Selasa-Hidup Taat: Yer 17:11-17


 

Melalui Yeremia, Allah menegaskan kepada bangsa Yehuda 3 dosa mereka yang mendatangkan bencana dan malapetaka. Pertama, dosa sudah terukir dalam hati bangsa Yehuda tidak ada setitik ketaatan (1-4). Ini menggambarkan dan menunjukkan apa yang terjadi di dalam kehidupan batiniah yang menjadi pusat kepribadian mereka. Apa yang tergores sangat dalam di dalam hati mereka hanyalah dosa (1). Kedua, mereka lebih mengandalkan manusia daripada Allah (5-8). Ketiga, hati bangsa Yehuda sudah sedemikian bobrok dan korup sehingga tidak mungkin diperbaharui lagi (9-13). Hati mereka secara terus-menerus berpaling kepada dosa. Karena itu Allah tidak dapat dipersalahkan jika Ia mendatangkan malapetaka dan bencana besar atas bangsa Yehuda yang hidup moral, sosial, dan spiritualnya sudah bobrok dan amburadul.

Namun bangsa Yehuda bukannya segera menangisi dan menyesali dosa-dosanya serta memohon belas kasihan-Nya, sebaliknya mereka mengolok-olok Yeremia dan firman-Nya yang ia beritakan. Tindakan ini menunjukkan bahwa mereka sudah tidak takut lagi terhadap penghukuman Allah, bahkan cenderung menantangnya (15). Mereka juga menuduh Yeremia mengada-ada dan senang jika bangsanya ditimpa bencana dan malapetaka (16). Bahkan mereka mengancam keselamatan Yeremia sehingga menyebabkan Yeremia berteriak minta tolong kepada Allah agar membela dan melindunginya (14, 17-18).

Kehidupan Yeremia sendiri memperlihatkan bagaimana cara hidup seseorang yang mengandalkan Allah. Orang-orang meninggalkan Tuhan, tetapi dia tidak. Dia tahu Tuhan adalah sumber air yang hidup (17:13). Kepada Tuhan dia mencari kesembuhan, keselamatan dan perlindungan (17:14). Dia mengatakan kepada Tuhan, “Engkaulah perlindunganku pada hari malapetaka” (17:17). Dia tidak mencari perlindungan pada raja-raja bangsa lain. Dia tidak mengandalkan kekuatannya. Pengharapannya hanya pada Tuhan, yang disebutnya sebagai Pengharapan Israel (17:13).

Ketaatan
Konsep umum dari ketaatan baik dalam Perjanjian Lama dan Baru berkaitan dengan pendengaran  kepada otoritas Tuhan. ketaatan adalah “mendengar Firman Tuhan dan menjadi pelaku Firmannya.” Jadi, ketaatan alkitabiah berarti, cukup, mendengar, percaya, tunduk dan Berserah kepada Allah dan menaati Firman-Nya.

Taat itu: -mengerjakan apa yang Tuhan perintahkan, – menolak apa yang tidak Tuhan perintahkan, -menyenangi apa yang disenangi Tuhan, – membenci apa yang Tuhan benci.

Dalam dunia yang kompetitif ini kita diajarkan untuk tidak pernah berhenti mencoba, pantang menyerah, dan tidak pernah berserah – jadi kita tidak mendengar banyak tentang berserah. Jika menang adalah segalanya, berserah tidak terpikirkan.

Namun, Alkitab mengajarkan kita bahwa daripada mencoba untuk menang dan menaklukkan, kita justru seharusnya berserah dan taat. Bingung kan?

Contoh ketaatan

Anda pasti pernah “tertipu” saat bertemu dengan seseorang yang memiliki sifat-sifat kristiani sehingga Anda menduga ia orang kristiani, tetapi ternyata ia belum mengenal sang Juruselamat? Hal itu biasa terjadi. Kadangkala orang yang tidak mengenal Yesus justru dapat memegang standar moral mereka sendiri dengan lebih konsisten daripada orang kristiani yang memegang standar Allah.

Bahkan saat ini pun kita banyak melihat orang-orang yang tidak percaya menganut ajaran moral mereka dengan sungguh-sungguh, sementara orang kristiani sendiri malah tidak taat pada perintah Tuhan. Allah membenci ketidaktaatan kita. Jangan sampai saat melihat kita, orang berkata bahwa “orang Rekhab” zaman ini lebih taat daripada kita, orang kristiani –

KETAATAN ADALAH 
IMAN YANG DIWUJUDKAN DALAM TINDAKAN

 

Apakah peningkatan kegiatan religius ini menunjukkan penghormatan kepada Tuhan? Kita perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam jerat kemanusiaan kita.  Meskipun terlibat dalam kegiatan religius, tetapi  hanya ingin menyenangkan diri sendiri. Unsur yang terpenting telah hilang, yaitu ketaatan kepada Allah.

