Minggu 3 Maret 2013—Yunus 3:1-5


Pertobatan Niniwe

3:1 Datanglah firman TUHAN kepada Yunus t untuk kedua kalinya, demikian: 3:2 “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu  .” 3:3 Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya  , tiga hari perjalanan luasnya. 3:4 Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru:   “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.” 3:5 Orang Niniwe percaya kepada Allah , lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung.

Intermezo download (6)

Pada umumnya ketika kita mendengar kata “dukacita”, kita menolak, tidak menyukai dan memandangnya negatif Karena dukacita adalah penderitaan, kesedihan dan kehilangan. Dunia ini memiliki berbagai dukacita yang membawa manusia kepada maut. Dukacita jenis ini karena ada kesadaran terhadap dosa.

Tetapi ada satu jenis “dukacita yang positif”, dukacita yang mendatangkan keuntungan, kehidupan, dan berkat hingga hukuman Allah tidak jadi menimpa mereka (Yunus 3:1-5). Rupaya teguran yang keras dan tegas dapat membuka mata hati orang niniwe.
Dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa sukacita, tetapi dukacita yang dari dunia  membawa maut. 

Kisah Yunus adalah salah satu cerita yang paling sering didiskusikan dan sangat menarik di Alkitab. Namun, dari semua perdebatan tersebut, ada satu hal yang pasti: Yunus melakukan pencarian jati diri “di hotel bawah air yang bau”.

Kita semua tahu bahwa terkadang hidup berjalan dengan tidak baik. Ketika hal itu terjadi seperti Yunus, kita perlu mengajukan beberapa pertanyaan sukar kepada diri kita sendiri.

Apakah ada dosa dalam hidup saya? Karena Yunus terang-terangan tidak taat, Allah harus melakukan sesuatu yang tegas untuk mendapatkan perhatiannya dan memimpinnya agar bertobat.

Apa yang dapat Anda pelajari dari situasi ini? Orang-orang Niniwe yang jahat adalah musuh umat Allah. Yunus berpikir bahwa mereka seharusnya dihukum dan tak diberi kesempatan kedua. Ia perlu belajar membagikan belas kasih Allah bagi orang-orang yang terhilang. “Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka” .

 

Yunus berada dalam situasi tidak berdaya, tetapi Allah menggunakannya untuk memimpin bangsa yang menyembah berhala itu menuju pertobatan.

 

KITA MENDAPATKAN PELAJARAN DI SEKOLAH PENDERITAAN  YANG TIDAK DAPAT KITA PELAJARI DENGAN CARA LAIN

 

Kontemplatif

 

Suatu kali seseorang bertanya kepada Ibu Teresa, “Ibu telah melayani kaum miskin di Kolkata, India. Tetapi, tahukah Ibu, bahwa masih ada jauh lebih banyak lagi orang miskin yang terabaikan? Apakah Ibu tidak merasa gagal?” Ibu Teresa menjawab, “Anakku, aku tidak dipanggil untuk berhasil, tetapi aku dipanggil untuk setia ….”

 

Setiap pelayan Tuhan di mana pun dan dalam peran apa pun, tidak dipanggil untuk berhasilPelayan Tuhan dipanggil untuk setia. Melakukan tugas pelayanannya dengan penuh komitmen dan tanggung jawab. Semampunya, bukan semaunya.

 

Itulah yang diteladankan oleh Tuhan Yesus. Menurut ukuran dunia, Tuhan Yesus bisa dibilang tidak berhasil semasa hidup-Nya. Betapa tidak, Dia harus menjalani hukuman salib. Satu murid-Nya mengkhianati-Nya. Satu murid lagi menyangkali-Nya. Dan, para murid-Nya yang lain kocar-kacir meninggalkan-Nya dan bersembunyi. Tiga tahun berkarya, ujung-ujungnya hanya begitu. Namun, Dia toh tetap setia menjalankan tugas pelayanan-Nya; melaksanakan kehendak Bapa, dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yohanes 4:34). Dia tidak undur sedikit pun. Itu sebabnya, Allah sangat meninggikan Dia (ayat 9). Kesetiaan-Nya membuahkan keselamatan manusia.

