Minggu, 10/3-2013-Kisah 10:1-8… Kesalehan


Kisah 10:1-8

1 Di Kaisarea l  ada seorang yang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan yang disebut pasukan Italia. 2 Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah  dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah. 3 Dalam suatu penglihatan,   kira-kira jam tiga petang,   jelas tampak kepadanya seorang malaikat   Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: “Kornelius!” 4 Ia menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata: “Ada apa, Tuhan?” Jawab malaikat itu: “Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah   dan Allah mengingat engkau .  5 Dan sekarang, suruhlah beberapa orang ke Yope  untuk menjemput seorang yang bernama Simon dan yang disebut Petrus. 

Kesalehan adalah ketaatan  dalam menjalankan ibadah dan itu tercermin pada sikap hidup seseorang

Jika kita membaca ayat 2; Kornelius beserta keluarganya “takut akan Allah”,  tetapi keluarga ini banyak memberi sedekah  kepada umat Yahudi …Mengapa? Karena Tuhan punya otoritas untuk menyelamatkannya tanpa perlu melalui percaya kepada Yesus, menerima baptisan air, menerima Roh Kudus. Akan tetapi Tuhan  memerintahkan Kornelius untuk menjemput Petrus, dan sekaligus mengubah pandangan Petrus karena sampai saat itu Injil belum diberitakan kepada bangsa asing supaya Kornelius mendengar kabar mengenai Yesus Kristus, menerima Roh Kudus, dan dibaptis dalam nama Yesus Kristus (ayat 36-43).

Allah memandang doa-doa Kornelius dan keluarganya sebagai suatu persembahan yang naik ke hadapan-Nya, yang mengingatkan Dia akan ketekunan mereka dalam memohon kepada-Nya dengan iman dan pengabdian (ay 4)

Kornelius dan keluarganya hidup dalam kerendahan hati dan dia disukai orang Yahudi Hati yang tulus untuk Tuhan ditunjukkan Kornelius dengan menyisihkan, bukan menyisakan waktunya untuk Tuhan. Prioritas utamanya ialah Tuhan. Agenda utamanya ialah berjumpa dengan Tuhan. Sekalipun ditengah kesibukannya sebagai perwira, dia senantiasa mengupayakan waktu bersama Tuhan. Hal yang tampaknya banyak kita abaikan hari ini…Ketika kita menempatkan diri di atas dan terpisah dari orang lain, kita akan mudah “terbakar” secara rohani, dan sedikit percikan saja dapat menyulut api kehancuran. Kebanggaan pada diri sendiri dapat berbahaya karena Setan dapat membuat perasaan tersebut “seolah baik,” padahal pemikiran itu akan membuat kita merasa tidak membutuhkan Allah lagi. Itu sebabnya kebanggaan dapat menghambat banyak orang “saleh” untuk masuk surga. Bahkan suatu hari nanti beberapa orang yang melakukan banyak mukjizat dalam nama Yesus akan mendengar Dia berkata, “Aku tidak pernah mengenal kamu!” (Matius 7:23). Dan, sebaliknya mereka yang merendahkan dirinya akan menjadi “yang terbesar dalam Kerajaan Surga”(18:4).

ORANG YANG MENGENAL ALLAH AKAN BERSIKAP RENDAH HATI 
ORANG YANG HANYA MENGENAL DIRINYA SENDIRI AKAN DIRENDAHKAN

Apakah mempertahankan kebenaran, kesalehan di dunia yang sudah tercemar dosa ini terlalu berlebihan? Terkadan kita merasa apatis secara psikis  mempertahankan kesalehan jika kita menerima perlakuan yang tidak adil. Bacaan hari ini mengajarkan bahwa kesalehan  kita dalam mempertahankan kebaikan bisa memiliki dampak yang luar biasa.