Allah tidak ingin kita melakukan ritual kosong. Dia ingin mereka menyatakan ketaatan kepada-Nya dengan cara:

(1) melaksanakan hukum yang benar,

(2) menunjukkan kesetiaan dan kasih sayang,

(3) tidak menindas janda, yatim piatu, orang asing, dan orang miskin, dan

(4) tidak merancang kejahatan dalam hati terhadap sesama

 

Tuhan tidak ingin kegiatan religius kita kosong dan hanya berpusat pada diri sendiri. Dia menginginkan persembahan ketaatan yang dinyatakan dalam tindakan yang menunjukkan kebaikan hati dan kerelaan untuk menolong mereka yang tidak seberuntung kita.

HIDUP TAAT TAK PERNAH MENGENAL MUSIM

 

yang harus kita akui adalah: Yesus menaati Bapa-Nya dalam segala hal. Penyerahan diri-Nya membawa-Nya dari puncak popularitas menuju keadaan ditinggalkan. Dari keadaan dielu-elukan orang menuju pada penderitaan dalam kesendirian. Hal itu membawa-Nya ke dalam ruang pengadilan Pilatus, jalan yang mengerikan menuju Kalvari, salib, dan kubur.

Oleh karena itu, mulai hari ini marilah kita dengan hati yang penuh kerelaan memutuskan untuk menaati Tuhan dalam segala hal —

IMAN SEJATI AKAN TAAT TANPA MENCARI-CARI ALASAN

 

Ada peristiwa-peristiwa iman yang besar dalam hidup kita, tetapi pilihan-pilihan kita setiap hari untuk taat kepada Kristus mengungkapkan dengan baik kasih kita yang tak putus-putusnya kepada Dia… “Menyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang daripada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa” .

Apabila kita secara konsisten taat kepada Tuhan, kita akan menyatakan kasih dan kuasa-Nya setiap hari. Seiring berjalannya waktu, hidup dalam ketaatan setiap hari akan menjadi kesaksian yang luar biasa bagi Juru Selamat kita.

 

Untuk bertumbuh dan berbuah, pohon jeruk memerlukan sinar matahari. Tanpanya, proses fotosintesa terganggu dan pohon menjadi tidak produktif. Orang kristiani pun begitu. Supaya tumbuh dan berbuah, ia perlu ketaatan yang aktif terhadap firman Tuhan. Itulah “sinar” yang mendorong proses pertumbuhan. Yohanes Pembaptis mencela orang Farisi dan Saduki karena mengaku beriman pada Tuhan, namun tidak hidup di jalan Tuhan. Tahu firman, namun tidak menaatinya. Akibatnya, tidak muncul buah yang sesuai dengan pertobatan. Yohanes mengingatkan, pohon yang tidak produktif kelak akan ditebang!

Bagaimana kita dapat memiliki ketaatan yang aktif? Sederhana. Pilihlah untuk melakukan apa yang benar.

 

Saat putus asa melingkupiku … aku memilih tetap maju. Saat aku tak paham maksud Tuhan … aku memilih percaya. Saat aku tertekan oleh kekecewaan … aku memilih bersyukur. Saat rencana hidupku berantakan … aku memilih berserah. Saat aku ingin menghakimi orang … aku memilih mengampuni.

Ketaatan dimulai dari sebuah pilihan untuk menerapkan prinsip firman saat menghadapi kesulitan. Itulah yang mendorong kita untuk berubah dan berbuah .

KITA BERBUAH BUKAN KARENA RAJIN MEMBACA FIRMAN
MELAINKAN KARENA RAJIN MEMPRAKTIKKANNYA

 

Hidup di tengah-tengah dunia kita saat ini serasa berjalan di atas pasir hanyut. Lebih dari yang lain, saat ini kita membutuhkan insan-insan yang dapat menunjukkan kepada kita landasan yang kuat dengan mengungkapkan “ya” yang bukan merupakan “ya dan tidak”. Jika kita mengakarkan diri kita dalam “ya” dari Allah melalui Kristus maka kita akan menjadi insan-insan yang diharapkan. Bersama-sama kita akan dapat mengubah bumi kita menjadi tempat di mana semua orang merasa nyaman tinggal di dalamnya=MEMBANGUN KEMITRAAN & KESETARAAN DEMI KESETIAKAWANAN SOSIAL

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s