Pengaruh Globalisasi terhadap pelayanan di gereja


 

 

 

 Harapan dan kegelisahan

GPIB selalu dan wajib menyelidiki tanda-tanda zaman dan menafsirkannya dalam cahaya Injil. Demikianlah Gereja.

Paparan  tentang peresapan hidup bergereja di Indonesia dalam era globalisasi, terutama yang menyangkut “tantang gumul”, dan harapan-harapan yang menentukan kiblat pelayanan gereja (GPIB) saat ini .

Era globalisasi – mau atau tidak  gereja harus menggunakannya sebagai  kerangka yang di dalamnya mengandung suatu penghayatan  panggilan pelayanan – Pembicaraan tentang era globalisasi – terutama tentang globalisasi – sebagai kerangka  yang di dalamnya gereja-gereja di Indonesia (GPIB) hidup adalah sangat penting jika tidak ingin dikatakan gereja yang “primitif

Istilah era globalisasi terdiri dari dua kata, yaitu era dan globalisasi. Era berarti tarikh masa, zaman; sedangkan globalisasi berarti proses mengglobal, proses membulat, proses mendunia. Dengan demikian era globalisasi yang kadang juga disebut era mondialisasi itu berarti zaman yang di dalamnya terjadi proses mendunia. Proses mendunia ini  terjadi di pelbagai bidang, misalnya di bidang politik, bidang sosial, bidang ekonomi, dan bidang agama; terutama sekali di bidang teknologi.

Berkembangnya budaya manusia dewasa ini telah mencapai taraf yang luar biasa, yang di dalamnya manusia bergerak menuju ke arah terwujudnya satu masyarakat manusia yang mencakup seluruh dunia; satu masyarakat global.

Dewasa ini umat manusia berada dalam periode Cyberspace, di mana terjadi  perubahan-perubahan yang signifikan , pesat, dan meluas ke seluruh penjuru dunia. Perubahan-perubahan itu timbul dari kecerdasan dan usaha kreatif manusia, dari manusia untuk manusia. Demikianlah kita sudah dapat berbicara tentang perombakan sosial dan budaya yang sesungguhnya, serta berdampak juga atas hidup keagamaan.

GPIB, idealnya adalah orang-orang  yang seharusnya memiliki komitmen penuh, tapi kreatif dan inovatif dan   menjadi media atau agen untuk menjalankan misi Allah (Missio Dei), yaitu menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah di muka bumi ini. Apa tanda-tanda kerajaan Allah itu? Dalam refleksi iman, tanda-tanda kerajaan Allah itu berupa keadilan, kebenaran dan panggilan kemanusiaan. Itulah yang kita sebut-sebut dengan ’syalom”, damai sejahtera.

Berbagai ketidak-seimbangan dalam dunia sekarang

 

GPIB harus siap  dengan perubahan  yang sering berlangsung secara tidak teratur, bahkan juga kesadaran semakin tajam akan perbedaan-perbedaan yang terdapat di dunia, menimbulkan atau malahan menambah pertentangan-pertentangan dan ketidak-seimbangan.

Dalam pribadi manusia sendiri cukup sering timbul ketidak-seimbangan antara akal budi modern yang bersifat praktis dan cara berpikir teoritis, yang tidak mampu menguasai keseluruhan ilmu pengetahuannya atau menyusunnya dalam fusi atau senyawa yang serasi. Begitu GPIB harus siap akibat pengaruh globalisasi akan muncul ketidak-seimbangan antara fokus pada kedayagunaan praktisi dan tuntutan-tuntutan suara hati, lagi pula sering kali antara norma  kehidupan bersama dan tuntutan pemikiran pribadi, bahkan juga kontemplasi. Akhirnya muncullah ketidak-seimbangan antara focus kegiatan manusia dan visi menyeluruh tentang norma kehiupan.

 

Perubahan sepesat itu, yang sering berlangsung secara tidak teratur, bahkan juga kesadaran semakin tajam akan perbedaan-perbedaan yang terdapat di dunia, menimbulkan atau malahan menambah pertentangan-pertentangan dan ketidak-seimbangan.

Dampak

Dampak globalisas salah satunya terjadinya nilai-nilai budaya yang semakin global. Dahsyatnya arus (komunikasi dan) informasi telah membuat nilai-nilai budaya menjadi semakin global Dalam kaitannya dengan hal ini, diakui atau tidak, bahwa kini tengah berlangsung di mana-mana penciptaan” sistem-sistem nilai global.

Manusia semakin dekat satu sama lain. Contoh paling sederhana dan paling konkret adalah bahwa melalui satu medium saja – dalam hal ini misalnya televisi yang menerima tayangan melalui satelit – ratusan juta manusia di dunia pada saat yang sama dapat menyaksikan pertandingan yang bergengsi, seperti pertandingan sepak bola atau pertandingan tinju. Di sini tampak jelas bahwa waktu menjadi semakin relatif (seperti yang telah dikemukakan di atas).