Cerita tentang kornelius dan keluarganya membimbing dan membentuk karakter kita sebagai pribadi bermartabat, damai, bersolidaritas tinggi. Di luar  pendidikan karakter sudah lama kehilangan “roh” karakternya.
Lalu, bagaimana kita memulai pendidikan karakter ? Apa fungsi doa dalam membentuk kesalehan  ? Upaya melakukan pembinaan dan pengembangan karakter mutlak diawali dengan doa kepada Allah . Selain itu, doa juga merupakan awal keyakinan kalau pendidikan karakter seseorang merupakan ibadah kepada Allah, bukan sebatas kewajiban .

Zaman sekarang, kesalehan / ketaatan sudah jarang dijumpai. Bukankah seharusnya orang yang sungguh-sungguh percaya dan menerima Yesus di dalam hatinya akan nampak dari hidupnya yang saleh / taat ? Kesalehan perlu sejalan dengan beriman pada Yesus. Sebaliknya, kesalehan menjadi sia-sia ketika kita tidak peduli lagi akan firman-Nya .

Dengan tingkah laku yang saleh dan benar dalam segala situasi dan kondisi, kita mendatangkan berkat Allah. Berkat Allah bukan hanya untuk kita, tetapi juga untuk mereka yang belum percaya.

Seorang misionaris pernah bertanya kepada Gandhi,”Anda kerap mengutip perkataan Kristus namun mengapa menolak keras menjadi pengikutNya?”. Gandhi singkat menjawab,”Saya tidak pernah menolak Kristus namun saya tidak suka gaya hidup orang Kristen anda. Bila saja orang Kristen hidup menurut ajaran Kristus maka bukan tidak mungkin seluruh India menjadi Kristen hari ini.”

Gandhi pernah berkata kepada seorang misionaris yang lain, “Cara paling efektif untuk penginjilan adalah hidup di dalam Injil, menjalaninya dari awal, pertengahan dan akhirnya. Bukan saja mengkhotbahkannya, tapi hidup menurut terang itu. Jika Anda melayani orang lain, dan Anda meminta orang lain untuk melayani, mereka akan mengerti. Tapi Anda mengutip Yohanes 3.16 dan meminta mereka untuk menyakininya, dan itu sama sekali tidak menarik bagi saya, dan saya yakin, orang lain juga tidak akan memahaminya. Injil itu lebih kuat kuasanya saat dijalani/dipraktik ketimbang dikhotbahkan.”

“Bunga mawar tidak perlu berkhotbah. Ia hanya menebarkan wewangiannya. Aroma itu adalah suatu khotbah tersendiri… aroma kesalehan dan kehidupan spiritual jauh lebih halus dari wewangian bunga mawar.”

Hati yang tulus untuk Tuhan ditunjukkan Kornelius dengan menyisihkan, bukan menyisakan waktunya untuk Tuhan. Prioritas utamanya ialah Tuhan. Sekalipun ditengah kesibukannya sebagai perwira, dia senantiasa mengupayakan waktu bersama Tuhan. Hal yang tampaknya banyak kita abaikan hari ini. Mungkin seringkali kepada Tuhan kita bukannya menyisihkan, tetapi memberikan apa yang menjadi sisa. Waktu yang sisa, uang yang sisa, tenaga yang sisa. Bukankah kualitas kesalehan dan pelayanan diukur dari besarnya pengorbanan? Seperti janda miskin yang memberikan hartanya yang paling bernilai kepada Tuhan. Dia lakukan itu bukan untuk sebuah pujian manusia, tetapi sebagai ekspresi cinta dan imannya kepada Allah.

Ada keseimbangan di dalam diri Kornelius. Dia bukan hanya berkutat dalam iman, tetapi mewujudnyatakan imannya dalam sebuah kehidupan yang baik dan memberkati orang lain. Sesuatu yang mulai tampak langka di jaman sekarang. Hari ini ada banyak orang yang begitu menekankan hidup keagamaan, tetapi melalaikan sesama. Sebaliknya, banyak orang yang begitu menekankan kebaikan pada sesama tetapi melalaikan firman dan doa.

Kesalehan diri dan kepedulian pada sesama merupakan ciri hidup orang-orang Kristen, sebagai hamba-hamba Allah.

“Tidak semua orang saleh diselamatkan, tetapi orang yang diselamatkan seharusnya menunjukkan hidup yang saleh.”

images (7)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s