Kis 11:25-30 Solidaritas- 16 maret 2013


Sabtu 16 Maret 2013, Kis 11:25-30-Solidaritas

images (10)11:29 Lalu murid-murid   memutuskan untuk mengumpulkan suatu sumbangan, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara   yang diam di Yudea.

Intermezo

Jika kita membaca nats ini, jelas berbicara tentang solidaritas atau kesetiakawanan sosial. Jadi jauh sebelumnya rasa solidaritas/kesetiakawanan sosial sudah dilakukan.

Solidaritas (Kesetiakawanan sosial) berasal dari kata bahasa Latin “solido / solidare” yang antara lain berarti memperkuat, mengukuhkan, mengutuhkan kembali, menegakkan, meneguhkan. Solidaritas dilakukan oleh mereka yang kuat terhadap mereka yang lemah, yang sehat terhadap yang sakit, yang kaya terhadap yang miskin, yang pandai dan cerdas terhadap yang bodoh, yang berkelimpahan terhadap yang berkurangan, dst.

Dalam wikipedia, solidaritas/kesetiakwanan sosial memiliki arti integrasi, tingkat dan jenis integrasi, ditunjukkan oleh masyarakat atau kelompok dengan orang dan tetangga mereka. Hal ini mengacu pada hubungan dalam masyarakat, hubungan sosial bahwa orang-orang mengikat satu sama lain. Istilah ini umumnya digunakan dalam sosiologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya.

Solidaritas adalah suatu perasaan dalam diri manusia yang bersumber dari rasa kasih /belas kasihan kepada sesama yang mengalami “derita” dan itu  diwujudkan dalam  pengorbanan dan kesediaan berbelarasa,sepenanggungan, maupun melindungi terhadap kehidupan bersama.

Adapun nilai moral yang terkandung dalam kesetiakawanan sosial diantaranya sebagai berikut:

  1. Tolong menolong
  2. Gotong-royong
  3. Kerjasama…tanpapa melihat status
  4. Nilai kebersamaan

Pentingnya Membangun Rasa Solidaritas 

Manusia adalah makhluk sosial, yang berarti dia tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan bantuan dari oranglain. Manusia didunia ini tidak ada yang hidup dalam kesendirian, dia akan hidup dalam kelompok – kelompok kecil dalam masyarakat atau lingkungannya.

Rasa solidaritas akan mucul dengan sendirinya ketika manusia satu dengan yang lainnya memiliki kesamaan dalam beberapa hal. Maka dari itu, rasa Solidaritas sangat penting untuk di bangun oleh individu dengan individu lainnya atau kelompok tertentu dengan kelompok yang lain. Karena dengan adanya solidaritas, kita dapat bersatu dalam hal mewujudkan sesuatu secara bersama – sama.

Solidaritas/kesetiakawanan sosial harus terus  direvitalisasi (digiatkan)  sesuai dengan situasi dan kondisi dan diimplementasikan dalam wujud nyata. Kesetiakawanan social harus  memiliki elektabilitas tinggi, yang meluas dalam masyarakat

 Kontemplatif

GP-GPIB  merupakan pengejewantahan dari realisasi konkrit semangat solidaritas /kesetiakawanan sosial masyarakat (menjadi garam dan terang). Dengan prinsip dari, oleh dan untuk masyarakat dalam pelaksanaannya GP  memerlukan berbagai dukungan dan peran aktif atau membangun kemitraan dan menyetarakan diri dengan elemen bangsa, memiliki rasa tanggung jawab bersama secara kolektif.  Oleh karena itu makna nilai ssolidaritas/kesetiakawanan sosial sebagai sikap dan perilaku masyarakat ditujukan pada upaya membantu dan memecahkan berbagai permasalahan sosial bangsa perlu diuji “elektabilitasnya” dalam jemaat GPIB dengan cara mendayagunakan peran aktif seluruh jemaat di manapun berada, terorganisir dan berkelanjutan. Dengan demikian kesetiakawanan sosial  akan berkembang dan melekat dalam  jemaat GPIB yang dilandasi oleh  KASIH ,  mewujudkan kebersamaan : hidup sejahtera

Tradisi berpikir kritis

Tentu kita harus realistis. Untuk bisa berperan seperti itu kaum muda harus mempunyai kualitas memadai. Generasi muda harus mampu ”melihat fajar sebelum orang sempat melihat cahaya matahari”.  Generasi muda, khususnya mahasiswa, memiliki peran esensial yaitu sebagai transformator nilai-nilai generasi terdahulu ke generasi berikut dan merintis berbagai perubahan dalam rangka dinamisasi kehidupan dalam peradaban yang sedang berjalan.

Generasi muda harus mempunyai konsepsi tentang keinginan untuk masa depan dan berbuat sesuatu untuk mengatasi krisis zamannya. Jika tidak, secara sosiologis generasi muda tidak ada. Yang ada hanya gerombolan anak muda yang pandai meniru dan meneruskan teladan orangtuanya, baik atau buruk.

Yang terpenting adalah bagaimana menyediakan, memelihara, dan menumbuhkan di kalangan generasi muda, tradisi berpikir, bersikap kritis dan menggalang solidaritas di antara generasi muda itu.

Kaum muda Kristen, idealnya adalah orang-orang muda yang dengan komitmen penuh, tapi kreatif dan inovatif ikut ambil bagian menjadi media atau agen untuk menjalankan misi Allah (Missio Dei), yaitu menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah di muka bumi ini. Apa tanda-tanda kerajaan Allah itu? Dalam refleksi iman, tanda-tanda kerajaan Allah itu berupa keadilan, kebenaran dan panggilan kemanusiaan- SOLIDARITAS. Itulah yang kita sebut-sebut dengan ’syalom”, damai sejahtera untuk sekalian alam ini.

Solidaritas/Kesetiakawanan sosial sebagai pengejewantahan dari “HUKUM KASIH” dalam mengatasi berbagai permasalahan sosial yang dihadapi bangsa ini, GP harus secara bertahap belajar untuk melakukan perbaikan dan meningkatkan kesetiakawanan internal. Agar  nilai kesetiakawanan itu melekat dalam kehidupan ber GPIB .

GP harus memahami GPIB dalam startegi misinya…tidak melulu dijejali “doktrin greja”….GPIB belum maksimal dalam berteologi/suatu ajaran yg mewarnai kehidupan masyarakat sehari-hari. Alkitab hanya sebagai “hafalan”, hanya literal. Bolak-balik dibaca, berulangkali dibaca tapi belum mampu diamalkan secara aplikaktif.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s