Secercah Cahaya Memberi Terang Seperti Garam Memberi Rasa -Matius 5:13-15, Minggu 10/2/2013


5:13 “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. 5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. 5:15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehinggamenerangi semua orang di dalam rumah itu.

Garam itu kecil, tetapi dahsyat.

Sepulang dari gereja, di meja makan sudah tersedia semangkok besar  soup yang masih panas dan menyebarkan aroma  di sekeliling ruangan.  karena sup itu telah membuat Anda begitu lapar. Anda segera mengambil mangkok kecil, mencedoknya dan mencicipi (tentu saja tidak lupa berdoa dulu). Tiba-tiba, huaag…. wajahmu berubah  dan semangat makanmu jadi hilang. Anda segera menyingkirkan mangkok sup itu. Selidik punya selidik, Pembantu  ternyata lupa memberi garam.

Garam itu hanya bagian kecil dari seluruh masakan, pasti tidak lebih dari satu sendok makan untuk seluruh masakan. Jika diukur dengan uang pasti sedikit sekali. Mungkin lebih mudah jika memilih untuk tidak makan daging. Harga daging lebih mahal daripada garam.

Sesuatu yang  kecil itu tidak selalu gampang. Karena yang kecil itu memberi sesuatu yang besar. Rasa enak, kenyamanan, kenikmatan, bahkan kekuatan. Kerap Anda dan saya merasa hebat karena mampu ‘menaklukkan’ sesuatu yang besar. Padahal belum tentu kita mampu menaklukkan yang kecil.Sesuatu yang kecil dan sederhana bisa memberi perbedaan. Sesuatu yang kecil tapi selalu minta perhatian besar.

Garam merupakan salah satu kebutuhan hidup yang mendasar. Garam juga berfungsi memberi rasa (mudah-mudahan kita bukan pengidap darah tinggi..hahaha). Tanpa garam, makanan menjadi hambar. Tanpa garam, daging dan sayuran menjadi kurang enak.

Garam itu berbaur dan menyatu dengan masakan, berbaur tetapi tidak berubah rasa; memberi pengaruh dan bukan dipengaruhi, mempengaruhi tanpa terpengaruh. Sebagai anak Tuhan yang hidup di tengah-tengah dunia yang sudah rusak karena dosa, tindakan-tindakan konkrit apa yang dapat kamu lakukan agar kehidupan Anda dapat mempengaruhi dunia dan bukan dipengaruhi oleh pola pikir/filsafat dunia ini (mis. materialisme, hedonisme, konsumerisme, individualisme, dll), khususnya dalam pergaulan hidup kamu sehari-hari?

Memberi rasa:

Hidup tak sebatas kebahagiaan ,Hidup tak sebatas kesusahan ,Hidup tak sebatas kepasrahan, Hidup tak sebatas dalam kegelapan, Hidup adalah alam rasa,Hidup adalah memperbaiki diri sendiri setiap hari dan menjadi lebih baik.

Manusia cenderung terbuai dengan satu rasa,rasa bahagia tak mau derita, rasa senang tak mau rasa sakit,rasa kaya dan tak mau rasa miskin,mempunyai rasa benci tak mau di benci, semua rasa berpasang pasangan, jika manusia bisa mampu memperbaiki diri sendiri di setiap hari, maka ia akan memasuki alam rasa, semua rasa di sepadankan,semua perbuatan di pikirkan semua tindakan di perhitungkan,

Sudah terlalu banyak manusia manusia yang kerjanya hanya memberikan contoh, meski itu perbuatan baik, tapi hanya sekedar memberikan contoh, sangatlah jarang ada manusia yang bisa MEMBERI RASA  TOULADAN . Hal ini sangatlah sulit di lakukan karena menjadi touladan adalah menjadi bagian orang orang yang selalu melakukan perubahan dirinya menjadi baik dan lebih baik,

“Manusia tidaklah harus baik”, untuk dapat memberikan contoh yang baik meski prilakunya bisa di katakan kurang baik, manusia yang tergolong hanya bisa memberikan contoh karena mereka hanya memiliki satu rasa tanpa berpasang pasangan belum memasuki alam rasa,cerminan diri dan perhitungan terhadap tindakanya,

“Kita mengkoreksi prilaku diri ,merasa salah jika berbuat salah, tidak merasa benar bila berbuat benar, biarkan kebaikannya di nilai oleh sekitar yang merasakan .”

kita ini disebut sebagai garam. Garam berarti kita yang bertanggungjawab untuk memberi rasa bagi dunia yang kita tinggali ini. Jadi kita dong yang harusnya menetapkan standard yang benar.

