27 Feb 2013-Kolose 3:18-25- “Keluarga Langit”


Rabu 27 Feb 2013

18 Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.
19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.
20 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan.
21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.
22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.
23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
24 Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.
25   Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang.

Intermezo

Nasehat rasul Paulus perlu telusuri pada latar belakang tradisi dan budayanya. Surat Paulus ditujukan pada jemaat Kolose yang masih menekankan budaya  patriarkhat, di mana bapak selalu bertindak sebagai kepala rumah tangga.

Di sini Paulus sedang membantu kaum bapak untuk menegakkan kewibawaan mereka yang hilang. Surat Paulus kepada jemaat di Kolose ini berintikan: Kaum lelaki melalaikan tugas dan tanggung-jawabnya sebagai pemimpin dalam keluarga. Di pihak lain,  Misalnya: Istri tidak lagi mau tunduk kepada mereka , atau anak-anak mulai kurang ajar kepada mereka. Karena kewibawaan yang “melempem” seperti kerupuk yang masuk angin , tentu bisa menimbulkan berbagai “traumatik” dalam kehidupan  rumah tangga.

Rasul Paulus tidak ingin melihat rumah tangga Kristen itu hancur berantakkan. Karena dia melihat banyak persoalan muncul dimasyarakat yang sedng melanda kehidupan rumah tangga Kristen. Maka dia mengambil inisiatif dan memohon bimbingan Tuhan untuk memberikan petunjuk dan nasehat kepada mereka. Paulus sangat mengharapkan masing-masing anggota keluarga di jemaat Kolose dapat menjalankan hak dan kewajibannya sesuai kehendak Tuhan (rumah tangga Kristen yang diharapkan)  supaya nama Tuhan dimuliakan. Paulus ingin agar kehidupan keluarga Kristen di jemaat kolose menjadikan ; “Kristus harus menjadi Tuan dalam keluarga dan seluruh anggota keluarga adalah hamba-Nya”.

Ketika seluruh anggota keluarga memahami posisi ini maka akan terbentuklah sebuah keluarga yang sehat, kuat dan memiliki relasi yang indah dengan Tuhan dan sesama anggota. Pasangan ideal dari kata keluarga adalah bahagia, sehingga idiomnya menjadi keluarga bahagia. Maknanya, tujuan dari setiap orang yang membina rumah tangga adalah mencari kebahagiaan hidup.

Hampir seluruh budaya bangsa menempatkan kehidupan keluarga sebagai ukuran kebahagiaan yang sebenarnya.   Hidup berkeluarga Secara psikologis, kehidupan berkeluarga, baik bagi suami, isteri, anak-anak, cucu-cicit atau bahkan mertua merupakan pelabuhan perasaan, ketenteraman, kerinduan,keharuan, semangat dan pengorbanan,semuanya berlabuh di lembaga yang bernama keluarga.   Sacara natural, hidup berumah tangga  memiliki “kesakralan”.

Menikah merupakan hal yang sangat GUAMPANG, tetapi membangun keluarga bahagia bukan semudah membalik “telapak kaki”.   Pekerjaan membangun, pertama harus didahului dengan adanya gambar yang merupakan konsep dari bangunan yang diinginkan. Gambar bangunan (maket) bisa didiskusikan dan diubah sesuai dengan konsep fikiran yang akan dituangkan dalam wujud bangunan itu.   Demikian juga membangun keluarga bahagia, terlebih dahulu orang harus memiliki konsep tentang keluarga bahagia.

Banyak kriteria yang disusun orang untuk menggambarkan sebuah keluarga yang bahagia, bergantung ketinggian budaya masing-masing orang, misalnya paling rendah orang mengukur kebahagiaan keluarga dengan tercukupinya sandang, pangan dan papan. Bagi orang yang pendidikannya tinggi atau tingkat sosialnya tinggi, maka konsep sandang bukan sekedar pakaian penutup badan, tetapi juga simbol dari suatu makna. Demikian juga pangan bukan sekedar kenyang atau standar gizi, tetapi ada selera non gizi yang menjadi konsepnya. Demikian seterusnya tempat tinggal (papan) , kendaraan, perabotan bahkan hiasan, kesemuanya itu bagi orang tertentu mempunyai kandungan makna budaya. Secara sosiologis psikologis, kehadiran anak dalam keluarga juga dipandang sebagai parameter kebahagiaan. Isteri bukan sekedar perempuan teman ngobrol dan ibu dari anak-anak, suami bukan sekedar lelaki, teman dikala sepi, ada konsep aktualisasi diri yang berdimensi horizontal dan vertikal.

Kontemplatif

Bagi keluarga Kristen GPIB

Pembangunan sebuah keluarga yang mengalami perubahan, sehat, kuat, dan memiliki relasi indah dengan Tuhan dan sesama Tuhan Harus menjadi Fondasi dalam membangun keluarga yang sehat. @ Fondasi adalah penentu besar dan kuatnya sebuah bangunan (keluarga).

@ Fondasi keluarga yang kuat dan sehat adalah harus memakai Batu karang yang kokoh  (Tuhan Yesus Kristus) Jangan materi, kepopuleran dan  kukuasaan menjadi fondasi dalam kehidupan rumah tangga Anda…pasti Rumah tangga Anda akan ambruk akibat selalu ada rasa ketidak puasan

@.Bangunlah keluarga di dalam pertalian yang benar ! –kata “Tunduklah, kasihilah dan Taatilah” (ay 18 -20) • Pertalian  sesama anggota keluarga sangat menentukan harmonisnya sebuah keluarga. • Jika pertalian antar anggota keluarga berjalan damai sajahtera, maka mengasihi dan ketaatan, bukan menjadi suatu beban yang berat untuk dilakukan, tetapi dipandang sebagai sesuatu panggilan yang indah di dalam Tuhan (ayat 20 b).

• Di dalam Relasi yang baik, ada suatu kerinduan untuk bersekutu, saling mendoakan, saling membangun, saling menghargai, saling mendahulukan & saling mengasihi Bangunlah keluarga diatas MOTIVASI yang benar. Ayat 23 – “Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”

@ Disini Paulus ingin mengingatkan kita semua, secara khusus keluarga, yaitu; melakukan hak dan kewajiban dalam keluarga motifnya hanya satu yaitu Tuhan dimuliakan, bukan mencari pujian, keuntungan secara pribadi. Ketika istri tunduk, ketika suami mengasihi dan ketika anak-anak taat dan hormat kepada orang tua, semuanya harus dikerjakan seperti untuk Tuhan. Ada ketulusan, kejujuran, dan motivasi yang benar – Jangan seperti pepatah “ada udang dibalik batu”

Sejatinya prilaku seseorang yang diperlihatkan adalah cerminan bagaimana keluarga membentuknya. Disinilah peran penting sebuah keluarga dalam pengkarakteran seseorang karena pohon yang baik akan menumbuhkan buah yang baik, begitupula sebaliknya pohon yang buruk akan memiliki buah yang buruk. Selain pendidikan formal yang diberikan, baiknya keluarga juga menanamkan dengan kuat pendidikan agama dan sosial kemasyarakatan.

Kata bijak

“Kekuatan GPIB  berasal dari integritas keluarga”. Artinya kalau keluarga memiliki pondasi yang  kokoh maka GPIB pasti  kuat. Karena itu penting bagi  kita menjadikan  keluarga yang memiliki pertalian yang terjalin kuat , membangun serta memilik pondasi yang kokoh  yaitu Tuhan Yesus  dan sesama anggota keluarga.

anjing%2Banimas%2Bgif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s