Dampak globalisasi ternyata tidak dapat dihindari manusia. Contohnya adalah bahwa dengan teknologi transportasinya manusia menjangkau setiap bagian bumi, bahkan satelit bumi dapat didatangi dan planet lain (dalam tata surya kita) dapat didekati. Demikian pula dengan teknologi komunikasinya manusia mampu melengkapi dirinya dengan informasi dari dan terulang setiap bagian dunia. Dengan semuanya itu tampak bahwa dunia seolah tidak terbagi-bagi lagi, di samping bahwa bangsa-bangsa di bumi seolah tidak berjarak lagi. Itu berarti bahwa segala sesuatu menjadi global

Masih tentang dampak globalisasi, maka dengan tegas harus dikatakan bahwa globalisasi dapat membawa dampak baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif. Untuk jelasnya ada baiknya diberikan contohnya masing-masing:

Dampak Positif.

Terciptanya kehidupan bersama yang meliputi seluruh umat manusia pada dirinya akan memungkinkan keterbukaan, penghargaan, dan penghormatan satu terhadap yang lain: orang yang satu terhadap orang yang lain, suku bangsa yang satu terhadap suku bangsa yang lain, bangsa yang satu terhadap bangsa yang lain. Pada gilirannya keadaan yang demikian dapat menjadi landasan bahwa kemanusiaan manusia semakin dijunjung tinggi. Dampak positif lainnya agaknya dapat disebut yaitu bahwa globalisasi dapat memungkinkan terjadinya perubahan besar pada pola hidup manusia, misalnya pada cara kerja manusia: manusia akan semakin aktif dalam memanfaatkan, menanam, dan memperdalam kapasitas individunya manusia semakin ingin menampilkan nilai-nilai manusiawi dan jati diri budayanya.

Dampak negatif. Dampak negatif dari globalisasi di antaranya adalah sebagai berikut. Globalisasi, proses mendunia yang dimungkinkan oleh teknologi informasi yang canggih, dapat menyebabkan merembesnya budaya dari negara maju (yang adalah pemasok informasi) ke negara berkembang. Perembesan budaya tersebut tidak mustahil dapat menyebabkan ketergantungan budaya negara berkembang pada negara maju. Di samping itu, globalisasi informasi itu sendiri dapat menyebabkan pemerkosaan dan imperialisme budaya negara maju atas negara berkembang (dalam hal ini negara yang lebih lamban dalam perkembangan modernisasinya). Hal sedemikian hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan kenyataan bahwa perbedaan laju perkembangan dalam modernisasi akan menyebabkan terjadinya pemaksaan budaya oleh masyarakat yang satu; masyarakat di negara maju, atas masyarakat yang lain, masyarakat di negara berkembang. Akhirnya globalisasi mungkin dapat menyebabkan terjadinya masyarakat yang individualistis dan yang tidak agamawi

 TANTANGAN DAN HARAPAN

Kemudian bagaimanakah tantangan dan harapan Gereja-gereja itu dalam menghayati hidupnya dalam konteks seperti itu? … bahwa GPIB – harus menghadapi dan mensiasati proses globalisasi itu, dalam arti harus terlibat di dalamnya dan memanfaatkan hasil-hasil positif yang dicapainya serta menghindari hasil-hasil negatif yang dibawanya. Bila tidak demikian, maka mereka – seperti telah dikatakan di atas – bukan saja akan tertinggal melainkan juga akan terhempas sehingga globalisasi tidak hanya tidak bermanfaat tetapi juga akan menghancurkan .

Bagaimanakah penghayatan iman   GPIB di era globalisasi (dan yang sering disebut era informasi) yang ditulangpunggungi oleh komunikasi dan telekomunikasi itu? Sebelum menjawabnya agaknya perlu dikemukakan kenyataan ini: karena globalisasi, maka dunia masa kini telah menjadi semacam “global village”, yang di dalamnya batas antar negara menjadi semakin pudar.

Bahkan globalisasi sudah menembus “dinding-dinding Gereja”, yang berupa dinding-dinding denominasi dan bahkan dinding-dinding umat. Maksudnya adalah bahwa globalisasi memungkinkan penyebaran modernisasi yang menembusi kehidupan Gereja tanpa dapat dicegah atau dibendung. Misalnya budaya modern dengan mudah telah merasuki rumah-rumah para anggota Gereja melalui teknologi satelit. Benar bahwa budaya modern juga membawa dampak positif, namun tidak jarang pula membawa dampak negatifnya. Dalam menghadapi budaya modern ini Gereja  jangan  tinggal diam, tetapi harus menghadapinya secara aktif,  bahwa Gereja secara aktif memanfaatkan hal-hal yang positif yang dibawa oleh globalisasi, tetapi sebaliknya secara aktif pula menghindari hal-hal yang negatifnya.