 

 

Jika kita melakukan hal ini, saat diuji dan dicobai, maka integritas rohani dalam hidup kita akan tetap bertahan melalui ujian kehidupan itu. Kita dikuatkan dalam proses tersebut, agar pada gilirannya kita dapat menjadi berkat bagi orang lain yang ada di sekitar kita

 

Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat (Lukas 5:32)

 

Sejahat-jahatnya penduduk Niniwe, saat mereka mendengarkan alternatif cara hidup yang menyelamatkan yang diberitakan oleh Yunus, mereka mau bertobat. Allah denga kasih-Nya membuka  baik bagi Yunus yang awalnya keras hati dalam menjalankan pelayanan bagi sesama maupun bagi penduduk Niniwe yang dipenuhi dosa kejahatan . Yunus dan penduduk Niniwe, menerima kesempatan dari Tuhan untuk melayani dan dibarui-Nya.

  • Maukah kita mempersilahkan Kabar Baik yang dari Allah mengikis kecenderungan diri kita yang jahat?
  • Apakah kita peka mengenali kebutuhan orang-orang di sekitar kita dan mau menebar inspirasi pembaruan hidup dari Firman Allah untuk menguatkan jiwa-jiwa yang rapuh?
  • Sudahkah hikmat dari Tuhan mencerahkan  akal budi dan kekuatan kita, sehingga perilaku dan kata-kata kita berdampak pada orang-orang yang membutuhkan solusi bagi permasalahan hidup mereka?

 

Bagaimana kita mengembangkan diri sebagai anak Allah, itulah persoalan kita. Kita memang manusia, tetapi telah diangkat menjadi anak Allah. Selama di dunia ini kita masih hidup sebagai manusia, seperti tetap membutuhkan pangan, sandang dan papan. Tetapi hidup ini harus kita beri makna yang baru dan benar. Makan bukan semata-mata mencari kepuasan (kenyang), tetapi untuk hidup. Maka ada nasehat ‘Berhentilah makan sebelum kenyang’. Pada intinya memberi makna hidup yang benar itu bahwa kita harus melepaskan segala kelekatan pada hal-hal yang duniawi.

Kelekatan pada hal-hal yang duniawi itulah yang dikehendaki iblis, karena kelekatan itu akan menjauhkan manusia dari Allah, dan akhirnya akan menjatuhkan manusia ke dalam dosa . 

 

Semua yang nisbi itu disodorkan sebagai satu-satunya yang ada, sehingga apa yang tidak tampak – yang ada dan bahkan yang hakiki – lalu diperlakukan sebagai tidak ada, karena tidak dilihat. Kelekatan pada yang duniawi itu menjadi sumber dosa dan kejahatan, karena orang akan mudah melupakan jati dirinya sebagai manusia, bahkan dari Tuhan karena manusia adalah gambar Allah.

 

kita harus menyadari bahwa untuk selamat dan hidup kekal, manusia hanya boleh melekat pada Allah saja

 

Panggilan untuk menjadi terang merupakan hal yang sangat ditekankan dalam kehidupan kita sebagai orang percaya. Panggilan ini bukan karena umat TUHAN memiliki kekuatan untuk dapat menjadi terang, melainkan karena terang TUHAN telah bersinar atas umat-Nya. Panggilan ini Allah berikan karena adanya kebutuhan dunia akan terang TUHAN, karena dunia berada di dalam kegelapan. 

 

 “Kita akan diberkati dan menjadi berkat jika kita menggunakan  CARA-CARA Tuhan, sedang orang yang gagal adalah karena dia punya banyak 1.000.000 ALASAN. Dan tidak segera bertindak setelah mendengar  suara Tuhan, adalah  MASTER OF ALASAN.”

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s