian dengan Kristus seperti yang sudah kita terima.   Saya berharap anda dan saya mengerti dengan jelas apa yang dikatakan Tuhan Yesus. -Martha Belawati

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s