Rabu 6 Maret 2013/Yunus 4:10-11 Keadilan dan belas kasihan


4:10 Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. 4:11 Bagaimana tidak Aku akan sayang  kepada Niniwe,  kota yang besar itu  , yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?”

Intermezo

Namanya Yunus, yang berarti merpati. Tetapi, sikap Yunus memang tak setulus merpati.
Karena kemarahan, Yunus mengalami kondisi fisik yang lemah. Sehingga dia merasa bersyukur karena ada pohon ara yang mampu menjadi tempatnya bernaung. Tetapi, apa mau dikata. Umur pohon ara itu ternyata hanya sekejap. Dan Yunus menjadi marah kepada Allah. Dan kemarahan itulah yang membuat Allah berkata tak kalah tegasnya:  ”Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikit pun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?” (Yun 4:10-11).

Itu bukanlah konsep Kerajaan Allah. Sebab ”TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.” (Mzm. 145:9). Semua orang dikasihinya dengan kasih yang sama! Tetapi, itulah yang tidak dilakukan Yunus.

“Tetapi firman TUHAN: Layakkah engkau marah?”

Sering  Ketika sedang dalam tekanan atau tantangan. Sering yang namanya putus asa, stress, emosi dan hal-hal negative terjadi pada kita jika apa yang kita inginkan tidak terlaksana .

Yunus, yang memiliki sifat egois. Karena Yunus tidak mau diutus untuk memberitakan kabar pertobatan kepada penduduk Niniwe, yang baginya adalah penduduk yang tidak benar di mata Tuhan.

Tuhan menegur Yunus dengan kata “LAYAKKAH ENGKAU MARAH?” Firman Tuhan ini terulang lagi setelah melihat Yunus geram karena tempat dia berteduh (pohon yang ditumbuhkan oleh Tuhan) dirusak oleh ulat, dan cuaca sangat panas (Yun. 4:9). Dan Tuhan menyadarkan Yunus dalam Yunus 4:10-11.

Seteliti apa kita menilai diri kita benar , sehingga kita terkadang berani memprotes  Tuhan? …Terkadang kita belum mengerti maksud Tuhan, kita sudah menghakimi-Nya

Kita harus intropeksi diri , apakah   kita juga sudah berlaku benar di hadapan Tuhan? …layakkah aku marah kepada Tuhan KARENA usahaku gagal, karena aku diceraikann oleh suami/istri, karena keluargaku korupsi, istri,suamiku,anakku,ibuku,  ayahku mati, dan  karena hidupku seolah tidak ada harapan?

Tuhan sangat mengerti apa yang menjadi penyebab kehancuran hidup kita. Tuhan mengetahui apa yang menjadi pergumulan kita. Tuhan mengerti apa yang menjadi kerinduan kita dan Dia sangat peduli akan kebutuhan kita yang paling utama.

Bila Yunus bersikap marah kepada Tuhan berdasarkan pemikirannya sendiri yang merasa benar. Maka, marilah hal itu kita jadikan sebagai pelajaran, bahwa kita sebagai manusia sering berlaku egois walaupun saat kita berhadapan dengan Tuhan.

kita melihat bahwa Tuhan bukanlah Allah yang pilih kasih. Dia tidak hanya peduli pada umat pilihanNya, tapi juga peduli dan memberikan pengampunan yang sama atas bangsa-bangsa lain. Kesempatan untuk bertobat diberikan sama kepada semua orang tanpa terkecuali, dan bagi mereka yang bertobat diberiNya keselamatan. Di sisi yang sama kehendak bebas bisa mengakibatkan anak-anak Tuhan menjadi sesat.

Bagaimana perasaan hati kita ketika melihat orang yang kita benci tertimpa masalah? Kebanyakan orang akan senang melihatnya. Apalagi jika orang itu pernah menyakiti hati kita. Kata-kata yang keluar pun biasanya bernada RASAIN LU,  bahkan kata-kata yang lebih kasarpun mungkin akan keluar dari mulut kita.

Tuhan mengasihi semua ciptaanNya di dunia ini. Siapapun manusianya, baik atau jahat, tanpa terkecuali, semuanya tetap layak untuk diselamatkan. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” (Yohanes 3:16-17).

Tuhan Yesus berkata “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” (Yohanes 10:16). Semua ini menggambarkan besarnya kasih Allah kepada seluruh umat manusia di bumi ini.  Jika Tuhan memiliki persepsi demikian, mengapa kita malah harus bersenang hati melihat kehancuran orang lain? Mari kita menjaga hati kita agar tidak terperosok kepada pemahaman keliru seperti Yunus.

Tetaplah berbuat baik, doakanlah mereka dan ampuni. Jika musuh  kita jatuh, jangan bersenang hati, tapi justru kita harus menunjukkan empati dan berusaha menolong semampunya. Jika itu sulit, berdoalah dan minta agar Roh Kudus memampukan kita untuk melakukannya.

Dari Yunus kita bisa belajar, meski kita sudah melakukan tindakan yang benar, tetapi kita masih mungkin berbuat kesalahan jika kita tidak menjaga hati kita agar tetap seturut kehendak Allah. Mari miliki hati yang lembut dan penuh kasih, karena Allah pun memperlakukan kita semua dengan cara seperti itu.

Kata bijak

“Jagalah HATI, jangan kau nodai…karena dari HATI ada Lentera Ilahi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s