Kelahiran sang Gembala Agung (Minggu 2 Des 2012)


Bacaan: Mikha 5:1-8

3 Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan  mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar   sampai ke ujung bumi 

Intermezo

Mikha bernubuat bahwa seorang pemimpin akan muncul dari Betlehem yang akan menggenapi janji-janji Allah kepada umat-Nya. Ayat ini mengacu kepada Yesus sang Mesias (lih. Mat 2:1,3-6). Ia akan lahir sebagai manusia ( lih. Yoh 1:14; Fili 2:7-8).

Hanya Yesus sang Mesias akan membawa damai sejahtera  bagi Israel. Bahkan dengan kedatangan-Nya yang pertama, Ia memberi damai dengan Allah, pengampunan dosa, dan kepastian hidup kekal kepada orang yang bertobat dan menerima Dia dengan iman (lih. Rom 5:1-11). Karena mereka mempercayai kematian-Nya yang mendamaikan, orang yang benar-benar percaya tidak akan menghadapi penghakiman (lih. Yoh 14:27).

Alkitab memberi catatan tambahana bahwa kota ini adalah kota yang terkecil di Yehuda ( Mi 5:1). Lantas, mengapa Betlehem, kota yang kecil itu yang dipilih Allah, bukan Yerusalem, kota yang besar nan megah? Ada dua jawaban yang bisa kita ajukan di sini. Pertama, ada penafsir yang menyatakan bahwa kelahiran Yesus di Betlehem merupakan penggenapan dari nubuatan yang disampaikan oleh Nabi Mikha . Disini kita melihat keistimewaan dari kelahiran Yesus. Tidak ada seorang manusiapun, selain Yesus yang kelahirannya sudah diberitahukan berabad-abad sebelumnya.

Ada suatu gambaran tentang kedamaian di seluruh bumi di bawah pimpinan Tuhan (Mikha 4:1-4); ramalan tentang raja besar yang akan muncul dari keturunan Daud dan yang membawa kedamaian kepada bangsa Yehuda (5:2-4).  Ringkasan dari semua yang hendak dikatakan oleh nabi-nabi Israel, yaitu: “Yang dituntut Tuhan dari kita ialah supaya kita berlaku adil, selalu saling mengasihi, dan dengan rendah hati hidup berkenan dihadapan  Tuhan kita.”

Suara kenabian Mikha  mengungkapkan kebencian terhadap kourupsi dan kemunafikan yang dilakukan oleh Yerusalem dan para pemimpinnya. Nabi Mikha melihat kesalahan-kesalahan sosial yang terjadi dan merasa kasihan pada penderitaan orang-orang miskin.Mikha mengutuk praktik-praktik keagamaan yang tercerai dari perilaku etis (3:9-10,6:3-5,6-8). Mikha  mengecam para nabi yang memberikan orakel (pengajaran khusus) dengan bayaran (3:11), atau yang menyesuaikan isi pesan kenabiannya sesuai dengan kemurahan hati para kliennya (3:5). 

Mikha tampak sadar benar akan panggilannya. Hal ini diperlihatkan oleh kegigihannya untuk berbicara tentang masalah-masalah pada zamannya dalam kerangka kewajiban ikatan perjanjian Israel. Di balik perjanjian itu, meskipun Israel gagal mempertahankan ikatan itu, terdapat Allah perjanjian yang akan memimpin bangsa-Nya ke masa depan yang gemilang.

Kontemplatif

Seorang nabi dipilih oleh Allah dan tidak berbicara atas keinginannya sendiri. Dia didorong oleh Allah untuk menyampaikan Kabar Baik. Para nabi selalu mengingatkan bangsa Israel untuk menaati perintah-perintah Tuhan, supaya bangsa pilihan Tuhan hidup sesuai dengan kehendak Allah dan menjadi saluran berkat bagi bangsa-bangsa lain.

