Rabu 6 Maret 2013 -Yunus 4:6-9


4:6 Lalu atas penentuan   TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak   melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu. 4:7 Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu.   4:8 Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati,   katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.” 4:9 Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Layakkah engkau marah   karena pohon jarak   itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati.”

Intermezo

Tetapi firman TUHAN: “Layakkah engkau marah?”
Lalu TUHAN menegur Yunus yang sedang marah pada ayat 9 ini dengan berkata “Layakkah engkau marah?
Sebuah pertanyaan yang sifatnya agar Yunus  instropeksi diri…apakah pantas Yunus marahatas kota Niniwe?”
Ilustrasi:

Beberapa tahun yang lalu di North Carolina, Hakim Clara Warren bekerja pada sistem pengadilan remaja. Ia terkenal karena keteguhannya dalam menegakkan hukum. Ia pun terkenal sebagai orang yang penuh kasih dan perhatian.

Suatu hari Hakim Warren mengajak wartawan Phyllis Hobe dalam suatu kunjungan ke Lembaga Pemasyarakatan. Betapa terkejutnya Hobe melihat Warren mengenal para tahanan secara pribadi dan memberikan perhatian tulusnya pada mereka. Ia membantu mereka mendapatkan sekolah dan pekerjaan yang layak setelah mereka dibebaskan. Bahkan ia tetap mempedulikan mereka setelah mereka kembali ke masyarakat. “Mengapa Anda terus mengasihi mereka?” tanya wartawan itu. “Padahal tampaknya mereka tidak menghargai semua yang telah Anda lakukan.” Hakim itu kemudian mengatakan bahwa ia tidak mengasihi mereka karena ingin mendapatkan ucapan terima kasih. Ia hanya ingin mengasihi mereka tanpa mengharapkan balasan apa pun.

Bukankah Allah mengasihi kita juga demikian ?

Jika kita membaca  Yunus 4:6-9 dengan cermat, maka akan ki dapatkan

Pertama, itulah sisi manusia ketika sesuatu yang datang menyenangkan dirinya,  mereka hanya bereaksi secara ‘take it for granted.’

Kedua, terlalu mudah emosi kita itu bereaksi secara momentary dalam waktu yang singkat sekali. Waktu situasi menyenangkan kita sesaat, kita langsung bereaksi. Tanpa menyelidikinya

Ketiga,  Sukacita kita bukan dari dalam tetapi dari luar. Yunus marah, Yunus senang, Yunus ketawa, Yunus sukacita, dsb semata-mata terjadi oleh sebab faktor eksternal memberi pengaruh kepada dia.

Kalau pertanyaan ini kita tanyakan kepada diri kita hari ini, what do you expect from your life? Saya percaya orang umumnya menjawab, “Saya ingin bahagia. Saya ingin hidup damai. Saya ingin lebih sukses.” Kita akan menjalani hidup ini lebih mudah kalau kita bisa memprediksi apa yang akan terjadi di depan.

Kontemplatif

Bukankah sudah seharusnya kalau pelayan TUHAN itu tunduk sepenuhnya kepada perintah TUHAN? Dan bukan memaksakan kehendak pribadi kepada TUHAN? Kemudian jika ada masalah, bukankah pelayan TUHAN itu seharusnya memohon pertolongan TUHAN dan bukan minta mati?
Satu hal yang perlu kita renungkan.

“Selayaknyalah aku marah sampai mati.”

Lihat jawaban Yunus masih ketus, ia merasa layak marah-marah sampai mati. Ngambek juga ada loh pada nabi. Ini salah satu contohnya.

Kemudian Allah menjawab dengan bijaksana pada Yunus demikian : Yunus 4: 10 Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula.

Sungguh perilaku Yunus ini adalah sebuah sikap dan pola pikir yang harus kita buang jauh-jauh, karena sikap dan pola pikir Yunus ini membuat kita bukan semakin dekat kepada TUHAN, malah membuat kita semakin jauh dari TUHAN. Tetapi Tuhan tetap mengasihi Yunus.