Munculnya budaya modern tidak jarang mengakibatkan timbulnya reaksi negatif terhadapnya misalnya dan orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu yang masih ingin mempertahankan budaya lamanya, mereka menolak budaya modern dan mempertahankan, memelihara, dan mengembangkan budaya sukunya.

Hal ini selaras dengan perkembangan yang terjadi dalam kehidupan ekumenis di antara Gereja-gereja sedunia, dengan salah satu cirinya yaitu mulai menanggalkan pemikiran absolutisme (dalam hal ini pemikiran yang memutlakkan dirinya sebagai Gereja yang paling benar) dan pemikiran thriompalismenya (dalam hal ini pemikiran yang menyatakan bahwa dirinya satu-satunya yang merupakan “sorga di bumi”). Ciri semacam itu membawa konsekuensi bahwa Gereja-gereja — dalam semangat dan usaha bersama – mulai mengusahakan dan membangun teologi bersama. Kalau hal ini terjadi – yang memang telah terjadi pada banyak Gereja – maka tidak mustahil bahwa hasilnya akan mewarnai banyak hal dalam kehidupan Gereja, misalnya perbedaan-perbedaan latar belakang kesukuan, corak Kekristenan, (rumusan) pengakuan iman, (pemahaman) pekabaran Injil, dan pengorganisasian diri di antara Gereja-gereja tidak harus diperuncing dan dijadikan pemicu pertengkaran di antara mereka. Itulah salah satu contoh konkret dalam menjawab globalisasi secara aktif.

Namun ada pula contoh yang justru menyatakan hal yang sebaliknya. Hal itu tampak dalam kenyataan bahwa masih terdapat banyak Gereja yang menjadikan dirinya sama dengan dunia dan kehilangan jati dirinya atau bahkan melarikan dirinya dari upaya menghadapi ketegangan dengan budaya modern dan teknologi canggih yang ada di sekitarnya.

Di samping menjawab secara aktif tantangan di atas, Gereja-gereja di Indonesia  (GPIB) juga harus menjawab secara sama tantangan-tantangan lain yang diangkat ke permukaan oleh proses globalisasi. Tantangan-tantangan dimaksud berupa masalah-masalah sebagai berikut.

GPIB pada hakikatnya merupakan pengejawantahan dari tanggung jawabnya dalam mengaktualisasikan misinya terhadap umat manusia dan sekaligus terhadap dunia. Untuk itulah maka GPIB di era globalisasi tidak boleh menjadi kelompok-kelompok manusia yang eksklusif dan hanya menjadi “raksasa dalam tempurung” , menghindar dari tantangan-tantangan yang muncul dari globalisasi. GPIB dalam hali ini dituntut untuk tidak mempedulikan kepentingannya sendiri, melainkan juga kepentingan pihak-pihak lain Jikalau “amanat” seperti itu tidak dipenuhi, maka GPIB pada hakikatnya mengingkari eksistensinya misinya sebagai yang berada di dunia dan sekaligus diutus ke dalam dunia.

GPIB  harus siap,  karena GPIB memainkan peranan penting dalam mendorong perkembangan mental manusia, khususnya mental manusia Indonesia, dalam rangka memanfaatkan lajunya globalisasi, terutama dalam rangka upaya menuju kepada masyarakat manusia yang global. Sudah barang tentu hal yang dikemukakan terakhir wajib dilihat dalam perspektif umat Allah yang mengalami proses pembaharuan total itu (Wahyu 21:1-8). Dalam hal ini, sekali lagi, tampak bahwa harapan terjadinya masyarakat manusia yang global seperti itu diletakkan pada kuasa Allah sendiri. Hal ini tidak berarti bahwa GPIB tidak boleh mengerahkan sumber daya dan sumber-sumber lainnya.

Menjawab tantangan tersebut bukanlah perkara yang mudah. Karena itu GPIB harus mengenal secara baik proses itu, di samping jati dirinya sendiri. Dengan demikian, maka  jawabannya benar-benar dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan ; yang pada-Nya kita sesungguhnya meletakkan harapannya dalam melaksanakan tugas itu. Singkatnya, dalam hal ini biarlah “Gereja tetap Gereja.”

Bagaimana GPIB mempersiapkan para anggotanya untuk menjawab tantangan-tantangan di era globalisasi ini ?…untuk itu GPIB  perlu menggumulkannya lebih lanjut secara serius.

Sangat jelas visi Alkitab yang diberikan kepada Gereja dalam penataan kehidupan yang holistik, seutuhnya, sepenuhnya dan seluruhnya. Relasi manusia, alam dan seluruh ciptaan berjalan dalam interaksi yang saling menghidupkan, menumbuhkan dan mensejahterakan. Suatu tatanan kehidupan yang diidealkan menjadi embanan bagi Gereja di setiap ruang dan waktu.

By: Martha Belawati

1262083080

Iklan

Satu pemikiran pada “Pengaruh Globalisasi terhadap pelayanan di gereja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s