Dalam Mikha 5:1-8 , di sini kita melihat bahwa ukuran yang dipakai Allah begitu kontras dengan ukuran yang lazim manusia gunakan. Manusia lebih melihat pada sesuatu yang besar, tinggi, dan banyak. Bangsa yang hebat adalah bangsa yang besar jumlah penduduknya, banyak tentaranyam dsb. Akan tetapi, ukuran Allah lain. Buktinya, Israel yang merupakan bangsa yang kecil dan lemah, justru dipilih Tuhan untuk menjadi umat kesayanganNYA (UL 7:7, Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa mana pun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu — bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? -)

Sejarah menunjukkan bahwa hal-hal besar justru diawali dari hal-hal kecil. Penemuan mesin uap oleh James Watt ternyata menghasilkan revolusi Industri di Inggris. Teori gravitasi yang berawal dari pengamatan Isaac Newton terhadap apel yang jatuh keatas tanah, ternyata begitu berpengaruh dalam ilmu Fisika dan perkembangan beragam teknologi. Contoh ini masih bisa diperpanjang tentu, tapi yang pasti hal-hal kecil, yang sederhana, yang biasa dipandang sebelah mata, justru bisa memberi dampak dan perubahan yang sangat besar bagi dunia.

Disinilah kita melihat bahwa suara kenabian Mikha  sebenarnya ingin melepaskan manusia dari penjara megalomaniaknya, yakni sikap yang hanya menghargai sesuatu yang besar, tinggi, dan banyak. Padahal justru disitulah manusia sering kali tertipu. Kejadian 3:6 menunjukkan betapa rentannya manusia, dalam hal ini Hawa, yang hanya tertarik pada apa yang dilihatnya. Oleh karena itu, sebagai manusia kita dituntun untuk kembali pada yang hakiki, tidak terperdaya  oleh tipuan-tipuan  yang memikat hati. Namun nats ini   mengingatkan kita untuk meningalkan prinsip to have more (memiliki lebih banyak), melainkan to be more (menjadi lebih baik). Dengan begitu, hidup kita kan dipenuhi dengan rangkaian makna.

Sebagai orang kristen kita diberi anugerah untuk menyuarakan apa yang benar dan salah. Menjadi pemberita kebenaran Tuhan dibutuhkan keberanian dan ketulusan. Di hadapan para pejabat yang korup atau para pemimpin  yang berbuat jahat, suara kenabian yang menyampaikan kebenaran Tuhan seharusnya terus disampaikan. Jangan pernah berhenti karena ancaman dan penganiayaan. Zaman ini membutuhkan orang-orang seperti Mikha dan seperti para rasul yang rela dan berani untuk terus mengabarkan kebenaran dan Injil Tuhan walaupun menghadapi ancaman dari pihak penguasa maupun dari masyarakat.

Gereja harus membuka mata, sekian lama mereka menantikan hadirnya suara kritis-profetis Gereja di tengah gelombang kebohongan, penipuan, dan manipulasi licik kaum kapitalis yang berkolusi dengan aparat birokrasi . Jadikan  suara Gereja ini adalah kekuatan kaum kecil melawan kekuasaan dan kekuatan besar kapitalisme yang bersembunyi “manis” di balik  gebyar pembangunan yang menindas.

Tembok kebisuan Gereja harus diruntuhkan agar dapat melihat rintihan dalam ketidakberdayaan mereka yang tertindas. Suara umat kecil adalah suara Tuhan. SUARA KENABIAN adalah inspirasi dan kekuatan Gereja untuk mengumandangkan KEBENARAN, apa pun situasinya. Justru suara kenabian itu diperlukan, tidak sebatas untuk menyuarakan rintihan kaum pinggir tetapi sekaligus menjadi kritik konstruktif bagi siapapun yang atas nama kekuasaan  menindas dan membodohi manusia. Itulah tanggung jawab etis moral yang diperlukan untuk membarui komitmen kemanusiaan ketika kekuasaan dan uang begitu sederhana menggadaikan moralitas dan etika kristiani.

Kata biijak

“Jadilah tunas-tunas yang sesuai dengan kehendak-Nya dan berani menyuarakan kebenaran tanpa memandang muka” – Martha Belawati

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s