Apakah sebagai pelayan kita sudah  melayani atau justru menjadi BOS yang minta dilayani kaya raja ?… tentang kinerja seorang pelayan menurut penilaian  tidak mencerminkan profil seorang pelayan  yang melayani. Banyak diantara kita semua-semua minta dilayani…bicara soal etis kita tidak menjadi pelakunya, memiliki sikap attitude yang sama sekali tidak baik, sering mangkir dari tugas tetapi banyak menuntut…tidak seimbang dengan hak tidak ada inisiatif…Bagaimana pola kepemimpinan mode seperti ini  mau membangun umat Tuhan di masa depan ?

Karya yang terbesar, yang termulia, dan yang terbaik dari yang pernah disampaikan oleh seorang pelayan adalah melalui contoh hidupnya sendiri. Ralp Waldo Emerson berkata, “Apa yang kamu sampaikan begitu nyaring, saya tidak dapat mendengar apa yang kamu katakan.” Tidak ada seorangpun yang dapat berkotbah lebih tinggi dari suara tangisan terhadap contoh hidupnya sendiri. Untuk menjadi penuh kuasa dan bergerak dengan efektif, dia harus mengejahwantahkan di dalam daging dan tubuhnya sendiri prinsip rohani yang dia anjurkan.Jemaat dapat melihat melihat  jauh lebih mudah daripada apa yang mereka dengar.

Sebuah contoh jauh lebih bernilai daripada kata-kata yang disampaikan dengan baik . Biarlah kita menjadi manusia  yang benar taat terhadap Firman Tuhan dan seluruh jemaat dapat digerakkan oleh hidupnya yang “menghamba”.

Misalnya:

Seorang pendeta  harus meletakkan kepentingan karakter dari pribadi yang baik dan benar. “Pembicara” yang baik haruslah menjadi orang yang baik. Santo Fransiskus dari Asisi berkata, “Tidak ada gunanya pergi kesetiap tempat untuk berkotbah kecuali kita berkotbah disaat kita sedang pergi.”

Apa yang dimohon dengan sangat oleh seorang pelayan , harus membuat dia menjadi orang pertama yang mendemostrasikannya di dalam kehidupan pribadinya. Jika dia berkotbah tentang doa maka dia harus berdoa terlebih dahulu, jika  dia berkotbah tentang kasih, dia terlebih dahulu harus mengasihi, jika dia berkotbah tentang memenangkan jiwa dia harus menjadi pemenang jiwa terlebih dahulu. Apapun subjeknya dia harus menjadi orang pertama yang memimpin jemaatnya untuk melihat dan mengikuti dia dalam contoh hidupnya.

Yang pertama dan yang utama yang menjadi kekuatan di dalam diri pelayan adalah keyakinannya, jauh di dalam dirinya sendiri, bahwa Allah telah memanggil dia menjadi seorang pelayan. Jika kepercayaan ini tidak dapat diguncangkan, semua unsur lain di dalam kehidupan pelayanan akan jatuh kedalam “zona nyaman”.

Seorang pelayan juga harus memiliki sebuah kesalehan  (1 Tim.4:12). Dia merupakan sebuah model bagi jemaat. Dia harus menjadi corong iman                  (1 Tim.1:13; Titus 2:1). Dia harus memiliki kapasitas mental yang baik dan terlatih dalam pengetahuan Kitab Suci (2 Tim.2:15). Dia harus cakap mengajar orang (1 Tim.3:2; 2 Tim. 2:2; 2 Tim. 2:24-25).

“Melayani” dalam pandangan umum, bukanlah suatu pekerjaan yang bergengsi. Sebab itu untuk melakukannya dibutuhkan “kerendahan hati” dan “penyangkalan diri”. kesidiaan jika diperlukan berjongkok di bawah orang yang kita layani, dan membasuh kakinya. Sebab apa yang lebih mulia dari “kerendahan hati”  ? . Dan apa yang lebih luhur dari “penyangkalan diri” ?. Apa yang membuat seorang pelayan itu dalam pelayanannya istimewa ?…kesetiaan dan kredibilitasnya.

Kata bijak

“Situasi dan kondisi dalam melayani memang memberi warna pada pelayanan Anda, tetapi Anda harus memilih warna yang telah ditetapkan oleh yang menciptakannya yaitu KESETIAAN “.—MARTHA bELAWATI

images

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s