Panggilan kita bukan untuk menjadi thermometer yang menunjukkan suhu dan memberitahukan keadaan sekitar, tetapi kita seharusnya menjadi thermostat yang mengatur suhu.

1. Jangan Anda melayanai tetapi  mempersulit orang untuk hidup dalam kedamaian dan sejahtera

2. Jangan Anda mengembangkan pelayanan yang mengobarkan keinginan  orang menjadi kaya.

Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1 Timotius 6:6-10).

3. Jangan Anda mengembangkan pelayanan yang mendorong kerentanan pada ngengat dan karat.

Yesus mengecam usaha untuk menyimpan harta di bumi. Yakni, dengan memberi tahu kita untuk menjadi pemberi, bukan penyimpan. “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya” (Matius 6:19-20).

4. Jangan Anda mengembangkan suatu  pelayanan yang membuat kerja keras sebagai sarana untuk menimbun kekayaan.

Paulus mengatakan kita jangan mencuri. Alternatifnya adalah kerja keras dengan tangan kita sendiri. Tetapi tujuan utama bukan sekadar untuk menimbun atau bahkan untuk memiliki. Tujuannya adalah “memiliki untuk memberi.” “Baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan” (Efesus 4:28).

5. Jangan Anda mengembangkan pelayanan yang kurang meningkatkan iman pada janji-janji Allah yang akan diberikan bagi kita yang tidak mungkin dapat diberikan oleh uang.

Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.’ Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: ‘Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?’” (Ibrani 13:5-6).

6. JanganAnda mengembangkan  pelayanan yang ikut andil membuat umat Anda terhimpit sampai mati.

Yesus memperingatkan bahwa firman Allah, yang ditujukan untuk memberi kita hidup, dapat terhimpit dari keefektifannya karena kekayaan. Ia mengatakan firman Allah itu seperti benih yang tumbuh di antara semak berduri yang menghimpitnya sampai mati: “Mereka ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh … kekayaan … hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang” (Lukas 8:14).

7. Jangan Anda mengembangkan  pelayanan yang menghilangkan rasa asin dari garam dan meletakkan terang di bawah gantang.

Konteks dari ucapan Yesus menunjukkan pada kita apakah garam dan terang itu sesungguhnya. Keduanya merupakan kerelaan yang dipenuhi sukacita untuk menderita bagi Kristus. Inilah yang Yesus katakan, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu. Kamu adalah garam dunia…. Kamu adalah terang dunia” (Matius 5:11-14).

Apa yang akan menjadikan dunia merasakan (garam) dan melihat (terang) —Hal ini berbicara tentang kesediaan dan kemampuan orang Kristen untuk mengasihi orang lain melalui penderitaan, sambil tetap bersukacita karena upah mereka ada di dalam sorga bersama dengan Yesus. Ini tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata manusia. Ini hal supernatural.

Seperti layaknya pepatah katakan bahwa “Evolution is everlasting”. Every people can change to be the new one in indefinite time. It might be you might be me or them. Sekali lagi kita harus berhadapan dengan persoalan “Garam” kekristenan yang benar-benar sudah hambar, kehilangan rasa dan mencoreng nama baik Sang Agung yang baik dan benar teladan hidupNya.

Terkadang perubahan mengambil tempat istimewa dihati anak-anak Tuhan. Salah satu hal yang paling digemari manusia adalah KELIMPAHAN KEHIDUPAN. Manusia adalah mahluk yang terGengsi sedunia. Artinya bahwa ketika sudah punya ini dan itu, penampilan yang good looking serta kelihatan TAJIR dan SEJAHTERA hidupnya maka dia disebut pemenang. Mereka dibentuk menjadi orang-orang modern yang sudah meninggalkan kehidupan SEDERHANA yang dulunya diajarkan ketika belajar tentang KEKRISTENAN yang benar.

Anak-anak Tuhan terperangkap dengan pandangan dunia yang lambat laun meninggalkan budaya Timur yang penuh dengan TATA KRAMANYA yang SOPAN dan SANTUN. Para muda zaman sekarang ingin mengalami transformasi total kehidupannya seiring masa peralihan menuju masa post modernisme yang berkembang pesat. Kita ingin menjadi orang-orang MODERN yang secara keseluruhan kehidupannya dipermak habis dengan apa yang sedang terjadi seiring waktu.

Garam itu tak lagi berasa, mengapa tidak karena kita lupa tujuan utama kita diutus dan tanggung jawab kita terhadap dunia. Bila kita sudah serupa dengan dunia yang jahat ini, berkompromi dengan ketidakbenaran, menghalalkan segala cara, menipu, mau diperalat oleh orang yang lebih tinggi jabatannya, lalu dimana GARAM kita?

Nobody’s Perfect. Yes, surely I really know it! Namun, apakah kita hanya pasrah pada kalimat pendek itu? Padahal makna yang terkandung didalamnya sesungguhnya adalah makna yang mengingatkan kita untuk berjuang dan berusaha menjadi seorang yang perfect. Bukankah sesuatu yang belum pernah terjadi dan tiba-tiba ada yang menjadi SESUATU yang mustahil itu adalah sebuah keajaiban dan kedahsyatan? Lalu mengapa kita menyerah untuk terus dan terus memasrahkan diri dengan mengasihi diri sendiri dan terus berputar-putar dalam kesalahan yang sama?

Ada seorang yang sempurna yang sudah menunjukkan teladannya hingga akhir hayatnya bagi manusia. Namun pengorbanan itu tak lagi menelisik hati dan pikiran kita. Pengaruh dunia sudah lebih besar dibandingkan sesuatu yang bersifat lama atau old school. Kita diperdaya dalam sikap keangkuhan manusia yang tak pernah puas. Relasi yang tidak harmonis antara Sang pencipta dengan CiptaanNya. Manusia sudah lupa bahwa apa yang dimiliki sesungguhnya adalah kepunyaan Tuhan . Kita lupa untuk meniru teladanNya sebagai mahluk yang paling sederhana didunia, sesederhana ketika Ia lahir di kandang domba, sesederhana ketika kehidupannya selalu dilalui dengan pengembaraan dan tidak memiliki tempat menetap.

Kebenaran zaman ini sudah menjadi barang dagangan yang dijual dengan harga MURAH. Dan akhirnya murahan pula hati dan pikiran kita ketika melakukan itu. Mengenal KEBENARAN namun tak mempertahankannya sama seperti menjatuhkan permata kedasar lautan yang dalam.

Dalam Injil hari ini kita mendengar Yesus berkata bahwa kita adalah garam dan terang dunia. Garam dalam dunia “pra-modern” hingga dunia “post-modern” sekurang-kurangnya bisa berfungsi sebagai bahan pengawet.  Yesus menagatakan bahwa para pengikut-Nya adalah garam dunia itu berarti orang-orang Kristen dituntut memiliki kwalitas “pengawet” kehidupan.

Dari kita dituntut “rasa enak” dan “rasa yang menggiurkan”. Orang Kristen adalah orang yang membuat dunia menjadi dunia yang enak, nyaman dan menyenangkan.

Garam juga sering disimbolkan dengan “kemurnian”. Kalau kita melihat putihnya garam, maka symbol tersebut dengan mudah bisa mengerti. Menjadi orang Kristen berarti menjadi tanda kemurnian bagi dunia. Kemurnian dalam perkataan, tindakan dan pikiran.

Kamu adalah terang dunia.

Lampu pada dasarnya untuk dilihat dan membuat kita mudah melihat. Menjadi Kristen berarti membuat hidup menjadi saksi yang bisa dilihat dan didengar orang, bukan hanya di sekitar wilayah orang-orang yang percaya, tetapi juga menjadi saksi keseluruh dunia.

Lampu juga berfungsi sebagai “penunjuk arah”. Dengan cahaya lampu kita mudah melihat jalan dan mudah menemukan sesuatu. Menjadi Kristen berarti menunjuk jalan bagi orang lain agar sampai pada tujuan hidup kita yakni Allah. Jalan tersebut adalah Yesus Kristus.

Lampu juga bisa berfungsi sebagai tanda peringatan. Ketika kita melihat lampu kuning berkedap-kedip, kita tahu bahwa kita harus mengemudi lebih hati-hati.

Menjadi Kristen berarti bahwa cara hidup kita menjadi peringatan bagi yang lain bahwa hidup bukan hanya di dunia ini. Lampu juga bisa berfungsi sebagai pengatur jalan.

Menjadi Kristen berarti membuat hidup orang-orang di sekitar kita lebih teratur dan lebih lancar.

Mari berusaha sekuat tenaga kita dan dengan pertolongan Allah untuk menjadi garam dan terang dunia.

Jadilah orang yang memberi RASA dan TERANG  bagi hidup orang lain !!!

images

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s